"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"
Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".
Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.
Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."
Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: NADIR DI ANTARA SALJU DAN DARAH
BAB 23: NADIR DI ANTARA SALJU DAN DARAH
Hujan salju di puncak pegunungan Alpen tidak lagi terasa indah; bagi Alana Roseline, setiap kepingnya terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk kulitnya. Di dalam kabin helikopter yang berguncang hebat melawan badai, bau besi yang tajam—bau darah—memenuhi indra penciumannya. Kenzo tergeletak di pangkuannya, wajah pria itu sepucat salju di luar, dengan napas yang terdengar seperti rintihan yang terputus-putus.
"Kenzo, buka matamu! Jangan berani-berani kau menutupnya!" jerit Alana. Suaranya serak, tenggelam dalam deru baling-baling helikopter.
Tangan Alana yang biasanya lembut kini berlumuran cairan merah yang hangat dan kental. Ia menekan luka tembak di bahu Kenzo dengan sekuat tenaga menggunakan robekan gaun beludrunya, namun darah itu seolah tidak mau berhenti mengalir, merembes di sela-sela jarinya, menodai gaun putih mahalnya hingga ia tampak seperti malaikat maut yang sedang meratap.
Kenzo mengerang pelan, kelopak matanya bergetar hebat. Ia mencoba menatap Alana, mencoba memberikan senyum tipis yang biasa ia berikan untuk menenangkan wanita itu, namun yang keluar hanyalah setetes darah dari sudut bibirnya.
"A-alana..." bisiknya, nyaris tak terdengar.
"Jangan bicara! Simpan tenagamu!" Alana terisak, air matanya jatuh mengenai pipi Kenzo yang dingin. "Kau bilang kau akan menjagaku, kau bilang kau akan membawaku pulang! Jika kau mati sekarang, aku tidak akan pernah memaafkanmu, Kenzo Dirgantara!"
Di kursi kokpit, Elvan Adiwangsa terus berteriak ke arah radio, mengoordinasikan pendaratan darurat di pangkalan medis rahasia. Wajah kakak tertua Alana itu kaku, dipenuhi kecemasan yang mendalam. Ia sesekali melirik ke belakang, melihat adiknya yang hancur berkeping-keping memegangi pria yang paling dibencinya sekaligus paling ia hormati.
Sementara itu, di reruntuhan vila yang terbakar di bawah sana, Gunther von Heist tergeletak di antara puing-puing baja yang membara. Kakinya patah, dan dadanya terasa sesak akibat asap yang memenuhi paru-parunya. Namun, di tangannya, ia masih memegang sebuah tabung kecil berisi sampel darah yang sempat ia ambil dari Alana saat terjadi kekacauan awal.
Dengan sisa tenaganya, ia menekan tombol panggil pada ponsel satelitnya.
"Wilhelm..." Gunther terbatuk, darah keluar dari mulutnya. "Mereka... mereka lolos. Tapi aku punya sampelnya. Alana bukan hanya pewaris harta... dia adalah kuncinya."
Di seberang sana, di sebuah ruangan gelap di Berlin, Wilhelm von Heist menyipitkan mata. "Maksudmu, legenda tentang darah murni itu benar?"
"Ya," desis Gunther dengan tawa parau yang mengerikan. "Hasil lab rahasia Baron... Alana lahir dari sebuah eksperimen medis tersembunyi antara Von Heist dan ilmuwan Dirgantara puluhan tahun lalu. Darahnya mengandung antibodi langka yang bisa menyembuhkan penyakit degeneratif yang menghantui garis keturunan kita. Dia bukan manusia, Wilhelm... dia adalah obat abadi."
Wilhelm terdiam. Sebuah kilat keserakahan muncul di matanya. "Jika Kenzo membawanya ke Jakarta, dia akan berada di bawah perlindungan Adiwangsa dan Dirgantara secara penuh. Kita tidak bisa menyentuhnya di sana tanpa memulai perang besar."
"Maka gunakanlah tikus itu," Gunther merujuk pada Raka Ardiansyah. "Raka sudah gila karena dendam. Berikan dia sumber daya, berikan dia akses. Dia yang paling tahu celah di Jakarta. Biarkan dia yang menarik Alana keluar dari bentengnya, dan kita tinggal memanen hasilnya."
Gunther mengembuskan napas terakhirnya tepat saat ledakan susulan menghanguskan sisa-sisa vila itu, membawa rahasia tersebut ke dalam api, namun Wilhelm sudah mendapatkan apa yang ia butuhkan.
Enam Jam Kemudian – Pangkalan Medis Perbatasan.
Lampu koridor rumah sakit darurat itu berkedip-kedip dingin. Alana duduk di kursi plastik, masih mengenakan gaun yang berlumuran darah kering. Ia menolak untuk mengganti pakaian, menolak untuk makan, bahkan menolak untuk bicara pada siapa pun. Ia hanya menatap pintu ruang operasi yang tertutup rapat.
Maximilian mendekat dengan membawa secangkir teh hangat, langkahnya pelan dan penuh hormat. "Nona Roseline, operasi sudah selesai. Pelurunya sudah diangkat. Tuan Kenzo sedang dipindahkan ke ruang pemulihan."
Alana tersentak, seolah baru saja ditarik kembali dari alam bawah sadar yang gelap. Ia berdiri dengan cepat, membuat kepalanya sedikit pening. "Dia... dia selamat?"
"Dia melewati masa kritisnya. Dia pria yang sangat kuat, Nona. Keinginannya untuk hidup demi Anda jauh lebih besar daripada rasa sakitnya," ujar Maximilian.
Alana mengembuskan napas panjang yang terasa seperti melepaskan beban berton-ton dari dadanya. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding, membiarkan dirinya merosot hingga terduduk di lantai, menangis sejadi-jadinya. Bukan tangis kesedihan, melainkan tangis kelegaan yang luar biasa.
"Nona," Maximilian berlutut di depan Alana, suaranya merendah. "Ada hal lain yang harus Anda ketahui. Paman Anda, Wilhelm, tidak akan berhenti. Dia telah menghubungi Raka Ardiansyah di Jakarta."
Alana mendongak, matanya yang sembab berkilat tajam. "Raka? Pria sampah itu masih punya nyali?"
"Dia tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, itulah yang membuatnya berbahaya. Wilhelm memberinya dukungan dana dan intelijen. Mereka tahu tentang kondisi medis istimewa Anda, Nona. Tentang darah Anda."
Alana tertegun. "Apa maksudmu dengan kondisi medisku?"
Maximilian ragu sejenak, namun ia akhirnya menyerahkan sebuah tablet yang berisi data medis kuno yang baru saja ia curi dari arsip pribadi Baron. Di sana tertera nama subjek: Roseline-Project A.
"Anda bukan sekadar anak dari Elena von Heist. Anda adalah hasil dari rekayasa genetik tingkat tinggi yang dilakukan secara rahasia. Darah Anda sangat berharga di pasar gelap medis internasional. Selama ini, Keluarga Adiwangsa menyembunyikan identitas Anda bukan hanya karena masalah keamanan keluarga, tapi untuk melindungi tubuh Anda dari tangan para kolektor nyawa."
Alana membaca dokumen itu dengan tangan yang gemetar hebat. Ia merasa jijik, merasa seolah dirinya bukan lagi manusia, melainkan sebuah komoditas atau benda laboratorium. "Jadi... karena inilah paman-pamanku menginginkanku? Bukan karena takhta?"
"Takhta hanyalah bonus. Anda adalah sumber kehidupan bagi mereka yang sedang sekarat dan kaya raya," jawab Maximilian.
Kemarahan mulai menggantikan rasa takut di hati Alana. Ia meremas tablet itu. "Mereka memperlakukanku seperti binatang ternak. Mereka melukai Kenzo karena mereka menginginkan darahku."
Alana berdiri, wajahnya kini berubah menjadi sedingin es. "Maximilian, siapkan kepulangan kami ke Jakarta sekarang juga. Kita tidak akan lari. Kita akan memancing mereka semua keluar. Jika mereka menginginkan darahku, maka aku akan memastikan mereka akan tenggelam dalam darah mereka sendiri terlebih dahulu."
Di Jakarta – Sebuah Gudang Tua di Pelabuhan.
Raka Ardiansyah duduk di kursi kayu yang lapuk, menatap layar ponselnya yang menampilkan saldo rekening luar negeri yang baru saja bertambah secara drastis. Di sampingnya, Siska tampak ketakutan, wajahnya yang dulu cantik kini kusam dan penuh memar. Raka tidak segan-segan memukulnya setiap kali pria itu merasa frustrasi.
"Kau lihat ini, Siska?" Raka menunjukkan saldo tersebut sambil tertawa gila. "Alana... dia bukan lagi wanita yang akan kucintai. Dia adalah tambang emas. Wilhelm bilang, satu liter darahnya bernilai jutaan dolar. Kita tidak butuh lagi harta Adiwangsa jika kita bisa menangkapnya."
Siska gemetar. "Raka, ini sudah keterlaluan. Ini bukan lagi soal cinta atau perselingkuhan. Ini kriminalitas tingkat tinggi! Polisi akan mengejar kita!"
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Siska, membuatnya tersungkur ke lantai.
"Diam kau pelacur tak berguna!" bentak Raka. "Kau yang membuatku kehilangan segalanya karena perselingkuhan konyol kita dulu! Sekarang, kau hanya perlu diam dan ikuti rencanaku. Alana dan Kenzo akan segera mendarat. Kita akan menyambut mereka dengan pesta yang tidak akan pernah mereka lupakan."
Raka menatap ke arah pintu gudang yang terbuka, memperlihatkan gelapnya laut Jakarta. Di bawah perintah Wilhelm, Raka telah menyewa sekelompok preman kelas kakap dan pembunuh bayaran yang sudah putus asa. Ia tahu bahwa ia tidak bisa menang melawan Kenzo secara adil, jadi ia akan menyerang di titik paling lemah: saat Kenzo masih terluka dan Alana merasa paling aman.
Kembali ke Pangkalan Medis – Ruang Rawat Kenzo.
Alana masuk ke dalam ruangan secara perlahan. Di sana, Kenzo sudah sadar sepenuhnya meski masih dipasangi berbagai alat pantau. Saat melihat Alana masuk, mata Kenzo langsung berbinar.
"Kemarilah," bisik Kenzo, suaranya masih lemah.
Alana mendekat dan duduk di tepi ranjang. Ia menggenggam tangan Kenzo yang bebas dari infus. "Kau bodoh. Kenapa kau melompat di depan peluru itu?"
Kenzo tersenyum tipis, jarinya mengusap punggung tangan Alana. "Karena jika peluru itu mengenai mawar hitamku, duniaku akan gelap selamanya. Lebih baik aku yang terluka daripada melihatmu kesakitan."
Alana mencium punggung tangan Kenzo, air matanya jatuh lagi. "Kenzo... ada rahasia besar tentang diriku. Tentang darahku. Mereka tidak akan berhenti mengejarku."
"Aku tahu," jawab Kenzo mengejutkan Alana. "Aku sudah tahu sejak lama. Kenapa kau pikir ayahku begitu menentang hubungan kita? Bukan hanya karena dendam masa lalu, tapi karena dia tahu bahwa mencintaimu berarti siap menghadapi seluruh predator medis dunia. Dan aku sudah memutuskan, Alana... aku akan menjadi perisai yang paling kuat untukmu."
Alana terdiam, menatap pria di depannya dengan penuh rasa tak percaya sekaligus haru. Kenzo sudah tahu segalanya, namun ia tetap memilih untuk mencintainya, bahkan siap mati untuknya.
"Kita akan pulang, Kenzo. Kakak-kakakku sudah menunggu di Jakarta. Kita akan mengakhiri semua ini bersama Raka dan Wilhelm," ucap Alana dengan tekad bulat.
Kenzo mengangguk. "Ya, kita pulang. Tapi sebelum itu, berjanjilah padaku satu hal, Alana."
"Apa?"
"Setelah semua ini selesai... kau tidak akan pernah lagi mencoba mengorbankan dirimu sendirian. Kita adalah satu sekarang. Darahmu adalah darahku juga."
Di tengah dinginnya perbatasan Jerman, sebuah janji baru terucap. Namun di Jakarta, jaring-jaring pengkhianatan yang dipasang oleh Raka dan Wilhelm sudah mulai merapat, siap menerkam mangsa mereka begitu mereka menginjakkan kaki di tanah air.