Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 28
Setelah puas tertawa dan bercerita panjang lebar sampai buah apel di piring sudah habis tak bersisa, Diva melirik jam di pergelangan tangannya.
"Aduh, Han... nggak berasa ya udah jam segini," ucap Diva sambil berdiri dan merapikan tasnya.
"Kita kayaknya harus balik duluan. Takut kena macet parah di jalan kalau nunggu magrib."
Dhea ikut bangkit, ia mendekat dan mencium pipiku sekilas.
"Iya, Han. Besok kalau kerjaan kita berdua udah beres, kita mampir lagi ke sini ya. Kamu harus habisin semua buahnya, jangan cuma diliatin aja!"
Tepat saat itu, Mama masuk kembali ke ruangan.
"Loh, sudah mau pulang, Nak Diva, Nak Dhea?"
"Iya, Tante. Maaf ya nggak bisa nemenin Hana lebih lama, soalnya jalanan ke arah kerumah lumayan jauh," jawab Diva sopan sambil menyalami tangan Mama.
"Oya Tante, Om ke mana? Tadi kayaknya ada di depan?"
Mama tersenyum kecil, meski ada raut lelah di wajahnya.
"tadi tiba-tiba ada urusan mendadak di kantor, katanya ada dokumen penting yang harus ditanda tangan, jadi langsung pergi buru-buru. Titip salam aja katanya buat kalian."
"Oh, ya sudah kalau gitu, Tante. Kami pamit ya. Hana, jangan mikirin apa-apa dulu! Get well soon, Ibu Manajer!" seru Dhea sambil melambaikan tangan di ambang pintu.
Setelah pintu tertutup rapat, suasana kamar yang tadi ramai mendadak jadi sunyi. Hanya ada aku dan Mama. Mama mendekat, duduk di kursi yang tadi diduduki Dhea, lalu mulai membelai rambut panjangku dengan sangat lembut.
Sentuhan tangan Mama terasa begitu dingin namun menenangkan, persis seperti saat aku kecil dulu kalau sedang sakit.
...----------------...
Suasana kamar rawat itu perlahan mulai temaram seiring dengan matahari yang tenggelam di balik gedung-gedung tinggi kota. Cahaya lampu nakas yang kekuningan memberikan kesan hangat sekaligus melankolis. Aku masih berbaring, merasakan jemari Mama yang masih setia menyisir rambutku.
"Hana..."
panggil Mama pelan, memecah keheningan.
"Gimana perasaanmu sekarang, Sayang? Apa kepalanya masih pusing? Atau badannya masih ada yang sakit?"
Aku mencoba menarik napas panjang, merasakan udara rumah sakit yang khas memenuhi paru-paruku.
"Enggak kok, Ma. Udah mulai baikan. Rasanya badan Hana udah nggak seberat tadi pagi," jawabku dengan suara yang masih sedikit serak.
"Oh, syukurlah kalau begitu, Nak. Mama benar-benar takut tadi pagi. Mama pikir kamu kenapa-kenapa di dalam sana," Mama menghela napas lega, namun tangannya berhenti membelai rambutku.
Ia menatapku lebih dalam, tatapan yang tenang namun penuh selidik, seolah-olah ia sedang berusaha membaca setiap inci kegelisahan yang tersembunyi di balik mataku.
"Hana, Mama sebenarnya nggak tahu pasti apa yang membuatmu jadi seperti ini secara tiba-tiba," suara Mama merendah, penuh kelembutan namun terasa sangat serius.
"Mama dan Papa sudah sering bilang, kan? Kamu nggak perlu lagi memikirkan apapun tentang masa lalu itu. Kamu itu sempurna bagi kami, Sayang. Kamu sudah mencapai banyak hal. Kamu manajer yang hebat, kamu putri yang membanggakan. Masa lalu itu... biarlah dia tinggal di belakang."
Aku hanya terdiam, tenggorokanku mendadak terasa kering. Setiap kali kata 'masa lalu' disebut, bayangan foto Wira itu kembali berdenyut di kepalaku.
"Termasuk soal Tomi," lanjut Mama lagi.
"Mama tahu Tomi baru saja menyatakan perasaannya. Tapi dengar Mama, Sayang. Urusan kamu mau menerima Tomi atau tidak, itu sama sekali bukan paksaan. Kami tidak akan memaksamu untuk segera mengambil keputusan kalau kamu belum siap. Kami hanya ingin kamu bahagia, itu saja."
Aku memalingkan wajah, menatap ke arah jendela yang kini sudah gelap total. Kalimat Mama seharusnya menenangkanku, tapi justru membuatku merasa semakin bersalah karena masih menyimpan luka yang tidak mereka ketahui penyebab barunya.
"Sebenarnya... apa yang buat kamu sampai begini, Han? Apa ada hal lain yang Mama nggak tahu?" tanya Mama lagi, kali ini desakannya terasa lebih nyata.
Aku terdiam sejenak, menelan ludah dengan susah payah. Aku ingin sekali berteriak, mengadu pada Mama bahwa aku sakit hati karena pria yang dulu menghancurkanku kini tertawa bahagia dengan orang lain.
Tapi melihat wajah Mama yang penuh harap, aku hanya bisa menarik sudut bibirku sedikit.
"Ma... Hana nggak apa-apa kok. Beneran. Mungkin Hana cuma terlalu stres mikirin kerjaan di kantor akhir-akhir ini, ditambah kurang tidur. Mama nggak usah khawatir berlebihan ya?" ucapku, mencoba menyempurnakan nada suaraku agar terdengar meyakinkan.
Mama mengangguk pelan, meski aku tahu ia tidak sepenuhnya percaya. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka.
Papa kembali dengan wajah yang lebih segar meski guratan lelah tak bisa disembunyikan. Malam ini, diputuskan bahwa aku masih harus menjalani perawatan intensif. Mama dan Papa bersikeras untuk tetap di sini, menemaniku di dalam ruangan yang mulai terasa lebih sempit karena kehadiran kami bertiga.
Malam semakin larut, namun suasana di dalam kamar justru terasa lebih hangat. Papa duduk di sofa panjang dekat jendela, sementara Mama tetap di kursinya di samping ranjangku. Mereka berdua mulai banyak bercerita, mulai dari hal-hal kecil di kantor sampai dengan hal hal yang lain
"Kamu tahu, Han?"
Papa memulai ceritanya sambil terkekeh kecil.
"Tadi di kantor, Pak Broto tanya terus kenapa kamu nggak masuk. Dia bilang, laporannya nggak ada yang bisa periksa kalau bukan Ibu Manajer yang turun tangan. Papa bilang saja, anak Papa lagi ambil cuti cantik."
Aku tersenyum mendengar gurauan Papa.
"Papa ada-ada saja."
"Tapi benar, Han," sambung Mama.
"Tadi Tante Mira juga telepon, nanyain kabar kamu. Kayaknya semua orang kehilangan kalau kamu nggak ada sehari saja. Makanya, kamu harus cepat sembuh. Biar bisa kembali memimpin perusahaan Papa."
Papa mengangguk setuju.
"Iya, Nak. Tapi ingat pesan Papa, jangan pernah merasa terbebani. Perusahaan itu bisa jalan tanpa kamu untuk beberapa hari, tapi Papa nggak bisa tenang kalau kamu sakit begini. Kita bicara banyak begini supaya kamu merasa nyaman, supaya kamu tahu kalau kamu punya tempat untuk bersandar."
Obrolan mereka mengalir seperti air, mencoba menambal lubang-lubang kesepian yang kurasakan. Papa menceritakan bagaimana lucunya ia saat mencoba mencari dokumen di meja kerjaku tadi, dan Mama menceritakan masakan baru yang ingin ia buatkan untukku setelah aku keluar dari rumah sakit nanti.
Melihat mereka berdua yang begitu berusaha membuatku nyaman, perlahan-lahan sesak di dadaku mulai sedikit berkurang. Meski bayangan foto Wira itu masih ada di sudut pikiranku, suara tawa Papa dan belaian lembut Mama malam ini terasa seperti obat yang jauh lebih kuat dari cairan infus yang mengalir ke tubuhku.
Aku memejamkan mata, mendengarkan suara mereka yang saling bersahutan, merasa dilindungi dalam kepompong kasih sayang mereka yang kini terasa jauh lebih tulus dari sebelumnya. Malam ini, di rumah sakit ini, aku sadar bahwa meski masa lalu itu menyakitkan, aku tidak lagi berdiri sendirian menghadapinya.
Sepertinya Hana gadis yang menyimpan banyak luka dan beban batin ya.....semangat Hana 💪💪