Arka Wijaya pernah diburu seluruh pendekar di Benua Arcapura demi Permata Racun Nirwana. Terpojok di Tebing Langit Senja, ia menelan artefak itu dan melompat ke jurang kematian.
Semua orang mengira ia telah mati.
Namun Arka bangkit kembali—di tubuh seorang pemuda lumpuh dari Klan Wijaya, yang bahkan tak mampu mengolah tenaga batin.
Dihina, diremehkan, dan dianggap sampah oleh dunia pendekar, tak seorang pun menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh rapuh itu adalah legenda yang pernah mengguncang Arcapura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
“Baik, sekarang kita bisa mulai.” Darma meluruskan duduknya dan akhirnya mengambil posisi yang layak, lalu menatap ke bawah sambil berbicara ringan, “Namaku Darma Wijaya, berasal dari Perguruan Wijaya pusat. Mengenai nama besar perguruan kami, kalian semua tentu sudah mengetahuinya. Di Kerajaan Surya Kencana, tak ada perkara yang tak dapat diselesaikan oleh kami. Kalian semua seharusnya merasa terhormat dan bangga, karena meski kalian lemah, tetap bisa dikatakan memiliki hubungan dengan kami. Pendiri Keluarga Wijaya di sini adalah putra salah satu Tetua perguruan pusat kami. Namun meskipun ia putra seorang tetua, sebenarnya ia lahir dari seorang pelayan wanita. Statusnya sangat rendah hingga tak layak disebut, dan kekuatan tenaga dalamnya pun terlalu lemah. Sebagai sampah, ia tak pantas tinggal di pusat. Karena itu, ia diusir oleh tetua tersebut ke tempat ini, dan begitulah Keluarga Wijaya ini terbentuk.”
Kata-kata Darma yang sangat tajam sama sekali tidak menyembunyikan penghinaan terhadap Keluarga Wijaya beserta pendirinya. Beberapa anggota keluarga mengernyit mendengarnya, namun tak seorang pun berani menentang.
Darma memang bersikap liar dan sewenang-wenang, tetapi di dalam Keluarga Wijaya, ia benar-benar memiliki hak untuk bertindak demikian. Jangankan kata-katanya yang menusuk telinga, bahkan seandainya ia terang-terangan menyebut seluruh Keluarga Wijaya sebagai anjing, semua orang di sana tetap harus mendengarkannya dengan patuh. Tidak akan ada seorang pun yang berani membantah. Bahkan, mungkin saja ada yang dengan senang hati mengibas-ngibaskan ekornya.
“Sebelum Tetua Bayu wafat, ia masih mengingat kasih sayangnya kepada keturunannya dan meninggalkan wasiat terakhir. Ia berharap kami dapat menemukan orang dengan bakat terbaik di antara generasi muda di sini untuk dibawa kembali ke Perguruan Wijaya pusat.”
Darma mengambil daftar nama yang telah disiapkan Jati semalaman, menyapukan pandangan ke sekeliling, lalu berkata dengan nada angkuh, “Hari ini, aku sendiri yang akan memeriksanya. Nanti, siapa pun yang namanya kupanggil harus maju ke depanku dan memperlihatkan tenaga dalam kalian. Namun, bakat tidak ditentukan oleh tingkat kekuatan semata, melainkan oleh fondasi dan potensi!”
“Sebelum datang ke sini, ayah terhormatku memintaku membawa satu paket Bubuk Pembuka Nadi. Orang yang terpilih bukan hanya akan dibawa kembali ke pusat, tetapi juga akan menerima Bubuk Pembuka Nadi ini sebagai hadiah! Obat yang baik hanya pantas dinikmati oleh mereka yang berbakat. Menggunakannya pada tubuh sampah hanyalah pemborosan!” Sambil berkata demikian, pandangan Darma melirik ke arah Jati Wijaya. “Kepala Keluarga, keluarkan Bubuk Pembuka Nadi itu. Meski ini adalah hadiah bagi Keluarga Wijaya, kau tentu tidak keberatan menjadikannya ganjaran bagi orang dengan bakat terbaik, bukan?”
Betapapun tidak masuk akalnya ucapan Darma, Jati Wijaya tetap tidak berani menunjukkan sedikit pun keberatan. Namun, begitu mendengar perkataannya, wajah Jati mendadak memucat, keringat dingin bermunculan di dahinya. Ia tidak bergerak untuk mengambil obat tersebut, melainkan berdiri terpaku dengan wajah gelisah.
“Ada apa?” raut wajah Darma menggelap. “Kepala Keluarga Wijaya, jangan-jangan kau enggan melepaskan Bubuk Pembuka Nadi itu?”
“Tidak, tidak, tentu tidak!” Jati Wijaya segera menggeleng dengan wajah penuh ketakutan. “Hanya saja… hanya saja…”
“Hanya saja apa?”
Dengan bunyi bughh, Jati langsung berlutut dengan satu lutut, kedua tangannya gemetar. Dengan wajah dipenuhi teror, ia berkata, “H-hamba pantas mati… Bubuk Pembuka Nadi yang Tuan Muda Darma anugerahkan kemarin, hamba simpan di ruang pengobatan keluarga dan telah berpesan dengan tegas agar dijaga baik-baik. Namun… namun pagi ini, petugas ruang pengobatan tiba-tiba datang melapor bahwa obat itu secara tak terduga… tak terduga telah hilang!”
Hua—!
Kerumunan di bawah seketika gempar.
Mencuri harta yang dibawa utusan pusat… siapa yang punya nyali sebesar itu?!
“Hm?” Arka sedikit mengernyit, kecurigaan muncul di hatinya. Berdasarkan pengenalannya terhadap Jati Wijaya selama belasan tahun, ia tahu bahwa orang itu sangat berhati-hati. Dengan sifatnya, menyimpan harta pemberian pusat di ruang pengobatan alih-alih menyimpannya sendiri terasa agak tidak masuk akal. Terlebih lagi, ruang pengobatan hanya dijaga oleh Pak Gusti—seorang pria hampir berusia enam puluh tahun yang sepenuhnya mencurahkan hidupnya pada pengobatan dan nyaris tidak memiliki tenaga dalam. Tempat itu bisa dibilang area dengan pertahanan terlemah di seluruh kediaman.
Bukan hanya itu. Obat tersebut dibawa oleh utusan pusat. Sekalipun seseorang menginginkannya, setidaknya mereka akan menunggu hingga orang-orang pusat pergi sebelum bertindak. Mengapa justru memilih waktu yang begitu berbahaya? Bahkan jika berhasil mencurinya, apakah mereka masih punya nyawa untuk memanfaatkannya?
Tubuh Nata Wijaya bergetar hebat. Ia segera melirik ke arah Lili, hanya untuk mendapati wajah gadis itu juga penuh keterkejutan. Menyadari tatapan tajam ayahnya, Lili segera menggelengkan kepala kuat-kuat, menegaskan bahwa ia sama sekali tidak terlibat. Nata menarik kembali pandangannya dan diam-diam menghela napas lega.
“Apa… apa!!”
Darma berdiri mendadak dari kursinya. Wajahnya menggelap luar biasa, tubuhnya memancarkan aura kejam. Ia menatap Jati Wijaya dengan sorot ganas dan berkata, “Kau mengatakan… benar-benar ada orang yang berani mencuri Bubuk Pembuka Nadi?”
“Hamba gagal menjaganya dengan baik. Mohon Tuan Muda Darma menjatuhkan hukuman,” ujar Jati menunduk, wajahnya dipenuhi rasa malu dan takut.
“Ini sungguh keterlaluan!” Darma menarik napas kasar, dadanya naik turun hebat. Raut wajahnya semakin suram; jelas ia sangat murka. “Ada orang yang berani mencuri hadiah kami untuk Keluarga Wijaya. Bagus! Sangat bagus! Aku benar-benar meremehkan Kota Tirta Awan! Kalian ternyata… cukup berani!”
Kemarahan dan niat membunuh Darma seakan menyelimuti hampir seluruh halaman. Semua orang merasakan tulang punggung mereka menggigil, jantung berdebar tak menentu. Tak seorang pun berani bernapas keras; mereka menundukkan kepala, takut tatapan Darma tertuju pada mereka.
Arka memejamkan mata setengah. Pandangannya tertuju langsung pada mata Darma. Beberapa saat kemudian, ia menyenggol Nata Wijaya dan berbisik, “Kakek, Kepala Keluarga tidak menyinggung Darma ini kemarin, bukan?”
Nata terkejut sejenak, lalu menggeleng. “Jati selalu berhati-hati. Ia seharusnya tidak bertindak sejauh itu.”
“Kalau begitu aneh,” gumam Arka sambil mengusap dagunya. “Kemarahan Darma ini jelas palsu. Jika Kepala Keluarga memang menyinggungnya, lalu ia berniat mencuri sendiri dan menimpakan kesalahan pada Kepala Keluarga, itu masih masuk akal. Namun jika tidak… jangan-jangan Darma ini sedang memainkan sandiwara seorang diri?”
“… Jaga ucapanmu,” Nata tidak memahami maksudnya sepenuhnya dan hanya memperingatkan dengan lirih.
Tatapan Darma menjadi licik, wajahnya menggelap seperti awan badai. “Kemarin, ketika aku mengeluarkan Bubuk Pembuka Nadi, yang hadir di sekitarnya hanyalah anggota Keluarga Wijaya. Aku rasa kalian tidak sebodoh itu hingga membiarkan kabar tentang obat bermutu tinggi ini bocor ke telinga orang luar. Selain itu, kemampuan pertahanan keluarga kalian di Kota Tirta Awan tidak bisa dibilang lemah. Jika orang luar ingin menerobos masuk, itu jelas tidak mudah… Maka, pencurinya pasti berasal dari Keluarga Wijaya sendiri!”