Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BEBAS
Malam itu, sebuah klub eksklusif yang telah disewa oleh angkatan Keyla berubah menjadi pusat euforia. Musik EDM dengan bass yang menghentak keras menggetarkan dinding, sementara lampu neon warna-warni menyambar setiap sudut ruangan yang dipenuhi asap tipis.
Keyla, yang biasanya dikenal sebagai gadis pintar yang elegan, malam ini tampil berbeda. Ia mengenakan gaun mini ketat berwarna hitam yang memamerkan lekuk tubuh mungilnya. Rasa sakit hati pada orang tuanya dan rasa takut pada Dipta ia tenggelamkan ke dalam gelas-gelas minuman yang terus disodorkan teman-temannya.
"Ayo, Key! Malam ini nggak ada buku, nggak ada aturan! Cheers!" teriak Sarah di tengah kebisingan.
Keyla menenggak gelas kelimanya. Rasa panas mengalir di kerongkongannya, perlahan membakar sisa-sisa kewarasannya. Kepalanya mulai terasa ringan, dan tawa yang keluar dari bibirnya terdengar semakin tidak terkendali.
"Gue... gue bebas!" teriak Keyla sambil menari di tengah lantai dansa.
Melihat Keyla yang mulai kehilangan kendali, beberapa pria teman seangkatannya mulai mendekat. Mereka melihat Keyla bukan lagi sebagai juara kelas yang sulit digapai, melainkan sebagai gadis cantik yang sedang mabuk dan "tersedia".
"Key, lo hebat banget tadi siang. Dansa bareng gue yuk?" seorang pria bernama Rio, kapten tim basket sekolah, merangkul pinggang Keyla.
Keyla tidak menolak. Ia justru tertawa dan menyandarkan kepalanya di bahu Rio, membiarkan tangan pria itu bergerak di pinggangnya. Efek alkohol membuatnya merasa berani. Ia ingin menunjukkan bahwa ia bisa disentuh oleh siapa saja kecuali Dipta.
*
Di sudut balkon lantai dua yang remang-remang, terselubung oleh bayangan, Dipta Mahendra duduk sendirian. Di depannya hanya ada satu gelas wiski murni tanpa es. Matanya yang tajam tidak pernah lepas dari sosok mungil di tengah lantai dansa bawah sana.
Tangannya mengepal erat hingga buku-bukunya memutih saat melihat Rio menarik Keyla lebih dekat. Rahangnya mengeras, dan aura di sekitar Dipta terasa begitu mematikan sehingga tidak ada satu pun pelayan yang berani mendekatinya.
"Tuan, apakah Anda ingin saya..." Bayu, yang berdiri di belakangnya, berbisik ragu.
"Tidak," potong Dipta dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti geraman. "Aku sudah berjanji memberinya kebebasan malam ini. Biarkan dia bermain."
Dipta menyesap wiskinya, matanya berkilat saat melihat pria lain kini mulai memegang tangan Keyla, mencoba mencium leher gadis itu. "Biarkan dia merasa bebas. Biarkan dia merasa menang. Karena rasa jatuhnya akan lebih sakit saat aku menjemputnya nanti."
Keyla semakin liar. Ia kini berdiri di atas sofa, menari dengan gerakan yang sangat provokatif. Teman-teman pria di sekelilingnya bersorak, tangan-tangan mereka mulai berani menyentuh kaki jenjang Keyla. Keyla merasa menang. Ia menatap ke arah balkon lantai dua, tahu bahwa Dipta ada di sana, menontonnya seperti elang yang lapar.
Ia mengambil gelas milik Rio dan meminumnya hingga habis, lalu dengan sengaja menatap langsung ke arah kegelapan tempat Dipta duduk. Ia memberikan senyum paling nakal yang bisa ia buat, seolah menantang: Lihat aku, Dipta. Aku bukan milikmu malam ini.
Dipta membalas tatapan itu dengan wajah tanpa ekspresi, meski di dalam dadanya, api cemburu dan posesif sedang membakar habis kesabarannya. Ia melihat bagaimana Rio kini membisikkan sesuatu di telinga Keyla dan Keyla tertawa sambil membiarkan Rio memeluknya dari belakang.
"Sepuluh menit lagi, Bayu," gumam Dipta sambil melihat jam tangannya.
"Sepuluh menit sebelum kesabaranku habis dan janji itu hangus," lanjut Dipta. Ia berdiri, merapikan jasnya yang mahal. Sosoknya yang jangkung dan berwibawa tampak sangat kontras dengan kerumunan remaja di bawah sana.
Keyla mulai merasa pusing yang luar biasa. Dunianya berputar. Saat Rio mencoba membawanya ke arah sudut yang lebih gelap di klub itu, Keyla sedikit terhuyung.
"Ayo, Key... kita butuh tempat yang lebih sepi, kan?" bisik Rio dengan niat yang jelas.
Keyla hampir saja mengiyakan, sampai sebuah bayangan besar menutupi pandangannya. Musik yang tadinya memekakkan telinga tiba-tiba terasa jauh. Aroma kayu cendana dan maskulin yang sangat ia kenali kini menyerbu indra penciumannya, mengalahkan bau alkohol dan asap rokok.
Keyla mendongak. Dipta berdiri di sana, tepat di depan Rio. Di tengah kerumunan remaja itu, Dipta tampak seperti dewa kematian yang turun ke bumi. Kedinginannya membekukan suasana seketika.
"Waktumu sudah habis, Keyla," suara Dipta tenang, namun mengandung otoritas yang membuat Rio secara insting melepaskan rangkulannya dan mundur tiga langkah karena ketakutan.
Keyla tertawa mabuk, menunjuk dada Dipta. "Anda... Anda janji... aku bebas..."
Dipta tidak menjawab. Ia hanya menatap Rio dengan tatapan yang seolah bisa mencabut nyawa pria muda itu, membuat Rio kabur menghilang di kerumunan tanpa pamit. Kemudian, Dipta beralih pada Keyla. Tanpa kekasaran seperti malam itu, ia menarik Keyla ke dalam dekapannya, menyelimuti tubuh terbuka gadis itu dengan jas hitamnya yang hangat.
"Kau sudah cukup bersenang-senang," bisik Dipta di telinga Keyla yang kini mulai lemas. "Sekarang, kembalilah ke kenyataan. Dan kenyataanmu adalah aku."
**
Keyla tidak lagi mampu berdiri tegak. Dunia di sekitarnya berputar dengan lampu-lampu neon yang memuakkan, sementara dekapan Dipta terasa seperti jeruji besi yang hangat namun mematikan. Di dalam mobil yang melaju membelah malam menuju penthouse, Keyla mulai meracau. Kesadarannya yang tipis oleh alkohol melepaskan semua filter yang selama ini ia jaga.
"Kenapa ditarik...?" gumam Keyla, tangannya yang gemetar mencoba melepaskan jas Dipta yang menyelimutinya. "Aku mau kembali... Rio tidak kaku seperti Anda. Dia... dia menyenangkan. Aku mau main dengan mereka, Dipta! Aku mau bebas!"
Dipta tetap diam, namun tangannya mencengkeram lututnya sendiri hingga urat-uratnya menonjol. Kalimat Keyla tentang pria lain—pria seangkatannya—adalah duri yang menusuk harga diri dan ego posesifnya.
"Anda hanya ingin tubuhku, kan?" Keyla tertawa getir, air matanya mulai menetes. "Ayah menjualku seharga utang-utangnya... Dan Anda membeliku karena Anda butuh mainan baru. Kenapa tidak ambil saja sekarang? Kenapa harus pura-pura peduli?"
Keyla kemudian merangkak mendekat, menempelkan tubuhnya pada Dipta dengan gerakan liar yang ia pelajari dari film-film yang tak seharusnya ia tonton. Ia membisikkan kata-kata provokatif tepat di telinga Dipta, menggoda pria itu dengan membandingkan sentuhannya dengan pria muda yang tadi berdansa dengannya.
"Rio menyentuhku... di sini," bisik Keyla seraya mengarahkan tangan Dipta ke pinggangnya. "Dan dia tidak sedingin Anda. Apa Anda sudah terlalu tua untuk tahu cara bersenang-senang, Tuan Mahendra?"
***
Bersambung...