NovelToon NovelToon
Melintasi Waktu Bersama Sistem Keluarga

Melintasi Waktu Bersama Sistem Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:625
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Fei Xing berasal dari abad masa depan—tahun 3080—dimana hampir semua aspek kehidupan dikuasai oleh mesin pintar canggih.

Kemajuan teknologi yang terlalu cepat mengakibatkan banyak kerusuhan dan konflik di seluruh dunia.

Ayahnya, seorang profesor jenius di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, menciptakan sebuah sistem canggih yang terpasang pada jam pintar Fei Xing.

Tujuan utama penciptaan sistem itu adalah untuk melindungi anaknya dengan mengirimkannya pergi dari tahun 3080 yang penuh bahaya.

Di dunia baru ini, Fei Xing bebas mengendalikan sistemnya sesuai keinginannya.

Sistem kecerdasan buatan ini sangat pintar dan memiliki protokol dasar: tidak boleh menyakiti atau melawan tuannya.

Dalam kurun waktu 100 tahun, Fei Xing sudah sering melakukan perjalanan lintas dunia—dari zaman modern, masa lalu, hingga dunia saat ini—hanya untuk bertahan hidup dan mengembangkan kemampuannya.

Namun Sistemnya membutuhkan energi untuk tetap beroperasi dan menjaga kelangsungan hidupnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suku Hu

Kelompok suku Hu Zen dibawa ke sebuah bangunan baru yang terletak dekat kawasan gudang dan pasar swalayan Fei Xing.

Melihat gedung gudang dan pasar swalayan yang besar berdiri kokoh di depan mata, Hu Zen dan teman-temannya segera mengingat kembali betapa banyaknya makanan yang tersimpan di dalamnya—beras dan bahan makanan lain yang pernah mereka terima rasanya begitu lezat, dan mereka selalu memasaknya sedikit demi sedikit karena berpikir tidak akan pernah bisa merasakannya lagi.

Anak-anak kecil yang digendong oleh orang tua mereka mengangkat tangan untuk menunjuk-nunjuk ke arah gudang.

"Besar sekali!" teriak mereka dengan mata penuh rasa kagum.

Dukun Li Wu dan kepala suku Hu Zan juga melihat ke arah gedung itu dengan perasaan campur aduk antara kagum dan sedikit takut.

Bagi mereka, ini adalah kawasan milik "Dewa Hutan", dan mereka sangat tidak ingin melakukan sesuatu yang bisa menyinggungnya.

Saat sampai di tempat menginap yang disediakan, Hu Zan segera memperingati semua orang dengan suara tegas. "Jangan ada satupun dari kita yang bersikap ceroboh atau membuat masalah di sini. Kita harus selalu menjaga sikap sopan dan menghargai segala sesuatu yang diberikan kepadanya!"

Semua orang mengangguk dengan cepat dan setuju tanpa ada yang membantah.

Pelayan 01 mengangkat suaranya dengan ramah. "...Silahkan semua orang istirahat dulu. Jika kalian ingin mandi, silahkan masuk ke area di sana..."

Mereka menoleh ke arah yang ditunjuk dan melihat beberapa bilik di ujung ruangan yang dibatasi dengan baik, masing-masing berisi bak air yang sudah diisi air hangat dan toilet jongkok yang bersih.

Pelayan tersebut kemudian menjelaskan dengan jelas cara menggunakan semua fasilitas tersebut, termasuk bagaimana cara menyalakan air hangat dan membersihkan diri dengan benar.

Ruang penginapan yang disediakan terdiri dari 80 kamar tidur kecil yang dipisahkan dengan sekat bambu yang rapi.

Di setiap kamar terdapat tempat tidur yang empuk, meja kecil, dan rak penyimpanan. Di atas tempat tidur sudah disiapkan jubah mandi yang lembut untuk setiap orang.

"Kalian bisa mandi dulu. Saya akan segera membawakan pakaian ganti untuk semua orang..." jelas Pelayan 01 dengan sopan, lalu menoleh pada Hu Zen. "..Kamu bisa menjelaskan cara menggunakan sabun dan jubah mandi kepada mereka bukan?"

"Tentu saja, terima kasih banyak." Jawab Hu Zen sambil mengangguk setuju. Setelah itu, Pelayan 01 mengangguk dan membawa seluruh kelompok pelayan untuk pergi sementara dari tempat itu.

Hu Zen segera mengatur agar wanita dan anak-anak mandi lebih dulu agar bisa cepat beristirahat.

Pria akan mengikuti setelahnya. Sebelum para wanita mandi, dia juga dengan sabar mengajari semua orang cara menggunakan sabun yang berbau harum dan cara mengenakan jubah mandi agar nyaman dan tidak mudah lepas.

Sementara itu, para pelayan membagi tugas dengan teratur:

- 4 orang pelayan pergi ke gudang pasar swalayan untuk mengambil pakaian pria, wanita, dan anak-anak yang sudah disiapkan sesuai dengan ukuran dan usia masing-masing.

- 4 orang lainnya segera menyiapkan makanan di kantin baru yang dibuat di lantai dua asrama—tempat ini bisa menampung hingga 200 orang sekaligus.

Mereka sedang memasak hidangan sehat dan bergizi dengan menggunakan bahan-bahan berkualitas baik untuk menyambut kedatangan suku Hu Zen.

- Sedangkan Pelayan 01 dan satu pelayan lainnya pergi ke arah vila untuk memasak makanan khusus bagi Fei Xing, yang sudah pasti sangat lelah setelah perjalanan panjang.

Fei Xing sedang memotong stik daging sapi untuk makan malamnya sambil mendengarkan laporan sistem tentang pembelian barang-barang untuk gudang.

Saat terakhir berada di abad 2000, dia telah membeli banyak barang mulai dari pakaian, makanan, hingga kebutuhan sehari-hari lainnya—sekarang stok di gudang sudah penuh kembali dan siap digunakan.

Setelah selesai makan, Fei Xing memutuskan untuk pergi melihat kondisi suku Hu Zen. Dua pelayan mengikutinya dari belakang dengan patuh.

Di kantin, Hu Zen dan seluruh suku diminta untuk membawa piring masing-masing lalu mengantri makan dengan tertib.

Mereka telah berganti pakaian olahraga berwarna-warni—baik orang dewasa maupun anak-anak mengenakan yang sama.

Awalnya mereka merasa tidak terbiasa dengan bahan kain yang licin dan tipis, namun lama-kelamaan merasa bahwa ini jauh lebih nyaman daripada rok kulit hewan yang biasa mereka kenakan.

Seperti yang Fei Xing perintahkan, porsi makanan yang diberikan kepada suku Hu Zen cukup banyak.

Hal ini disesuaikan dengan kebiasaan mereka yang sudah terbiasa makan dalam porsi besar agar bisa bertahan lama saat berburu.

Dua pelayan melayani di konter makan, sementara dua lainnya mengawasi dan membantu mereka yang masih belum paham cara menggunakan sendok dan garpu—ini lebih mudah daripada mengajari mereka menggunakan sumpit.

Si Bin membantu ibunya membawa makanan, lalu keduanya duduk di kursi yang empuk. Seorang pelayan segera mengantarkan gelas minuman ke mejanya, membuat ibu Si Bin langsung mengucapkan terima kasih dengan sopan.

Pelayan itu mengangguk ramah sebelum melanjutkan ke meja lain untuk membantu yang membutuhkan.

Da Wang dan teman-temannya duduk di meja bersebelahan. Mereka mulai makan dengan lahap dan langsung mendesah panjang setelah makanan pertama masuk ke mulut mereka.

"Enak! Sangat lezat!" Tanpa sadar, air mata mulai mengalir perlahan di pipi mereka.

Mereka merasa sangat bersyukur bahwa Tuan muda mau menerima mereka, namun juga merasa sedih saat mengingat anggota keluarga yang tidak bisa bertahan hidup hingga hari ini.

Wanita-wanita segera menghapus air mata mereka, sementara para pria mencoba menghibur anggota keluarga dengan kata-kata penyemangat.

Fei Xing masuk ke kantin tepat saat itu terjadi. Dia melihat mereka makan dengan baik namun wajah mereka dipenuhi emosi yang campur aduk.

[Tuan, apakah Anda baik-baik saja?] tanya sistem dengan suara sedikit cemas melihat reaksi Fei Xing. Dia hanya merasa sedikit bersalah karena tidak bisa datang lebih cepat untuk membantu mereka.

"Tuan muda!" sapa Er Gao dengan cepat sambil menghapus air matanya dengan lengan bajunya. Mendengar suaranya, semua orang segera menghapus air mata mereka dan menoleh ke arah pintu kantin.

Fei Xing memberikan senyum kecil. "...Silahkan makan. Setelah makan, kalian bisa mengatakan apa saja keinginan atau kebutuhan kalian nanti..."

"Baik, Tuan muda!" jawab Hu Zan dengan cepat dan penuh rasa hormat. Fei Xing mengangguk lalu berbalik pergi bersama dua pelayan yang mengikutinya.

Dia keluar dari gedung kantin dan berjalan perlahan ke arah pasar swalayan. Dua pelayan mengikutinya dengan patuh di belakang.

Setelah masuk ke dalam, dia langsung berjalan ke area penjualan boneka dan mainan anak-anak. "...Berapa banyak anak yang ada di antara mereka?"

"20 anak, Tuan. Terdiri dari 15 anak laki-laki dan 5 anak perempuan dengan usia antara 5 hingga 10 tahun." jawab Pelayan 01 dengan jelas dan patuh.

Fei Xing mengangguk. Pelayan 02 segera mengambil troli untuk membawa barang-barang yang akan dipilih, lalu mengikuti langkah Tuan muda saat dia mulai berkeliling pasar swalayan.

Tak lama kemudian, Pelayan 05 yang bertugas di kantin datang menghampiri mereka dengan beritanya. "Tuan muda, suku Hu Zen sudah selesai makan dan siap untuk berbicara dengan Anda."

Fei Xing mengangguk lalu melihat pada tumpukan boneka yang sudah terkumpul di troli, kemudian berbalik pergi meninggalkan area mainan. Ketiga pelayan segera mengikuti langkahnya dengan patuh.

Saat masuk kembali ke kantin, suasana emosional orang-orang sudah jauh lebih baik. Mereka yang sedang duduk langsung berdiri tegak untuk menyambut kedatangan Fei Xing.

"Silahkan duduk kembali....." kata Fei Xing dengan tenang. Pelayan 01 segera mengambil sebuah kursi untuknya, lalu dia duduk dengan tenang dan melihat ke arah anak-anak yang tampak kurus dan kekurangan gizi. "...Biarkan anak-anak berbaris dulu di sini...."

Semua orang melihat ke arah anak-anak mereka. Anak-anak itu awalnya merasa takut dan ragu, sampai Pelayan 02 mengambil sebuah boneka serigala dari troli dan memberikannya pada Fei Xing.

"Kemarilah, pilih yang kalian suka saja...." ucap Fei Xing sambil menggoyang boneka di tangannya dengan lembut.

Mata anak-anak itu masih penuh keraguan.

Hu Zen sendiri pernah melihat benda seperti itu saat berada di pasar swalayan—awalnya dia mengira itu adalah hewan mati yang dikeringkan untuk dekorasi, namun Fei Xing pernah menjelaskan bahwa itu hanya mainan yang diisi dengan bulu lembut khusus untuk anak-anak.

Orang-orang suku saling melihat satu sama lain. Jarang sekali ada orang yang memberikan hadiah seperti itu pada anak-anak, karena biasanya membuatnya membutuhkan waktu lama dan bahan yang mahal.

Salah satu gadis kecil dengan hati-hati bangun dari kursinya dan melangkah perlahan menuju Fei Xing.

Dia berhenti ketika masih ada jarak dua langkah darinya, lalu menatap benda yang ada di tangan Fei Xing dengan mata penuh rasa penasaran.

Fei Xing tersenyum lembut lalu mengulurkan tangannya ke arah anak perempuan itu."..Bisakah aku melihat tangan mu lebih dulu?"

Anak itu berbalik melihat ayah dan ibunya yang duduk tidak jauh dari sana. Keduanya segera mengangguk dengan lembut, memberikan isyarat agar dia jangan takut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!