NovelToon NovelToon
GAMON

GAMON

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:443
Nilai: 5
Nama Author: Vianza

"Cintai aku sekali lagi."

(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)

---

"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Keana Jatuh

...GAMON...

...Bab 9: Keana Jatuh...

...POV Keana...

---

Dua Bulan Bersama Andra

Empat Bulan Sejak Putus dari Bima

Keana berdiri di depan jendela apartemen. Lantai 27. Pemandangan Jakarta membentang di bawah sana—gemerlap lampu, gedung pencakar langit, kemacetan yang dari sini terlihat seperti seni abstrak.

Cantik.

Tapi dingin.

Dia memeluk tubuhnya sendiri. AC terlalu dingin, atau mungkin darahnya lagi nggak hangat. Dia nggak tahu.

Yang dia tahu: Andra janji pulang jam 7. Sekarang jam 9 malam. Dan belum ada kabar.

---

Ponsel di tangan. Layar gelap. Udah dua jam dia tunggu pesan masuk.

Dia buka chat dengan Andra. Pesan terakhir dari dia jam 5 sore:

Andra (17.02): "Meeting molor. Pulang telat. Lo makan duluan."

Meeting molor. Pulang telat. Makan duluan.

Kalimat itu udah berapa kali dia denger dalam dua bulan terakhir? Puluhan? Ratusan?

Dulu, Bima nggak pernah bilang kayak gitu. Bima selalu bilang: "Sayang, aku jemput ya." Atau "Sayang, aku masak, tungguin." Atau "Sayang, kangen."

Kangen.

Kata yang udah lama nggak dia denger dari Andra.

---

Keana taruh ponsel. Jalan ke dapur. Buka kulkas.

Makanan pesan online dari tadi malam masih ada. Nggak disentuh. Masakan Andra? Nggak pernah. Andra nggak pernah masak. Andra pesan. Atau ajak ke restoran. Itu aja.

Dulu, Bima selalu masak. Sop iga. Tumis kangkung. Nasi goreng. Masakan sederhana, tapi hangat. Masakan yang bikin dia merasa di rumah.

Sekarang, dia punya apartemen mewah, tapi nggak punya rumah.

---

Pukul 22.00

Pintu terbuka. Andra masuk. Bau alkohol tipis, bau parfum yang bukan parfumnya.

"Lo belum tidur?" tanyanya, tanpa lihat Keana. Langsung buka dasi, lempar ke sofa.

Keana duduk di ruang tamu. Menatapnya.

"Lo janji pulang jam 7."

Andra berhenti. Tatap dia. Matanya—buat pertama kalinya malam itu—fokus ke Keana.

"Lo ngitung jam sekarang?"

"Gue cuma—"

"Kean, gue capek. Jangan mulai."

Keana diem. Tapi dadanya panas.

"Mulai apa? Mulai nanya kapan pacar pulang? Itu salah?"

Andra menghela napas. Panjang. Kayak orang yang lagi nahan emosi.

"Gue bilang meeting molor. Udah. Selesai. Nggak perlu didramain."

Didramain.

Kata itu. Didramain.

Dulu, pas sama Bima, dia nggak pernah denger kata itu. Bima selalu dengerin. Bima selalu nanggapin. Bima selalu bilang "maaf ya, Sayang" meskipun bukan salah dia.

Tapi Andra? Andra bilang "didramain".

Keana diem. Matanya mulai basah.

Andra lihat itu. Tapi bukannya mendekat, dia malah jalan ke kamar.

"Gue mandi dulu. Capek."

Pintu kamar tertutup.

Keana sendirian di ruang tamu. Apartemen luas. Sunyi. Dingin.

Dan air matanya jatuh.

---

Seminggu Kemudian

Pola yang sama. Andra pulang malam. Andra sibuk. Andra dingin. Keana nanya—Andra sebel. Keana diem—Andra nggak peduli.

Mereka kayak dua orang asing yang kebetulan tidur di ranjang yang sama.

Suatu malam, Keana nggak tahan.

"And, kita perlu ngomong."

Andra lagi di sofa, main ponsel. Matanya nggak lepas dari layar.

"Ngomong apa?"

"Ini." Keana duduk di hadapannya. "Kita. Hubungan kita."

Andra angkat muka. Tatap dia. Lalu—yang bikin Keana kaget—dia malah senyum.

"Kean, lo mau ngomongin hubungan kita?" Suaranya aneh. "Oke. Ayo."

Keana maju. "Gue ngerasa... akhir-akhir ini lo jauh. Lo sibuk terus. Lo nggak pernah ada buat gue."

Andra letakkan ponsel. Tatap dia. Lama.

"Lo tahu kenapa?"

Keana geleng.

"Karena gue lagi sibuk mikirin hubungan gue yang lain."

Diam.

Keana nggak ngerti. "Maksud lo?"

Andra berdiri. Berjalan ke meja, ambil sesuatu. Sebuah ponsel—bukan ponsel yang tadi dia mainin.

"Ini."

Dia kasih ke Keana.

Keana buka. Layar terbuka. Chat. Dengan nama cewek. Foto cewek. Dan chat-chat mesra yang nggak seharusnya ada.

Dunia Keana berhenti.

"Lo... selingkuh?"

Andra mengangkat bahu. Santai. Kayak lagi ngomongin cuaca.

"Iya."

Satu kata. Tanpa penyesalan. Tanpa rasa bersalah. Tanpa apa-apa.

Keana nggak bisa ngomong. Mulutnya kering. Tangannya gemetar.

"Lo... lo..." Suaranya pecah. "Lo keterlaluan."

Andra duduk lagi. Ambil ponselnya. Santai.

"Kean, lo tahu dari awal gue kayak gimana. Gue nggak pernah janji jadi cowok setia." Dia tatap Keana. "Lo yang milih gue. Lo tahu risiko."

Keana nangis. Nangis di depan dia. Tapi Andra nggak bereaksi. Nggak bergerak. Nggak bilang apa-apa.

Dia cuma lihat. Kayak nonton film.

"Gue... gue..." Keana nggak bisa ngomong.

"Udah." Andra berdiri. "Gue mau tidur. Lo boleh tidur di sini, atau pulang. Terserah."

Dia masuk kamar. Pintu ditutup. Tidak dikunci—tapi nggak juga dibuka.

Keana sendirian. Di ruang tamu. Di apartemen yang tiba-tiba terasa asing.

Dia genggam ponsel Andra yang tadi dikasih. Chat-chat itu masih terbuka. Nama cewek itu: Dinda. Foto mereka berdua di restoran. Restoran yang sama tempat Andra ngajak dia minggu lalu.

Dia telah dibodohi. Dari awal. Sepanjang waktu. Dan dia terlalu bodoh buat sadar.

---

Malam Itu – Di Kos Maya

Keana nggak tahu gimana caranya dia bisa sampai ke sini. Yang dia ingat: naik taksi, nangis di dalam, supir kasih tisu, dia ambil tapi nggak dipake.

Pintu Maya terbuka. Maya kaget setengah mati.

"Kean?! Jam 2 pagi! Lo ken—" Maya berhenti. Lihat muka Keana. Langsung tarik masuk.

Keana jatuh di sofa Maya. Nangis. Nggak bisa berhenti.

Maya duduk di samping. Nggak nanya. Cuma elus punggungnya. Sampai tangis Keana reda.

"A... Andra..." Keana mulai.

"Iya. Cerita."

Keana cerita. Tentang Andra yang selingkuh. Tentang chat-chat itu. Tentang kata-kata Andra: "Lo tahu risiko."

Maya dengerin. Sampai habis.

Lalu Maya ngomong. Satu kalimat. Sederhana. Tapi nusuk.

"Kean, lo tahu nggak? Ini karma."

Keana tersentak. "May!"

"Ini karma, Kean." Maya tatap dia. Nggak marah, tapi tegas. "Lo tinggalin Bima. Lo bilang dia 'predictable'. Lo bilang dia nggak akan pernah bisa saingin mereka. Lo pilih Andra. Dan sekarang lo dapet Andra—persis kayak dia adanya."

Keana diem. Air mata masih jatuh.

"Lo tahu bedanya Bima sama Andra?" Maya lanjut. "Bima itu tulus. Bima itu setia. Bima itu—apa pun yang lo minta—dia usahain. Tapi lo bilang itu nggak cukup. Sekarang lo dapet Andra. Kaya. Mapan. Tapi hatinya nggak pernah buat lo."

Keana nunduk. Tangannya ngepal.

"Aku... aku tahu, May."

"Lo tahu? Terus?"

"Aku... aku nyesel."

Maya diem.

"Nyesel, Kean? Atau nyesel karena kejebak?"

"Nyesel. Beneran." Keana angkat muka. "Aku nyesel udah ninggalin Bima. Aku nyesel udah milih Andra. Aku nyesel... udah jadi orang bego."

Maya menghela napas. Panjang.

"Lo tahu, Kean... penyesalan itu gratis. Tapi nggak semua penyesalan bisa bawa lo balik ke masa lalu."

Keana nangis lagi.

---

Pagi Hari

Keana tidur di sofa Maya. Mimpi buruk. Bangun-bangun, Maya udah di dapur, masak sarapan.

"Bangun. Makan."

Keana duduk. Lesu. Mata bengkak.

Maya taruh piring di depan dia. Nasi goreng. Telur ceplok. Sederhana. Tapi hangat.

"Ini... mirip masakan Bima."

Maya diem.

Keana makan. Sendok demi sendok. Air mata jatuh ke nasi.

"Makan sambil nangis gini, asin, Kean."

Keana ketawa pahit. "Iya."

Mereka makan diam-diam.

---

Siang – Keana Pulang ke Apartemen

Apartemen itu terasa lebih dingin dari semalem. Mungkin karena dia tahu sekarang: Andra nggak akan berubah. Dan dia nggak punya tempat di sini.

Dia masuk kamar. Andra udah pergi. Mungkin kerja. Mungkin ketemu Dinda. Dia nggak peduli.

Dia buka lemari. Ambil koper. Mulai packing.

Baju. Sepatu. Tas. Barang-barang yang dia bawa dari kost dulu. Yang dia beli selama sama Andra—dia tinggal.

Ponsel bergetar. Bukan Andra. Tapi Maya.

Maya: "Lo kuat?"

Keana: "Mau packing. Mau keluar dari sini."

Maya: "Gue bantu. Jam 4 gue ke sana."

Keana: "Makasih, May."

Dia taruh ponsel. Lanjut packing.

Di tengah packing, tangannya nemu sesuatu. Bungkusan kecil. Di balik baju-baju.

Dia buka.

Itu bekal. Bekal dari Bima. Dari hari terakhir mereka. Nasi goreng dengan telur ceplok mata sapi. Wortel bentuk hati. Kertas kecil:

"Maaf ya cuma bisa bikinin ini. Lupa beli sayur. Tapi semoga suka. Jangan lupa makan. Love you always."

Keana pegang kertas itu. Baca berulang kali.

Nasi goreng itu udah basi. Tapi dia nggak tega buang. Mungkin karena itu satu-satunya yang tersisa dari Bima. Satu-satunya bukti kalau dia pernah dicintai dengan tulus.

Dia duduk di lantai. Koper terbuka. Bekal basi di tangan.

Dan dia nangis. Nangis kayak nggak ada hari esok.

---

Sore – Maya Dateng

Maya lihat Keana duduk di lantai, megang bekal basi. Dia nggak nanya. Dia langsung duduk di samping, peluk Keana.

"Udah, Kean. Udah."

"Aku... aku nggak tahu harus ke mana, May."

"Ke kos lo. Yang lama. Yang lo tinggalin."

"Tapi itu... itu penuh kenangan."

"Iya. Tapi kenangan itu milik lo. Bukan punya Andra." Maya lepas peluk. "Lo harus punya tempat sendiri. Mulai dari awal."

Keana tatap Maya.

"Lo bakal temenin aku?"

"Sampai kapan pun."

---

Malam – Kost Lama Keana

Kost itu masih kosong. Masih sama. Dinding retak di pojok kanan. Bau kayu tua. Kamar mandi kecil.

Tapi malam ini, itu terasa lebih seperti rumah daripada apartemen mewah Andra.

Keana buka koper. Mulai nata barang.

Maya bantu. Sambil sesekali becanda.

"Lo ingat nggak, dulu lo pernah cerita Bima mau nambal retakan itu?"

Keana berhenti. Lihat retakan di langit-langit.

"Iya. Aku bilang nggak usah."

Maya diem.

Keana lanjut nata. Tapi matanya sesekali ke retakan itu.

Dan di dalam hati, dia berbisik:

"Maaf, Bim. Maaf udah nggak hargai lo. Maaf udah buang semua yang lo kasih."

Tapi Bima nggak denger. Bima udah jauh. Bima mungkin udah lupa.

Atau mungkin—lebih sakit lagi—Bima udah nggak peduli.

---

Bersambung ke Bab 10: Bima Ketemu Lagi—Tapi Beda

---

...📝 Preview Bab 10:...

Keana mulai hidup sendiri. Tapi di setiap sudut, ada bayangan Bima.

Sementara itu, Bima makin dekat dengan Rina. Tanpa sadar, dia mulai membuka hati.

Dan takdir—yang kejam atau penyayang, tergantung cara lihat—akan mempertemukan mereka lagi.

Tapi pertemuan kali ini, semuanya beda.

Bab 10: Bima Ketemu Lagi—Tapi Beda—segera!!!

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!