NovelToon NovelToon
Pucuk Indah Harapan

Pucuk Indah Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Karir
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arga yang Mulai Luluh

Suasana di dalam mobil mewah itu mendadak jadi sunyi banget setelah mereka keluar dari area hotel. Hanya ada suara deru mesin yang halus dan rintik hujan yang mulai membasahi kaca depan. Arga fokus menyetir, tapi sesekali matanya melirik Nara lewat spion tengah. Nara kelihatan capek banget, kepalanya nyandar di kaca jendela sambil merhatiin lampu-lampu jalanan Jakarta yang mulai blur kena air hujan.

Arga melonggarkan dasinya yang dari tadi kerasa mencekik. "Capek banget?"

Nara nengok, terus senyum tipis. "Lumayan. Ternyata akting jadi istri CEO itu butuh tenaga ekstra ya, apalagi pakai acara labrak-labrakan segala."

Arga nggak langsung bales. Dia malah menepiin mobilnya di bahu jalan yang agak sepi, bikin Nara bingung.

"Kok berhenti, Ga? Ada yang ketinggalan?" tanya Nara heran.

Arga nggak jawab. Dia malah ngeraih sesuatu di jok belakang, lalu nyerahin sebuah kotak sepatu flat ke arah Nara. "Ganti. Gue tahu kaki lo pasti sakit banget pakai high heels setinggi itu dari tadi."

Nara bengong. Dia nerima kotak itu dan pas dibuka, isinya sepasang sepatu flat empuk dengan warna yang senada sama gaunnya. "Lo... lo kapan belinya?"

"Tadi sore gue minta Bayu cariin. Gue tahu lo tipe yang nggak betah pakai sepatu jinjit lama-lama," jawab Arga, suaranya datar tapi ada perhatian yang tulus di sana.

Nara ngerasa hatinya kayak meleleh dikit. Si robot ini ternyata punya sisi yang sangat detail soal kenyamanan orang lain. Pas Nara lagi ganti sepatu, Arga tiba-tiba ngomong lagi.

"Soal Rio..." Arga ngegantung kalimatnya. "Kenapa dulu lo bisa mau sama cowok sampah kayak dia?"

Nara narik napas panjang, nyenderin punggungnya lagi ke jok kulit yang empuk. "Dulu dia nggak kayak gitu, Ga. Dia pinter banget manis-manisin kata. Gue yang masih lugu ya percaya aja kalau dia beneran sayang. Tapi ya gitu, topengnya lama-lama kebuka pas ada masalah bisnis dan dia lebih milih nyelametin diri sendiri daripada gue."

Arga ngerasa tangannya mengepal di setir. Ada rasa nggak suka yang amat sangat pas denger Nara pernah disakitin sedalam itu.

"Lo terlalu berharga buat disia-siain sama pecundang kayak dia, Nara," ucap Arga tiba-tiba. Suaranya rendah banget, hampir kayak bisikan.

Nara nengok ke arah Arga, matanya ketemu sama mata tajam pria itu. "Tunggu, ini gue nggak salah denger kan? Arga si penguasa angka baru aja muji gue?"

Arga buru-buru buang muka, balik fokus ke depan. "Gue cuma ngomong fakta. Jangan kepedean."

Nara ketawa kecil. Kali ini tawanya kerasa tulus banget, bukan tawa formalitas pesta. Dia ngerasa tembok-tembok es yang selama ini nutupin Arga mulai retak satu per satu. Arga yang biasanya cuma bahas soal "manajemen risiko" dan "efisiensi", sekarang mulai peduli sama rasa sakit di kakinya dan luka di masa lalunya.

"Ga," panggil Nara pelan.

"Apa lagi?"

"Makasih ya buat sepatunya. Dan... makasih udah luluh dikit malem ini."

Arga nggak jawab pakai kata-kata. Dia cuma jalanin lagi mobilnya, tapi kali ini kecepatannya lebih pelan, seolah dia mau nikmatin waktu lebih lama berdua sama Nara di dalam ruang sempit itu. Di bawah lampu jalan yang remang-remang, Arga sadar kalau kehadirian Nara bukan cuma ngerusak keteraturan hidupnya, tapi juga mulai ngisi bagian-bagian yang selama ini kosong dan dingin.

Ternyata, si robot CEO ini nggak bener-bener terbuat dari baja. Ada hati yang mulai berdetak beda setiap kali Nara ada di dekatnya.

---

Nara ngelihatin profil samping Arga yang masih fokus ke jalanan. Cowok ini emang aneh. Di kantor bisa galak banget sampai semua orang gemeteran, di pesta bisa jadi pelindung yang tangguh, tapi pas cuma berdua gini, dia malah kelihatan... bingung sama perasaannya sendiri.

"Lo tahu nggak, Ga?" Nara ngebuka suara lagi, mecah keheningan yang tadi sempat bikin canggung.

"Apa?"

"Ini pertama kalinya gue ngerasa nggak perlu pura-pura kuat di depan cowok. Biasanya, gue selalu dituntut buat tampil sempurna, apalagi pas masih sama Rio dulu. Harus cantik, harus nurut, nggak boleh malu-maluin bisnis dia."

Arga ngerem mobilnya pelan pas lampu merah. Dia nengok ke Nara, tatapannya dalem banget. "Di depan gue, lo nggak perlu jadi siapa-siapa, Nara. Gue lebih suka lo yang berantakan gara-gara kopi tubruk daripada lo yang pakai topeng di pesta tadi."

Nara diem. Kalimat itu rasanya lebih ngena daripada gombalan maut mana pun. "Tapi gue emang berantakan, Ga. Lo sendiri yang bilang gue kayak tumpahan cat."

"Emang," Arga senyum tipis, tipis banget sampai hampir nggak kelihatan. "Tapi tanpa tumpahan cat itu, ruangan gue cuma bakal jadi kotak putih yang ngebosenin. Gue baru sadar kalau hidup gue selama ini terlalu... steril."

Lampu berubah jadi hijau. Arga jalanin lagi mobilnya, tapi kali ini tangan kirinya yang tadinya di kemudi, turun dan nyari tangan Nara. Dia nggak genggam kenceng, cuma nyentuh jari-jari Nara pelan, seolah lagi mastiin kalau Nara beneran ada di sana.

Nara ngerasa ada setruman halus yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia nggak narik tangannya. Malah, dia ngerapetin jemarinya ke sela-sela jari Arga. Di dalem mobil yang dingin karena AC, sentuhan tangan Arga kerasa anget banget.

"Jangan pernah mikir lo itu beban atau pajangan lagi," gumam Arga. "Mulai besok, lo tetep di ruangan gue. Bukan karena kontrak, tapi karena gue emang mau lo ada di sana."

Nara ngerasa matanya agak panas. Siapa yang sangka kalau si robot kaku ini bisa seluluh ini cuma dalam satu malam? Perjalanan pulang yang tadinya kerasa jauh, sekarang malah kerasa terlalu cepet.

Pas mereka sampai di depan rumah, Arga nggak langsung turun. Dia masih megang tangan Nara. Suasananya jadi beda banget, lebih intim dan bikin deg-degan.

"Ga, udah sampai," bisik Nara, suaranya agak serak.

"Gue tahu." Arga ngelepasin tangannya pelan, tapi terus dia malah maju dikit, ngecup dahi Nara lembut banget. Cuma sedetik, tapi rasanya kayak waktu berhenti muter. "Makasih buat malem ini, Nara. Istirahatlah."

Nara cuma bisa ngangguk pelan, otaknya mendadak nge-blank. Dia keluar dari mobil dengan kaki yang masih kerasa melayang, bukan karena capek, tapi karena perlakuan Arga yang bener-bener di luar skenario.

Malam itu, di bawah atap rumah yang sama, ada dua orang yang sama-sama nggak bisa tidur. Arga yang sibuk nanya ke dirinya sendiri kenapa dia bisa seluluh itu, dan Nara yang nggak berhenti megang dahinya sambil senyum-senyum sendiri.

Tembok es itu nggak cuma retak, tapi udah mulai hancur berkeping-keping.

---

Nara masuk ke dalam rumah dengan langkah yang masih terasa ringan. Pas dia ngelewatin cermin besar di lorong menuju kamar, dia berhenti sebentar. Mukanya merah padam, dan senyum di bibirnya nggak bisa bohong. Dia ngelihat pantulan dirinya sendiri—seorang wanita yang tadi pagi berangkat dengan perasaan waswas, sekarang pulang dengan hati yang penuh.

"Gila ya, Arga," gumamnya pelan sambil geleng-geleng kepala.

Dia masuk ke kamar, naruh tasnya di meja rias, terus duduk di pinggir kasur. Bau parfum maskulin Arga ternyata masih nempel di jas yang tadi sempat dia pakai. Bukannya langsung ganti baju, Nara malah meluk jas itu sebentar. Ada rasa aman yang aneh, rasa yang nggak pernah dia dapetin selama bertahun-tahun bareng Rio.

Di sisi lain, Arga masih diem di dalem mobil yang udah terparkir rapi di garasi. Mesin udah mati, tapi dia belum mau keluar. Dia megang setir dengan pandangan lurus ke depan, tapi pikirannya kacau balau.

"Apa yang barusan gue lakuin?" tanyanya ke diri sendiri.

Nyium dahi Nara itu nggak ada di perjanjian. Perhatiin ukuran sepatu Nara juga nggak ada di kontrak. Arga ngerasa kendali yang selama ini dia pegang kuat-kuat atas hidupnya sendiri perlahan-lahan mulai lepas. Tapi anehnya, dia nggak ngerasa takut. Dia malah ngerasa... lega. Kayak baru aja ngelepas beban berat yang selama ini dia bawa sendirian.

Dia keluar dari mobil, nutup pintu pelan, terus jalan masuk ke rumah. Pas ngelewatin kamar Nara, dia sempet berhenti sebentar di depan pintu yang tertutup itu. Dia mau ngetuk, mau nanya apa Nara udah beneran oke, tapi dia ragu. Takut malah makin bikin suasana jadi canggung.

Akhirnya, Arga mutusin buat balik ke kamarnya sendiri. Dia mandi air dingin buat ngetralin pikirannya yang dari tadi isinya cuma muka Nara. Pas dia udah rebahan di kasur, dia ngeraih HP-nya. Nggak ada email kerjaan mendesak, tapi dia malah ngetik sesuatu di kolom chat buat Nara.

> Arga: Jangan lupa rendam kaki pakai air anget kalau masih pegel. Jangan begadang cuma buat mikirin sketsa kuningan itu. Tidur.

Dia ragu mau mencet tombol kirim. "Ini terlalu perhatian nggak sih?" pikirnya. Tapi akhirnya, dia pencet juga.

Beberapa detik kemudian, ada balesan masuk.

> Nara: Iya, Pak Bos. Makasih ya buat sepatunya tadi. Kamu juga tidur, jangan sampai besok pas rapat malah ngantuk gara-gara jagain aku tidur tadi sore.

Arga senyum tipis. Sangat tipis. Dia naruh HP-nya di meja nakas, terus narik selimut. Malem itu, suara rintik hujan di luar nggak lagi kedengeran dingin di telinga Arga. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia ngerasa rumah ini bukan cuma sekadar bangunan besar yang sepi. Ada nyawa di dalamnya, ada warna yang pelan-pelan mulai nyatu sama dunianya yang selama ini cuma hitam putih.

Luluh itu ternyata nggak seburuk yang dia bayangin. Kadang, ngeruntuhin tembok sendiri itu perlu, biar kita tahu kalau di luar sana ada orang yang emang layak buat masuk ke dalem hidup kita.

1
Rayyan Fahlevy
semangat kak
Rayyan Fahlevy
Lanjut kak🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!