Ling Chen, pemuda cacat yang mati dalam kesepian, terbangun di dunia kultivasi sebagai pengawal rendahan di Kekaisaran Api Agung. Namun sebelum memahami takdir barunya, seorang putri kekaisaran tiba-tiba memilihnya sebagai suami di hadapan seluruh istana.
Di balik tubuh barunya tersembunyi Api Hitam kuno, kekuatan terlarang yang mampu mengguncang kekaisaran dan membakar langit. Terjebak dalam intrik politik, perebutan takhta, dan ambisi para pangeran, Ling Chen harus bangkit dari menantu yang diremehkan, menjadi penguasa yang ditakuti seluruh dunia.
Di dunia di mana kekuatan adalah hukum, ia akan membuktikan, yang hina hari ini, bisa menjadi Kaisar Agung esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Ling'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Api Suci - Api Leluhur
Ruang Api Abadi terletak jauh di bawah Istana Api Agung, sebuah gua raksasa yang dindingnya terbuat dari kristal vulkanik hitam mengkilap. Di tengah ruangan, kolam lava biru menyala terang, bukan lava biasa—ini adalah manifestasi dari **Api Leluhur**, api suci yang diwariskan dari generasi ke generasi pendiri Kekaisaran Api Agung. Api ini bukan sekadar panas fisik; ia bisa membakar tubuh, jiwa, bahkan karma dan kenangan buruk. Hanya yang hatinya murni, tekadnya baja, dan nasibnya selaras dengan api kekaisaran yang bisa bertahan.
Ling Chen berdiri di tepi kolam, jubahnya bergoyang ditiup hembusan panas. Yue Yan berada di sampingnya, tangannya menyentuh lengan Ling Chen sebentar untuk memberi semangat. “Ingat, jangan lawan api itu. Biarkan ia mengalir ke dalam meridianmu. Jika kau menolak, ia akan membakarmu habis. Jika kau menerima, ia akan memurnikanmu.”
Kaisar Api Agung dan Ibu Suri Huo Lian duduk di singgasana batu obsidian di atas platform tinggi, dikelilingi para elder klan api. Mata mereka tajam mengamati. Para pejabat lain berbisik-bisik: “Pengawal rendahan ini? Dia akan mati dalam hitungan detik.” “Putri Yue Yan terlalu gegabah.”
Ling Chen menarik napas dalam. Kenangan hidup lamanya muncul lagi—tubuh lumpuh, kakak yang meninggal, kematian di bawah reruntuhan rumah. Rasa sakit itu masih terasa nyata, tapi sekarang dia punya tubuh baru, kesempatan baru. “Aku tidak akan mati lagi,” gumamnya pelan.
Dia melangkah masuk ke kolam lava biru.
Begitu kakinya menyentuh permukaan, api langsung melonjak seperti binatang buas yang terbangun. Panas menyengat menusuk pori-pori, membuat kulitnya terasa seperti terkelupas. Ling Chen mengertak gigi, tapi dia tidak mundur. Api itu merayap naik ke betis, lalu paha, dada, hingga menyelimuti seluruh tubuhnya.
Rasa sakitnya bukan hanya fisik. Api Leluhur mulai membakar jiwa. Kenangan buruk diputar ulang: tangisan bayi saat orang tua meninggal, Ling Mei yang tersenyum lemah sebelum napas terakhirnya, kegelapan saat atap runtuh. “Mengapa kau lemah? Mengapa kau tak bisa melindungi siapa pun?” suara-suara bisikan dari dalam jiwa mengejek.
Ling Chen berlutut di tengah kolam, tubuhnya bergetar. Tapi dia tidak menyerah. “Aku lemah dulu… tapi sekarang aku punya alasan untuk jadi kuat!” jeritnya dalam hati. Dia ingat janjinya pada Yue Yan, ingat senyum tipisnya, ingat bagaimana dia memilihnya di antara ribuan orang. “Aku tidak akan jadi beban lagi!”
Tiba-tiba, api biru berubah warna. Dari biru dingin menjadi merah membara, lalu keemasan seperti matahari terbit. Kolam lava bergolak hebat, tapi bukan untuk menghancurkan—ia mulai mengalir ke dalam tubuh Ling Chen seperti sungai qi murni. Meridiannya yang baru terbuka lebar, dantiannya berputar cepat, menyerap esensi api suci.
Di luar kolam, semua orang terpana. Kaisar berdiri dari singgasananya. “Ini… Api Leluhur mengakuinya? Warna emas… itu tanda berkah penuh!”
Ibu Suri Huo Lian tersenyum samar. “Jiwa asing, tapi hati murni tanpa noda ambisi jahat. Langka sekali.”
Ling Chen merasakan kekuatan baru mengalir deras. Tubuhnya naik level dengan cepat: dari Fondasi Qi tingkat 1 langsung melonjak ke tingkat 3, meridiannya diperkuat oleh api suci, membuatnya tahan terhadap racun dan api biasa. Bahkan, di dantiannya muncul secercah **Benih Api Leluhur**—warisan kecil yang bisa dikembangkan menjadi teknik api tingkat tinggi di masa depan.
Dia keluar dari kolam, tubuhnya bercahaya emas samar. Rambutnya sedikit berubah, ujungnya seperti terbakar api tak terlihat. Matanya lebih tajam, auranya stabil dan kuat.
Yue Yan berlari mendekat, matanya berbinar. “Kau… berhasil. Bahkan lebih dari yang kubayangkan.”
Ling Chen tersenyum lelah tapi bahagia. “Terima kasih atas kepercayaannya, Tuan Putri.”
Kaisar turun dari singgasana, suaranya bergema. “Ling Chen, kau telah lolos Ujian Api Suci dengan berkah penuh. Mulai sekarang, kau resmi menjadi calon menantu Kekaisaran Api Agung. Pernikahan akan dilangsungkan dalam tiga hari. Dan kau… akan mendapat akses ke Gudang Api Suci untuk memilih satu teknik warisan.”
Para elder bertepuk tangan hormat, meski beberapa masih curiga. Di sudut ruangan, seorang pelayan misterius menyelinap keluar—mungkin mata-mata dari Pangeran Tian Hao atau klan bayangan.
Ling Chen menatap Yue Yan. “Sekarang aku punya kekuatan dasar. Apa selanjutnya?”
Yue Yan menggenggam tangannya. “Selanjutnya, kita latihan bersama. Aku akan ajari kau **Api Abadi Yue**—teknik khususku. Dan kita harus waspada. Musuh tidak akan diam setelah ini.”
Di luar istana, angin malam bertiup kencang. Kabar bahwa pengawal rendahan lolos ujian suci dengan berkah emas menyebar cepat. Beberapa mulai iri, yang lain mulai merencanakan jebakan.
Ling Chen merasakan Benih Api Leluhur di dadanya berdenyut pelan. Ini baru permulaan. Dari mayat lumpuh di dunia lama, kini dia berdiri sebagai menantu calon kaisar—dengan api suci di tangannya.