NovelToon NovelToon
Clean Off

Clean Off

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nomella Kamiyama, mahasiswi pindahan dari New York, tiba di California dengan satu misi: mempertahankan kesempurnaan hidupnya—mulai dari penampilan, kecerdasan, hingga kontrol diri yang absolut.
Namun, panggung sempurnanya terusik oleh kehadiran Zeus Sterling, pria paling populer di kampus yang dikenal sangat hangat, narsis, dan gemar menebar pesona.
Di mata Nomella, Zeus hanyalah gangguan visual yang "sok ganteng," sementara bagi Zeus, Nomella adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit.
Namun, di balik senyum menawan dan keramahan yang luar biasa, Zeus menyimpan rahasia kelam. Ia adalah pria yang aslinya dingin dan hancur, yang kini hidup dalam "identitas" kakaknya, Zayn, yang tewas dalam kecelakaan balap tragis. Zeus menolak semua wanita dan hanya ingin langsung menikah, sebuah bentuk duka ekstrem yang ia jalani demi memenuhi ekspektasi orang tuanya dan dunia.
Ketegangan memuncak saat Nomella mulai membongkar topeng Zeus, memicu sisi gelap sang pria yang berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng California

Kantin Universitas California siang itu terasa seperti oven raksasa. Aroma kopi artisan beradu dengan bau burger yang dipanggang, menciptakan simfoni aroma yang bagi Nomella Kamiyama, sedikit terlalu berantakan. Ia duduk di salah satu meja marmer di sudut, posisi strategis untuk melihat keseluruhan ruangan tanpa harus terganggu oleh lalu lintas manusia.

Nomella sedang menyesap iced americano tanpa gulanya, matanya tertuju pada tablet yang menampilkan grafik makroekonomi, namun konsentrasinya terpecah.

Di seberang ruangan, di tengah kerumunan yang tertawa, Zeus Sterling sedang melakukan rutinitasnya. Pria itu berdiri di atas kursi, memegang sepotong pizza seperti sebuah piala, dan menceritakan sesuatu yang membuat satu meja besar terpingkal-pingkal.

"Narsis," gumam Nomella, lalu mencatat sesuatu di tabletnya dengan ketukan yang terlalu keras.

"Apa kau salah satu penggemarnya?"

Suara itu datang dari depan Nomella. Ia mendongak, menemukan seorang gadis dengan rambut hitam pendek yang dipotong gaya bob tajam dan tindikan kecil di hidungnya. Gadis itu sedang mengaduk saladnya dengan malas, matanya tertuju ke arah yang sama dengan Nomella: Zeus.

Nomella langsung memperbaiki posisi duduknya, memasang kembali topeng ketangguhannya. "Bukan. Sama sekali bukan. Aku baru seminggu di sini, dan sejujurnya, aku merasa dia sedikit... berlebihan."

Gadis itu menoleh pada Nomella, mengamati blazer zamrud dan tatanan rambutnya yang tanpa cela dari New York. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung rasa simpati yang aneh. "Syukurlah kau mengenalnya sekarang, saat dia sudah menjadi 'si ramah Zeus'."

Nomella mengerutkan kening. "Maksudmu?"

Gadis itu meletakkan garpunya, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Nomella. Ia melakukan gerakan yang membuat bulu kuduk Nomella meremang: ia menarik telunjuknya melewati lehernya sendiri, sebuah isyarat universal untuk 'mati' atau 'habis riwayatmu'.

"Andai kau mengenalnya saat kami masih di bangku High School di San Francisco," bisik gadis itu. "Dia adalah laki-laki paling dingin yang pernah ada. Jika kau mencoba menyapanya, dia bahkan tidak akan menoleh. Dia dingin, tak tersentuh, dan seolah-olah punya dinding es setebal satu meter di sekelilingnya."

Nomella tertegun. Deg. Jantungnya seolah berhenti sesaat.

"Dingin? Tak tersentuh?" Nomella mengulang kata-kata itu, mencoba mencocokkannya dengan sosok pria yang baru saja turun dari kursi sambil tertawa lebar dan memeluk pundak seorang mahasiswa baru di sana. "Itu tidak mungkin. Dia narsis, dia cerewet, dan dia menyapa semua orang bahkan satpam sekalipun."

Gadis itu terkekeh hambar. "Bukan lagi rahasia umum di kalangan elite California, Nomella—ah, ya, aku tahu namamu, si ambisius dari New York, kan? Dengar, Zeus adalah anak kedua dari keluarga Sterling. Mereka adalah definisi kesempurnaan. Orang tua yang berpengaruh, kekayaan yang tidak habis tujuh turunan, dan dua putra yang seperti model majalah."

Gadis itu berhenti sejenak, matanya meredup. "Tapi kau tahu? Zeus punya seorang kakak laki-laki bernama Zayn Sterling. Dia adalah kebalikan dari Zeus yang asli. Zayn itu hangat, dia matahari bagi semua orang, dia tipe pria yang akan membantu nenek menyeberang jalan dan mengingat nama setiap orang yang dia temui."

Nomella merasa tenggorokannya kering. Ia meletakkan gelas kopinya.

"Tiga tahun lalu, kecelakaan terjadi di arena balap," lanjut gadis itu dengan suara rendah. "Zayn tewas di tempat. Itu menghancurkan keluarga Sterling. Terutama Zeus. Dia belum bisa menerima kenyataan bahwa 'si matahari' itu sudah padam."

Gadis itu menunjuk Zeus dengan dagunya. "Zeus yang kau lihat sekarang—yang ramah, yang hangat, yang seolah-olah ingin berteman dengan seluruh dunia, itu bukan Zeus Sterling yang asli. Itu adalah sosok Zayn yang ia coba hidupkan kembali dalam dirinya. Dia mengadopsi kepribadian kakaknya karena dia tidak sanggup hidup di dunia di mana Zayn sudah tidak ada. Orang tuanya bahkan sampai membawanya ke berbagai psikiater dan psikolog karena mereka takut anak kedua mereka benar-benar kehilangan identitasnya sendiri."

Nomella merasa dunianya sedikit bergoyang. Ia menatap Zeus lagi. Pria itu kini sedang tertawa sambil menyisir rambutnya dengan jari—gerakan narsis yang sebelumnya Nomella benci. Namun sekarang, gerakan itu terlihat berbeda. Apakah itu gerakan narsis Zeus, atau itu adalah kebiasaan Zayn yang ia tiru?

"Jadi, kehangatannya itu... palsu?" tanya Nomella pelan.

"Bukan palsu," koreksi gadis itu. "Itu adalah bentuk duka yang ekstrem. Dia menolak semua wanita karena Zayn dulu berencana langsung menikah dengan tunangannya segera setelah musim balap berakhir. Zeus tidak ingin pacaran, karena Zayn tidak punya waktu untuk itu lagi. Dia ingin langsung ke tahap akhir, seolah-olah dia sedang menyelesaikan naskah hidup kakaknya yang terputus."

Gadis itu berdiri, membawa nampan makanannya. "Namaku Chloe, omong-omong. Saran dariku, jangan terlalu keras padanya. Di balik topeng narsis dan senyum lebarnya itu, ada seseorang yang sangat hancur."

Nomella ditinggalkan sendirian di meja itu. Suasana kantin yang tadinya riuh kini terasa sunyi di telinganya. Ia melihat ke arah Zeus lagi. Tepat di saat itu, Zeus menoleh. Mata mereka bertemu.

Zeus melepaskan tawa dari percakapannya dan berjalan menuju meja Nomella dengan gaya catwalk-nya yang biasa. "Hei, Nona New York. Kenapa wajahmu terlihat seperti baru saja melihat hantu? Apa kau baru sadar kalau aku memang setampan itu di bawah cahaya siang hari?"

Suaranya tetap sama. Percaya diri, hangat, dan penuh narsisme.

Namun Nomella tidak membalas dengan sindiran tajam seperti biasanya. Ia menatap mata Zeus, mencari sisa-sisa 'pria dingin' yang diceritakan Chloe. Dan untuk pertama kalinya, ia melihatnya. Di balik binar ceria itu, ada keletihan yang luar biasa. Ada kekosongan yang coba ditutupi dengan lapisan-lapisan keramahan yang berlebihan.

"Zeus," panggil Nomella pelan. Suaranya tidak sedingin biasanya.

Zeus mengerutkan kening, senyumnya sedikit goyah. "Ya? Kau akhirnya mau mengakui kalau kau ingin berkencan denganku?"

Nomella tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru memperhatikan bagaimana Zeus menggenggam pinggiran meja dengan erat, seolah-olah dia butuh pegangan agar tidak terjatuh.

"Kau tidak perlu menjadi matahari untuk semua orang, Zeus," ujar Nomella tanpa sadar.

Senyum Zeus membeku.

Selama beberapa detik, topeng itu retak. Sinar matanya berubah tajam, dingin, dan benar-benar tak tersentuh—persis seperti deskripsi Chloe. Itu adalah tatapan seorang pria yang ingin menjauhkan seluruh dunia darinya.

Namun, hanya dalam sekejap, Zeus tertawa keras. Tawa yang terdengar sedikit dipaksakan. "Matahari? Tentu saja aku matahari! Aku adalah pusat tata surya kampus ini, Nomella. Apa kau mulai pusing karena terlalu dekat dengan cahayaku?"

Zeus berputar, melakukan gerakan dramatis sebelum berjalan pergi, menyapa mahasiswa lain dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.

Nomella mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia adalah gadis yang ambisius, gadis yang ingin terlihat sempurna dalam segala hal. Tapi melihat Zeus, ia menyadari bahwa kesempurnaan yang ia kejar hanyalah soal estetika dan pencapaian. Sedangkan kesempurnaan yang diperagakan Zeus adalah sebuah penjara.

Nomella menarik napas panjang. Ambisinya kini punya target baru. Bukan untuk menjatuhkan Zeus, tapi untuk menembus dinding es yang disembunyikan pria itu di balik jubah hangatnya.

"Kau salah, Zeus," bisik Nomella pada dirinya sendiri. "Aku tidak pusing karena cahayamu. Aku sedang melihat kegelapanmu."

Nomella berdiri, merapikan blazernya dengan presisi yang sama seperti saat ia tiba, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda di matanya. Ia tidak lagi melihat Zeus sebagai gangguan visual, melainkan sebagai sebuah teka-teki yang harus ia selesaikan sebelum pria itu benar-benar lenyap di dalam bayang-bayang kakaknya.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!