Thomas Watson—Presiden Amerika Serikat termuda yang pernah menjabat, dengan approval rating 91% dan dijuluki "The People's President" ia meninggal dalam serangan jantung mendadak di usia 52 tahun. Namun kematiannya bukanlah akhir.
Ia terbangun dalam tubuh Arthurian Vancroft, satu-satunya Archduke di Kekaisaran Valcrest—seorang legenda hidup yang dijuluki "The Crimson Aegis" karena kehebatannya yang mampu memusnahkan pasukan iblis sendirian. Tapi ada masalah besar: tubuh ini sekarat.
Dua bulan lalu, Arthur bertarung melawan Demon god Zarathos dan menang—tetapi dengan harga mengerikan. Dia kehilangan 92% kekuatannya.
Lebih buruk lagi? Apapun yang terjadi tidak ada yang boleh tahu.
Jika musuh-musuh politiknya—para Duke serakah, bangsawan korup, dan faksi-faksi yang iri dengan kekuasaannya yang hampir setara Kaisar—mengetahui kelemahannya, mereka pasti tidak akan tinggal diam.
bagaimana kisah selanjutnya? Ayo kita lihat bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlueFlame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21. Ritual
Ruang Latihan Pribadi Archduke – Pagi Hari
Ruangan ini jarang digunakan sejak Arthur jatuh pingsan dua bulan lalu. Lantainya terbuat dari batu granit yang luas dan dingin, sementara langit-langit tinggi ditopang balok-balok kayu oak kokoh. Jendela-jendela besar membiarkan cahaya pagi masuk, menerangi debu halus yang melayang di udara.
Di sepanjang dinding tergantung berbagai senjata latihan—pedang kayu, tombak tumpul, serta perisai khusus untuk berlatih. Di tengah ruangan, sebuah lingkaran besar tergambar dengan kapur putih bercahaya. Simbol-simbol runik kuno mengelilingi tepinya, memancarkan cahaya lembut yang berdenyut perlahan. Arthur tidak sepenuhnya memahami arti simbol-simbol itu.
Valerine berdiri di dalam lingkaran. Ia mengenakan pakaian latihan yang sederhana—celana panjang hitam dan tunik putih berlengan panjang yang diikat dengan sabuk biru di pinggang. Rambut peraknya dikuncir tinggi, menyingkap lehernya yang jenjang. Di tangannya tergenggam sebuah kristal biru sebesar telur ayam yang memancarkan cahaya lembut.
Arthur berdiri di luar lingkaran.
“Masuk,” perintah Valerine tanpa menoleh. Ia masih sibuk menyesuaikan posisi beberapa kristal kecil yang ditempatkan di titik-titik tertentu di sepanjang lingkaran.
Arthur melangkah masuk dengan hati-hati, seolah menginjak medan berbahaya.
“Berdiri di tengah. Tepat di atas simbol itu.” Ia menunjuk simbol berbentuk pedang yang terukir di pusat lingkaran.
Arthur berjalan ke tengah dan berdiri sesuai arahan.
Valerine menyelesaikan penyesuaian terakhir, lalu berdiri tegak dan menatap Arthur.
“Sebelum kita mulai,” ucapnya dengan nada tegas yang tak memberi ruang bantahan, “kau perlu memahami sesuatu.”
Arthur mengangguk pelan.
Valerine berjalan mengelilinginya perlahan.
“Ritual Nexus Aeternum Vinculum bukan sekadar menyalurkan mana ke tubuhmu. Bukan sesederhana memasang selang dari tangki manaku ke tangkimu.”
Ia berhenti tepat di hadapan Arthur.
“Ritual ini menuntut kesatuan jiwa antara penyihir wadah—aku—dan penyihir penerima—kau.”
Tatapannya terkunci pada Arthur dengan intensitas yang membuatnya tak mampu mengalihkan pandangan.
“Mana itu bukan sekadar energi,” ujar Valerine pelan, namun tegas. “Mana adalah manifestasi jiwa—kehendak, serta esensi diri kita. Setiap orang memiliki ciri khas mana yang unik, seperti sidik jari.”
Ia mengangkat tangannya. Cahaya biru lembut menari di atas telapak tangannya, berkilau seperti serpihan es di bawah sinar matahari pagi.
“Mana-ku adalah es. Perwujudan dari kendali, presisi dan Ketenangan yang absolut.”
Cahaya itu perlahan meredup ketika ia menurunkan tangannya.
“Sedangkan mana-mu—dari yang kurasakan saat stabilisasi sebelumnya—yang paling dominan adalah api. Perwujudan dari kekacauan yang terkendali. Intensitas. Kehancuran yang terfokus.”
Arthur mengangguk perlahan. Kilasan pertempuran dari ingatan tubuh lamanya terlintas samar di benaknya.
“Bisa dibilang kita memiliki mana yang bertolak belakang,” lanjut Valerine. “Jika kita memaksakan koneksi tanpa membuat keduanya saling memahami dan melengkapi, mana kita akan saling bertabrakan di dalam tubuhmu. Dan itu akan membunuh kita berdua,” jawab Valerine datar, seolah menyampaikan fakta ilmiah sederhana.
“Tubuhmu akan hancur dari dalam. Dan aku akan terbakar oleh umpan balik energi.”
Hening sejenak menyelimuti ruangan.
“Karena itu,” lanjutnya, “kita harus membuat mana kita saling mengenali. Bukan lagi sebagai dua kekuatan yang berlawanan, melainkan dua kekuatan yang saling melengkapi.”
Ia mengulurkan tangan kanannya—telapak terbuka, jari-jari ramping terentang.
“Genggam tanganku.”
Arthur menatap tangan itu sesaat. Tangan Valerine tampak kecil dan ramping. Ia mengangkat tangan kanannya sendiri lalu meletakkannya di atas tangan Valerine. Perbedaan ukuran terlihat jelas. Tangannya hampir menutupi seluruh tangan Valerine, seolah tangan orang dewasa membungkus tangan anak kecil.
Valerine menatap kedua tangan mereka. Jemarinya kemudian melingkar, menggenggam tangan Arthur dengan kekuatan yang tak terduga.
“Tutup matamu,” perintahnya lembut namun tegas. “Fokus pada sensasi. Jangan melawan apa pun yang kau rasakan.”
Arthur memejamkan mata.
Untuk beberapa detik, tidak terjadi apa-apa.
Yang ia rasakan hanya kehangatan dari tangan Valerine—aneh, mengingat elemennya adalah es. Kehangatan itu bukan panas membakar, melainkan hangat yang stabil dan menenangkan.
Lalu—
Whoosh.
Sesuatu yang dingin menyusup melalui telapak tangannya.
Bukan dingin yang menusuk seperti bongkahan es, melainkan dingin seperti air terjun di pagi hari—jernih, menyegarkan, dan menenangkan pikiran. Mana Valerine kini dapat ia rasakan dengan jelas. Aliran itu mengalir dari telapak tangan, merambat naik melalui lengannya, menyebar ke dada, lalu menuju inti mana yang retak.
Saat aliran itu menyentuh inti—
Krek.
Inti mananya bereaksi.
Api merah—ciri khas mana Arthur—menyala tiba-tiba, meledak seperti mekanisme pertahanan alami, berusaha menolak energi asing yang masuk. Tubuh Arthur menegang. Erangan tertahan lolos dari bibirnya.
“Jangan melawan,” suara Valerine terdengar tegas.
“Biarkan manaku masuk. Percaya padaku, Arthur.”
Arthur berusaha memaksa dirinya untuk rileks. Namun itu tidak mudah. Karena setiap naluri di dalam dirinya berteriak untuk bertahan, dan mengusir “penyusup” itu.
Mana Valerine dan mana Arthur akhirnya bertemu.
Untuk sepersekian detik, rasanya seperti dua kekuatan itu akan saling menghancurkan—es dan api bertabrakan di pusat dirinya.
Valerine menggenggam tangannya lebih erat.
“Dengarkan aku,” bisiknya. Anehnya, suara itu terasa langsung bergema di dalam benaknya, meski matanya terpejam. “Mana-ku bukan musuhmu. Aku bukan musuhmu.”
Genggaman itu menguat.
“Kita adalah partner. Jadi… terimalah aku.”
Dan entah karena kata-kata itu, atau karena keputusan sadar Arthur untuk mempercayainya, apinya perlahan berhenti melawan.
Nyala merah yang tadinya membara kini meredup—bukan padam, melainkan menahan diri.
Es Valerine tidak lagi memaksa. Ia menyesuaikan diri.
Dua elemen yang seharusnya saling menghancurkan ketika bersentuhan… perlahan menemukan ritmenya. Api tidak lagi mencoba membakar es. Es tidak lagi mencoba memadamkan api. Keduanya bergerak seperti dua arus berbeda yang akhirnya menemukan satu aliran yang sama.
Harmoni.
Arthur merasakan sesuatu berubah di dalam dirinya.
Inti mana yang selama ini terasa seperti kaca retak—rapuh, siap hancur kapan saja—perlahan terasa lebih stabil. Retakan itu tidak sepenuhnya hilang, tetapi kini terasa seperti disatukan kembali oleh sesuatu yang lebih kuat.
Bukan karena salah satu elemen mendominasi.
Melainkan karena keduanya saling menyeimbangkan.
Mana Heartnya yang nyaris mati itu tiba-tiba berdetak lebih kuat.
Deg. Deg. Deg.
Ritmenya kini teratur. Stabil. Hidup.
Arthur bisa merasakannya dengan jelas—bukan sekadar sensasi samar, melainkan denyut nyata di dalam dadanya. Seolah sesuatu yang telah lama redup kini kembali dinyalakan.
Dua belas Magic Circuits yang sebelumnya terputus… walaupun tidak sepenuhnya pulih, tetapi ia bisa merasakan mana Valerine mengalir melewati kerusakan itu. Energinya membentuk jalur sementara, seperti kabel penghubung yang menjembatani rangkaian yang rusak. Bukan perbaikan permanen—melainkan bypass yang presisi dan terkendali.
Energi kembali mengalir.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, Arthur merasakan tubuhnya benar-benar berfungsi.
Napasnya terasa dalam. Ringan. Tidak lagi sesak oleh tekanan tak terlihat.
Matanya terbuka lebar.
Valerine menatapnya. Mata peraknya bersinar dengan cahaya biru lembut—tanda ia sedang menyalurkan mana dalam intensitas tinggi.
“Kau merasakannya?” tanyanya.
Arthur hanya bisa mengangguk. Suaranya seakan tertahan di tenggorokan.
“Itu koneksi,” lanjut Valerine. “Mana kita sekarang saling mengenali. Saat aku menyalurkan lebih banyak, tubuhmu tidak akan menolak. Dan saat kau menggunakannya, alirannya akan lebih mulus.”
Ia melepaskan genggaman mereka, lalu melangkah mundur.
Arthur menatap tangannya sendiri, membuka dan menutup jemarinya perlahan. Sensasi kekuatan yang stabil terasa asing—namun juga… benar.
“Ini…” bisiknya pelan. “Aku bisa bernapas dengan benar sekarang.”
“Jangan terlalu bersemangat,” potong Valerine dengan nada datar. “Itu hanya stabilisasi sementara dari ritual. Koneksi kita masih lemah. Aku harus mempertahankan penyaluran konstan saat kau bertarung atau menghadiri Dewan.”
Ia berjalan ke tepi lingkaran, mengambil handuk kecil, lalu menyeka keringat di dahinya. Jelas, proses penyaluran itu menguras energinya.
“Dan sebelum itu bisa terjadi,” lanjutnya sambil menatap Arthur dengan ekspresi yang tiba-tiba sangat tegas, “kau harus belajar bagaimana menggunakan tubuh yang distabilkan oleh mana orang lain.”
Arthur tidak menyukai nada itu.
“Apa maksudmu dengan—”
“Berdiri tegak.”
“Apa?”
“Berdiri tegak,” ulangnya, suaranya kini tajam seperti instruktur militer. “Punggungmu bungkuk. Bahumu turun. Kau terlihat seperti orang sakit.”
Arthur refleks meluruskan punggungnya.
“Lebih tegak.”
Ia meluruskan lagi.
“Lebih.”
“Valerine, aku sudah—”
“Lebih.”
Arthur menarik napas dan meluruskan tubuhnya hingga terasa seolah tulang punggungnya digantikan batang baja. Dagu terangkat. Bahu terbuka. Dada membusung secara alami, bukan dipaksakan.
Valerine mengamatinya dari ujung kepala hingga kaki.
“Bagus,” katanya akhirnya. “Sekarang kau terlihat seperti Archduke. Bukan pasien yang baru lolos dari ranjang kematian.”
Arthur menahan komentar sinis yang hampir keluar.
Ia baru saja merasakan inti mananya kembali berdetak.
Dan rupanya, pelatihan sebenarnya baru saja dimulai.
...***...
🤭🤭