Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.
Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.
Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.
Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.
Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.
Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."
Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.
Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.
Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.
Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:
"Aku mau pergi utuh."
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: AKU HARUS MASAK DENGAN KAKI SAKIT
Kakek sakit. Lagi. Lebih parah dari sebelumnya. Tidak bisa bangun. Tidak bisa duduk. Hanya bisa berbaring di lantai kamar. Di tempat yang gelap. Di tempat yang mulai berbau obat dan keringat.
Mahesa terbangun pagi itu dengan perasaan berbeda. Biasanya kakek yang bangun lebih dulu. Menyalakan api. Memasak bubur. Menyiapkan air hangat. Tapi hari ini sunyi. Hanya suara napas berat dari kamar.
Ia merangkak ke kamar kakek. Melihat. Kakek terbaring dengan mata tertutup. Wajah pucat. Bibir kering. Tangan di atas dada, bergerak naik turun mengikuti napas yang tersengal.
"Kek," panggilnya pelan. "Kek."
Kakek membuka mata. Samar. "Ma... Mahesa."
"Kek sakit?"
Kakek mengangguk lemah. "Istirahat... sebentar."
Mahesa duduk di sampingnya. Memegang tangan kakek. Panas. Demam lagi.
"Aku ambil air, Kek."
---
Ia berdiri. Kaki kanan sakit. Tapi tidak peduli. Ke dapur. Ambil air dari kendi. Tangan gemetar. Air tumpah sedikit. Kembali ke kamar. Memberi minum kakek.
Kakek minum. Susah. Tapi bisa.
"Nasi..." bisik kakek. "Kakek belum bisa masak."
Mahesa terdiam. Masak? Ia tidak pernah masak. Selama ini kakek yang masak. Kakek yang urus semuanya. Ia hanya duduk. Hanya menunggu. Hanya... ada.
Tapi hari ini berbeda. Hari ini kakek sakit. Hari ini ia harus.
"Aku... aku coba, Kek."
---
Ke dapur. Berdiri di depan kompor rendah. Kompor yang dulu kakek buat untuk nenek—saat nenek sakit dan tidak bisa berdiri. Sekarang untuk Mahesa. Yang juga sakit. Yang juga tidak bisa berdiri lama.
Panci. Beras. Air. Benda-benda sederhana yang tiba-tiba terasa asing.
Mahesa mengambil beras dari karung. Setengah gayung. Lupa berapa banyak. Lalu menuang air. Lupa berapa takaran.
Ia duduk di lantai dapur. Di depan kompor. Kaki kanan dijulurkan. Sakit. Tapi diabaikan.
Nyalakan api. Korek api. Susah. Tangan gemetar. Tiga kali mencoba. Api menyala. Kayu mulai terbakar.
Mahesa mengaduk nasi. Sambil duduk. Mengaduk dengan sendok kayu panjang. Tangan pegal. Punggung pegal. Tapi terus.
Nasi mulai mendidih. Air menyusut. Harus diaduk terus biar tidak gosong.
Berdiri sebentar. Untuk mengatur api. Kaki kanan menjerit sakit. Ia menggigit bibir. Menahan. Lanjut.
Duduk lagi. Mengaduk lagi. Berulang. Berkali-kali. Sampai nasi matang.
---
Satu jam kemudian. Nasi jadi. Tidak sempurna. Gosong di bagian bawah. Terlalu lembek di atas. Tapi nasi. Bisa dimakan.
Mahesa mengambil piring. Menyendok nasi. Mencoba mengambil yang tidak terlalu gosong. Lalu sayur—sayur daun singkong yang kemarin dimasak kakek, tinggal sedikit. Dihangatkan sebentar.
Dibawa ke kamar. Dengan pincang. Hati-hati jangan tumpah.
Kakek sudah duduk. Bersandar di dinding. Lemah. Tapi tersenyum melihat Mahesa datang dengan piring.
"Kakek harus makan," kata Mahesa. Suara serak.
Kakek mengambil piring. Tangan gemetar. Mencoba menyendok. Susah.
Mahesa melihat. Lalu berkata, "Aku suapin, Kek."
Kakek menatapnya. Lama. Matanya berkaca. Tapi mengangguk.
Mahesa menyuapi kakek. Satu per satu. Perlahan. Nasi gosong. Sayur dingin. Tapi kakek makan. Dengan lahap. Atau pura-pura lahap. Mahesa tidak tahu.
"Enak," kata kakek setelah beberapa suap.
Mahesa tahu itu bohong. Tapi tersenyum. "Syukurlah, Kek."
---
Setelah kakek makan, Mahesa makan sendiri. Di dapur. Sendirian. Nasi gosong. Dengan garam. Tanpa sayur—sayur habis untuk kakek.
Tapi kenyang. Tapi ada. Tapi... hidup.
Hari berikutnya, kakek masih sakit. Masih demam. Masih lemah. Mahesa masak lagi. Kali ini nasi tidak terlalu gosong. Masih lembek, tapi lebih baik.
Kakek tersenyum. "Pintar."
Mahesa bangga. Sedikit. Pertama kali dalam waktu lama merasa berguna.
Hari ketiga. Keempat. Kelima. Mahesa masak setiap hari. Belajar dari kesalahan. Nasi mulai benar. Sayur mulai bisa dimasak sendiri—kakek mengajari dari tempat tidur. "Kasih garam sedikit. Jangan terlalu lama."
Mahesa belajar. Dengan kaki sakit. Dengan tubuh lelah. Tapi belajar.
---
Malam kelima. Kakek baikan. Bisa duduk di beranda. Melihat bintang. Mahesa di sampingnya.
"Kakek bangga sama kamu," kata kakek tiba-tiba.
Mahesa menatapnya.
"Kamu kuat. Seperti ayahmu. Seperti nenekmu. Mereka juga kuat waktu susah."
Mahesa diam. Tapi hatinya hangat.
"Tapi Kakek," katanya pelan. "Aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kalau Kakek... kalau Kakek pergi. Aku sendiri. Masak sendiri. Hidup sendiri."
Kakek diam. Lama. Lalu meraih tangan Mahesa.
"Kakek sudah tua," katanya. "Suatu saat pasti pergi. Tapi sebelum itu, kakek ingin kamu bisa. Bisa masak. Bisa cari makan. Bisa jaga diri. Dan lihat... kamu sudah bisa."
Mahesa menangis. Diam-diam. Air mata jatuh di pipi.
"Kakek lihat," kakek melanjutkan. "Kamu masak. Kamu rawat kakek. Kamu kuat. Kamu akan baik-baik saja. Mungkin susah. Mapi kamu bisa."
Mahesa memeluk kakek. Erat. Menangis di bahunya.
Kakek mengelus rambutnya. Seperti ayah dulu. Seperti yang hilang.
---
Hari-hari berikutnya, kakek semakin pulih. Bisa bangun. Bisa jalan pelan. Bantu Mahesa di dapur.
Tapi Mahesa tetap masak. Tetap belajar. Sekarang bisa buat sayur bening. Bisa goreng telur—telur dari tetangga yang kadang memberi.
Kakek hanya melihat. Tersenyum. Bangga.
Suatu sore, Mahesa bertanya, "Kek, kenapa dulu Kakek tidak pernah marah? Waktu aku hanya duduk dan tidak bantu-bantu?"
Kakek tersenyum. "Karena kamu sakit, Nak. Bukan malas. Bukan tidak mau. Tapi tidak bisa. Sekarang kamu sudah bisa. Itu yang penting."
Mahesa mengangguk. Mengerti.
"Dan kakek tahu," kakek menambahkan. "Kamu akan bisa. Cuma perlu waktu. Cuma perlu kesempatan."
Malam itu, Mahesa tidur nyenyak. Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu. Kaki masih sakit. Tapi hatinya... hatinya tenang.
Besok ia akan masak lagi. Jaga kakek lagi. Belajar lagi.
Tapi malam ini, cukup dengan tahu bahwa ia bisa. Bahwa ia tidak hanya beban. Bahwa ia berguna.
Kakek bangga. Itu lebih dari cukup.
---
Pagi. Mahesa bangun lebih awal. Ke dapur. Nyalakan api. Masak bubur. Untuk kakek. Untuk dirinya.
Kakek datang. Duduk di kursi. Melihat.
"Wanginya enak," katanya.
Mahesa tersenyum. "Bubur ayam, Kek. Ayamnya dikit. Tapi ada."
Kakek tertawa kecil. "Kamu sudah jadi koki."
Mereka makan bersama. Di meja kayu tua. Sederhana. Tapi hangat.
Kaki Mahesa masih besar. Masih sakit. Tapi hari ini, ia tidak memikirkannya. Hari ini ia pikirkan bubur. Pikirkan kakek. Pikirkan... hari ini.
Karena hari ini, ia bisa masak. Bisa rawat kakek. Bisa... ada.
Dan itu cukup. Untuk hari ini. Untuk semua perjuangan. Untuk semua air mata.
Itu cukup.
Pagi ini, itu cukup.
---