Kirana Seo, seorang penulis novel yang hidup pas-pasan, baru saja menyelesaikan bab terakhir novelnya yang tragis. Namun, alih-alih merayakannya, ia justru terbangun dalam tubuh karakter antagonis utama yang ia ciptakan sendiri: Gwyneth Valerine.
Terjebak dalam tubuh seorang "monster" yang terkenal dingin dan kejam, Kirana menyadari situasi berbahaya yang dihadapinya. Dua hari lagi, suaminya, Xavier Zhang, akan kembali, dan sebuah insiden kelam yang seharusnya meninggalkan trauma mendalam bagi putrinya, Amethysta Valerine, akan terjadi.
Bertekad untuk mengubah takdir, Kirana—dalam tubuh Gwyneth—memutuskan untuk menulis ulang kisah hidup mereka. Ia berusaha mendekati Amethysta kecil yang ketakutan, mengganti ketakutan dengan kasih sayang, dan berusaha mencegah tragedi yang telah ia tulis sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Yang Membuka Mata
...— ✦ —...
Langit-langit kamar itu putih.
Putih bersih, tanpa noda, tanpa retak.
Gwyneth Valerine membuka matanya dan menatap langit-langit yang sudah ia kenal sejak hari pertama ia pindah ke rumah ini — delapan tahun lalu, dengan Xavier yang menggendongnya melewati ambang pintu dengan cara yang ia anggap berlebihan tapi tidak mau ia akui ia sukai. Langit-langit yang sama. Kamar yang sama. Bau wewangian mahal yang sama, campuran bunga lili dan kayu cedar, yang sudah menjadi bagian dari identitas ruangan ini seperti dinding dan furniturnya.
Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Gwyneth tidak langsung duduk. Ia berbaring dan membiarkan dirinya merasakan — bukan dengan pikiran, tapi dengan sesuatu yang lebih dalam dari pikiran. Ada sesuatu yang menempel di udara kamar ini, di seprai yang ia pegang, di cara cahaya pagi masuk dari jendela timur. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang tidak ada di sini ketika ia... pergi.
Pergi.
Kata yang tidak sepenuhnya tepat untuk apa yang terjadi padanya. Ia tidak pergi dengan sengaja. Ia tidak ke mana-mana. Ada sesuatu yang datang — seperti arus yang mengangkat, seperti tidur yang sangat dalam — dan ketika itu berlalu, ada jeda. Jeda yang panjang. Jeda yang ia habiskan di tempat yang tidak bisa ia deskripsikan dengan kata-kata yang tersedia dalam bahasa manusia.
Dan sekarang ia di sini lagi.
Di tubuhnya sendiri. Di kamarnya sendiri. Dengan langit-langit putih di atasnya dan sesuatu yang hangat yang belum ia mengerti menempel di udara.
Gwyneth duduk. Perlahan.
...✦ ✦ ✦...
Cermin di kamar mandi memantulkan wajahnya.
Wajahnya — bukan wajah orang lain, bukan pantulan yang bergerak sebelum ia bergerak. Tulang pipi tinggi, rambut hitam yang sedikit awut-awutan setelah tidur, bibir yang tidak tersenyum karena ia tidak sedang tersenyum. Wajah yang sudah ia kenal seluruh hidupnya.
Tapi matanya — matanya terasa berbeda. Atau mungkin bukan matanya yang berbeda. Mungkin cara ia menatap ke dalamnya yang berubah.
Ada amplop di mejanya. Gwyneth melihatnya dari sudut mata ketika berjalan ke kamar mandi tadi — amplop putih, dengan tulisan tangan di depannya. Satu kata. Namanya.
Ia tidak membukanya dulu. Ia mencuci muka, menyisir rambut, menarik napas panjang — dan baru kemudian kembali ke meja, duduk, mengambil amplop itu.
Kertasnya tipis. Tulisan tangannya bukan tulisan tangannya sendiri — lebih bulat, lebih lunak, dengan kecenderungan menekan lebih dalam di akhir kalimat seperti seseorang yang menulis dengan perasaan yang besar.
Gwyneth membaca.
...✦ ✦ ✦...
Ia membaca dua kali. Tiga kali.
Tentang Amethysta yang menyukai lavender dan bintang. Tentang Naira yang ribut dan tepat. Tentang Amethysta yang mulai mengangkat tangan di kelas, yang meletakkan kepalanya di bahu seseorang dan berbisik *aku juga, memilih.* Tentang Xavier yang sudah mulai pulang lebih awal. Tentang Seren yang bertahan enam tahun karena satu alasan. Tentang Ibu Zhang dan Vivienne dan hal-hal kecil yang ternyata tidak kecil sama sekali.
Dan di halaman terakhir — kata-kata yang ditujukan langsung padanya, dari seseorang yang masuk tanpa diundang dan pergi tanpa pamit, yang menyebut dirinya Kirana, yang adalah penulis dari semua ini.
Tubuh ini, keluarga ini, anak ini — semua ini lebih dari yang aku tulis.
Amethysta tadi meletakkan kepalanya di bahuku. Pertama kali. Ia bilang ia memilih. Jaga kepercayaan itu seperti hal paling berharga yang pernah diberikan padamu. Karena memang begitu.
Rantai sudah mulai diputus. Kamu yang harus meneruskan memutusnya.
Gwyneth meletakkan kertas itu di atas meja.
Duduk dalam keheningan yang penuh dengan hal-hal yang tidak punya suara.
Ia tidak menangis — bukan karena tidak mau, tapi karena ada sesuatu yang lebih besar dari tangis yang perlu diproses lebih dulu, sesuatu yang tidak cukup ditampung dalam air mata saja. Ia hanya duduk dan membiarkan kata-kata itu meresap, kalimat per kalimat, seperti air yang meresap ke dalam tanah yang sudah lama kering.
*Rantai itu panjang,* kata suara ibunya dari surat yang lain — surat yang Kirana sebut ada di laci kanan. Gwyneth membuka laci kanan. Dan di sana, di antara dokumen-dokumen lain, amplop putih itu ada. Tulisan tangan ibunya. Sedikit gemetar di ujung beberapa huruf.
Ia belum membukanya.
Belum. Itu untuk nanti, untuk ketika ia sudah punya cukup ruang di dalam dirinya untuk menerimanya.
Sekarang, ada hal lain yang perlu ia lakukan.
...✦ ✦ ✦...
Langkah kakinya berbeda ketika ia turun ke dapur.
Ia menyadarinya di anak tangga ketiga — cara beratnya terdistribusi, cara ia memegang railing, cara matanya bergerak melihat sekeliling. Lebih pelan. Lebih hadir. Seperti seseorang yang tidak terburu-buru sampai di suatu tempat tapi menikmati proses sampainya.
Ini bukan cara ia biasanya menuruni tangga. Ini cara yang dipelajari oleh orang lain di dalam tubuh ini, selama dua bulan, yang sekarang tertinggal seperti jejak di tanah yang basah.
Gwyneth berhenti sejenak di anak tangga terakhir.
Dari dapur, ada suara. Suara Seren yang menyiapkan sesuatu. Dan suara lain — suara kecil yang bersenandung pelan, nada yang tidak beraturan, cara seseorang bersenandung ketika tidak sadar sedang melakukannya.
Amethysta.
Gwyneth mengambil napas. Dan masuk ke dapur.
...✦ ✦ ✦...
Amethysta berdiri di dekat jendela dengan pot lavendernya, memeriksa tunas-tunas yang belum mekar dengan ekspresi yang serius dan tekun. Seren di kompor, membalik sesuatu. Keduanya menoleh ketika Gwyneth masuk.
Seren dengan kewaspadaan yang sudah tertanam — tapi ada sesuatu di matanya yang berbeda dari kewaspadaan biasanya. Lebih siap. Seperti seseorang yang sudah belajar bahwa tidak selalu yang datang itu berbahaya.
Amethysta dengan cara yang membuat Gwyneth harus menahan dirinya untuk tidak berhenti bernapas sepenuhnya.
Gadis kecil itu menatapnya — dengan mata ungu yang Gwyneth kenal sejak hari pertama ia lahir, yang dulu selalu menyimpan ketakutan sebagai lapisan pertamanya — dan di dalamnya sekarang ada sesuatu yang berbeda. Bukan ketakutan yang hilang sepenuhnya. Tapi di atasnya, ada sesuatu yang sedang belajar mengambil ruang. Sesuatu yang rapuh tapi nyata.
"Mama," kata Amethysta. Sapaan biasa. Tapi nada di belakangnya tidak biasa — tidak tegang, tidak berjaga-jaga, tidak menunggu yang salah.
Gwyneth membuka mulutnya. Menutupnya lagi. Mencari kata yang tepat untuk momen yang tidak pernah ia bayangkan akan ia hadapi — kembali ke dalam hidupnya sendiri dan menemukan bahwa hidupnya sudah berubah menjadi sesuatu yang lebih baik dari yang pernah ia bangun.
"Selamat pagi," katanya akhirnya. Pelan.
Amethysta mengangguk. "Tunas lavendernya hampir mekar." Ia menunjuk potnya. "Kemarin sudah kelihatan ujung ungunya."
Gwyneth menatap pot kecil itu. Tunas-tunas yang hampir mekar. Ungu di ujungnya, seperti yang Amethysta bilang, hampir tapi belum.
"Bagus," kata Gwyneth. Dan ia bermaksud lebih dari sekadar lavender.
...✦ ✦ ✦...
Sarapan berlangsung dengan cara yang tidak Gwyneth kenal tapi yang terasa seperti sesuatu yang ingin ia kenal.
Amethysta bercerita tentang rencana perjalanan melihat Andromeda — dengan detail yang terstruktur, dengan nama Naira dan neneknya Naira dan tempat dua jam dari kota yang langitnya gelap — dan Gwyneth mendengarkan. Bukan mendengarkan sambil memikirkan hal lain. Mendengarkan sungguhan, dengan perhatian yang belum pernah ia berikan dengan cara seperti ini sebelumnya, atau mungkin pernah tapi sudah terlalu lama yang lalu untuk ia ingat.
Seren menyajikan sarapan dan Gwyneth mengucapkan terima kasih — dua kata yang keluar tanpa dipikirkan dulu, yang terasa aneh di lidahnya karena tidak biasa tapi yang terasa benar di tempat lain.
Seren menatapnya sebentar dengan ekspresi yang melewati beberapa lapisan. Lalu mengangguk pelan dan kembali ke dapurnya.
Xavier turun pukul delapan. Ia masuk ke dapur, melihat Gwyneth, dan berhenti sejenak — hanya sejenak, tidak lebih dari dua detik — dengan ekspresi yang Gwyneth tidak sepenuhnya bisa baca. Bukan terkejut. Bukan tidak percaya. Sesuatu yang lebih seperti seseorang yang sedang mencocokkan sesuatu di dalam kepalanya.
Lalu ia masuk, duduk, mengambil kopinya, dan berkata, "Pagi."
"Pagi," jawab Gwyneth.
Amethysta melanjutkan ceritanya tentang Andromeda, dan sarapan berlanjut, dan Gwyneth duduk di antara suami dan putrinya di meja dapur yang kecil — bukan meja makan formal yang besar, meja kecil yang kasual, yang rupanya sudah menjadi tempat mereka setiap pagi — dan merasakan sesuatu yang tidak punya nama sederhana tapi yang paling dekat ia bisa deskripsikan adalah: *ini seharusnya selalu begini.*
...✦ ✦ ✦...
Setelah sarapan, ketika Amethysta kembali ke kamarnya dan Seren sibuk di dapur, Xavier menemukan Gwyneth di perpustakaan.
Ia berdiri di depan rak buku, memegang buku tentang astronomi yang halamannya sedikit lusuh di bagian tertentu. Di tangannya yang lain, sebuah amplop kosong — amplop yang sudah dibuka, yang isinya sudah ia baca.
Xavier masuk. Menutup pintu di belakangnya dengan pelan.
"Kamu menemukan suratnya," katanya.
"Ya." Gwyneth tidak berbalik. "Kamu tahu tentang ini?"
"Tidak isinya." Xavier berdiri di belakangnya, tidak terlalu dekat, memberi ruang. "Tapi aku tahu ada sesuatu yang ia tinggalkan."
Gwyneth akhirnya berbalik. Menatap suaminya — pria yang sudah ia kenal delapan tahun, yang ia pikir ia pahami sepenuhnya, yang ternyata juga sedang belajar menjadi seseorang yang berbeda.
"Xavier," katanya.
"Hm."
"Aku tidak tahu cara melanjutkan ini dengan sempurna. Aku tidak tahu apakah aku bisa menjadi persis seperti —" Ia berhenti. "Seperti apa yang sudah dimulai. Aku tidak punya pengalaman itu. Aku hanya punya sekarang dan ke depan."
Xavier menatapnya lama. Dengan cara yang sudah berbeda dari cara ia menatap sebelumnya — lebih penuh, lebih hadir, lebih seperti seseorang yang memilih untuk melihat daripada sekadar memandang.
"Sekarang dan ke depan sudah cukup," katanya akhirnya. "Itu yang kita punya. Itu yang semua orang punya."
Gwyneth mengangguk pelan. Meletakkan buku astronomi itu kembali di raknya — di tempat yang sama, di antara buku-buku lain, di tempat yang rupanya sudah menjadi tempatnya.
"Ada satu hal lagi," kata Gwyneth.
"Apa?"
"Ada surat dari ibuku. Di laci kanan meja kerja." Ia mengambil napas. "Aku belum membacanya. Tapi aku akan membacanya hari ini." Jeda kecil. "Maukah kamu ada ketika aku membacanya?"
Xavier tidak langsung menjawab. Tapi ia bergerak — selangkah ke depan, cukup dekat untuk dirasakan tapi tidak memaksa — dan berkata, "Ya. Aku akan ada."
...✦ ✦ ✦...
Sore itu, Gwyneth berdiri di pintu kamar Amethysta.
Gadis kecil itu ada di dalam, berbaring di karpet dengan atlas bintangnya — posisi yang rupanya sudah menjadi posisi favoritnya. Ia mengangkat kepalanya ketika merasakan ada orang di pintu.
"Mama mau masuk?" tanyanya.
"Boleh?"
Amethysta bergeser sedikit. "Boleh."
Gwyneth masuk. Duduk di karpet, di sebelah Amethysta, di levelnya — bukan di kursi, di karpet, di lantai. Sesuatu yang tidak alami baginya tapi yang terasa seperti cara yang benar.
"Halaman berapa?" tanya Gwyneth.
Amethysta menunjukkan. Andromeda — galaksi spiral, gambar yang penuh dengan detail kecil yang cermat. Gwyneth menatapnya. Ia tidak tahu banyak tentang astronomi. Tidak seperti yang tampaknya diketahui oleh putrinya.
"Ajari aku," kata Gwyneth.
Amethysta menatapnya. Dengan mata ungu yang masih belajar mempercayai, yang masih hati-hati, yang masih menyimpan bekas dari hal-hal yang tidak seharusnya meninggalkan bekas pada anak seusia itu. Tapi di atasnya, sekarang, ada sesuatu yang sedang tumbuh — sesuatu yang rapuh tapi gigih, seperti tunas lavender yang hampir mekar.
"Dari mana Mama mau mulai?" tanya Amethysta akhirnya.
Gwyneth menatap halaman atlas yang terbuka. Galaksi yang jauh. Bintang-bintang yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang dari kota ini tapi yang ada di sana, selalu ada, menunggu langit yang cukup gelap untuk memperlihatkan dirinya.
"Dari awal," kata Gwyneth. "Dari yang paling dasar. Aku mau belajar semuanya."
Amethysta mempertimbangkan ini. Lalu ia membalik atlas ke halaman pertama — halaman yang menunjukkan peta langit secara keseluruhan, titik-titik cahaya yang tak terhitung — dan mulai.
"Ini semua bintang yang bisa kita lihat dari bumi. Yang paling terang ini namanya Sirius. Yang ini..."
Gwyneth mendengarkan.
Untuk pertama kali dalam hidupnya yang bisa ia ingat, ia mendengarkan putrinya berbicara dengan seluruh perhatiannya — bukan sambil memikirkan hal lain, bukan sambil menunggu gilirannya untuk bicara, bukan dengan pikiran yang sudah setengah berada di tempat lain. Hanya di sini. Hanya ini. Suara kecil yang menjelaskan tentang bintang-bintang dengan serius dan tekun, atlas yang terbuka di antara mereka, cahaya sore yang masuk dari jendela dan menyentuh pot lavender di ambang jendela.
Tunas yang hampir mekar.
Hampir.
...✦ ✦ ✦...
Malam itu, setelah Amethysta tidur, Gwyneth duduk di meja kerjanya dengan dua amplop di hadapannya.
Yang satu sudah terbuka — tulisan tangan yang bulat dan lunak, kata-kata dari seseorang yang datang tanpa rencana dan pergi dengan meninggalkan lebih dari yang ia bawa. Yang satu lagi masih tersegel — tulisan tangan ibunya, sedikit gemetar di ujung beberapa huruf, yang sudah menunggu cukup lama dan siap dibuka sekarang.
Gwyneth mengambil amplop ibunya.
Membukanya dengan hati-hati.
Dan membaca.
...✦ ✦ ✦...
Di luar jendela, langit malam bersih dan gelap dan penuh dengan bintang yang sudah selalu ada — yang tidak pergi ke mana-mana selama ini, yang hanya menunggu seseorang yang mau mendongak dan melihat.
Di kamar Amethysta, gadis kecil itu tidur dengan pot lavender di ambang jendelanya dan atlas bintang di sampingnya, halaman pertama masih terbuka, peta langit yang penuh dengan titik-titik cahaya yang belum semuanya ia kenal tapi yang sedang ia pelajari satu per satu.
Di perpustakaan kecil, buku astronomi yang halamannya lusuh di bagian Orion berdiri di raknya, di tempatnya, seperti benda yang memang selalu ada di sana.
Dan di meja kerja di ujung lorong, Gwyneth Valerine membaca surat ibunya untuk pertama kali — dengan air mata yang akhirnya datang, dengan tangan yang gemetar sedikit, dengan suara yang tidak keluar karena ada hal-hal yang terlalu besar untuk disuarakan — dan mulai memahami bahwa rantai yang panjang tidak harus diteruskan, bahwa ia sudah punya bukti nyata bahwa rantai itu bisa diputus, bahwa seseorang sudah memulainya untuknya dan sekarang gilirannya untuk meneruskan.
Bukan karena harus.
Karena memilih.
...✦ ✦ ✦...
...— Bersambung —...