"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."
Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.
Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.
Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.
Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: BAYANG-BAYANG DEWAN
Kepulangan Saga ke Jakarta disambut oleh langit kelabu yang menggantung rendah di atas Bandara Soekarno-Hatta. Tidak ada karpet merah, tidak ada pengawalan resmi dari kepolisian. Ia mendarat sebagai warga sipil biasa, namun di balik ketenangannya, Sakti dan tiga orang agen keamanan swasta yang baru direkrut dari Singapura bergerak secara sinkron di sekelilingnya.
Sakti membukakan pintu mobil SUV baja yang sudah dimodifikasi. "Nona, situasi di pengadilan pagi ini sangat kacau. Pendukung bayaran Agatha memblokade jalan masuk. Mereka membawa spanduk yang menuduh Anda melakukan pengambilalihan aset secara ilegal."
Saga duduk di kursi belakang, menyilangkan kakinya dengan tenang. Ia menatap tablet yang menampilkan siaran langsung dari depan gedung pengadilan. "Agatha selalu pandai bermain drama di depan publik. Dia ingin menciptakan narasi bahwa dia adalah korban dari konspirasi keluarga yang haus harta. Biarkan saja. Rakyat mungkin bisa dibohongi dengan spanduk, tapi hukum tidak bisa dibohongi oleh bukti forensik digital."
"Masalahnya bukan hanya spanduk, Nona," Bramasta yang duduk di kursi depan menoleh. Wajahnya tampak lebih segar setelah menjalani perawatan di Singapura, meski bekas luka di pipinya tetap menjadi pengingat permanen. "Bong memberi tahu saya bahwa ada pergerakan dana besar-besaran dari entitas yang tidak dikenal untuk menyuap saksi-saksi kunci. Beberapa mantan staf ahli Wirya Janardana yang seharusnya bersaksi hari ini mendadak menghilang atau menarik diri."
Saga menyipitkan mata. "Dewan Waskita."
"Sepertinya begitu," jawab Bramasta. "Agatha mungkin berada di balik jeruji, tapi koneksinya di tingkat elit masih sangat aktif. Dewan itu... mereka tidak ingin Waskita Group runtuh sepenuhnya karena itu akan mengganggu aliran dana 'bawah tanah' mereka ke berbagai kepentingan politik."
Mobil melaju membelah jalanan Jakarta yang macet. Saga menatap keluar jendela, melihat gedung pencakar langit Waskita yang logo raksasanya mulai dicopot oleh para pekerja. Pemandangan itu seharusnya memberinya kepuasan, namun peringatan di Singapura tempo hari terus terngiang di kepalanya.
Mereka sampai di sebuah gedung perkantoran tua di kawasan Menteng yang baru saja disewa sebagai markas sementara Yayasan Melati Putih. Di sini, suasana sangat berbeda dengan kemewahan kantor Janardana dulu. Ruangannya dipenuhi dengan tumpukan berkas kasus bantuan hukum dan monitor yang memantau pergerakan pasar modal.
Yudhistira menyambut mereka dengan wajah cemas. "Nona Saga, ada tamu yang menunggu Anda di ruang kerja. Dia menolak menyebutkan nama, tapi dia membawa cincin stempel yang hanya dimiliki oleh anggota senior Dewan Waskita."
Saga terdiam sejenak. Ia meraba tongkat penyangganya. "Biarkan dia masuk. Sakti, tetaplah di balik pintu. Jangan masuk kecuali aku memberikan isyarat."
Saga masuk ke ruang kerjanya yang minimalis. Di sana, duduk seorang pria tua dengan rambut putih yang tertata rapi, mengenakan setelan jas buatan tangan yang sangat mahal. Pria itu sedang menyesap kopi hitam dengan gerakan yang sangat elegan.
"Sasmita... atau haruskah aku memanggilmu Saga?" pria itu tersenyum tipis. "Nama yang bagus. Pemberani, sesuai dengan artinya."
"Siapa Anda?" tanya Saga dingin, ia duduk di kursi kerjanya tanpa menawarkan keramahan.
"Namaku Romo Waskita. Aku adalah paman buyut Hendra, dan salah satu pendiri Dewan Waskita yang asli," pria itu meletakkan cangkirnya. "Aku datang ke sini bukan untuk mengancammu, Sayang. Aku datang untuk menawarkan jalan keluar yang terhormat bagi kita semua."
"Jalan keluar?" Saga tertawa sinis. "Agatha sudah di penjara, Hendra sekarat, dan aset kalian sudah kuhapus. Tidak ada jalan keluar untuk pencuri dan pembunuh."
Romo Waskita menghela napas, seolah ia sedang menghadapi anak kecil yang nakal. "Kamu menghapus angka-angka di layar komputer, Saga. Tapi kamu tidak bisa menghapus pengaruh yang sudah tertanam selama lima puluh tahun. Waskita bukan sekadar perusahaan; kami adalah sistem. Dan sistem ini membutuhkan keseimbangan."
Pria tua itu mengeluarkan sebuah amplop hitam. "Di dalamnya ada daftar nama. Hakim, menteri, jenderal, dan pengusaha yang selama ini berada di bawah perlindungan kami. Jika kamu terus menekan Agatha di pengadilan, dia akan mulai menyebut nama-nama ini. Dan jika itu terjadi, Jakarta akan terbakar. Ekonomi akan runtuh, dan jutaan orang akan kehilangan pekerjaan. Apakah itu 'keadilan' yang kamu cari?"
Saga menatap amplop itu dengan muak. "Anda mengancam akan menghancurkan negara ini hanya untuk menyelamatkan satu wanita haus darah?"
"Kami menyelamatkan sistem," koreksi Romo. "Berhentilah menjadi saksi mahkota. Biarkan Agatha dihukum karena kelalaian administrasi saja, bukan pembunuhan atau pencucian uang. Sebagai imbalannya, Yayasan Melati Putih akan mendapatkan suntikan dana abadi yang sepuluh kali lipat lebih besar dari yang ditinggalkan Wirya. Kamu bisa menyelamatkan ribuan wanita, Saga. Kamu bisa menjadi pahlawan tanpa harus meneteskan darah lagi."
Saga berdiri, meskipun bahunya masih terasa perih. Ia berjalan menuju jendela, menatap ke arah keramaian kota. "Ayahku, Wirya Janardana, mati karena mencoba keluar dari sistem kalian. Ibuku gila karena dipermainkan oleh keponakan Anda. Dan Anda berpikir aku bisa disuap dengan uang?"
"Ini bukan suap, ini kompromi," ujar Romo tenang.
Saga berbalik, matanya berkilat penuh amarah yang terkendali. "Kompromi adalah awal dari pengkhianatan diri. Ambil amplop ini dan keluar dari kantorku, Romo. Sampaikan pada Dewanmu itu: Aku tidak takut pada kebakaran yang kalian ancamkan. Karena aku sendiri lahir dari api yang kalian nyalakan."
Romo Waskita berdiri, wajahnya yang tadi ramah kini berubah menjadi topeng kayu yang dingin. "Sayang sekali. Kamu memiliki kecerdasan Ratna dan ketangguhan Wirya, tapi kamu memiliki kesombongan yang akan membunuhmu. Ingatlah, Saga... dewan tidak pernah kalah. Kami hanya berganti wajah."
Setelah pria tua itu pergi, Sakti dan Bramasta segera masuk.
"Apa yang dia katakan, Nona?" tanya Sakti.
Saga menyerahkan amplop hitam yang ditinggalkan Romo. "Daftar musuh kita. Dia ingin aku mundur dari persidangan Agatha sebagai imbalan untuk dana yayasan."
Bramasta memeriksa daftar nama di dalam amplop itu dan wajahnya memucat. "Saga... ini adalah orang-orang paling berkuasa di negeri ini. Jika kita melawan mereka sekaligus, kita tidak akan bertahan seminggu."
"Kita tidak akan melawan mereka semua sekaligus, Bram," ujar Saga, ia mengambil ponselnya. "Kita akan menggunakan strategi yang sama dengan yang mereka gunakan. Kita akan memecah belah mereka."
Saga menatap monitor yang menampilkan jadwal sidang besok pagi. "Besok, aku akan hadir secara fisik di pengadilan. Aku tidak akan memberikan kesaksian lewat video. Aku ingin menatap mata Agatha saat aku membongkar rahasia yang tidak ada di dalam dokumen wasiat."
"Rahasia apa lagi, Nona?" Sakti bertanya penuh rasa ingin tahu.
"Rahasia tentang siapa sebenarnya ayah biologis Aris," bisik Saga. "Bukan pria Meksiko itu. Aris adalah hasil dari hubungan terlarang antara Agatha dan salah satu anggota Dewan Waskita yang sekarang duduk di kursi pemerintahan. Itulah alasan Romo datang ke sini. Dia bukan menyelamatkan Agatha, dia menyelamatkan reputasi Dewan."
Bramasta dan Sakti tertegun. Permainan ini ternyata jauh lebih kotor dari yang mereka bayangkan. Saga telah masuk ke dalam sarang ular yang sesungguhnya, di mana setiap gerakan bisa berarti kematian.
Malam itu, Saga tidak bisa tidur. Ia duduk di balkon markas yayasannya, menatap lampu-lampu kota. Ia merasa seperti sedang menggambar garis merah baru, tapi kali ini bukan di lantai marmer atau aspal, melainkan di atas peta kekuasaan yang sangat luas.
Tiba-tiba, Sakti muncul di belakangnya. "Nona, ada pesan baru dari Aris di sel rehabilitasi. Dia ingin bertemu dengan Anda sebelum sidang dimulai besok pagi. Dia bilang... ada sesuatu yang tidak diketahui oleh Dewan Waskita tentang Agatha."
Saga menoleh. "Aris ingin bicara? Setelah dia mencoba membunuhku dengan racun saraf?"
"Dia bilang ini adalah satu-satunya caranya untuk membalas dendam pada ibunya yang telah membuangnya," kata Sakti.
Saga menghela napas. "Siapkan mobil. Kita ke sel rehabilitasi sekarang. Jika Aris punya senjata untuk menghancurkan Agatha dari dalam, aku akan mengambilnya, tidak peduli seberapa kotor tangan yang memberikannya."