Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3
Pagi itu datang dengan matahari yang tidak terlalu terik, tapi cukup membuat taman belakang rumah besar itu berkilau lembut. Embun pagi masih tersisa di ujung daun, sementara beberapa bunga mawar tampak merunduk, kelopaknya kecokelatan, nyaris menyerah.
Andita berdiri di ambang pintu belakang, mendorong kursi roda Bu Diana perlahan.
"Udara pagi enak, Bu," katanya hati-hati, nada suaranya dibuat seringan mungkin. "Kalau bosan di kamar, kita bisa sebentar saja di taman. Lima menit juga tidak apa-apa."
Bu Diana mendengus. "Ngapain? Mau pamer kalau aku sudah tidak berdaya?"
"Bukan," Andita menggeleng. "Saya cuma pikir… mungkin bunga-bunga ini kangen dirawat."
"Bunga?" Bu Diana tertawa sinis. "Kamu kira aku ini tukang kebun? Kamu aja deh, kamu lebih cocok. Kamu kan perawat."
Andita tersenyum kecil, tak tersinggung. Ia mendorong kursi roda hingga berhenti di dekat petak bunga mawar yang hampir layu. Tanahnya kering, batangnya kurus, daun-daunnya berlubang kecil.
"Hmmm, ada banyak tanaman bunga di sini, sayangnya banyak juga yang berlobang."
"Enggak usah kritik! Kamu tuh dibayar buat rawat aku, bukan kritik tanaman!"
"Eh, iya, ya Bu? Kalau gitu, nanti saya cek lagi nurut ya?"
"Eh, sok akrab kamu? Emang kamu siapa, ngatur-ngatur saya?"
Dita mengulas senyum, walau ketus, Bu Diana masih menanggapi. Itu bagus sih.
"Dulu Ibu suka bunga?" tanya Andita sambil berjongkok.
"Dulu?" Bu Diana memalingkan wajah. "Aku dulu suka banyak hal. Sekarang semuanya sudah diambil."
Andita mengambil gunting kecil dan sarung tangan dari tasnya. "Kalau mau, Ibu bisa potong yang kering. Saya pegangin."
"Jangan sok mengajari!" Bu Diana mengibas tangan. "Kamu cuma mau mengejek aku, kan? Lihat, bahkan bunga pun lebih berguna dari aku."
Andita terdiam sesaat. Lalu ia duduk di bangku kayu, sejajar dengan kursi roda. "Saya tidak mengejek, Bu. Saya cuma… Mau ibu lihat dan rasakan lagi indahnya bunga-bunga kalau mekar di taman, tangan kalau tersentuh tanah atau daun yang masih segar."
Bu Diana menoleh cepat. "Huh, sok-sokan ngajarin. aku lebih tua darimu! Aku lebih tau."
"Iya. Ibu memang lebih tau," jawab Andita pelan. "Ibu ngerasa nggak? Kadang hidup bikin kita merasa layu. Tapi kalau disiram pelan-pelan, dipotong bagian yang sakit, masih bisa tumbuh lagi."
Bu Diana mendengus, tapi matanya tak lepas dari mawar itu. "Omong kosong."
"Mungkin," Andita tersenyum. "Tapi boleh dicoba. Kalau gagal, ya… setidaknya kita sudah keluar kamar."
Hening menyelinap. Angin menggeser dedaunan. Bu Diana menghela napas panjang, lalu dengan gerakan kaku mengulurkan tangan. "Guntingnya."
Andita terkejut kecil. "Ibu mau?"
"Cepat! hardik Bu Diana, meski suaranya tidak sekeras biasanya.
Andita menyerahkan gunting. Dengan tangan gemetar, Bu Diana memotong satu batang kering. Bunyi krek terdengar jelas. Wajahnya menegang, lalu… melembut sesaat.
"Begini?" tanyanya, nyaris berbisik.
"Iya, Bu. Itu sudah benar," jawab Andita, tulus.
"Huh, apa kubilang? Aku ini tau lebih banyak dari kamu," ucap bu Diana jumawa.
Dita hanya tersenyum saja.
"Itu! Aku mau yang deket kolam itu dipangkas juga."
"Bu Diana mau lakukan sendiri?"
"Iya, dong! Walau kaki begini tanganku masih fungsi tau."
Beberapa menit berlalu. Bu Diana memotong lagi, satu, dua. pelipis mulai meluncur keringat, dia menoleh ke arah Dita. Dia terlihat sedang mengumpulkan daun kering di sisinya.
Lalu tiba-tiba ia mendorong kursi rodanya mendekat. Entah apa yang mengisi pikirannya, dia mendorong kursi rodanya maju sampai mengenai punggung Dita dan gadis itu kehilangan keseimbangan.
Segalanya terjadi cepat. Gunting di tangan Bu Diana menghantam Andita. Andita terjatuh, kepalanya membentur sisi bangku. Dunia berputar.
"Mama!" suara Tama meledak dari pintu belakang. Ia baru saja masuk, membawa tas kerja, berniat makan siang bersama ibunya.
"Dita!" Tama berlari.
Bu Diana membeku. Wajahnya pucat. "Mama… Mama tidak sengaja, Tam."
Andita terbaring, napasnya berat. Tama berlutut, memegang bahunya. "Dita, dengar aku. Kamu sadar?"
"Ma! Apa yang Mama lakukan? Bahaya banget tau!"
"Bukan salah Mama, Tam...! Bisa aja dia cuma pura-pura buat..."
"Oh, ya Tuhan! Keningnya berdarah! Ini gawat!" Tama panik, melihat ke sekitar mencari tukang kebun atau mbak Sari.
"Mbak Sari! Mas Miko!" panggilnya setengah berteriak.
Pekerja serabutan, Miko muncul lebih dulu. "Ada apa, Pak Tama?"
"Tolong bantu Mama ke teras!"
"Baik!" Miko sigap mendorong kursi roda Bu Diana.
"Skalian, habis ini panggil Mbak Sari, bawa kotak p3k!"
"Siap, Pak."
Tama memindahkan Dita ke teras yang lebih teduh.
"Dita! Dita! Bangun! Sadarlah!" Tama menepuk pipi Dita, setelah Dita berbaring di kursi santai teras.
Kelopak mata Andita berkedip. "Bu… Bu Diana?" gumamnya.
"Dia di sini," jawab Tama cepat. "Fokus sama aku."
Andita membuka mata. Hal pertama yang ia lakukan bukan memeriksa dirinya, tapi menoleh ke kursi roda. "Bu Diana… Bu Diana tidak apa-apa, kan?"
Bu Diana tercekat. Tenggorokannya terasa kering. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
"Mama enggak papa," jawab Tama.
Andita memaksakan senyum tipis saat melihat wanita yang dia rawat itu baik-baik saja. "Oh, syukurlah."
Ada sesuatu yang retak di dada Bu Diana. Ia ingin gadis itu pergi. Ia ingin menyakitinya. Tapi saat gadis itu terjatuh… rasa takut justru menelannya utuh.
"Aku panggil dokter," kata Tama panik.
"Tidak perlu, Tuan." Andita berbisik. "Saya cuma pusing sedikit."
"Kepalamu berdarah, Dita! Bisa-bisa, kamu gegar otak."
"Saya tau kondisi tubuh saya, Tuan. Ini hanya luka kecil."
Tama tercekat, dalam hal ini, Dita memang lebih tau. "Kita obati lukamu," katanya tepat saat Sari muncul di ambang pintu membawa kotak p3k.
Bu Diana dibawa lebih dulu ke kamar, terdiam sepanjang jalan.
****
Malam itu, rumah kembali sunyi. Lampu ruang kerja Tama menyala.
"Masuk," kata Tama saat pintu diketuk.
Andita masuk, langkahnya sedikit kaku. "Tuan memanggil saya?"
"Duduklah," Tama menunjuk kursi. "Kepalamu masih sakit?"
"Sudah jauh mendingan," jawab Andita.
"Aku dengar robek."
"Ini hanya lecet, Tuan."
Tama menatapnya lama. "Aku minta maaf. Soal siang tadi. Ini… kompensasi." Ia mendorong amplop cokelat.
Andita terkejut. "Tuan, ini tidak perlu..."
"Ambilah," potong Tama lembut tapi tegas. "Ini bukan uang tutup mulut. Ini tanggung jawabku. Aku akan merasa sangat bersalah kalau kamu tolak."
Andita akhirnya menerima, menunduk. "Terima kasih."
Tama menghela napas, bersandar. "Kamu tau, aku sayang Mama, kan Dit? Tapi kadang aku juga… lelah."
Andita mengangguk pelan. "Merawat orang tua tunggal memang tidak mudah, Tuan. Tapi, Tuan satu-satunya yang Ibu punya. Dan ibu, satu-satunya keluarga Tuan. Kalian harus saling menjaga."
Tama tersenyum kecut.
"Kamu benar." Tama menatap gadis di hadapannya. "Kenapa betah di sini?"
Andita ragu. Lalu berkata pelan, "Sebenarnya, saya kabur dari kampung, Tuan. Mantan saya… menikah dengan sepupu saya."
Tama terdiam. "Astaga."
"Andai saya tinggal, saya harus bertemu mereka setiap hari," lanjut Andita. "Di sini… setidaknya saya bisa berguna. Dan gajinya cukup tinggi, makanan di sini..."
"juga enak-enak," sambung Tama setengah tertawa.
Dita tersenyum, "Iya, Tuan. Benar, makanan di sini enak. Jadi saya betah."
Tama tersenyum pahit. "Kamu ini, kayaknya orang yang selalu mengambil sisi positifnya ya?"
Dita hanya tersenyum simpul, "Terima kasih pujiannya, Tuan."
"Kalau dibandingkan, kisah cintamu lebih menyedihkan dari hidupku. Kamu tau? Aku juga lagi stres karena beberapa hal. Aku juga sedang tidak baik-baik dengan Selina. Ditambah Mama banyak tingkah."
"Tuan tidak boleh begitu. Bu Diana orang tua satu-satunya..."
"Kamu benar... Karna itu, kadang aku merasa lelah..."
"Tuan bisa bercerita. Walau mungkin tak temukan solusi, masih ada yang mendengar." Andita tersenyum kecil.
Tama tertawa singkat, "Kamu benar."
Tatapan keduanya beradu cukup lama, hingga timbul rasa aneh. Dita menunduk memutus lebih dulu.
Tama tau, ia juga merasakan kecanggungan yang aneh, lalu berdiri. "Istirahatlah. Terima kasih sudah bertahan."
Andita bangkit. "Baik, Tuan."
Saat ia berbalik, kakinya tersandung karpet. Tubuhnya oleng.
"Dita!" Tama reflek meraih.
Andita hampir jatuh... namun berhasil menahan diri di tepi meja. Napas mereka sama-sama tertahan. Tubuh mereka saling menempel satu sama lain. Tama menunduk, wajah Dita hanya berjarak inci dari wajahnya.
Ada dorongan yang tak bisa Tama pahami, tapi wajahnya bergerak mendekat. Tangannya merangkul pinggang Dita lebih erat, dan bibirnya... Menemukan bibir Dita...
Wanita cantik itu, membeku... Kaku...