Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Ikatan Berlian dan Bintang
Pagi itu, suasana di kelas XII-IPA 1 kelas Dean benar-benar pecah. Sejak semalam, grup WhatsApp angkatan mereka tidak berhenti berdenting. Foto-foto curian Karline saat tidak memakai masker tersebar luas. Para senior laki-laki, yang sebelumnya menganggap Karline hanya "anak aneh bin misterius", kini berbalik memuja.
"Gila, beneran anaknya Chef Arnold? Cantiknya nggak masuk akal, Bro!" seru salah satu teman seangkatan Dean sambil menunjukkan layar ponselnya.
"Gue dapet nomor WA nya dari anak OSIS! Katanya ini nomor buat pesen katering premium keluarganya, tapi lumayanlah buat simulasi chat sama bidadari," timpal yang lain sambil tertawa.
Dean, yang baru saja masuk ke kelas, mendengarkan semua itu dengan telinga panas. Ia tidak tahu nomor yang mereka bicarakan adalah nomor bisnis keluarga Dharmawijaya yang dikelola Andhika, tapi tetap saja, membayangkan nama Karline menjadi bahan pembicaraan di grup WhatsApp angkatan kelas 12 membuatnya muak. Itulah yang memicu kenekatannya masuk ke kelas Karline pagi tadi untuk menariknya keluar.
Karline baru saja duduk di bangkunya, bermaksud menenangkan diri sebelum bel berbunyi. Namun, pintu kelas tiba-tiba digeser dengan kasar. Sosok jangkung Deandra Pratama muncul di sana, mengabaikan tatapan sinis dan barisan "bodyguard" kelas XI yang langsung berdiri pasang badan.
Tanpa memedulikan Bimo atau Faras yang hendak menghadangnya, Dean menerobos masuk. Ia langsung menarik tangan Karline dengan gerakan tegas yang tak terbantahkan.
"Ikut gue," ucap Dean pendek.
"Dean! Lepasin! Kamu gila ya, ini masih pagi!" Karline memberontak, namun tenaga Dean jauh lebih kuat. Ia menyeret Karline keluar dari kelas menuju area taman belakang yang sepi, meninggalkan teman-teman sekelas Karline yang hanya bisa melongo karena aura Dean yang sangat mengintimidasi pagi ini.
Sesampainya di taman, Karline menyentak tangannya hingga terlepas. Wajahnya memerah karena amarah. "Kamu benar-benar tidak punya otak! Kamu menarikku di depan teman-temanku seolah aku ini tawananmu!"
Dean menatapnya tajam, napasnya sedikit memburu. "Gue liat grup WhatsApp angkatan gue semalam, Karl. Cowok-cowok kelas dua belas heboh banget. Mereka pamer dapet nomor WA lo. Bimo, Faras, bahkan si Andi ketua kelas lo itu dibilang dapet akses ke lo. Lo segampang itu kasih nomor ke mereka?"
Karline tertegun sejenak, lalu ia tertawa hambar yang terdengar mengejek. "Oh, jadi ini soal itu? Kamu cemburu karena mereka punya nomor WhatsApp-ku?"
"Jawab gue, Karline!" suara Dean meninggi, menunjukkan rasa posesif yang tak bisa ia sembunyikan.
Karline melipat tangan di dada, menatap Dean dengan tatapan meremehkan. "Dengar ya, Deandra yang terhormat. Nomor yang mereka bicarakan itu adalah nomor untuk urusan bisnis keluarga Dharmawijaya. Aku tidak sebodoh itu memberikan nomor pribadiku pada sembarang orang, apalagi pada orang-orang di sekolah ini!"
Mendengar penjelasan itu, amarah Dean seketika meredup. Ia menatap wajah Karline yang sedang mengomel dengan bibir yang mengerucut terlihat sangat lucu dan menggemaskan di mata Dean. Rasa gemas itu mengalahkan egonya. Tanpa peringatan, Dean maju dan menarik Karline ke dalam pelukannya lagi. Kali ini pelukannya lembut, jemarinya mengelus rambut hitam Karline yang halus.
"Gue nggak suka mereka ngerasa deket sama lo," bisik Dean pelan di sela helai rambut Karline.
"Lepasin, Dean! Kamu bener-bener.."
"Dean! Karline! Apa-apaan kalian ini!"
Suara melengking Clarissa memecah suasana. Gadis itu berdiri di sana dengan wajah pucat dan mata yang berkaca-kaca karena amarah. "Dean! Kamu peluk-pelukan sama gadis ini? Kamu lupa dia hampir bikin kita semua dikeluarkan dari sekolah? Dia itu licik, Dean!"
Karline hendak membalas, namun Dean lebih cepat. Ia justru menarik Karline lebih dekat ke sisinya, menggenggam tangan mungil Karline dengan erat, menunjukkannya langsung di depan mata Clarissa.
"Jaga ucapan mu, Clarissa," ucap Dean dengan nada rendah yang sangat mengancam. "Karline bukan orang sembarangan. Dan soal ancaman dikeluarkan dari sekolah, itu terjadi karena ucapan dan tindakan kita sendiri yang sampah. Jangan pernah ganggu Karline lagi, atau lo bakal berurusan langsung sama gue."
Clarissa ternganga. Ia merasa dikhianati oleh pria yang selama ini ia puja. Dengan perasaan hancur, Clarissa berbalik dan lari meninggalkan mereka.
Karline hanya diam, terkejut melihat pembelaan Dean yang begitu frontal. Dean kemudian mengajak Karline duduk di bangku taman. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Di dalamnya, terdapat sebuah gelang perak yang sangat indah, bertahtakan berlian kecil yang berkilauan dengan aksen pita manis di tengahnya.
Tanpa meminta izin, Dean meraih tangan kiri Karline dan memakaikan gelang itu di lengan mungil nan mulus milik Karline.
"Apa ini? Aku tidak mau pakai barang darimu," protes Karline, meski matanya tak bisa berbohong kalau ia terpaku pada keindahan gelang itu.
"Jangan dilepas," ucap Dean serius. Ia lalu menunjukkan pergelangan tangannya sendiri. Di sana melingkar gelang serupa namun berwarna hitam pekat dengan simbol bintang di tengahnya. "Ini pasangan. Gue pakai yang hitam, lo pakai yang putih."
Karline menatap gelang itu, lalu menatap Dean dengan wajah bingung. "Maksud kamu... kita pacaran?"
Dean menatap mata Karline dalam-dalam, senyum tipis menghiasi wajah tampannya. "Kalau kamu mau, aku sangat senang. Aku beneran sayang sama kamu, Karl."
Karline terdiam sesaat, jantungnya berdegup kencang. Namun, ia tetap mempertahankan gengsinya. "Dalam mimpimu, Dean! Aku tidak akan semudah itu jatuh cinta pada pria yang pernah menghinaku!"
Karline langsung berdiri dan berjalan cepat menuju kelasnya. Dean tidak mengejarnya, ia hanya berteriak dari kejauhan, "Karline! Jangan dilepas gelangnya! Ingat, itu tandanya lo milik gue!"
Karline tidak menyahut, namun tangannya secara refleks memegang gelang putih di pergelangan tangannya. Ia tidak melepaskannya. Sesampainya di kelas, teman-temannya langsung mengerumuninya, kepo setengah mati.
"Karl! Lo diapain sama si Dean tadi? Dia nggak macem-macem kan?" tanya Sarah cemas.
"Lo nggak luka kan, Karl? Bilang sama kita kalau dia kasar!" timpal Faras.
Karline mencoba menenangkan mereka dengan senyum manisnya yang biasa. Ia berusaha menyembunyikan gelang itu agar tak terlihat."Tdk ada apa-apa, teman-teman. Dia cuma mau minta maaf lagi soal urusan kemarin. Tenang saja, aku bisa mengatasinya sendiri."
Namun Karline duduk dengan perasaan yang tidak karuan. Ia terus mengusap pergelangan tangan kirinya.
"Karl? Kamu melamun terus dari tadi," tegur Sarah pelan. Wajah Sarah sudah jauh lebih segar, meski ia masih tampak sedikit ragu jika membicarakan kakaknya atau geng Dean.
"Ah, nggak apa-apa, Sar. Cuma kurang tidur sedikit," bohong Karline.
"Tadi Kak Dean beneran nggak ngapa-ngapain kamu, kan? Jujur, aku takut banget pas dia narik kamu tadi. Mukanya serem banget, kayak mau makan orang," bisik Sarah penuh kekhawatiran.
Karline tersenyum tipis, mencoba menenangkan sahabatnya. "Dia cuma minta maaf lagi, Sar. Katanya dia merasa bersalah soal kejadian di rumah kamu kemarin. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan."
Mendengar nama kakaknya disinggung dalam konteks 'permintaan maaf', Sarah hanya bisa menunduk. Ia belum tahu bahwa Rio juga mulai goyah karena teguran keras Karline.