NovelToon NovelToon
This Is? Another World?

This Is? Another World?

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Akademi Sihir / Fantasi Isekai
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Raphiel-Viel

Elysia Sylphy, seorang siswi SMA biasa dari Bumi yang mahir kendo, tiba-tiba terlempar ke dunia fantasi ketika ia pulang dari kegiatan ekskul kendo nya, di dunia fantasi itu, ia harus selalu waspada dengan yg ada di sekitarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raphiel-Viel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3.3 Bullying di Lapangan Latihan

Pagi itu lapangan latihan akademi Luminiella terasa lebih ramai dari biasanya. Matahari baru saja naik di atas dinding batu timur, cahayanya masih lembut dan keemasan. Angin pagi membawa aroma rumput basah dan tanah yang baru digemburkan. Beberapa siswa sudah berkumpul di pinggir lapangan, membawa tongkat latihan atau pedang kayu. Suara logam bergesekan samar-samar terdengar dari kelompok yang sedang pemanasan.

Caeril berjalan di depan, tas kcil berisi catatan dan botol air tergantung di bahunya. Ia mengenakan jubah latihan biru muda akademi, rambut biru tuanya diikat tinggi agar tidak mengganggu. Ely berjalan di sebelah kanannya, katana bersarung tergantung di pinggang, langkahnya tenang seperti biasa. Nyx berjalan di sebelah kirinya, kakinya yang lebih panjang membuat ia bisa mengikuti tanpa perlu mempercepat langkah. Ekornya melengkung pelan, telinganya bergerak kecil menangkap suara-suara di sekitar.

Mereka mencari spot kosong di sisi lapangan yang agak terpencil, dekat pagar kayu rendah. Caeril meletakkan tasnya di tanah, lalu membuka gulungan catatn. Ia menatap keduanya.

“Sebelum mulai latihan, aku ingin jelaskan tujuan tugas ini,” katanya pelan. Suaranya jelas meski angin sedikit mengganggu. “Guru Lumina bilang proyek ini bukan hanya untuk nilai. Tujuannya agar kita lebih siap dalam pertarungan nyata. Kita harus bisa melakukan gerakan seefisien mungkin, tanpa membuang tenaga lebih banyak. Buff harus tepat waktu, teknik berpedang harus akurat, dan serangan harus langsung mengenai sasaran. Tidak ada ruang untuk kesalahan di dunia luar.”

Ely mengangguk pelan. Ia meletakkan katana di tanah, lalu duduk bersila. “Jadi fokusnya pada efisiensi. Bukan kekuatan mentah.”

“Benar,” jawab Caeril. “Kita harus bisa bertahan lama, menyerang cepat, dan tidak kelelahan sebelum lawan. Aku akan coba gabungkan sihir anginku dengan buff kalian. Kalian coba gabungkan dengan teknik kalian sendiri.”

Nyx mengangguk. Ia duduk di rumput, kakinya dilipat. “Aku bisa mulai dengan buff pendengaran dulu. Itu yang paling aku kuasai sekarang. Kalau perlu, aku coba tambah buff ketahanan dasar.”

Caeril tersnyum kecil. “Baik. Kita mulai dengan pemanasan. Ely, kau coba teknik berpedang dasar. Aku akan coba buff angin ringan untuk percepat gerakanmu. Nyx, kau coba buff pendengaran pada dirimu sendiri, lalu beri tahu kalau ada suara aneh di sekitr.”

Mereka mulai latihan. Ely berdiri. Ia mengambil katana. Gerakan pertama adalah tebasan vertikal sederhana. Pedangnya bergerak cepat, tapi masih ada sedikit keterlambatan di ujung ayunan. Caeril mengangkat tangan kanan. Angin kecil berputar di sekitar Ely. Gentle Gale yang baru mulai terbentuk. Angin itu mendorong gerakan Ely sedikit lebih cepat. Tebasan berikutnya terasa lebih mulus.

Nyx menutup mata. Ia fokus. Telinganya bergerak kecil. Ia bisa mendengar suara angin yang lebih jelas, suara daun yang bergesekan, suara napas Ely yang teratur, suara Caeril yang sedikit tersengal karena konsentrasi. Ia membuka mata. “Aku bisa mendengar lebih jauh sekarang. Ada siswa lain di ujung lapangan. Mereka sedang latihan juga.”

Ely mengangguk. Ia melanjutkan latihan. Tebasan horizontal. Tusukan lurus. Gerakan kaki. Setiap gerakan terasa lebih efisien dengan buff angin dari Caeril. Nyx menambahkan buff pendengaran pada Ely. Ely bisa mendengar hembusan angin di sekitar pedangnya lebih jelas. Ia bisa merasakan kapan angin membantu atau menghambat.

Mereka latihan selama hampir satu jam. Keringat mulai muncul di dahi Ely. Ia mengusapnya dengan lengan baju. Nyx duduk di rumput, mengatur napas. Caeril berdiri di samping, tangan masih terangkat untuk menjaga aliran angin.

Tiba-tiba suara langkah kaki mendekat dari arah utara lapangan. Tiga siswa laki-laki dari kelas bangsawan berjalan ke arah mereka. Yang terdepan adalah seorang pemuda tinggi dengan rambut pirang pendek. Namanya Varian de Luthaine, anak dari keluarga bangsawan kecil tapi sombong. Ia berhenti beberapa langkah di depan mereka. Matanya menatap Nyx dengan tatapan sinis.

“Beastkin kucing hitam,” kata Varian dengn suara yang cukup keras untuk terdengar oleh siswa lain di sekitar. “Kau seharsnya tidak boleh ada di sini. Akademi ini untuk manusia. Bukan untuk hewan peliharaan.”

Caeril langsung berdiri. Tubuhnya tegang. Ia melangkah maju, berdiri di depan Nyx. “Varian, cukup. Kami sedang latihan.”

Varian tertawa kecil. Teman-temannya ikut tertawa. “Latihan? Dengan beastkin? Kau yakin tidak malu, Caeril? Keluargamu kan bangsawan juga. Atau kau sudah lupa darahmu?”

Ely berdiri perlahan. Tangan kanannya menyentuh gagang katana. Matanya dingin. Ia tidak bicara. Tapi tatapannya cukup untuk membuat salah satu teman Varian mundur setengah langkah.

Nyx tetap duduk. Ekornya melengkung lebih rendah. Telinganya merunduk. Tapi matanya tidak menunduk. Ia menatap Varian langsung. Cahaya perak samar di pupilnya berkedip sekali.

“Aku bukan hewan peliharaan,” kata Nyx pelan. Suaranya kecil, tapi jelas. “Aku siswa akademi. Sama seperti kalian.”

Varian tertawa lagi. “Siswa? Kau bahkan tidak punya nama keluarga. Kau hanya beastkin kucing hitam. Semua tahu ras kalian pembawa sial.”

Caeril mengepalkan tangan. Angin kecil mulai berputar di sekitar tangannya. Gentle Gale yang mulai terbentuk. Ia ingin maju. Ia ingin menghentikan Varian. Tapi ia tahu kalau ia bertindak sekarang, situasi akan semakin buruk. Ia harus tetap tenang.

Ely melangkah maju. Ia berdiri di samping Caeril. Katana masih di sarung, tapi tangannya sudah di gagang. “Cukup,” katanya pelan. Suaranya dingin. “Kalian mengganggu latihan kami. Pergi.”

Varian menatap Ely. Ia tersenyum sinis. “Petualang luar. Kau pikir kau bisa bicara begitu di akademi ini? Kau tidak punya hak.”

Ely tidak menjawab. Ia hanya menatap Varian. Tatapannya tajam. Varian mulai merasa tidak nyaman. Ia melirik teman-temannya. Mereka mundur setengah langkah lagi.

Varian mengangkat tangan. “Baiklah. Kami pergi. Tapi ingat, beastkin. Di sini kalian tidak diterima. Dan kau, Caeril, hati-hati dengan pilihan temanmu.”

Mereka pergi. Langkah mereka terdengar menjauh. Suasana lapangan kembali tenang. Hanya suara angin dan daun yang bergesekan.

Caeril menarik napas panjang. Ia menoleh ke Nyx. “Maaf. Aku seharusnya lebih cepat menghntikan mereka.”

Nyx menggeleng pelan. Ia berdiri. Ekornya melengkung lagi. Telinganya berdiri tegak. “Tidak apa-apa, Kak Cae. Aku sudah biasa. Tapi… terima kasih sudah melindungi aku.”

Ely meletakkan tangan di bahu Nyx. “Kau tidak perlu biasa dengn itu. Kami ada di sini.”

Caeril mengangguk. Ia menatap mereka berdua. Dada terasa lebih hangat. Ia tahu tugas ini bukan hanya tugas. Ini kesempatan. Kesempatan untuk bersama mereka. Kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka bertiga lebih kuat bersama.

“Kita lanjut latihan,” katanya. “Kita harus siap untuk presentasi.”

Ely mengangguk. Nyx mengangguk. Mereka kembali ke posisi semula. Angin sore berhembus lagi. Daun-daun bergesekan. Suara itu sekarang terasa seperti dukungan.

Mereka latihan lagi. Kali ini lebih fokus. Lebih kuat. Karena mereka tahu… mereka bkan hanya siswa. Mereka adalah saudari walaupun tidak terikat dengan hubungan darahg.

Dan mereka akan bersama.

1
Wahyuningsih
q mampir thor
Raphiel-Viell: Iyah, makasih
total 1 replies
Raphiel-Viell
Mohon dikoreksi jika ada penulisan yg kurang Rapih dan kurang tepat
Bern
Menarik ya dengan berbeda perspektif gini
Nana
Gaya penulisan nya agak kaki, tapi it's okay sih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!