Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.
Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)
Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Ye Chen menyimpan hormat pada Xiao Han secara mendalam, walau sunyi. Keduanya kembali duduk di kursi tribun masing-masing, larut dalam gelora supporter yang meluap dari tribun sekeliling.
Tapi Xiao Han tidak bisa larut.
Ia menegang, pelipisnya mengencang. Sistem bilang [ Talent Eye : Gagal (Target terlalu jauh) ]
Sial.
Jantungnya berdegup terlalu cepat. Tanpa Talent Eye, bagaimana ia bisa memenuhi misi analisis dengan detail yang diminta? Ia menggenggam pulpen lebih erat hingga buku catatan di pangkuannya nyaris robek.
Panik tidak akan membantu.
Xiao Han menarik napas panjang, menahannya sebentar, lalu melepaskannya perlahan. Caranya mengendalikan diri di lapangan dulu, saat tekanan lawan mengepung dari segala arah, ia belajar untuk tidak terburu-buru. Sekarang, tekanan datang dari dalam kepalanya sendiri.
Aku seorang gelandang. Aku sudah membaca pertandingan jauh sebelum sistem ini ada.
Ia mengamati lapangan. Kedua tim sudah dalam posisi. Lu Gacheng berdiri di lingkaran tengah, satu kaki di depan, tubuh sedikit condong ke kanan. Posturnya tegang, seperti tali busur yang siap dilepaskan.
Ke mana bola bergulir, di mana ruang terbuka, itu sudah ada di kepalaku sejak kecil.
“Xiao Han, ada apa?” Shen Yuexi menatapnya. Keringat mengucur di dahi Xiao Han, padahal sore ini tidak terlalu panas. Angin dari utara justru membawa kesejukan.
Xiao Han mengusap keringat itu dengan lengan bajunya. “Tak apa.”
Shen Yuexi tidak percaya, tapi sebelum ia bertanya lebih lanjut.
Pritttttt!
Peluit panjang wasit memotong udara. Lu Gacheng menyentuh bola pertama, mengoper ke samping, dan ribuan suara langsung meledak.
Lautan hijau berguncang. Spanduk-spanduk besar berkibar seperti ombak yang tak kenal lelah. Di tribun utara, kelompok suporter paling vokal melantunkan yel-yel dengan irama drum yang menggetarkan dada.
Xiao Han merasakan getaran itu hingga ke tulang rusuknya.
Guangzhou langsung mengambil inisiatif. Tiga menit pertama, mereka menguasai bola dengan tempo tinggi, operan-operan pendek yang cepat di lini tengah. Lu Gacheng bergerak tanpa bola, sesekali menarik diri ke luar kotak penalti untuk membuka ruang.
“Mereka tekan sejak awal,” gumam Ye Chen. Tangannya menggenggam lutut sendiri, gelisah.
Xiao Han tidak menjawab. Matanya mengikuti pergerakan Lu Gacheng, mencatat setiap langkahnya di kepala.
Dia bergerak ke kanan lagi. Itu zona nyamannya. Bek kiri Zhejiang harus tutup jalur umpan dari sayap.
Tapi bek kiri Zhejiang terlalu fokus pada bola, membiarkan Lu Gacheng bebas bergerak di belakang punggungnya.
“Lihat,” Xiao Han menunjuk. “Lu Gacheng membaca ruang di antara bek tengah dan bek kiri. Kalau gelandang Guangzhou punya visi, mereka akan—”
Sebuah umpan terobosan melesat dari lini tengah Guangzhou, menembus celah sempit di antara dua bek Zhejiang. Lu Gacheng sudah berlari, sudah siap menyambut.
Stadion menarik napas bersamaan.
Bek tengah Zhejiang, nomor 5, melakukan tekel terjun. Kaki panjangnya menyapu bola tepat saat Lu Gacheng hendak melepaskan tembakan.
Bola menggelinding ke luar lapangan. Tendangan gawang.
Stadion menghela napas lega.
“Untung,” kata Ye Chen.
Xiao Han menggeleng. “Bukan untung. Nomor 5 Zhejiang sudah membaca gerakannya sejak awal. Lihat bagaimana dia mundur setengah langkah sebelum Lu Gacheng mulai berlari. Dia tahu.”
Ye Chen menoleh. “Kau bisa lihat itu dari sini?”
“Dari cara dia memosisikan tubuh. Bek yang baik tidak mengejar bola, dia mengejar ruang. Nomor 5 itu tahu di mana Lu Gacheng akan berlari, bukan di mana bola berada.”
Wei Ying, yang sedari tadi diam, kini mencondongkan badan. “Kak Han, bagaimana cara membaca ruang seperti itu?”
Xiao Han tersenyum kecil. “Kau tonton terus. Nanti kau akan lihat sendiri polanya.”
Di lapangan, Lu Gacheng berjalan kembali ke posisinya. Sesaat, ia menoleh ke arah tribun, bukan ke arah mereka, tapi ke arah lain. Tapi Xiao Han bisa melihat raut wajahnya dari kejauhan.
Gerahamnya mengatup. Tidak puas.
Dia lapar gol, pikir Xiao Han. Tapi belum bisa memaksakan diri.
Tiga menit babak pertama berlalu.
Delapan menit kemudian.
Zhejiang mulai keluar dari tekanan. Formasi 4-4-2 mereka yang tadinya bertahan, kini mulai membangun serangan dari sayap.
Gelandang sayap kanan Zhejiang, nomor 7, mendapatkan bola di sepertiga lapangan lawan. Ia melambat, menunggu pergerakan striker.
“Sekarang,” bisik Xiao Han.
Nomor 7 mengirim umpan silang melengkung ke kotak penalti. Dua striker Zhejiang sudah siap. Satu menarik bek ke kanan, satu yang lain berlari ke tiang jauh.
Tapi bek tengah Guangzhou, nomor 4, memotong umpan dengan sundulan bersih.
Serangan gagal.
“Sayang,” kata Ye Chen.
Xiao Han menggeleng. “Bukan sayang. Umpannya bagus, tapi timing larinya kurang sinkron. Kalau striker kedua mundur setengah meter, bola itu bisa disambut.”
Ia menulis sesuatu di buku catatannya.
Zhejiang 4-4-2: serangan sayap efektif, tapi koordinasi antar striker masih kasar. Butuh waktu.
“Kau mencatat semuanya?” Shen Yuexi menyenggol sikunya.
“Hanya yang penting.”
“Apa yang penting?”
Xiao Han berpikir sejenak. “Kebiasaan. Pola. Kebiasaan pemain, pola tim. Sepak bola itu soal pengulangan. Tim yang bagus punya pola yang konsisten. Tim yang hebat tahu kapan harus mematahkan polanya sendiri.”
Shen Yuexi mengerutkan kening. “Aku tidak terlalu paham.”
“Kau lihat Lu Gacheng tadi?” Xiao Han menunjuk. “Dia bergerak ke kanan tiga kali dalam delapan menit pertama. Itu pola. Bek kiri Zhejiang pasti sudah mulai membaca. Sekarang lihat apa yang terjadi selanjutnya.”
Tepat saat ia selesai bicara, Lu Gacheng menerima bola di tengah lapangan. Alih-alih bergerak ke kanan seperti sebelumnya, ia berputar ke kiri, meninggalkan bek kiri yang sudah bersiap menutup jalur kanan.
Bek kiri Zhejiang terpaku. Lu Gacheng melepaskan tembakan dari luar kotak penalti.
Bola melesat, melengkung tipis, tapi kiper Zhejiang masih bisa menepisnya ke sudut gawang.
Stadion bergemuruh. Sebagian supporter Guangzhou bersorak, sebagian supporter Zhejiang menghela napas lega.
Ye Chen menatap Xiao Han dengan mata membelalak. “Kau tahu dia akan melakukan itu?”
“Aku tahu dia harus melakukan itu,” koreksi Xiao Han. “Pola yang terlalu mudah dibaca akan dimanfaatkan lawan. Pemain hebat seperti Lu Gacheng tahu kapan harus mematahkan polanya sendiri, dia memang kurang pengalaman, tapi bakatnya matang.”
Ia menulis lagi.
Lu Gacheng: adaptif. Kelemahan kaki kiri tidak terlalu signifikan seperti yang kukira dulu. Tekan dari kanan tetap efektif, tapi jangan tinggalkan ruang di kiri.
“Tapi tembakannya masih melebar,” kata Wei Ying polos.
“Melebar tipis,” Xiao Han mengoreksi. “Lain kali, dia akan menyesuaikan. Itulah yang membuatnya berbahaya. Dia belajar dari setiap percobaan.”
Guangzhou kembali menekan. Sesuai prediksi Xiao Han, mereka meningkatkan intensitas di menit-menit awal. Tapi Zhejiang bertahan disiplin, garis pertahanan tetap rapat, lini tengah bekerja keras menutup ruang.
“Mereka bertahan terlalu dalam,” kata Ye Chen gelisah. “Kalau terus begini, Guangzhou akan menemukan celah.”
Xiao Han mengamati papan skor elektronik di ujung stadion. 0-0. Lima belas menit sudah berlalu.
“Lihat gelandang tengah Zhejiang,” katanya. “Nomor 8 dan 10. Mereka tidak hanya bertahan. Lihat posisi mereka saat Guangzhou menguasai bola.”
Ye Chen menyipit. “Mereka ... mundur, tapi tidak terlalu dalam. Masih di tengah.”
“Itu kunci formasi 4-4-2. Gelandang tengah tidak boleh terlalu dalam, karena mereka adalah jembatan ke serangan balik. Kalau mereka ikut mundur ke kotak penalti, tim akan kehilangan opsi untuk keluar dari tekanan.”
Seperti menjawab analisis Xiao Han, nomor 8 Zhejiang merebut bola di tengah lapangan. Dalam dua sentuhan, ia mengoper ke sayap kiri, tempat gelandang sayap sudah berlari meninggalkan bek kanan Guangzhou yang naik terlalu tinggi.
Serangan balik.
Stadion bangkit. Ribuan suara meneriakkan nama Zhejiang.
Gelandang sayap kiri berlari cepat, menggiring bola di sisi lapangan yang terbuka lebar. Dua bek Guangzhou berusaha mengejar dari belakang.
“Masuk ke kotak,” desis Xiao Han, tak sadar tangannya mengepal.
Pemain itu mengirim umpan mendatar ke depan kotak penalti, tempat salah satu striker Zhejiang sudah siap.
Tapi bek Guangzhou nomor 4 muncul entah dari mana, menjatuhkan diri, memotong umpan dengan ujung sepatunya. Bola memantul keluar. Tendangan sudut.
“Sial,” umpat Ye Chen.
Xiao Han menghela napas. “Bukan sial. Nomor 4 Guangzhou membaca umpan itu sejak awal. Lihat bagaimana dia meninggalkan striker yang dijaganya setengah langkah untuk memotong jalur operan.”
Ia menulis cepat.
Zhejiang: serangan balik efektif, tapi final pass masih bisa dibaca. Striker harus lebih kreatif dalam gerakan tanpa bola.
Wei Ying yang duduk di ujung, kini sudah tidak bisa diam. “Kak Han, bagaimana caranya jadi gelandang sepertimu? Maksudku, bisa membaca semua itu?”
Xiao Han menoleh. Wajah bocah itu serius, matanya berbinar dengan campuran kagum dan keingintahuan.
“Kau mulai dengan satu hal,” kata Xiao Han. “Pilih satu pemain di lapangan. Amati gerakannya selama lima menit. Ke mana dia pergi, kapan dia berlari, kapan dia berhenti. Setelah kau bisa membaca satu pemain, lakukan pada pemain lain. Lama-lama, kau akan melihat lapangan sebagai satu kesatuan.”
Wei Ying mengangguk cepat, lalu matanya langsung tertuju ke lapangan, mencari satu pemain untuk diamati.
Shen Yuexi tersenyum melihatnya, lalu melirik Xiao Han. “Kau benar-benar berbeda, Han.”
“Apa maksudmu?”
“Dulu, kau hanya bicara tentang tendangan dan dribel. Sekarang, kau bicara tentang ruang, pola, kebiasaan.” Ia menggenggam tangan Xiao Han sebentar. “Kau tumbuh.”
Xiao Han tidak menjawab. Tapi ujung bibirnya naik tipis.