Enam tahun pengabdian dan cinta jarak jauh (LDR) berakhir sia-sia bagi Aurora. Ia didepak begitu saja lewat pesan singkat, diblokir dari seluruh aspek kehidupan sang mantan, dan digantikan oleh sosok "penjual kesedihan" yang ahli memanipulasi simpati. Luka itu dibawa pulang ke Medan, terkubur di balik kesuksesan yang ia bangun dalam diam.
Tiga tahun berlalu, ego sang mantan akhirnya runtuh. Di bawah tekanan kebutuhan penelitian S3 ibunya di pedalaman Bukit Lawang yang keras dan rawan, ia terpaksa menelan ludah sendiri (mengubungi kembali nomor yg dulu ia blokir). Ia mengharapkan bantuan, mungkin sedikit rasa iba.
Namun, yg ia temukan bukanlah mantan kekasih yg meratapi nasib.
Aurora menerima permintaan itu dengan senyum paling tenang. Bukan dengan amarah, ia menyambut mereka dengan kemewahan yg tak pernah mereka bayangkan. Sebuah Hiace VVIP dengan kursi pijat elektrik menanti di bandara, dikawal oleh sahabat2 loyal dan seorang fotografer yg siap mengabadikan penyesalan sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Sherly
Momen yang bagi Adrian terasa sangat krusial itu tiba-tiba hancur berkeping-keping.
Belum sempat ia menanggapi perkataan Aurora yang menohok, sebuah teriakan melengking membelah keramaian di tepi danau.
"AAAKKKH! TOLOOONG! ITU... ITU APA?! ADA YANG JATUH!"
Sherly berteriak histeris sambil menunjuk-nunjuk ke arah sudut danau yang ditumbuhi eceng gondok.
Wajahnya dibuat sepucat mungkin, tubuhnya gemetar hebat, dan ia sengaja limbung ke arah belakang—tepat di mana ia berharap Adrian akan menangkapnya.
Teriakan itu sukses besar. Siska, Rico, bahkan para orang tua langsung menghentikan aktivitas memberi makan buaya.
Perhatian semua orang beralih sepenuhnya pada Sherly yang kini sudah terduduk lemas di tanah, menutup matanya dengan tangan sambil terus meracau ketakutan.
"Dri... Adrian... aku takut! Tadi ada sesuatu yang besar sekali bergerak di bawah sana, aku pikir ada orang jatuh!" seru Sherly saat Adrian terpaksa mendekat karena didorong oleh rasa tanggung jawab dgn ibu sherly.
Adrian menghela napas berat. Ia tahu betul Sherly sedang mencari perhatian, namun di depan orang tua mereka, ia tidak punya pilihan selain berjongkok dan memegang bahu Sherly.
"Tenang, Sher. Tidak ada apa-apa. Itu mungkin cuma buaya yang lewat di bawah tanaman."
Pemilik taman buaya yang tadi sedang berbincang dengan petugas, mendekat dengan tenang.
Ia melihat ke arah yang ditunjuk Sherly lalu tersenyum tipis, hampir sinis.
"Itu hanya tumpukan kayu yang hanyut, Nona. Buaya-buaya di sini tidak akan menyerang jika Anda tetap di balik pagar. Tidak ada orang jatuh," ucap sang pemilik dengan nada datar, seolah sudah biasa menghadapi drama pengunjung yang berlebihan.
Rico yang berdiri di dekat Aurora hanya bisa mencibir terang-terangan.
"Aduh, dramanya menang Oscar banget ya? Baru lihat kayu saja sudah mau pingsan. Padahal tadi di dapur tenaganya kuat banget waktu mau ambil piring," sindir Rico dengan suara yang cukup keras hingga membuat Ibu Adrian merasa sedikit tidak enak hati.
Di tengah kekacauan yang dibuat Sherly, Firan justru menggunakan momen itu dengan cerdas. Ia tidak ikut panik.
Sebaliknya, ia melangkah mendekati Aurora yang masih berdiri di posisi semula, menatap drama Sherly dengan wajah datar.
Firan secara alami melingkarkan lengannya di pinggang Aurora, menariknya sedikit menjauh dari kerumunan agar tidak terdesak.
"Sepertinya suasana di sini mulai terlalu 'berisik' untukmu, Ra," bisik Firan tepat di telinga Aurora, memberikan sensasi hangat yang sangat kontras dengan kedinginan yang tadi dirasakan Aurora saat bicara dengan Adrian.
Aurora hanya tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Firan.
Ia merasa sangat bersyukur.
Di saat Adrian terjebak mengurusi drama Sherly, Firan justru memberikan ketenangan yang ia butuhkan.
Hanya dalam hitungan detik, kehangatan yang terpancar dari wajah Aurora menguap, digantikan oleh topeng porselen yang dingin dan berwibawa.
Dengan gerakan yang sangat halus namun tegas, ia menggeser tubuhnya, melepaskan tangan Firan yang melingkar di pinggangnya.
Aurora memberikan kerlingan mata yang singkat namun penuh makna kepada Firan—sebuah kode bisu yang langsung dipahami oleh pria itu: Belum saatnya. Simpan ini untuk kita sendiri.
Aurora melangkah maju menuju kerumunan, kembali menjadi tuan rumah yang sempurna. Ia mengabaikan tatapan menyelidik Adrian yang baru saja berhasil mendudukkan Sherly di bangku panjang.
"Sepertinya matahari Medan mulai terlalu terik untukmu, Sherly," ucap Aurora dengan nada suara yang datar namun terdengar sangat sopan di telinga para orang tua.
"Rian, tolong ambilkan air mineral dingin dari Hiace untuk tamu kita. Sepertinya dia kelelahan."
Tindakan Aurora yang tetap "peduli" meskipun dingin, membuat Ibu Adrian semakin merasa bahwa Aurora adalah sosok yang sangat matang dan berkelas.
Sementara itu, Sherly hanya bisa menggigit bibir bawahnya; rencananya untuk membuat Adrian memeluknya lama-lama gagal total karena Aurora justru menanggapinya dengan efisiensi seorang pemimpin.
Firan, yang menerima kode "jarak" dari Aurora, tidak merasa tersinggung sedikit pun. Ia justru mengagumi betapa cerdik kekasihnya itu dalam menjaga narasi.
Ia kembali ke posisi semula, berdiri di samping Rico dengan tangan terselip di saku celana, memerankan peran "rekan bisnis dan teman dekat" yang sangat meyakinkan.
Rico yang melihat perubahan atmosfer itu hanya bisa berbisik tipis ke arah Firan.
"Akting kalian benar-benar kelas kakap. Kalau aku tidak tahu apa yang terjadi di mobil tadi, aku pasti mengira kalian berdua baru saja bertengkar."
Firan hanya tersenyum simpul tanpa mengalihkan pandangan dari Aurora.
"Itu seninya, Co. Menjaga sesuatu yang berharga tetap menjadi rahasia adalah cara terbaik untuk melindunginya."
Di sisi lain, Adrian menatap punggung Aurora dengan perasaan kosong. Ia melihat wanita itu begitu lihai mengatur emosi dan situasi.
Ia mulai sadar bahwa "Aurora yang dulu" yang selalu terbuka padanya telah terkubur sangat dalam.
Kini yang ada di depannya adalah seorang wanita mandiri yang memiliki benteng pertahanan yang sangat kokoh—dan kunci benteng itu, secara menyakitkan, tampaknya hanya dipegang oleh Firan.
aurora ni kepribadian ganda ato gimana sih kadang dingin kadang welcome😭
nyesel banget deh tu si adrian lebih milih ulet bulu kaya sherly
semoga endingnya aurora gak usah balikan sama adrian deh...