Seorang anak lelaki, yang harus menyaksikan kematian ibunya di ulang tahunnya yang ke 9. Tumbuh dengan hati yang dingin, seolah tak tersentuh. Tetapi ia sudah terbiasa, dengan sahabatnya. Petualangan bersama para roh, kuy kita baca🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir seorang Alexa
"Ghaff" panggil seseorang
Membuat ketiga pria yang sedang berjalan ke arah kelas, menghentikan langkahnya. Tentu ketiganya mengenal suara tersebut, Ghaffar langsung memasang wajah dingin. Akbar memasang wajah malas, Damar memasang wajah mengejek.
"Ada apa? Kamu teh ga kapok gitu, hayoh weh ngejar-ngejar si Ghaffar. Udah jelas-jelas dia teh nolak kamu, dia teh ga suka sama kamu. Ari kamu ngerti ga bahasa manusia?" tanya Akbar kesal, ia yang lelah sebenarnya. Karena harus meladeni Alexa, perempuan yang tergila-gila pada Ghaffar.
"Ini urusan gue ma Ghaffar, kenapa jadi lu sih yang usil banget halangin gue?" ucap Alexa tak terima
Pria yang kini berdiri di depannya, selalu membuatnya gagal mendekati Ghaffar. Padahal sering kali banyak kesempatan, yang bisa membuatnya bersama Ghaffar. Tapi lagi-lagi selalu gagal, karena Akbar yang kembali menghalangi. Entah ada telinga di mana, sehingga Akbar selalu bisa mengetahui rencananya.
Padahal tanpa dia tau, yang sebenarnya tau rencana dia adalah Ghaffar. Informan nya... tentu saja arwah yang ada di sekitarnya, dan Ghaffar akan meminta Akbar selalu berjaga. Seolah Akbar, yang mengetahui semua rencana Alexa. Bodoh memang, hahahaha.
"Ghaff, gue mohon. Gue mau ngomong sama lu, kita aja berdua." mohon Alexa
"Gue ga mau" jawab Ghaffar datar
"Ghaff, lu kenapa sih selalu nolak gue? Gue kurang apa sebenernya? Cuma gue yang beneran tulus, cinta sama lu Ghaff. Tapi kenapa lu selalu tega giniin gue?" tanya Alexa, dengan air mata berderai
"Cuih... emang pantes lu dapetin semua itu, bahlul." ucap Damar
"BANGSAT, DIEM LO MISKIN!!" bentak Alexa, spontan Damar tertawa. Membuat Alexa semakin kesal dan marah, ia menatap benci pada Damar.
"Lo tuh mestinya ngaca kunti, NGACA!!! Lu sekarang lebih miskin dari gue, aset keluarga lo udah di sita semua. Lo aja yang ga punya malu, masih berani datang ke sekolah. Berita lo udah ada dimana-mana, vidio bokap lo nerima suap, vidio lo yang suka bully siswi lain. Perusahaan lo udah bangkrut, bahkan satu sekolah udah tau kalo lu udah di DO. SEMUA ORANG UDAH TAU, LAMPIIIRRR!!! MENDINGAN LU BALIK SONO, MIKIRIN MALEM INI TIDUR DIMANA?? KALI AJA MASIH ADA LAPAK KOSONG, DI KOLONG JEMBATAN!!" balas Damar, membuat Akbar terkagum-kagum. Ternyata Damar bisa juga kaya lambe sehah, pedes bosss kuu.
"A-apa? Ng-nggak mungkin, gue.. gue..." Alexa tak bisa berkata-kata, ia kini tak memiliki ponsel. Karena sudah di jual oleh sang ibu, agar bisa menyewa rumah kecil untuk mereka tinggal.
"LO SEKARANG MISKIN BANGET KAN, LO GA PUNYA PONSEL. MENDINGAN GUE DONG, JADUL JADUL GINI INI HP!!!! MASIH BISA LIAT BERITA TENTANG LO, SUPAYA BISA KEK GINI KE LO!!! PUAS BANGET GUE.." ucap Damar, semakin menjatuhkan mentalnya
BRUGH
"Ng-nggak... gue nggak kaya gitu, gue ga pernah bu...
"BUJUR BUNEEEEENG... emang kagak bisa sadar, manusia modelan lu mah. Lu mah kudu di iket noh sebadan-badan, terus masukin ke kerinjang. Nah... kerinjangnya ceburin ke laut, biar jadi santapan penunggu laut selatan lu." potong salah satu siswi, yang sejak tadi merasa gemas.
"PERGI SONO LO, JANGAN BIKIN MALU NI SEKOLAHAN. GARA-GARA LO MA KELUARGA LO, NAMA BAIK NI SEKOLAH JADI TERCEMAR." teriak siswa lainnya
Alexa menatap sekelilingnya, melihat tatapan kebencian di mata orang-orang. Dia gegas berdiri, berlari meninggalkan sekolahan. Dengan sorakan dan cacian, dari seluruh murid. Akbar hanya menggelengkan kepala, Ghaffar tak peduli dan lanjut melangkahkan kakinya.
"Ya udah kita pisah di sini, gue ke kelas gue dulu ya. Ntar balik sekolah, gue mulai kerja di kafe." pamit Damar, Ghaffar dan Akbar mengangguk dan masuk ke kelas mereka.
.
.
Pelajaran tengah berlangsung, di kelas Ghaffar sedang membahas pelajaran Biologi. Yang sedang di jelaskan guru, sudah ia pelajari semua. Membuatnya cukup bosan, karena sejak tadi sang guru hanya berputar-putar di bab yang sama. Tak lama setelah guru tersebut menjelaskan, ia pun mengatakan akan lanjut tes lisan.
"Baik, cukup dengan menjawab pertanyaan saya. Kalian akan mendapatkan tambahan nilai, saya anggap ini sebagai ulangan." ucapnya, para murid langsung berisik. Sama saja dengan ulangan dadakan, mana ada mereka belajar.
" Jelaskan konsep rantai makanan dan jaring-jaring makanan dalam ekosistem!..... Anita" siswi yang di sebut namanya terdiam, karena ia memang tidak membaca bab yang sudah di jelaskan sebelumnya.
"Gilang?" masih diam
"Akbar?" Akbar berdiri
"Rantai makanan adalah urutan transfer energi antar organisme. Jaring-jaring makanan adalah jaringan kompleks dari rantai makanan yang saling berinteraksi dalam suatu ekosistem." jawabnya, sang guru tersenyum dan mengangguk
"A+" Akbar tersenyum lebar, tak sia-sia ia selalu ikut belajar bersama Ghaffar. Hasilnya ia mendapatkan nilai baik, dan itu tentu menjadi satu prestasi untuknya.
"Apa perbedaan antara teori evolusi Darwin dan Lamarck?... Ika" siswi yang memiliki jabatan sekretaris kelas berdiri
"Darwin menyatakan bahwa evolusi terjadi melalui seleksi alam, sedangkan Lamarck menyatakan bahwa sifat yang diperoleh selama hidup dapat diwariskan." jawabnya
"Bagus, A+" Ika kembali duduk, terlihat ada kepuasan di wajahnya.
"Sebutkan keuntungan dan kerugian dari rekayasa genetika!... Ghaffar" meski guru tersebut tak meragukan jawaban Ghaffar, namun ia tetap memanggil nama tersebut. Ghaffar berdiri, para murid hanya menghela nafas.
"Keuntungan termasuk peningkatan hasil panen dan kualitas produk. Kerugian mencakup potensi risiko kesehatan dan dampak negatif terhadap lingkungan." jawabnya
TEEEEEEEETTT
"Ok, pelajaran sampai di sini. Ghaffar juga mendapatkan tambahan nilai A+, jangan lupa besok kita masih lanjut tanya jawab ini. Saya berharap, kalian bisa menjawab semua, agar kita tak perlu melakukan ulangan tertulis." ucap sang guru
"BAAAIK BUUU" guru tersebut mengangguk, ia pergi meninggalkan kelas.
"Tiba-tiba banget ujian lisan, suka ga manusiawi emang bu Andita." ucap Gilang
"Makanya belajar Lang, baca lagi bab yang udah di bahas, lu mah main game mulu." balas Ika, teman masa kecilnya
"Lu juga ga kasih tau tadi, kasih tau gue kek." ucap Gilang
"Lewat apa, gue kasih tau lu nya. MARPU'AAAAAAH?"
"Telepati, kita kan udah sehati" jawab Gilang, yang langsung di soraki satu kelas.
Tak terasa bel istirahat pertama berbunyi, setelah tadi mereka mempelajari beberapa rumus Kimia. Seperti biasa Ghaffar, Akbar dan Damar berada di perpustakaan.
"Gimana yang gue minta, ada kabar?" tanya Ghaffar
"Beres, mereka nanti sore ke kafe ZAYYAS." jawab Akbar
"Meski bokapnya Theresia sempet ga percaya, di sangka gue bohong. Setelah gue sebutin ciri-ciri terakhir anak itu hilang, dia juga akhirnya percaya." sambung Damar, Ghaffar mengangguk.
Ghaffar memang sempat menjelaskan, bagaimana ciri-ciri ketiga arwah anak-anak itu.
"Ghaff, menurut kamu... ketiga keluarga itu ada hubungannya ga sih sama pelaku? Filling aku tuh, si pelaku ada dendam sama ketiga keluarga itu." tanya Akbar, Ghaffar menoleh dan mengangguk.
"Aku juga berpikiran ke sana, kalo ada hubungan rumit di antara mereka. Entah itu dendam... atau si pelaku hanya seorang psikopat?" jawab Ghaffar, Damar mengangguk
"Ya udahlah, nanti sore juga kita tau jawabannya." ucap Akbar, mereka kembali fokus pada buku masing-masing
...****************...
Jangan lupa like, komen, gift dan vote nyaaaa.....🥰
☕️nya emak😘