apa yang akan terjadi jika kamu bangun dari tidur mu , tiba tiba sudah memiliki suami yang begitu menolak mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
first kiss
Suasana kamar yang biasanya sunyi dan kaku itu mendadak berubah menjadi medan tempur warna-warni.
Bola-bola plastik kecil berserakan di atas permadani bulu, bersanding dengan beberapa robot yang tergeletak pasrah. Di tengah kekacauan itu, Thalia tertawa kecil,
mengabaikan statusnya sebagai nyonya rumah yang seharusnya menjaga keanggunan.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
Suara itu rendah, dalam, dan sedingin es. Cavin berdiri di ambang pintu. Postur tubuhnya yang tegap dibalut kemeja kerja yang sedikit kusut di bagian lengan, memberikan kesan maskulin yang mengintimidasi. Tatapannya tajam, menyapu setiap sudut ruangan yang kini tak lagi rapi.
"Kakak..." cicit Thalia. Suaranya nyaris hilang ditiup angin pendingin ruangan.
Di belakang punggung Thalia, seorang bocah laki-laki berusia empat tahun bernama Lylo gemetar. Jemari kecilnya meremas ujung baju Thalia, matanya yang bulat mulai berkaca-kaca, memantulkan bayangan sosok Cavin yang tampak seperti raksasa jahat di matanya.
"Kakak... apa Om itu orang jahat?" tanya Lylo dengan suara parau yang tertahan di tenggorokan.
Thalia berbalik sejenak, mengusap pipi Lylo dengan lembut. "Bukan, Sayang. Om itu suaminya Kakak. Dia orang yang sangat baik," bisiknya menenangkan.
Deg.
Cavin merasakan sebuah desiran aneh menghantam dadanya. Sebuah pengakuan sederhana, namun entah mengapa sanggup menggetarkan pertahanan hatinya yang selama ini beku.
Namun, gengsi yang setinggi langit membuatnya lekas menepis perasaan itu. Dia hanya ingin menenangkan bocah itu, pikirnya sinis.
"Siapa dia?" tanya Cavin, mendadak lupa suaranya masih datar namun matanya tak lepas dari sosok kecil di belakang istrinya.
"Cucu teman arisan Mama. Orang tuanya baru akan menjemput nanti siang ," jawab Thalia hati-hati.
Cavin mendengus pelan, jemarinya mulai melonggarkan dasi. "Bereskan kekacauan ini. Aku tidak ingin melihat satu pun mainan tertinggal saat aku selesai mandi.
Ya dia memilih mandi lagi karena siang ini ia akan berangkat ke kantor.
"Jika tidak..." Ia menggantung kalimatnya dengan nada mengancam yang samar.
"Baik, Om!" jawab Thalia dan Lylo serempak, seolah mereka adalah prajurit yang sedang menerima perintah jenderal.
Langkah Cavin terhenti. Ia berbalik dengan kening berkerut. "Aku bukan Om kalian," desisnya tajam sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
"Eh, iya... maaf, Sayang!" teriak Thalia dari luar.
Di dalam kamar mandi, di bawah kucuran air dingin, Cavin mematung. Kata "Sayang" itu bergaung di telinganya, merambat masuk ke celah-celah hatinya yang paling dalam.
Ia memejamkan mata, berusaha menyangkal detak jantungnya yang mendadak tak beraturan. Pasti aku salah dengar, batinnya keras kepala.
Beberapa saat kemudian, Cavin keluar dengan hanya berbalut handuk putih yang melingkar di pinggangnya, memperlihatkan tetesan air yang masih mengalir di dada bidangnya yang kecokelatan. Ia melangkah menuju ruang ganti yang dibatasi oleh sekat kayu jati berukir indah.
Setelah mengenakan pakaian santai, ia duduk di tepi ranjang besar mereka. Aroma sabun maskulin yang segar memenuhi udara.
"Sudah makan siang?" tanya Cavin tanpa menoleh.
"Belum, Sayang... eh, maksudku, Kak," jawab Thalia gugup.
Cavin menghela napas, jemarinya menyisir rambutnya yang basah. "Kemari. Keringkan rambutku."
"Akan ku ambilkan hairdryer di laci—"
"Pakai handuk saja. Tidak sehat menggunakan alat itu terlalu sering. Cepat kemari."
Thalia menurut. Ia mendekat dengan langkah ragu. "Lylo, Kakak bantu Om... eh, Kak Cavin dulu ya. Lylo main di sana sebentar."
"Aku bukan Om-mu," potong Cavin cepat, matanya menatap tajam pantulan Thalia di cermin. Ia tahu Thalia sedang menggunakan panggilan itu untuk memudahkan Lylo, tapi hatinya tetap saja merasa tidak nyaman.
"Iya, aku tahu, Sayang," sahut Thalia tanpa sadar sambil mulai menggosokkan handuk lembut ke rambut hitam suaminya.
Cavin terpaku. Kali ini ia tidak salah dengar. Panggilan itu meluncur begitu saja dari bibir tipis Thalia, begitu tulus dan alami. Gadis itu kini berdiri di hadapannya, jemarinya yang lentik bergerak telaten, sementara wajahnya tampak begitu fokus seolah mengeringkan rambut suaminya adalah tugas paling penting di dunia.
"Siapa yang menyuruhmu memanggilku seperti itu, hm?" tanya Cavin rendah, menahan pergelangan tangan Thalia agar mata mereka bertemu.
"Mama yang menyuruh," jawab Thalia jujur, pipinya mulai bersemu merah.
"Kenapa Mama memberi saran gila itu?"
Thalia menunduk, menghindari tatapan intens Cavin. "Aku bercerita pada Mama kalau Kakak sering marah-marah. Lalu Mama bilang, kalau dipanggil 'Sayang', mungkin Kakak tidak akan marah lagi."
Cavin tertegun. Sebuah senyum tipis nyaris terukir di sudut bibirnya, namun ia segera menahannya.
"Apa kau juga bercerita saat aku mengunci mu di kamar mandi?"
Thalia mengerutkan kening, tampak berpikir keras. "Kapan? Memangnya Kakak pernah melakukan itu?"
Cavin membatin, Gadis ini... bagaimana bisa dia melupakan hal sekejam itu dengan begitu mudah?
"he ee hee "
Tangis Lylo pecah seketika, memecah keheningan romantis yang mulai terbangun. Thalia dengan sigap turun dari tempat tidur dan menghampiri bocah itu.
"Ada apa, Lylo? Kenapa menangis?" tanya Thalia lembut.
"Lylo mau pup, Kak..." jawab bocah itu sambil memegangi perutnya, wajahnya memerah menahan malu dan keinginan buang air.
Thalia seketika menoleh ke arah suaminya dengan tatapan memohon yang sangat menggemaskan. "Sayang... Lylo mau pup."
Cavin menaikkan sebelah alisnya. "Lalu?"
"Aku... aku tidak tahu cara membantunya. Tolong, ya?"
"Panggil pelayan saja," jawab Cavin dingin.
"Bibi sedang keluar belanja. Tolonglah, Kak... Kasihan Lylo," mohon Thalia dengan suara yang begitu lembut, seolah sedang merayu.
Cavin mengembuskan napas panjang, sebuah desahan frustrasi yang kalah oleh binar mata istrinya.
"Oh, astaga... Ayo. Tapi sebelum itu kau harus membayar nya"
" aaa berapa" tanya Thalia lemah sebab ia tidak memegang uang karena kebutuhan nya semua terpenuhi. Dan Cavin hanya menepuk pipi kirinya dengan jari telunjuknya.
" ayo lakukan"ucap Cavin seraya menepuk pipi kirinya lagi
"Thalia belum punya uang sekarang"
" bukan pakai uang tapi ekhem cium dulu sini"ujar Cavin datar mencoba menutupi rasa malu nya" buruan ,atau aku akan tinggal anak itu..
"baik lah " saat Thalia mencoba mencium pipi kirinya Cavin menoleh ke arah nya dan alhasil ia mendapatkan kecupan di bibir dari istrinya.
Cup
Dengan kaku namun hati-hati, Cavin menggendong Lylo menuju toilet. Ia meninggalkan Thalia yang masih sok karena kecupan nya salah sasaran
Ia membantu bocah itu, mendudukkannya di atas closet sambil menjaganya agar tidak merosot.
Pemandangan seorang pria dingin seperti Cavin yang sibuk mengurus balita adalah pemandangan paling kontras sekaligus paling hangat yang pernah dilihat Thalia.
Setelah drama di toilet selesai, Cavin kembali ke kamar dengan wajah yang sedikit lebih rileks. Thalia tanpa diminta langsung menyampirkan handuk kecil di leher suaminya, membantu merapikan sisa-sisa air di tengkuk Cavin.
"Ada apa?" tanya Cavin datar saat menyadari Thalia terus tersenyum sendiri.
"Kakak keren sekali. Seperti di film-film. Kakak cocok jadi istri idaman," ucap Thalia polos.
Cavin mengerutkan kening, bingung. "Maksudmu? Aku ini laki-laki, Thalia."
"Bukan begitu! Itu loh, film yang ditunjukkan Nana tempo hari. Judulnya 'Istri Idaman'. Di sana diceritakan betapa hebatnya seseorang yang bisa mengurus rumah, anak, bahkan mengganti popok. Tadi Kakak melakukan itu semua dengan sangat baik," jelas Thalia riang, matanya berbinar-binar penuh kekaguman.
Cavin terdiam, terus mengamati wajah istrinya yang berseri-seri.
Cara Thalia berbicara dengan penuh semangat mengingatkannya pada hari-hari yang telah mereka lalui—bagaimana kepolosan gadis ini sering kali meruntuhkan tembok pertahanannya tanpa ia sadari, kali ini fokus cavin bibir istrinya yang berwarna pink alami.
Saat Thalia hendak beranjak untuk menjemur handuk basah tersebut, tangan kekar Cavin bergerak lebih cepat. Ia menarik pergelangan tangan Thalia, membuat gadis itu kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat di pangkuannya.
Napas Thalia tercekat. Wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.
" kakak"
"Mau ke mana? Bukan nya mama menganjurkan mu memanggil ku sayang" bisik Cavin, suaranya kini terdengar berat dan serak.
" eh iya,maaf sayang itu aku Mau... mau menjemur handuk, eh kakak mau apa?" tanya Thalia gugup, jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang, carna Cavin mencondongkan wajah nya mendekati Wajahnya.
Cavin menyunggingkan senyum tipis—senyum yang jarang sekali ia tunjukkan, namun begitu mematikan bagi siapa pun yang melihatnya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Thalia, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
"Mau aku ajarkan bagaimana caranya menjadi 'istri idaman' yang sesungguhnya?"