MARVA RAVARA adalah seorang pemuda miskin yang hidup di dunia yang memuja status dan kekayaan. Berkat jalur beasiswa, ia dapat bersekolah di sebuah sekolah elit berskala internasional—tempat yang seharusnya membuka jalan untuk masa depannya, justru berubah menjadi neraka baginya.
Di sana, Marva dipandang sebagai noda: dihina, dikucilkan, dan menjadi sasaran perundungan oleh mereka yang merasa lebih “Layak”.
Segalanya berubah ketika Portal Misterius muncul dan menyeret semuanya ke dunia lain. Di hadapan mereka berdiri sebuah Menara Tinggi dan sebuah suara misterius menggema: Siapa pun yang mencapai puncak menara ini akan memperoleh kekuasaan serta keabadian.
Di dalam menara, para siswa dipaksa memilih peran—menjadi Seorang Player yang bertarung demi naik ke puncak, atau menjadi Seorang Guardian yang terikat pada sistem. Demi meraih kebebasan, Marva memilih jalan paling berisiko: Menjadi Seorang Player.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rein.Unknown, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lantai 9, Part 3 [STABILIZER HEAT FLOW CORE]
Marva membaca notifikasi itu.
[PATH TO VOLCANIC CASTLE LOCKED]
[ITEM STABILIZER HEAT FLOW CORE REQUIRED]
"Kita butuh item itu lagi??!!!" ucapnya.
Meriel menghela napas. "Kita harus berburu monster lebih banyak agar item itu muncul lagi.
Tapi..." dia menatap langit yang penuh gunung terbalik, "...dengan letusan yang terus datang ini!"
Setelah mengalahkan Ash Behemoth, erupsi kini datang lebih cepat dan semakin tidak terprediksi.
Tidak ada lagi jeda panjang untuk membaca pola. Gunung-gunung kecil di atas mereka kini meletus bersamaan dan gunung yang lebih besar bergantian meletus hampir setiap saat, menciptakan hujan lava yang membuat tanah hitam semakin menumpuk.
Marva bertarung digaris depan, Meriel membantu, mereka harus terus mengatur napas sambil melihat keatas.
Meriel mengusap keringat di pelipisnya. “Kalau Bar Overheat ini terus naik, kita akan tamat sebelum mencapai kastil itu.”
Dari balik bukit hitam, muncul sekelompok monster. Tubuhnya kecil, seukuran anjing, tapi bergerak cepat di atas tanah panas.
MAGMA HOUND -- Lv. 44 (5 ekor)
"Meriel, Skill Slow Bind!" perintah Marva.
Meriel mengangkat palunya. "SLOW BIND!"
Tanah di bawah kaki Magma Hound melunak. Tiga ekor terperangkap, dua lainnya masih bebas.
Marva maju dengan pedangnya. Kali ini, api Leo menyala—tapi belum bisa mengeluarkan skillnya.
-345, -312
Dua Magma Hound langsung tumbang. Tiga ekor lainnya berhasil keluar dari perangkap dan menyerang.
Meriel menghadang dengan palunya. "LAND PRISON!"
Monster itu terperangkap. Marva menyelesaikan sisanya dengan tebasan cepat.
Gunung di atas mereka bergetar lagi.
Notifikasi muncul.
[ERUPTION PHASE IN: 00:10]
Marva menatap ke atas. Gunung terbesar di sisi kiri mereka mulai memerah.
“Cari tempat aman!” perintahnya.
Tapi sebelum mereka sempat bergerak jauh, lava jatuh tepat di depan mereka — bukan acak. Terarah.
Meriel membeku. “Itu tadi—”
“Diarahkan ke kita!” potong Marva.
Dari balik retakan tanah hitam, sosok baru muncul.
Tinggi, ramping, tubuhnya seperti patung batu yang retak-retak oleh lava di dalamnya. Di tangannya ada tongkat pendek dari obsidian.
MAGMA WARDEN – Lv. 49
Makhluk itu mengangkat tongkatnya. Gunung kecil di atas langsung menyala.
Leo mendesis pelan. “Bos, monster ini yang mengarahkan letusan itu!”
Lava jatuh lagi. Kali ini lebih presisi.
Marva melompat, Meriel juga menghindar. Tanah, tempat mereka berdiri tadi adalah sasaran lava. Seketika area itu penuh dengan lelehan magma.
Overheat naik walaupun tidak menggunakan skill.
OVERHEAT: 37% → 44%
“Bos, kalau monster itu terus hidup, kita tidak akan bisa bergerak bebas,” ujar Leo.
Marva paham lalu maju untuk mengincar Magma Warden.
“Meriel, kurung monster itu!”
Meriel mengaktifkan Land Prison. Tanah penjara menyelimuti Magma Warden, tapi makhluk itu tidak bergeming. Ia mengangkat tongkat lagi.
Gunung lain menyala.
Monster lain datang untuk melindungi Magma Warden.
Leo berbisik. “Bos… biarkan aku membantai semua monster itu!”
Karena tidak menggunakan skill, Marva hanya mengangguk. Membiarkan Leo untuk bertarung dengan bebas walaupun hanya dengan tebasan fisik cepat. Damage masuk, tapi Warden terus dilindungi oleh para monster.
-212
-187
Warden membalas dengan gelombang panas dari tongkatnya. Monster lain juga ikut menyerang. Udara di sekitar terus memanas.
Overheat naik lagi.
OVERHEAT: 44% → 64%
Meriel menggertakkan gigi. “Lead, panasnya terlalu cepat naik!”
Leo malah tertawa. “Karena Lantai ini menyukaiku Meriel.”
Kali ini mereka harus menyerang dengan kombinasi. Marva lalu mengeluarkan tongkat Aquarius dan memberikan nya pada Meriel.
“Kita harus mengeluarkan serangan kombinasi Meriel, serang monster-monster yang melindungi Magma Warden dengan water cannon. Dan yang lain kurung dengan skill land prison mu, sisa nya biar aku yang menyelesaikan nya,” ucap Marva.
Leo memperingatkan. “Bos, player yang tidak dipilih oleh cincin tidak akan bisa mengeluarkan kekuatan maksimal Sang Cincin.”
Marva hanya menjawab sederhana. “Untuk saat ini, hanya itu pilihan kita Leo. Biarkan Meriel ikut bertarung!”
“Tugas ku kali ini lebih banyak daripada biasa nya Lead. Tapi oke, kita lakukan bersama,” jawab Meriel.
“Sekarang!”
WATER CANNON!
LAND PRISON!
Meriel merasakan sensasi yang luar biasa saat menggunakan Cincin Dewa. Entah kenapa, hasrat yang luar biasa mulai memupuk dalam dirinya.
“Rasakan itu monster-monster jelek!” Meriel sangat antusias menggunakan skill Aquarius.
WATER CANNON! WATER CANNON! WATER CANNON!
Marva mengayunkan lagi pedangnya dan menyerang tanpa halangan kali ini. Serangan itu tepat mengenai Magma Warden, retakan di tubuh Warden mulai melebar.
Warden mengangkat tongkatnya sekali lagi.
Gunung besar di atas mereka bergetar lebih keras dari sebelumnya.
“Bos!” teriak Leo. “Itu bukan letusan kecil!”
Marva melihat ke atas. Lava yang terkumpul di kawah itu terlalu banyak untuk sekadar hujan lava singkat.
“Meriel, mundur!”
Mereka berlari, tapi lava tetap turun di jalur mereka. Seolah gunung itu membaca pergerakan.
Marva berhenti mendadak. Notifikasi muncul.
[EFFECT OF STABILIZER HEAT FLOW CORE HAS ENDED]
“Apa, sudah 4 jam??? Leo, kamu siap?”
Leo langsung tahu maksudnya. “Akhirnya Bos.”
Marva mengangkat pedangnya.
“SKY..... OF.... FIRE....!!!!”
Serangan itu tidak ditujukan ke Warden tapi kearah erupsi—api meledak ke atas. Namun, efek dari lava dan skill Marva yang bercampur menciptakan Tabrakan Energi yang besar. Membuat ledakan yang sangat besar.
Gelombang panas menyapu area sekitar. Magma Hound hancur, Lava Lizard juga hancur. Magma Warden akhirnya berhasil dikalahkan.
Overheat melonjak drastis.
OVERHEAT: 64% → 84%
Leo tertawa puas. “Hahahahahaha, itu dia.”
“Huuffffff, kita selamat Lead,” ucap Meriel lega.
Item drop bertebaran dimana-mana.
Notifikasi muncul.
[ITEM STABILIZER HEAT FLOW CORE]
[ITEM STABILIZER HEAT FLOW CORE]
Item yang dicari-cari pun muncul, bukan hanya 1 tapi 2. Saat mereka lagi mengumpulkan item drop tiba-tiba notifikasi muncul lagi:
[FINAL ERUPTION PHASE IN: 60 SECONDS]
Udara sekitar menjadi lebih berat, tekanan meningkat.
Meriel lalu mengumpat. “Yang benar saja! Baru mau istirahat.”
“Ini bukan erupsi biasa Meriel! Kita harus segera pergi ke gerbang kastil itu, sekarang!” sambung Marva yang punya perasaan tidak enak.
Dengan tenaga yang tersisa, mereka berlari menuju pintu gerbang kastil. Leo terus berbicara tanpa henti.
“Diam Leo! Ini bukan waktu yang tepat untuk mengambil item drop!” tegas Marva.
Gunung di atas mulai mengeluarkan lelehan lava, tanda siap akan meletus. Waktu terus berjalan.
46...
45...
44...
Kali ini mereka tahu bahwa tidak ada lagi tempat aman.
26...
25...
24...
Disaat seperti ini overheat Malah terus naik.
OVERHEAT: 90%
Dan Buummmmmm........!!!!!
Ledakan gunung terjadi!
“Bos… seperti nya ini tidak baik.”
“Tidak........!!!!” Meriel panik.
Mereka menambah kecepatan untuk segera mencapai gerbang.
Dari belakang hujan lava mengejar......
Keheningan terjadi di antara mereka. Hanya fokus berlari.
Marva juga berteriak. “Tidak, Tidak, Tidak, Ti...... dak..........!!!!”
Ditengah kepanikan itu, Marva mendapatkan ide. “Merial pegang lengan ku sekarang!”
Meriel tidak paham maksud Marva tapi karena ini saat yang genting, dia menuruti nya.
“SKY..... OF.... FIRE....!!!!”
Memanfaatkan efek ledakan dari skill nya, mereka terlempar jauh dan mendarat tepat di depan gerbang kastil.
“Yuhu.....!!!! Itu adalah epic moment, terbaik, yang pernah kurasakan Bos!” Leo malah bersorak.
“He, he, he, he..... Ki.... ki..... ta.... selamat, lagi.....” ucap Meriel gemetaran.
Notifikasi muncul.
[ERUPTION HAS ENDED]
Gunung-gunung di atas berhenti meletus sepenuhnya. Lava tidak lagi turun.
Untuk pertama kalinya sejak mereka masuk lantai ini…
Tapi pemandangan di lantai 9 menjadi sangat mengerikan, semua area tertutupi oleh Lava.
Marva terduduk lemas. “Kalau terlambat sedikit saja, mungkin kita sudah jadi sosis panggang.”
Mereka akhirnya membuka gerbang itu dan mengetahui, ternyata akses menuju kastil dibatasi oleh lautan lava yang mengelilinginya.
Meriel lalu mengambil item Stabilizer Heat Flow Core dan melemparnya kedalam lautan lava. Seketika, lautan lava menjadi tenang. Perlahan, sebagian lava mulai surut dan membuka jalur menuju kastil. Mereka lalu berjalan masuk dan sampai didepan pintu masuk kastil.
Notifikasi kembali muncul.
“SELAMAT DATANG DILANTAI 10: VOLCANIC CASTLE”
“Loh, lantai 10 berbentuk kastil?” ucap Meriel.
“Menara ini selalu memberikan kejutan,” respon Marva.
Halaman kastil juga berfungsi sebagai safe zone, sebelum masuk mereka milih untuk beristirahat dan mengisi kembali energi mereka. Walaupun Leo mendesak segera masuk untuk menghabisi Bos lantai, tapi Marva menegur nya.
Marva menatap tajam kearah Leo. “Kau pikir, kalau kami mati! Kau akan ada gunanya!”
“Eh Bos, jangan marah donk. Hehehehehehe, energi disini terlalu membanjiri fikiranku sampai tidak memikirkan hal lain selain bertarung.”
Hari itu mereka beristirahat di depan kastil dan akan memasuki nya jika sudah siap .….
Sementara tertidur, sesuatu tiba-tiba muncul dan membuka mata mereka ......
[BERSAMBUNG]