Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Jeratan Halus Sang Naga
Pagi itu, Kedai Harapan dipenuhi aroma roti bakar dan kopi yang baru digiling. Suasana desa tampak kembali normal, bahkan jauh lebih hangat. Warga yang merasa bersalah semalam, bergantian datang membawakan hasil kebun sebagai tanda permintaan maaf. Ada yang membawa sesisir pisang raja, seikat bayam segar, hingga sebotol madu hutan.
Gia tersenyum melayani mereka, meski hatinya tetap waspada. Rian benar—kemenangan semalam hanyalah satu pertempuran kecil dalam perang besar. Rian sendiri sejak pagi sudah sibuk di sudut bar dengan ponselnya, sesekali mengernyitkan dahi sambil mencatat sesuatu di buku kecilnya.
"Gia, Bapak mana?" tanya Rian tiba-tiba. Suaranya terdengar tidak biasa.
"Tadi pamit ke balai desa. Katanya ada urusan surat-menyurat tanah yang harus ditandatangani ulang gara-gara pembatalan proyek Mahendra kemarin. Kenapa?" Gia meletakkan kain lapnya, merasa ada yang tidak beres.
Rian menutup bukunya dengan keras. "Aku baru saja cek mutasi rekening perusahaan cangkang Mahendra. Ada aliran dana yang mencurigakan masuk ke rekening bank atas nama Pak Jaya tadi malam. Jumlahnya persis sama dengan uang muka yang ditawarkan Niko kemarin."
Wajah Gia mendadak pucat. "Nggak mungkin! Bapak nggak mungkin terima uang itu! Bapak orang yang paling keras menolak Niko!"
"Aku tahu, Gia. Tapi ini yang namanya framing. Mahendra nggak perlu Bapak nerima uangnya secara fisik. Dia cuma perlu masukin uang itu ke rekening Bapak tanpa ijin, lalu buat laporan seolah-olah itu adalah uang suap supaya Bapak membujuk warga."
Belum sempat Gia menjawab, suara sirene mobil polisi terdengar mendekat. Bukan satu, tapi tiga mobil. Mereka berhenti tepat di depan kedai. Namun, yang turun bukan polisi hutan atau polisi kabupaten yang biasa mereka lihat. Mereka mengenakan seragam rapi dengan lencana tipis yang berkilat.
"Selamat pagi. Kami dari Unit Tipikor Polres Pusat. Kami mencari Saudara Jaya Atmadja," ujar seorang petugas dengan wajah dingin.
Gia melangkah maju, tangannya gemetar. "Ada apa dengan bapak saya, Pak?"
"Saudara Jaya Atmadja diduga terlibat dalam kasus gratifikasi dan penggelapan dana kompensasi lahan terkait proyek agrowisata. Kami baru saja mengamankan beliau di balai desa atas bukti aliran dana mencurigakan."
Gia hampir ambruk jika Rian tidak segera menopang bahunya. "Gratifikasi? Bapak saya difitnah! Uang itu masuk tanpa sepengetahuan kami!" jerit Gia.
"Anda bisa menjelaskan semuanya di kantor, Nona. Tapi saat ini, kami memiliki bukti permulaan yang cukup. Kami juga diperintahkan untuk melakukan penggeledahan di kedai ini," petugas itu menunjukkan surat perintah yang sudah ditandatangani hakim.
Rian menatap petugas itu dengan mata yang sangat tajam. "Siapa pelapornya? Mahendra Group?"
Petugas itu hanya menatap Rian sekilas tanpa menjawab, lalu memberi perintah kepada anak buahnya untuk mulai masuk ke dalam kedai. Warga yang tadi berkumpul dengan ramah, kini kembali berbisik-bisik dengan wajah ketakutan. Beberapa dari mereka mulai menjauh, takut terseret masalah hukum yang menyangkut Pak Jaya.
Selama empat jam, kedai yang baru diperbaiki itu kembali berantakan. Para petugas menggeledah laci-laci, lemari, hingga membongkar tumpukan karung kopi di gudang belakang. Gia hanya bisa terduduk di lantai sambil menangis, sementara Rian berdiri mematung di sudut ruangan, memperhatikan setiap gerakan petugas dengan teliti.
Tiba-tiba, seorang petugas berteriak dari ruang kerja Pak Jaya di lantai atas. "Komandan! Kami menemukan sesuatu!"
Ia turun membawa sebuah map cokelat tua. Di dalamnya terdapat beberapa lembar surat perjanjian jual beli tanah yang sudah ditandatangani—lengkap dengan materai dan tanda tangan yang sangat mirip dengan tulisan tangan Pak Jaya. Di bagian belakang surat itu, terselip sebuah kwitansi penerimaan uang tunai sebesar dua ratus juta rupiah.
"Ini palsu! Bapak saya nggak pernah tanda tangan surat itu!" Gia berteriak histeris, mencoba merebut map itu namun dihalangi petugas.
"Tanda tangannya identik, Nona. Ahli forensik akan membuktikannya, tapi untuk sekarang, kedai ini harus disegel sebagai barang bukti tindak pidana korupsi dan gratifikasi," ujar sang Komandan.
Gia merasa dunianya runtuh. Kedai itu adalah satu-satunya peninggalan ibunya dan harga diri ayahnya. Melihat garis kuning police line dipasang mengelilingi bangunan kayu itu rasanya lebih menyakitkan daripada melihat api membakarnya.
Sore itu, desa menjadi sangat sepi. Kedai Harapan kini sunyi senyap di bawah garis polisi. Gia dan Rian duduk di bawah pohon beringin seberang jalan. Gia terus-menerus mencoba menelepon pengacara kenalannya di Jakarta, namun tak ada yang mau membantu setelah mendengar nama Mahendra yang terlibat.
"Rian... bapak gimana? Beliau sudah tua, beliau nggak akan kuat di penjara," isak Gia.
Rian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia sedang menatap foto tanda tangan di surat perjanjian yang sempat ia potret tadi. "Gia, lihat ini."
Ia memperbesar foto itu di layar ponselnya. "Tanda tangan ini terlalu sempurna. Bapakmu punya kebiasaan sedikit menekan pulpen di akhir huruf 'J', kan? Di sini, tekanannya rata dari awal sampai akhir. Ini hasil cetakan printer laser tingkat tinggi yang menggunakan tanda tangan digital bapakmu yang pernah ia pakai untuk urusan pensiun dulu."
Gia menghapus air matanya, menatap layar ponsel Rian. "Tapi polisi nggak akan mau tahu soal tekanan pulpen, Rian. Mereka cuma lihat dokumen yang sah di depan mata."
Rian berdiri, wajahnya kini dingin seperti es. Karakter "tukang utang" yang santai itu benar-benar hilang. Ia kembali menjadi sang Arsitek yang pernah menghadapi intrik tingkat tinggi di Jakarta.
"Mereka mau main kotor, Gia. Tuan Mahendra nggak mau bunuh kita, dia mau bikin kita mati secara perlahan lewat jalur hukum. Dia mau bapakmu jadi sandera supaya aku menyerahkan data-data itu," Rian mengepalkan tangannya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Apa kita harus serahin datanya?"
"Nggak. Kalau data itu diserahkan, bapakmu tetap akan dipenjara karena Mahendra harus menutup mulut saksi. Kita harus cari 'mesin' yang mereka pakai buat malsuin tanda tangan ini. Mesin itu pasti ada di kantor rahasia Mahendra di kota, bukan di ruko kabupaten kemarin."
Tiba-tiba, ponsel Rian bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal mengirimkan pesan singkat:
“Naga tidak suka berbagi sarang. Jika ingin orang tuamu pulang, bawalah 'kuncinya' ke Dermaga Tua jam 12 malam ini. Sendirian. Atau Bapakmu akan pindah ke sel isolasi selamanya.”
Gia membaca pesan itu lewat bahu Rian. "Dermaga tua? Itu jebakan, Rian! Mereka pasti mau habisin kamu!"
Rian memasukkan ponselnya ke saku. "Memang jebakan. Tapi itu satu-satunya cara supaya aku bisa mendekat ke orang-orang kepercayaan Mahendra. Gia, aku butuh kamu lakuin sesuatu. Kali ini, aku nggak butuh kamu akting jadi sekretaris."
"Apa?"
"Aku butuh kamu cari Pak Jaka di Jakarta lagi. Bilang padanya, 'Proyek Jembatan Runtuh' harus dibuka sekarang. Jangan lewat medsos, tapi langsung ke tangan Jaksa Agung Muda yang namanya tercatat di file terakhir. Hanya itu yang bisa bikin polisi di kabupaten ini ketakutan dan ngelepasin Bapakmu."
"Tapi Rian, kamu gimana? Kamu sendirian ke dermaga itu?!"
Rian memegang kedua pundak Gia, menatap matanya dalam-dalam. "Percaya sama aku. Aku sudah belajar cara hidup di bawah tanah selama dua tahun. Kamu fokus ke Jakarta. Pergi sekarang pakai motor cadangan yang aku simpan di gudang Pak RT. Jangan lewat jalan utama."
Gia ingin membantah, tapi ia melihat determinasi yang tak tergoyahkan di mata Rian. Ia menarik napas panjang, lalu mengangguk. "Jangan berani-berani mati sebelum kita minum kopi bareng lagi, Rian."
Rian tersenyum tipis, lalu mencium kening Gia sekilas. "Janji. Sekarang jalan!"
Gia segera berlari menuju gudang Pak RT, sementara Rian menatap ke arah dermaga tua di kejauhan. Langit mulai gelap, dan badai besar tampaknya akan segera turun. Di bawah bayang-bayang pohon beringin, Rian mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil dan sebuah alat penyadap yang ia rakit sendiri.
"Selamat datang di permainan yang sesungguhnya, Mahendra," bisik Rian, sebelum menghilang ke dalam kegelapan hutan.