NovelToon NovelToon
Cinta Ribuan Duri

Cinta Ribuan Duri

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / CEO
Popularitas:463
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”

Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.

— Cinta Ribuan Duri —

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Awal yang Canggung

Pagi itu rumah keluarga Arhan dipenuhi kesibukan.

Beberapa orang berjalan mondar-mandir membawa bunga, dekorasi, dan berbagai perlengkapan acara. Suasana yang biasanya tenang berubah menjadi ramai sejak matahari belum sepenuhnya naik.

Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi Ardila. Hari pernikahannya.

Di dalam kamar, Ardila duduk di depan cermin besar sementara seorang perias sedang menyempurnakan riasannya. Gaun putih yang ia kenakan terlihat sederhana namun anggun, jatuh lembut mengikuti bentuk tubuhnya.

Ardila menatap bayangannya sendiri di cermin. Semua terasa seperti mimpi yang berjalan terlalu cepat.

Baru beberapa waktu lalu ia duduk di meja makan mendengar rencana perjodohan itu. Sekarang ia sudah duduk di sini, bersiap menjalani pernikahan yang bahkan belum sempat ia pahami sepenuhnya.

“Cantik sekali, Nona,” puji perias itu.

Ardila hanya tersenyum tipis. Di balik senyum itu, hatinya dipenuhi berbagai perasaan yang sulit dijelaskan.

Pintu kamar terbuka perlahan. Bu Anita masuk dengan langkah pelan.

Wanita itu terlihat sangat bahagia, meskipun wajahnya masih menyimpan sedikit kelelahan karena kondisi kesehatannya. “Ardila…” panggilnya lembut.

Ardila menoleh. “Mama.”

Bu Anita mendekat dan berdiri di belakang putrinya, menatap pantulan mereka di cermin.

“Kamu sangat cantik hari ini.”

Ardila menggenggam tangan ibunya.

“Terima kasih, Ma.”

Beberapa detik mereka terdiam.

Bu Anita kemudian mengusap lembut bahu Ardila. “Mama tahu semuanya terjadi sangat cepat,” katanya pelan. “Tapi Mama percaya kamu bisa menjalaninya.”

Ardila tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk kecil.

Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu. “Waktunya sudah hampir tiba,” kata seorang panitia acara dari luar. Ardila menarik napas panjang.

Hari itu akhirnya benar-benar datang. Beberapa waktu kemudian, Ardila berjalan menuju tempat akad dengan langkah pelan.

Ruangan itu dipenuhi tamu dari kedua keluarga. Bunga-bunga putih menghiasi hampir seluruh sudut ruangan, memberikan suasana yang hangat sekaligus sakral.

Di depan, Rafa Andreo sudah duduk bersama para saksi. Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang membuatnya terlihat lebih dewasa dan berwibawa.

Ekspresinya tetap tenang seperti biasa. Ketika Ardila mendekat, Rafa sempat menoleh ke arahnya. Pandangan mereka bertemu sebentar. Tidak ada senyum, namun juga tidak ada penolakan.

Hanya sebuah tatapan singkat yang terasa canggung. Acara akad berlangsung dengan khidmat. Pak Arhan menyerahkan tangan putrinya kepada Rafa dengan wajah penuh haru. Rafa mengucapkan ijab kabul dengan suara tegas.

Beberapa detik kemudian, para saksi menyatakan akad itu sah.

Suara ucapan selamat langsung memenuhi ruangan. Ardila resmi menjadi istri Rafa Andreo.

Sepanjang acara resepsi, Ardila berdiri di samping Rafa menyambut para tamu yang datang memberi selamat. Beberapa tamu memuji pasangan mereka.

“Serasi sekali.”

“Semoga bahagia selalu.”

Ardila hanya membalas dengan senyum sopan. Sementara Rafa tetap bersikap tenang, sesekali mengucapkan terima kasih kepada para tamu. Hari itu terasa sangat panjang bagi Ardila.

Ketika acara akhirnya selesai dan para tamu mulai pulang, tubuhnya sudah terasa sangat lelah. Malam sudah cukup larut ketika mobil yang membawa mereka berhenti di depan sebuah rumah besar.

Itu adalah rumah Rafa.

Ardila turun dari mobil dengan langkah pelan sambil menatap rumah yang kini akan menjadi tempat tinggalnya. Rafa membuka pintu rumah dan mempersilakannya masuk.

“Silakan.”

Ardila mengangguk kecil.

Rumah itu terasa luas dan sangat tenang. Tidak banyak orang di dalamnya, hanya beberapa lampu yang menyala lembut. Rafa kemudian mengantar Ardila ke lantai atas.

“Kamar kita di sini,” katanya singkat.

Ia membuka pintu sebuah kamar besar. Ruangan itu terlihat rapi dan elegan dengan tempat tidur besar di tengahnya. Ardila berdiri di dekat pintu, sedikit canggung.

Ini adalah pertama kalinya ia berada di kamar suaminya. Rafa masuk lebih dulu dan meletakkan jasnya di kursi. Beberapa detik mereka hanya terdiam. Suasana di antara mereka terasa kaku.Akhirnya Rafa memecah keheningan.

“Aku harus pergi sebentar.”

Ardila menoleh. “Pergi?”

“Ada urusan kantor yang mendadak,” jelas Rafa singkat. “Ada beberapa hal yang harus segera diselesaikan.”

Ardila sedikit terkejut. “Malam ini?”

Rafa mengangguk. “Tidak akan lama.”

Ardila sebenarnya ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Ini adalah malam pertama pernikahan mereka.

Namun ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Rafa mengambil kunci mobilnya dari meja.

“Kamu bisa istirahat dulu.”

Ardila hanya mengangguk kecil.

“Baik.”

Rafa berjalan menuju pintu kamar, lalu berhenti sejenak.

“Kalau butuh sesuatu, bilang saja pada pelayan rumah.”

“Ya.”

Beberapa detik kemudian, Rafa benar-benar pergi. Suara langkahnya perlahan menghilang di lorong rumah.

Tak lama kemudian terdengar suara pintu utama tertutup.Ardila kini sendirian di kamar itu.Ia berdiri beberapa saat sebelum akhirnya duduk di tepi tempat tidur besar tersebut. Ruangan itu terasa sangat sunyi.

Gaun pengantinnya yang indah kini terasa berat di tubuhnya. Ardila menatap sekeliling kamar.

Hari ini ia telah menikah. Namun malam pertama pernikahannya justru dihabiskan sendirian. Ia menghela napas pelan.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada kata-kata buruk.

Namun juga tidak ada kehangatan yang biasanya dibayangkan orang tentang malam pertama.Ardila kemudian berdiri dan perlahan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih nyaman.

Setelah itu ia kembali duduk di tempat tidur.

Lampu kamar redup menyinari ruangan dengan lembut. Ardila berbaring sambil menatap langit-langit.Pikirannya dipenuhi berbagai hal.

Tentang keputusan yang telah ia ambil.Tentang kehidupan barunya bersama Rafa.Dan tentang masa depan yang masih terasa begitu asing.

Malam semakin larut.

Namun Rafa belum kembali. Akhirnya, rasa lelah dari seluruh aktivitas hari itu membuat mata Ardila perlahan terpejam.Di kamar yang kini menjadi miliknya bersama seorang pria yang masih terasa seperti orang asing.

Ardila tertidur sendirian.Sementara kehidupan barunya sebagai seorang istri baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!