NovelToon NovelToon
BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: KEBANGKITAN SANG RATU ADIGUNA

​Kota Jakarta masih berselimut kabut sisa hujan semalam. Di depan gedung pencakar langit Adiguna Group, puluhan wartawan sudah berkerumun. Hari ini, Pratama Adiguna mengumumkan konferensi pers darurat. Rumor yang beredar sangat liar: Gwen Adiguna dikabarkan hilang dalam serangan teroris di kediamannya, dan Reno—sang suami—sedang dalam kondisi kritis.

​Pratama berdiri di balik podium mewah, mengenakan setelan jas hitam dengan raut wajah yang dibuat seolah-olah sedang berduka sedalam lautan.

​"Rekan-rekan media," suara Pratama bergetar dramatis. "Keponakan saya, Gwen, adalah korban dari serangan keji semalam. Hingga saat ini, keberadaannya belum ditemukan. Sebagai satu-satunya keluarga yang tersisa, dengan berat hati, saya akan mengambil alih pimpinan Adiguna Group untuk sementara demi menjaga stabilitas perusahaan..."

​Di tengah pidato kemenangannya, sebuah raungan mesin mobil sport terdengar membelah kerumunan. Sebuah Lamborghini hitam legam berhenti tepat di depan karpet merah.

​Pintu mobil terbuka ke atas. Sepatu hak tinggi berwarna merah menyala menyentuh aspal dengan mantap.

​Seluruh kamera menoleh. Lampu kilat menyambar-nyambar seperti badai elektrik.

​Gwen Adiguna keluar dari mobil itu. Dia tidak lagi tampak seperti wanita buta yang rapuh. Dia mengenakan gaun bodycon hitam yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, dipadukan dengan blazer putih yang disampirkan di bahu. Matanya yang tajam dan berbinar menatap lurus ke arah podium.

​Di sampingnya, Elang berdiri seperti dewa kematian yang menjaga ratunya. Tatapan Elang begitu dingin hingga membuat para wartawan yang menghalangi jalan refleks menyingkir.

​"Paman, sepertinya Paman terlalu terburu-buru memesan karangan bunga duka cita," suara Gwen menggema, jernih dan penuh otoritas, lewat mikrofon yang ia rebut dari salah satu wartawan.

​Wajah Pratama yang tadinya pucat pasi kini berubah menjadi seputih kertas. Dia mencengkeram pinggiran podium hingga buku jarinya memutih. "Gwen?! Kamu... bagaimana mungkin kamu..."

​Gwen melangkah naik ke atas panggung dengan gerakan anggun namun mengintimidasi. Dia berdiri tepat di samping pamannya, merebut mikrofon utama.

​"Maafkan keterlambatan saya," ucap Gwen kepada kamera. "Semalam ada sedikit 'pembersihan tikus' di kediaman saya. Dan seperti yang Anda lihat, saya sehat, penglihatan saya sudah pulih sepenuhnya, dan saya siap untuk membersihkan kotoran yang ada di dalam perusahaan ini."

​"Gwen, jangan bicara sembarangan! Kamu sedang terguncang!" Pratama mencoba meraih lengan Gwen, tapi Elang dengan cepat menepis tangan Pratama dengan gerakan yang sangat kasar.

​"Jangan sentuh Nona Gwen," desis Elang. Suaranya rendah tapi penuh ancaman yang membuat Pratama menciut.

​Gwen mengeluarkan sebuah berkas fisik dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Hari ini, saya secara resmi mencabut hak asuh dan hak kuasa apa pun yang dimiliki Pratama Adiguna atas aset keluarga saya. Saya juga membawa bukti keterlibatan Tuan Pratama dalam upaya sabotase nyawa saya semalam."

​Para wartawan gempar. Pertanyaan-pertanyaan mulai menghujani panggung.

​"Nona Gwen, bagaimana dengan suami Anda, Tuan Reno?" teriak salah satu wartawan.

​Gwen tersenyum tipis, senyuman yang sangat mematikan. "Reno? Dia sedang berada di tempat yang paling tepat untuk seorang pengkhianat. Polisi sudah mengamankan lokasi bunker tempat dia mencoba membunuh saya semalam. Oh, dan Paman..."

​Gwen mendekatkan wajahnya ke telinga Pratama, cukup dekat agar mikrofon menangkap bisikannya. "Uang 500 miliar yang Paman pindahkan ke Singapura? Sudah saya blokir atas bantuan otoritas internasional pagi ini. Paman sekarang... jatuh miskin."

​Pratama tersentak, dia hampir jatuh pingsan jika tidak memegangi kursi. Dia menatap Gwen dengan kebencian yang murni. "Kamu... kamu pikir ini sudah selesai? Kamu hanyalah anak kecil yang bermain api, Gwen!"

​"Dan aku adalah api yang akan membakar seluruh kebohonganmu, Paman," balas Gwen tanpa berkedip.

​Gwen memberi isyarat kepada Elang. Dalam hitungan detik, beberapa petugas kepolisian yang sudah disiapkan muncul dari balik pintu aula dan menggiring Pratama keluar dari gedung di depan siaran langsung televisi nasional.

​Konferensi pers itu berakhir dengan kemenangan mutlak bagi Gwen. Namun, ini hanyalah babak pembuka.

​Satu jam kemudian, Gwen dan Elang berada di ruang CEO yang kini telah kembali ke tangannya. Gwen menghempaskan tubuhnya ke kursi besar, menatap pemandangan kota Jakarta dari lantai 50.

​"Kamu melakukannya dengan baik, Nona," ucap Elang. Dia berdiri di dekat jendela, matanya tetap waspada memantau area luar melalui tablet keamanannya.

​"Ini baru permulaan, Elang. Pratama punya banyak kaki tangan. Dan Reno... aku tahu dia belum benar-benar habis. Pria seperti dia punya tujuh nyawa," Gwen memejamkan matanya sejenak.

​"Lalu, apa rencana selanjutnya?"

​Gwen membuka mata dan menatap Elang. "Aku butuh kamu untuk mencari tahu tentang 'Organisasi Hitam' yang sering disebut Ayah di buku harian rahasianya. Reno dan Pratama hanyalah pion. Ada kekuatan yang lebih besar yang menginginkan kehancuran Adiguna Group."

​Elang terdiam. Rahangnya mengeras. "Organisasi itu... mereka juga yang menghancurkan keluargaku."

​Gwen berdiri dan berjalan mendekati Elang. Dia menyentuh lengan Elang, merasakan ketegangan di otot pria itu. "Kalau begitu, kita punya musuh yang sama. Kita tidak bisa berhenti di sini."

​Tiba-tiba, Elang menarik Gwen ke dalam pelukannya. Suasana di ruangan itu berubah drastis dari profesional menjadi penuh ketegangan romantis. Elang menatap Gwen dengan tatapan yang sangat dalam, seolah-olah sedang mencari sesuatu di dalam matanya.

​"Gwen, semakin tinggi kamu memanjat, semakin banyak orang yang ingin menarikmu jatuh. Apakah kamu siap untuk tetap bersamaku di tempat yang gelap?"

​Gwen melingkarkan tangannya di leher Elang. "Di tempat paling gelap sekalipun, aku akan mengikutimu, Elang. Karena kamu adalah satu-satunya 'kegelapan' yang bisa melindungiku."

​Baru saja bibir mereka hampir bersentuhan, pintu ruangan diketuk dengan keras.

​"Nona Gwen! Ada tamu mendesak yang ingin menemui Anda!" suara asisten barunya terdengar panik.

​Gwen melepaskan diri dari Elang, merapikan bajunya dengan sedikit gugup. "Masuk!"

​Pintu terbuka, dan seorang wanita paruh baya dengan pakaian sangat mewah dan wajah angkuh masuk ke dalam ruangan. Dia adalah Nyonya Sofia, ibu kandung Reno—ibu mertua Gwen yang selama ini tinggal di London.

​"Gwen Adiguna! Beraninya kamu memperlakukan putraku seperti itu!" teriak Nyonya Sofia sambil menggebrak meja. "Aku tidak peduli jika dia selingkuh, itu biasa bagi pria konglomerat! Tapi memenjarakannya? Kamu sudah gila!"

​Gwen menatap ibu mertuanya dengan tenang. "Selamat datang kembali, Nyonya Sofia. Sepertinya Anda melewatkan banyak drama saat berada di London."

​"Aku akan menuntutmu! Aku punya pengacara terbaik di Eropa! Dan siapa pria ini?" Sofia menunjuk Elang dengan jijik. "Jadi ini alasanmu menceraikan Reno? Karena kamu punya simpanan berdarah dingin ini?"

​Elang hanya menatap Sofia dengan pandangan membunuh, yang membuat wanita itu sedikit mundur ketakutan.

​"Nyonya Sofia," Gwen melangkah maju, auranya kini jauh lebih kuat dari ibu mertuanya. "Jika Anda tidak segera keluar dari kantorku, aku akan memastikan seluruh aset Anda di London disita karena aliran dana ilegal dari Reno. Pilihan ada di tangan Anda."

​Nyonya Sofia ternganga. Dia tidak menyangka menantunya yang "buta" dan "lemah" bisa berubah menjadi singa betina seperti ini.

​"Kamu... kamu akan menyesal, Gwen! Kamu tidak tahu dengan siapa aku beraliansi!" ancam Sofia sebelum pergi dengan menghentakkan kakinya.

​Gwen menghela napas panjang. Dia menatap Elang. "Lihat? Satu ular pergi, induk ular lainnya datang."

​Elang tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat langka. "Itulah sebabnya cerita ini akan menjadi sangat panjang, Gwen. Musuhmu tidak akan pernah habis dalam satu malam."

​Tiba-tiba, ponsel Elang bergetar. Dia membaca sebuah pesan rahasia yang masuk.

​"Target Reno berhasil melarikan diri dari ambulans saat perjalanan menuju rumah sakit. Dia dibantu oleh tim bersenjata tidak dikenal."

​Elang menatap Gwen dengan wajah serius. "Gwen, Reno kabur. Dan sepertinya, dia baru saja bergabung dengan musuh yang jauh lebih besar dari Pratama."

​Gwen mengepalkan tangannya. "Bagus. Biarkan dia lari. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya menjadi buruan sebelum akhirnya aku tamatkan."

​Di kejauhan, di sebuah markas rahasia di pinggiran kota, Reno yang berlumuran perban duduk di depan seorang pria misterius yang wajahnya tertutup bayangan.

​"Tuan... tolong beri aku kekuatan untuk menghancurkan Gwen," rintih Reno.

​Pria misterius itu menyesap cerutunya. "Gwen Adiguna sudah menjadi terlalu berbahaya. Saatnya kita menggunakan 'Proyek Gerhana'."

1
Anonymous
Semakin seru dan misterius
Anonymous
Semakin komplek dan misterius
Anonymous
Paman ?Memang harta lebih agung dan sangat berharga apalagi hanya sekedar ponak'an
Anonymous
Reno "I B L I S "
Anonymous
Reno kurang bersyukur dengan kehadiran Gwen dalam hidupnya seorang istri yang csntik punya harkat martabat dan derajat
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia
Anonymous
Mulai membaca dan larut di dalamnya
Anonymous
Tegar dan percaya diri Gwen tidak mudah terbawa perasaan
Anonymous
Masih misterius semua
Anonymous
Sip.....aku suka karakter Gwenn👍
Leebit
siap!! makasih ya udah berkunjung ke karyaku😊
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!