NovelToon NovelToon
SERABI LEMPIT

SERABI LEMPIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 33

Pagi pertama di dunia yang baru ini tidak dimulai dengan keajaiban, melainkan dengan rasa dingin yang menusuk tulang. Tanpa resonansi yang menghangatkan atmosfer, suhu pesisir turun drastis. Mira terbangun di atas lantai kayu yang keras, diselimuti kain tenun tua yang kini terasa sangat tipis.

Ia melihat Romano sudah berada di luar, berdiri di tepi tebing yang hancur. Pria itu tidak lagi memegang senjata elektromagnetik; di tangannya ada sebuah kapak kayu berkarat yang ia temukan di gudang bawah tanah.

"Pompa air mati total," ucap Romano tanpa menoleh saat Mira mendekat. "Sumur kita masih ada, tapi kita harus menimba secara manual. Dan kebun..."

Mira menatap ke arah kebun belakang mereka. Tanaman-tanaman yang kemarin tumbuh begitu perkasa kini tampak layu dan lemas. Tanpa dorongan energi dari simpul, mereka hanyalah tanaman biasa yang harus berjuang melawan tanah pesisir yang asin. Keajaiban telah pergi, meninggalkan realitas yang keras di belakangnya.

"Kita punya waktu beberapa jam sebelum matahari benar-benar terik," kata Mira, mengikat rambutnya dengan potongan kain. "Jika kita tidak menyiramnya sekarang dengan air tawar, kita tidak akan punya makanan untuk minggu depan."

Sepanjang hari itu, mereka bekerja hingga punggung mereka terasa seperti akan patah. Tidak ada lagi teknologi yang meringankan beban. Setiap liter air harus ditarik dari kedalaman tanah, setiap gulma harus dicabut dengan kuku yang kini menghitam oleh tanah. Kulit Mira melepuh terkena matahari, dan otot-otot Romano yang biasanya digerakkan oleh adrenalin kini bergetar karena kelelahan murni.

Saat senja tiba, mereka duduk di teras, napas mereka memburu. Romano menyerahkan sepotong umbi bakar yang mereka masak di atas api unggun kecil. Rasanya hambar, jauh dari makanan sintetis kaya nutrisi yang biasa mereka konsumsi, tapi bagi mereka, itu adalah rasa kemenangan pertama.

"Dulu kita berpikir bahwa kebebasan itu adalah pendar emas di langit," bisik Mira sambil menatap tangannya yang gemetar. "Ternyata kebebasan itu adalah rasa lelah ini. Rasa lelah karena bertahan hidup dengan usaha sendiri."

Romano mengangguk, menatap lilin kecil yang kembali mereka nyalakan di atas meja. "Dunia luar pasti sedang kacau sekarang. Tanpa satelit, tanpa komunikasi digital... mereka harus belajar bicara lagi, Mira. Tatap muka, seperti kita sekarang."

Tiba-tiba, dari arah jalan setapak yang menuju ke desa nelayan, terlihat sebuah cahaya obor yang bergoyang-goyang. Seorang pria muncul—nelayan tua yang tempo hari memberi mereka ikan. Ia tampak bingung, pakaiannya kotor, tapi di matanya tidak ada ketakutan yang membutakan seperti saat era korporasi dulu.

"Tuan Romano... Nona Mira..." pria itu terengah-engah. "Semua mesin di desa mati. Lampu-lampu padam. Tapi... tapi laut tetap ada. Ikan-ikan masih berenang. Kami hanya... kami tidak tahu harus mulai dari mana."

Romano berdiri, ia menatap pria itu dengan pandangan seorang pemimpin yang tidak lagi butuh pangkat. Ia meletakkan tangannya di bahu nelayan itu.

"Bawa semua jaring yang tersisa ke dermaga besok pagi," ucap Romano tenang. "Kita tidak butuh mesin untuk menangkap ikan. Kita butuh tenaga manusia dan arah angin. Aku akan menunjukkan cara membaca arus tanpa bantuan sensor."

Mira berdiri di samping Romano, merasakan kekuatan baru yang tumbuh di antara mereka. Itu bukan kekuatan yang diberikan oleh garis keturunan Rahayu atau kristal gua, melainkan kekuatan dari solidaritas manusia yang paling dasar.

"Dan bawalah benih apa pun yang kalian punya," tambah Mira. "Kita akan menanam kembali. Pelan-pelan. Tanpa paksaan."

Nelayan itu mengangguk, tampak sedikit lebih tenang, lalu kembali ke kegelapan menuju desanya. Mira dan Romano tetap di sana, menatap kegelapan yang luas. Di kejauhan, satu per satu titik cahaya api mulai muncul di sepanjang garis pantai—tanda bahwa manusia lain pun mulai menyalakan api mereka sendiri.

"Ini akan menjadi naskah yang sangat panjang, Mira," ucap Romano.

"Tapi setidaknya, ini naskah kita sendiri," jawab Mira.

Mereka kembali masuk ke dalam pondok yang sederhana, menutup pintu kayu yang retak, dan membiarkan dunia luar yang gelap menjadi ruang bagi manusia untuk belajar menjadi manusia kembali. Tidak ada lagi "Suara dari Timur"—hanya ada suara napas dua orang yang siap membangun dunia, satu cangkul dan satu benih pada satu waktu.

Enam bulan kemudian, pondok itu bukan lagi sebuah tempat pelarian, melainkan jantung dari sebuah pemukiman kecil yang tumbuh secara organik. Tidak ada sirkuit yang berdenyut, tidak ada pendar keemasan yang menipu mata. Hanya kayu, batu, dan keringat.

Romano berdiri di atas dermaga yang kini telah diperluas dengan balok-balok kayu kelapa. Di depannya, sekelompok pemuda desa sedang belajar cara mengikat simpul pengunci pada layar perahu—keterampilan yang sempat punah karena ketergantungan pada mesin elektromagnetik.

"Angin tidak bisa kau perintah, kau hanya bisa menjadikannya kawan," ucap Romano, suaranya lantang namun tenang. Ia tidak lagi mengenakan zirah tempur atau pakaian taktis; hanya celana katun kasar dan kulit yang kini berwarna perunggu karena matahari. "Jika kau salah membaca arah riak, kau akan membuang tenagamu sia-sia. Pahami airnya, jangan melawannya."

Dari arah bukit, Mira berjalan turun membawa keranjang penuh sayuran yang ukurannya lebih kecil daripada hasil rekayasa energi dulu, namun memiliki aroma tanah yang jauh lebih kuat. Ia berhenti sejenak, melihat Romano yang sedang tertawa bersama para nelayan—sebuah pemandangan yang dulunya mustahil.

"Mira!" panggil seorang wanita desa dari teras pondok bersama beberapa anak kecil. "Lihat, anak-anak sudah bisa membedakan mana akar yang bisa dimakan dan mana yang beracun."

Mira mendekat, mengusap kepala salah satu anak. "Bagus. Karena mulai sekarang, bumi tidak akan memberi tahu kita lewat sensor. Kita harus mengenalnya kembali, seperti seorang teman lama."

Malam harinya, saat desa mulai sunyi dan hanya menyisakan api unggun kecil di depan rumah-rumah, Mira dan Romano duduk di teras mereka yang kini sudah kokoh. Atapnya benar-benar tidak bocor lagi, bahkan setelah dihantam hujan badai bulan lalu.

"Anya mengirim kabar lewat kurir laut tadi siang," ucap Mira sambil membelah sebuah umbi matang.

"Kurir laut?" Romano tertawa kecil. "Dulu kita bisa bicara lewat pikiran atau satelit dalam sekejap. Sekarang butuh dua minggu hanya untuk mendengar kabar dari Jawa."

"Tapi kabarnya bagus," lanjut Mira, tersenyum. "Jakarta sudah menjadi kota hijau yang nyata. Mereka mulai membangun kincir angin dan turbin air dari sisa-sisa logam gedung pencakar langit. Tanpa sistem pusat yang mengontrol, mereka belajar untuk mandiri di setiap distrik. Tidak ada lagi raja korporasi, Romano. Hanya ada dewan warga."

Romano menghela napas panjang, menatap bintang-bintang yang kini tampak begitu dekat. "Kadang aku masih merasa seperti sedang bermimpi. Dunia yang kita hancurkan... ternyata justru dunia yang menyelamatkan kita."

"Kita tidak menghancurkannya," koreksi Mira, menyandarkan kepalanya di bahu Romano. "Kita hanya mematikan mesin penyokong hidupnya agar ia bisa belajar bernapas sendiri. Dan lihatlah... dia bernapas dengan sangat baik sekarang."

Romano merangkul Mira, merasakan kehangatan yang paling nyata yang pernah ia kenali. Tidak ada lagi rasa haus akan adrenalin, tidak ada lagi ketakutan akan pengkhianatan. Hanya ada kepuasan sederhana setelah seharian bekerja keras.

"Kau tahu apa yang paling kusukai dari dunia baru ini?" tanya Romano rendah.

"Apa?"

"Tidak ada lagi suara statis di kepalaku. Hanya suara angin, suara laut... dan suaramu."

Mira memejamkan mata, menikmati kesunyian yang megah di sekitar mereka. Mercusuar di atas tebing itu kini hanya menjadi menara batu yang bisu, namun ia berdiri sebagai monumen bahwa manusia pernah mencapai puncak dan memilih untuk turun demi sebuah kebebasan yang jujur.

Di bawah langit malam yang jernih, kehidupan terus berlanjut tanpa perlu menjadi agung. Cukup dengan menjadi nyata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!