Aruna anak keturunan Atmadja juga brata kini menjalani masa remaja nya dengan penuh warna. pertemuan nya dengan seorang pria dewasa mampu membuat pria itu langsung jatuh cinta pada aruna si gadis kecil dan imut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JK의 할루 아내, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menyapamu
Aruna, ghaly juga ethan mengikuti langkah para orang tua memasuki aula perusahaan Pandawa corp setelah mengisi daftar tamu. Sudah banyak yang hadir di sana ada beberapa kumpulan yang sudah terbentuk. Ada para ibu sosialita terlihat dari cara berpakaian, perhiasan juga tas yang mereka bawa, para pria paruh baya yang pasti membicarakan bisnis dan para anak muda yang mencoba bercampur baur dengan anak-anak yang lain
"kak... Kalian kesana aja, papi titip aru sama kalian ya, jangan sampai lepas dari pandangan kalian..." hito mengingatkan sambil menatap ethan juga ghaly bergantian
"iya pi, ethan jaga aruna" jawab ethan yakin
"iya pi... Ghaly juga ngga akan lepas pandangan dari kak aru" jawab ghaly percaya diri mendapat amanah dari kakak dari mama nya
"ya sudah kita tinggal ya" pamit hito pada ketiga anak muda itu..
"mau minum atau makan..?" tanya ethan pada sang adik setelah para orang tua pergi
"nyobain kue nya aja, nah kalo bagian ini aru cocok sama ghaly kak..." aruna melepaskan tangannya dan mengapit tangan ghaly
"iya tapi kakak juga akan ikut dek... Ayo..." ethan menarik bahu sang adik dan terpaksa aruna melepaskan tangannya pada ghaly
"posesif banget kak ethan..." ledek ghaly melihat tingkah kakak sepupu nya, namun tak di indahkan oleh ethan. Ia malah senang di beri julukan itu. Karena ia akan memastikan adik perempuannya baik-baik saja, sebelum mereka akhirnya memiliki keluarga masing-masing
"ghaly ayo...." ajak aruna pada adik sepupunya sedang ia sudah di tarik oleh sang kakak. Ghaly hanya bisa tersenyum melihat kedekatan saudaranya itu, paling tidak ia merasa tak sendiri saat bersama si kembar
Aruna menikmati camilan bersama dengan ghaly dan sesekali menyuapi sang kakak, tak jauh dari sana ada sepasang mata memperhatikan aruna sejak awal masuk aula dan menyaksikan kedekatan aruna dengan kedua laki-laki itu
"untung saya tau kalau mereka adalah kakak kandung juga adik sepupu kamu, kalau tidak saya akan memisahkan kalian saat ini juga. Senang rasanya bisa melihat wajah cantik mu lagi" gumam seorang pria yang memperhatikan aruna dari jauh dengan mata tajamnya sambil sesekali menyesap minuman di tangan nya
Perlahan ia berjalan ke arah aruna dengan langkah tegapnya, berniat menyapa aruna di ikuti sang asisten paul
"hai..." sapanya sambil sedikit mencondongkan badannya ke arah aruna
Aruna menoleh ke arah seorang pria yang menyapanya, keningnya mengernyit seperti mengingat sesuatu
"masih ingat saya..?" tanyanya lagi mencoba membantu aruna dalam mengingat
"wait...." aruna mengangkat tangannya sambil berusaha mengingat "ahhh... Om yudis ya..?" pekik aruna membuat beberapa orang yang dekat dengan mereka menoleh sesaat melihat interaksi seorang Yudistira, CEO muda yang selama ini terkenal jauh dari gosip tentang wanita, apalagi melihat wanita cantik yang berinteraksi dengan yudis tanpa rasa takut
yudistira pria itu mengangguk dengan senyum ramah yang jarang ia perlihatkan pada siapapun walau ia agak kesal karena panggilan om dari aruna. Biarlah seiring berjalannya waktu akan aku ubah panggilan itu
"betul.. Saya yudis, saya belum mengucapkan terima kasih sama kamu karena sudah menolong saya waktu itu, terima kasih banyak karena sudah menolong juga mengantarkan saya ke rumah sakit" ujar yudis lagi. Ethan merapatkan tubuhnya ke aruna dengan waspada
"dek siapa?" tanya ethan penuh selidik, menatap tak suka dengan keakraban yang dibuat oleh pria dewasa itu dengan sang adik, terlebih pada pria yang masih asing buat nya, entah kapan adik nya mengenal pria dewasa ini..
"ow... Ini loh kak, om yudis yang beberapa hari lalu di todong preman. Yang aru ceritain sama kakak juga" jelas aruna pada sang kakak. Dan ethan langsung ingat kejadian beberapa hari lalu
"gw kira om-om tua, ternyata masih muda..." batin ethan memperhatikan style yudistira dari atas sampai bawah
Sebagai sopan santun yudistira menyodorkan tangannya pada ethan untuk berkenalan
"perkenalkan saya yudistira bagaskara, kamu anak sulung pak Cristover Delhito atmadja kan..?" tebak yudistira menatap ethan
"benar... Saya Ethan King Atmaja brata, anda Yudistira bagaskara CEO muda Pandawa corp..?" ethan ikut menebak
"wah... Tak di sangka penerus atmadja secerdas ini... Saya akan menantikan kita bekerja sama nantinya..." ujar yudis dengan semangat
"masih lama pak.. Karena saya juga belum lulus SMA" ujar ethan merendah, tak ingin campur tangannya selama ini di perusahaan tersebar
"tapi saya tau anda sudah mulai terjun baik di perusahaan atmadja atau pun brata" bisik yudistira membuat ethan tersenyum simpul mendengarnya
"ternyata anda sudah tau... Kalau begitu, saya juga menantikan kerja sama dengan anda pak..." ujar ethan tanpa sungkan lagi
"panggil saya kak saja supaya lebih akrab... Kita bukan sedang bisnis bukan..." pinta yudis agar suasana menjadi akrab dengan sang calon kakak ipar #ehhhh
"baik.. Kak yudis..." ucap ethan yang entah merasa nyaman bicara dengan pria matang di depannya
"aru panggil om atau kakak juga..?" aru menyela pembicaraan ethan juga yudis, membuat yudis melihat ke arah gadis mungil nan imut itu
"senyamannya kamu saja" jawab yudis lembut "atau lebih baik kamu panggil saya sayang" lanjut yudis dalam hati tentunya
"kakak aja lah, kak yudis masih keliatan muda koq" puji aruna membuat telinga yudis memerah namun luput dari pandangan semua orang tapi tidak dari mata tajam ethan
"terima kasih atas pujiannya, kalau begitu selamat menikmati hidangannya semoga sesuai dengan selera kalian. Dan sekali lagi terima kasih atas pertolongan nya tempo hari, saya tinggal dulu kalau butuh bantuan bisa langsung hubungi saya" pamit yudistira karena akan kembali berkeliling menyapa rekan kerjanya yang lain
"papay kak..." aru melambaikan tangannya pada yudis yang berlalu pergi
"gila Aruna Queen Atmaja Brata kenalannya ngga kaleng-kaleng" puji ghaly yang dari tadi diam saja melihat ke dua kakak sepupunya bersama CEO muda perusahaan pandawa corp
"aru mana tau kalo dia itu CEO, yang aru tau menolong orang itu harus dan tanpa pamrih..."
"iya.. Iya... Aru adeknya kakak emang paling suka menolong. Kalo seperti ini kakak jadi paham kenapa tiba-tiba perusahaan corp memberikan investasi sama perusahaan kita, mungkin ada hubungannya kamu menolong kak yudis" ethan kembali mengingat obrolan nya dengan sang papi
"emang gitu kak..?" tanya aruna menatap kakak kembarannya
"iya, papi sampai bingung mau di terima apa tolak, mangkanya sampai sekarang kita belum kasih jawaban. Tapi kakak akan bicarakan lagi sama papi setelah ini" ucap ethan mengelus pelan surai sang adik
"kak.. Aru mau ke toilet sebentar ya" aruna memegang perut bawahnya menatap sang kakak
"kakak anter..?" tanya ethan yang sudah bersiap menemani aruna
"ngga usah kak, kalo lama baru kakak cari aru aja ya..." jawab aruna langsung berjalan cepat untuk menuntaskan panggilan alam nya dengan tergesa
Aruna berjalan agak cepat setelah mengetahui letak toiletnya. Ia pun segera masuk ke dalam beruntung toilet nya tak ramai. Setelah mencuci tangannya, aruna berjalan keluar setelah merapikan pakaian nya juga
Saat keluar dari toilet, Aruna menatap pria tampan yang sedang menyandarkan tubuhnya ke dinding tak jauh dari toilet dengan tangan melipat di dada
"kak yudis.., lagi apa..?" tanya aruna heran karena ceo muda itu seperti menunggu sesuatu
"lagi nunggu kamu..." jawab yudis tersenyum
"eh...eh... Bisa senyum juga nih cowo. Ampun dah jungkook mah lewat ini mah... malah mirip kim seon ho, apa lagi lesung pipinya yang dalem banget " batin aruna terpana melihat pria di depannya
Tanpa sadar yudistira sudah memakaikan selendang bulu berwarna hitam di bahu aruna, membuat aruna tersadar juga bingung
"kak..." aruna memandang yudistira seraya meminta penjelasan.
"ngga ada maksud apa-apa, cuma kayanya udaranya dingin dan kamu butuh ini" jawab yudistira sambil merapikan rambut aruna keluar agar bisa berada di atas selendang yang di pakai oleh aruna, Yudis sebenarnya agak risih saat melihat bahu putih mulus aruna yang terbuka, dan ia tak sengaja melihat mata para pria menatapnya lapar.
"makasih ya kak, tadinya aru mau pinjem jas nya kak ethan hehehe..." kekeh aruna yang memang sudah berniat seperti itu setelah dari toilet
"sama-sama cantik...." jawab yudistira sambil melihat kembali tampilan aruna yang sudah sempurna di matanya "sudah beres... Kamu mau ke dalam lagi..?"
"iya kak, nanti di cariin"
"ya sudah... Boleh kakak minta no kamu..?" pinta yudis sambil menyodorkan ponselnya
aruna yang tak membawa ponsel pun mengambil ponsel pria di depannya dan mengetikkan sederet nomer disana
"ponsel aru di pegang kakak di dalam, jadi kakak simpen nomer aru aja dulu nanti baru chat aru ya" ujar aruna sambil mengembalikan ponsel pada pemiliknya dengan senyum manis yang selalu ada di wajah aruna
Yudistira mengangguk lucu menerima ponsel nya.
"ya udah aru masuk lagi ya kak, terima kasih selendang nya, aru suka...." ujar aruna sambil berlalu meninggalkan
Yudistira menatap punggung aruna yang berlalu pergi dari nya, sampai sebuah tepukan di bahunya menyadarkannya
"siapa itu bang..?" tanya pria tua yang masih terlihat sehat itu
"kakek..." sapanya dengan wajah langsung berubah tak seperti mimik wajah ketika berbicara dengan aruna
"siapa..?" sang kakek kembali bertanya pada cucu sulungnya
"orang yang pernah menyelamatkan yudis kek..." jawab yudistira jujur
"kejadian beberapa hari lalu..?" yudis mengangguk, ia tau serapi apapun ia menyimpan rahasia, sang kakek akan selalu tau apa yang terjadi apalagi yudis adalah penerus nya
"kenalkan kakek pada wanita itu kalau kamu sudah yakin, kakek juga mau lihat kamu bahagia" ujar sang kakek tulus dan berlalu pergi meninggalkan cucu nya
Andai kakek tau kalau aruna masih sekolah .... Batin yudistira sambil menggaruk keningnya yang tak gatal