Hu Li’an merasa kepalanya seperti akan pecah. Cahaya putih yang menyilaukan dari lampu plafon membuatnya mengerutkan kening.
Lantai yang keras di bawah tubuhnya bukan tempat tidur hotel yang lembut seperti yang dia ingat sebelum pingsan di bak mandi. Udara berbau alkohol dan obat-obatan yang khas rumah sakit membuatnya semakin pusing.
Dia ingat Saat itu dia merasa tenggorokan kering dan tubuhnya tidak berdaya, air mulai memenuhi bak mandi.
"Harusnya aku tenggelam... tapi kenapa aku ada di sini?"
Tiba-tiba pintu ruang inap terbuka perlahan dari luar. Seorang pria tinggi dengan wajah tajam dan mata hitam yang dalam masuk bersama seorang dokter dan perawat.
Pria itu mengenakan jas hitam yang rapi, rambutnya tertata rapi, dan ekspresinya tampak terkejut." Kamu bangun!"
Dokter segera mengarahkan perawat untuk menyiapkan alat pemeriksaan.Pria itu berjalan mendekati ranjang dengan langkah yang mantap, lalu menekan ujung ranjang dengan lembut.
"Kamu bangun..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. terlalu panas
Kantor Bai Xuning sebagai CEO Bai Group terletak di lantai paling atas gedung pencakar langit yang megah, dengan dekorasi mewah dan pandangan kota yang sangat indah dari jendela besarnya.
Sebelumnya, dia sudah secara khusus memberitahu asistennya, Song, bahwa istrinya akan datang mengantar makan siang—sehingga Asisten Song langsung menunggu dengan rapi di lobi utama gedung.
Tak lama kemudian, sebuah taksi berhenti tepat di depan pintu masuk gedung. Hu Lian keluar dari mobil dengan tangan yang membawa keranjang makanan yang tertutup rapat, wajahnya menyala dengan senyum hangat.
Dia mengenakan baju santai namun tetap rapi, membuatnya terlihat cantik dan anggun.
"Nona Hu!" panggil Asisten Song dengan sopan saat melihatnya mendekat. "Tuan Muda sudah menunggu di atas, saya akan mengantar Anda ke lift khusus untuk eksekutif ya."
Hu Lian tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih ya asisten Song, kamu tidak perlu repot mengantar Aku tahu jalannya..."
Namun Asisten Song tetap bersikeras untuk menemaniinya, bilang itu adalah perintah dari Bai Xuning agar dia bisa sampai dengan aman ke kantor tanpa diganggu.
Saat mereka memasuki lift khusus yang hanya digunakan oleh pimpinan perusahaan, Hu Lian bisa melihat betapa besar dan mewahnya gedung ini.
Saat ada suara ketukan di pintu kantor, Bai Xuning langsung berdiri dengan cepat dari kursinya, ingin menjadi yang pertama membukanya untuk menyambut kekasihnya.
Namun sebelum dia bisa mencapai pintu, Hu Lian sudah dengan lembut membukanya sendiri dan masuk ke dalam ruangan.
Kedua mata mereka saling bertemu dalam sekejap—pandangan Bai Xuning penuh dengan kegembiraan dan cinta, sementara Hu Lian hanya bisa tersenyum hangat sambil masih memegang keranjang makanan di tangannya.
"Sudah lama menunggu?" ucap Hu Lian dengan suara lembut, melangkah masuk dan menutup pintu dengan hati-hati. "Maaf kalau agak terlambat sedikit, ada yang sedikit mengganggu di jalan."
" Tidak masalah sayang, yang penting kamu datang," jawabnya dengan penuh tak ambil pusing.Tanpa berlama-lama, dia segera mendekatinya dan menariknya ke dalam pelukan erat, mencium dahinya dengan lembut.
"Kamu terlihat sangat cantik hari ini."Hu Lian sedikit tersipu dan meminta untuk melepaskannya."oke cukup,Ayo makan selagi masih hangat,"
Bai Xuning segera membantunya mengambil keranjang dan membukanya dengan penuh antusias, aroma makanan lezat langsung memenuhi ruangan kantor yang biasanya hanya tercium aroma kertas dan kopi.
"Baik sekali rasanya sudah bisa tercium dari sini.......," ucap Bai Xuning dengan senyum bahagia, kemudian mengajaknya untuk duduk di area ruang makan kecil yang ada di dalam kantornya.
Keduanya menikmati makan siang bersama dengan suasana yang sangat damai dan penuh canda tawa.
Mereka bercerita tentang aktivitas masing-masing sepanjang hari—Bai Xuning menceritakan pekerjaannya yang sedikit menyenangkan setelah kedatangannya, sementara Hu Lian memberitahu tentang pembicaraan yang baik dengan orang tuanya.
Setelah selesai makan, Bai Xuning kembali fokus pada pekerjaannya sementara Hu Lian menunggu dengan tenang di ruang tamu kecil kantornya.
Pada pukul 5 sore tepatnya, Bai Xuning menyelesaikan semua pekerjaan yang mendesak dan segera mengajak Hu Lian pulang bersama.
Mereka keluar dari gedung dengan tangan saling bergandengan, menikmati udara sore yang segar saat menuju mobil.
Saat sampai di apartemen Hu Lian, Bai Xuning langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah seharian bekerja.
"Aku mandi dulu.....," ucapnya sebelum masuk dan menutup pintu.
Sementara itu, Hu Lian membawa wadah makanan bekas ke dapur, membersihkannya dengan cepat dan menaruhnya di tempat yang tepat.
Tak lama kemudian, setelah selesai membersihkan dapur, Hu Lian pergi ke kamar tidurnya.
Dia membuka pintu dengan hati-hati dan melihat bahwa kamar mandi masih mengeluarkan suara air.
Dia segera mengambil piyama tidur dari lemari dan mulai menyiapkan diri untuk malam hari, berencana untuk menghangatkan teh herbal setelah Bai Xuning selesai mandi.
Tak lama kemudian, Bai Xuning keluar dari kamar mandi dengan rambut masih sedikit basah dan mengenakan baju tidur tipis. Saat itu, Hu Lian baru saja keluar dari kamar setelah menaruh cangkir teh hangat di atas meja makan.
"Minum teh dulu, masih hangat," ucap Hu Lian sebelum masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Bai Xuning mengangguk setuju dan keluar dari kamar berjalan ke arah meja makan. Dia mengambil cangkir teh dengan hati-hati dan mulai menikmatinya perlahan, kemudian duduk di sofa dan menyalakan TV untuk sekadar menghibur diri sambil menunggu Hu Lian.
Setelah beberapa saat, dia merasa sedikit gerah—mungkin karena teh yang hangat atau udara kamar yang cukup panas.
Tanpa sadar, dia mulai membuka dua kancing depan bajunya secara perlahan, agar bisa merasa lebih nyaman.
Dia masih fokus pada tayangan di TV, tidak menyadari bahwa Hu Lian sudah keluar dari kamar mandi.
Hu Lian keluar dari kamar mandi dengan mengenakan piyama yang sama dengan Bai Xuning, warnanya hitam pekat yang membuat wajahnya tampak lebih cerah.
Setelah mengeringkan rambutnya dengan handuk, dia berjalan perlahan ke arah sofa di mana Bai Xuning sedang duduk.
Saat mendengar langkah kaki khas kekasihnya, Bai Xuning segera berbalik untuk melihatnya.
Namun kali ini, bukan hanya Hu Lian yang melihatnya—pria itu sudah melepaskan semua kancing bajunya hingga terbuka lebar, menampakkan dadanya yang tegap.
Matanya yang melihatnya penuh dengan api yang membakar, seperti sedang memandang sesuatu yang sangat berharga dan diinginkannya.
Hu Lian langsung tertegun, wajahnya sedikit memerah karena melihat kondisi Bai Xuning yang seperti ini. Setelah beberapa detik tercengang, dia akhirnya bisa mengeluarkan suara.
"Ada apa denganmu? Kenapa membuka bajumu begitu saja?" tanya dia dengan suara yang sedikit bergetar.
Bai Xuning tidak menjawab langsung. Dia perlahan berdiri dari sofa dan melangkah mendekati Hu Lian dengan langkah yang lambat namun pasti.
Matanya tidak pernah lepas dari wajah gadis itu, ekspresinya penuh dengan cinta dan hasrat yang sudah lama terkendali.
"Aku sudah tidak sabar lagi..." bisiknya dengan suara yang dalam dan menggairahkan saat sudah berdiri sangat dekat dengannya.
Tangannya perlahan meraih pinggang Hu Lian dan menariknya agar tubuhnya menyandar erat pada dirinya.
Hu Lian mengerutkan alisnya dengan ekspresi yang semakin cemas, mencoba dengan lembut untuk melepaskan diri dari pelukan Bai Xuning dan pergi ke dapur.
Saat Hu Lian menemukan bungkus teh itu dia membaca komposisi yang tertera pada kemasan teh herbal tersebut, wajahnya langsung berubah warna menjadi merah pekat sampai ke ujung telinganya.
Dia tidak percaya apa yang dilihatnya—teh yang diberikan ibunya ternyata mengandung berbagai bahan alami yang memang dikenal bisa memancing gairah seksual.
"......" Hu Lian hanya bisa terdiam dengan mulut yang terbuka sedikit, pikirannya langsung berputar-putar.
Apa ibunya sengaja mengirim putrinya sendiri ke mulut singa? pikirnya dengan rasa malu yang luar biasa, bahkan ingin segera menyembunyikan wajahnya.
Bai Xuning yang melihatnya segera mendekat dan juga membaca apa yang tertera di kemasan berkat tinggi badannya.Setelah itu, dia tidak bisa menahan tawa kecil yang keluar dari mulutnya.
"....Jadi bukan aku saja yang merasanya?"ucapnya dengan suara yang sedikit menggairahkan namun tetap penuh perhatian.
Hu Lian segera menutup kemasan teh dengan cepat dan menoleh ke arah lain, tidak melihat wajah Bai Xuning.
"Maafkan aku... aku tidak tahu kalau ibuku memberikan sesuatu seperti ini..." bisiknya dengan suara yang sangat pelan dan penuh rasa malu.Bai Xuning dengan lembut menarik bahunya agar dia berbalik menghadapinya.
"Jangan salahkan dirimu sayang... mungkin ibumu hanya ingin membantu kita saja,"ucapnya dengan senyum hangat, meskipun tubuhnya masih merasakan efek dari teh tersebut.
"......" Hu Lian tak bisa berkata apa-apa lagi, wajahnya masih merah memerah dan hati berdebar kencang akibat rasa malu dan juga efek dari teh yang diminum.
Dia hanya berdiri diam sambil menunduk, tidak berani menatap mata Bai Xuning.Namun pria itu sudah merasa semakin panas dan tidak bisa lagi menahannya.
Dengan cepat namun lembut, dia menggendong Hu Lian dengan satu lengan yang kuat, membuat gadis itu sedikit terkejut dan langsung menggenggam bahunya dengan rapat.
"Tidak perlu khawatir sayang..." bisik Bai Xuning dengan suara yang dalam dan penuh cinta saat menginjakkan kaki ke kamar tidur mereka. "Aku akan menjagamu dengan baik... kita akan menghadapinya bersama."
Tanpa berlama-lama, dia membawa Hu Lian ke ranjang yang lembut dan dengan hati-hati meletakkan tubuhnya di atas kasur.
Dia kemudian duduk di sisi ranjang, menatap wajah kekasihnya dengan pandangan yang penuh dengan kasih sayang dan hasrat yang sudah tidak bisa lagi disembunyikan.
Hu Lian hanya bisa menatapnya dengan mata yang sedikit mengambang, tangan kecilnya secara tidak sadar meraih bajunya.