NovelToon NovelToon
Ustadz, I’M In Love

Ustadz, I’M In Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa / Tamat
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

di bawah umur di larang membaca.

Rina adalah definisi dari "anak muda zaman now"—ekspresif, jahil, dan sedikit re-og. Baginya, dunia sosial adalah tempat bermain untuk menggoda siapa saja, termasuk seorang pria misterius di aplikasi HelloTalk yang ia panggil dengan sebutan "Mas Arab". Rina mengira ia sedang memegang kendali, sampai akhirnya takdir membawanya bertemu langsung dengan sosok tersebut.
​Ternyata, "Mas Arab" adalah Rohman, seorang Ustadz muda yang kaku, alim, namun memiliki tingkat kesabaran setebal kamus bahasa Arab. Pertemuan pertama mereka langsung meledak dengan kekonyolan Rina yang mencoba mengetes iman sang Ustadz.
​Namun, Rina salah besar. Di balik sikap tenangnya, Rohman adalah tipe pria "sat-set" yang tidak suka membuang waktu. Saat Rina terus-menerus menguji batasan kesabarannya, Rohman justru membalas dengan sebuah langkah skakmat: Mempercepat akad nikah sore itu juga!
​Kini, Rina terjebak dalam status sebagai istri sah. Niat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22

Keheningan malam itu seharusnya menjadi pengantar tidur yang sempurna, namun otak Rina yang penuh siasat nakal justru bekerja dua kali lipat lebih aktif. Di balik mata yang terpejam, ia menyeringai kecil. Kalimat Rohman soal "hukum ciuman sepuluh detik" bukannya membuat Rina takut, malah memancing jiwa re-og-nya untuk keluar lagi.

​Perlahan, dengan gerakan yang sangat halus agar tidak mengejutkan, tangan Rina yang tadi melingkar di pinggang Rohman mulai merayap turun. Rohman yang mengira istrinya sudah terlelap, mulai mengendurkan kewaspadaannya. Namun, sedetik kemudian, mata Rohman membelalak di kegelapan saat merasakan jemari lentur Rina menyelinap masuk ke balik ikatan sarungnya.

​"Rina... apa yang kamu lakukan?" bisik Rohman dengan suara yang tiba-tiba serak. Ia mencoba menahan tangan Rina dari luar sarung, namun Rina justru semakin berani.

​Rina tidak menjawab. Ia justru semakin merapat, membiarkan jemarinya menjelajahi area sensitif suaminya. Saat tangannya bersentuhan langsung dengan milik Rohman yang ternyata sudah mulai bereaksi—panjang, besar, dan terasa berurat—jantung Rohman rasanya seperti sedang dihantam badai. Napas ustadz muda itu mendadak memburu, berat, dan tidak beraturan.

​"Astagfirullah, Rina... berhenti," erang Rohman pelan. Ia memegang pergelangan tangan Rina dengan kuat, mencoba menariknya keluar. "Kamu sedang haid, Sayang. Jangan menyiksa Mas seperti ini. Ini benar-benar tidak adil."

​Rina justru tertawa kecil di dada Rohman, sebuah tawa nakal yang penuh kemenangan. Ia tahu betul Rohman sedang berada di ambang batas pertahanannya.

​"Kan aku cuma mau kenalan lebih dekat, Mas," bisik Rina manja, jemarinya memberikan usapan lembut yang membuat Rohman memejamkan mata rapat-rapat sambil menggertakkan gigi. "Katanya tadi laki-laki normal, kok baru dipegang begini saja sudah gemetaran?"

​Rohman tidak tahu bahwa di balik kenakalan itu, Rina sedang menyembunyikan sebuah rahasia kecil. Rohman mengira haid Rina masih baru dimulai, padahal sebenarnya ini sudah malam keenam. Besok, Rina kemungkinan besar sudah bersih. Rina sengaja memancing emosi dan gairah suaminya sekarang, agar nanti saat "waktunya" tiba, Rohman benar-benar akan memberikan balasan yang setimpal.

​"Rina, Mas peringatkan sekali lagi," ucap Rohman sambil membalikkan tubuhnya hingga kini ia berada di atas Rina, menahan kedua tangan Rina di samping kepalanya. Wajah Rohman hanya berjarak satu senti, matanya berkilat di bawah temaram lampu tidur. "Kalau kamu tidak berhenti sekarang, Mas tidak peduli lagi soal haid atau apa pun. Mas bisa melakukan hal lain yang akan membuat kamu memohon untuk berhenti."

​Rina justru menatap Rohman dengan tatapan menantang, bibirnya melengkung membentuk senyum provokatif. "Oh ya? Mas mau ngapain? Memangnya Mas berani?"

​Rohman tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung membungkam bibir Rina dengan ciuman yang jauh lebih intens, lebih menuntut, dan penuh gairah dibandingkan sebelumnya. Tangannya yang bebas kini mulai menjelajahi lekuk tubuh Rina di balik daster tipisnya, membuat Rina ganti terengah-engah.

​"Mas..." gumam Rina di sela ciuman mereka.

​"Diam," potong Rohman rendah. "Kamu yang mulai perang ini, Rina. Mas hanya melayani. Dan ingat, ini baru pemanasan untuk malam lusa saat tamu kamu itu pergi. Mas pastikan kamu tidak akan bisa berjalan keluar kamar seharian."

​Rina merinding mendengar ancaman nyata itu, namun ada rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya. Ternyata, menjahili ustadz yang sedang jatuh cinta adalah permainan yang sangat berbahaya, namun juga sangat candu.

Rina terengah-engah di bawah kukungan tubuh Rohman. Ciuman panas suaminya tadi benar-benar membuat seluruh sarafnya bergetar. Namun, sifat jahilnya kembali mengambil alih. Ia ingin melihat seberapa jauh Rohman bisa menahan siksaan mental yang ia berikan.

​Rina menatap mata Rohman yang masih tampak berkabut oleh gairah, lalu berbisik dengan nada yang sangat meyakinkan.

​"Mas... aku baru haid kemarin lho. Jujur lho aku," ucap Rina sambil memasang wajah tanpa dosa. "Jadi Mas harus sabar nunggu seminggu lagi ya kalau mau yang lebih. Nggak boleh protes, itu kan hukum alam."

​Rohman tertegun. Ia melepaskan cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Rina, lalu menjatuhkan keningnya ke bahu Rina sambil mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat frustrasi.

​"Baru kemarin?" gumam Rohman parau. "Astagfirullah, Rina... Kamu tahu tidak, apa yang kamu lakukan tadi hampir membuat Mas kehilangan akal sehat? Dan sekarang kamu bilang Mas harus menunggu enam hari lagi?"

​Rina terkikik geli, tangannya kini berani mengelus tengkuk Rohman, membiarkan suaminya itu merasakan deru napasnya. "Ya mau gimana lagi, Mas Arab. Mas kan orang taat agama, masa mau melanggar?"

​Rohman tidak menjawab. Ia hanya diam selama beberapa menit di posisi itu, mencoba mengatur detak jantungnya yang masih liar. Rina merasa menang telak. Ia tidak sabar melihat wajah Rohman besok pagi saat mendapati istrinya diam-diam melakukan mandi wajib karena sebenarnya "tamu" itu sudah pergi.

​"Ya sudah," akhirnya Rohman mengangkat kepalanya. Ia menatap Rina dengan tatapan yang sulit diartikan—ada sisa gairah, namun juga ada ketenangan yang tiba-tiba muncul.

"Kalau memang baru kemarin, Mas tidak akan menyentuhmu lebih jauh. Mas akan tidur."

​Rohman segera berguling kembali ke sisi ranjangnya, memunggungi Rina.

​"Lho, Mas? Marah ya?" tanya Rina heran melihat perubahan sikap suaminya yang mendadak dingin.

​"Tidak marah, Sayang. Mas hanya sedang menata hati," sahut Rohman datar. "Tidurlah. Besok pagi Mas ada janji bertemu Ayahmu untuk membahas renovasi rumah belakang."

​Melihat Rohman yang tampak "menyerah", Rina justru merasa ada yang kurang. Ia merasa bersalah karena sudah berbohong terlalu jauh, tapi ia juga terlanjur gengsi. Akhirnya, Rina ikut berbalik dan memeluk punggung tegap Rohman dari belakang, menyandarkan pipinya di punggung suaminya.

​"Jangan marah ya, Mas... Aku kan cuma bercanda tadi," bisik Rina pelan.

​Rohman hanya menggumam kecil, lalu meraih tangan Rina yang melingkar di perutnya dan mengecupnya singkat. "Mas tidak marah, Rina. Mas hanya sedang mengumpulkan poin kesabaran. Karena saat Mas tahu kamu sudah bersih nanti, Mas tidak akan memberikan celah sedikit pun untuk kamu bercanda lagi."

...*****...

1
Putri Lauren
lanjuttt thor KLO bisa double
Putri Lauren
lanjut thor
Moza Tri Utami: lanjut dong thorr
total 2 replies
Putri Lauren
mantap
Putri Lauren
aku suka Thor lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!