"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"
Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".
Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.
Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."
Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: TAHTA DI ATAS GENANGAN DARAH
BAB 34: TAHTA DI ATAS GENANGAN DARAH
Asap putih dari granat yang dilemparkan Alana perlahan menipis di lorong bawah tanah yang lembap, namun ketegangan di udara justru semakin mencekik. Alana berdiri tegak di tengah terowongan, bayangannya memanjang di bawah lampu darurat yang berkedip merah. Di hadapannya, Elvan, Bima, Arya, dan Gio berdiri seperti barisan hakim yang siap menjatuhkan vonis. Mereka bukan lagi kakak-kakak yang hangat; mereka adalah pemangsa yang sedang memperebutkan satu-satunya tiket untuk bertahan hidup: Alana.
"Jangan keras kepala, Alana!" suara Elvan menggema, dingin dan berwibawa, namun ada nada keputusasaan yang tersembunyi. "Dunia luar sudah berubah. Adiwangsa Group tidak bisa lagi berdiri sendiri. Dengan menyerahkanmu pada Tuan Besar Dirgantara dan Wilhelm, kita bisa mempertahankan kekaisaran kita! Kau adalah pengorbanan yang diperlukan demi kelangsungan nama besar keluarga!"
Alana tertawa, sebuah tawa yang terdengar hampa sekaligus mengerikan. "Kekaisaran? Nama besar? Kalian hanya pengecut yang takut kehilangan kemewahan! Kalian rela menjual adik kalian sendiri untuk mempertahankan kursi empuk kalian!"
"Ini bukan soal kemewahan, Al!" Bima menyela, langkahnya yang berat menimbulkan gema yang mengancam. "Ini soal kekuasaan yang nyata. Jika kita tidak menyerahkanmu, mereka akan menghancurkan kita dalam satu malam. Bastian sudah memindahkan aset, dan kami... kami hanya mencoba mengamankan bagian kami masing-masing!"
Alana menatap mereka satu per satu. Ia menyadari sesuatu yang sangat pahit: pengkhianatan ini bukan hanya soal paksaan dari luar, tapi soal perebutan kekuasaan internal. Kakak-kakaknya sedang berebut untuk menjadi "pahlawan" di mata Wilhelm agar mereka bisa mendapatkan kendali penuh atas perusahaan setelah Alana "diamankan".
Konfrontasi di Terowongan Maut
"Cukup omong kosongnya!" Kenzo melangkah maju di samping Alana, tangannya yang bersimbah darah masih kokoh memegang pistol. "Kalian tidak akan menyentuhnya. Jika kalian ingin membawa Alana, kalian harus melangkahi mayatku dan mayat Satya!"
"Kenzo, kau adalah putra mahkota yang gagal," ejek Bastian melalui sistem interkom di terowongan itu. Suaranya terdengar dari speaker langit-langit. "Ayahmu sudah membuangmu. Sekarang, biar aku yang mengelola masa depan Dirgantara bersama kakak-kakakmu. Alana, menyerahlah sekarang, atau unit Mawar Putih akan merobohkan terowongan ini dan mengubur kalian hidup-hidup."
Alana melihat ke arah Satya yang sedang sibuk meretas tabletnya. "Kak Satya, berapa lama lagi?"
"Dua menit, Al! Aku sedang mencoba membekukan rekening yang sedang ditransfer Bastian. Jika aku berhasil, mereka tidak punya alasan lagi untuk bekerja sama dengan Wilhelm karena uangnya akan terkunci!" bisik Satya dengan keringat dingin mengucur di dahinya.
"Dua menit adalah waktu yang lama untuk mati," gumam Siska di belakang mereka. Siska, yang kini terpojok, menyadari bahwa ia harus memihak Alana sepenuhnya jika ingin selamat. Ia mengambil senapan cadangan milik Satya dan mulai menembak ke arah langit-langit untuk menjatuhkan pipa-pipa besi sebagai penghalang.
DOR! DOR! DOR!
Baku tembak pecah di ruang sempit itu. Elvan dan Bima berlindung di balik pilar beton, sementara pasukan Mawar Putih mulai merangsek masuk dengan tameng balistik. Alana tidak hanya diam; ia bergerak lincah, mengambil pistol cadangan yang diberikan Kenzo. Ia menembak bukan untuk membunuh—setidaknya belum—tapi untuk menghambat gerakan kakak-kakaknya.
"Maafkan aku, Kak Elvan!" teriak Alana saat ia menembak pipa gas di dekat Elvan, menciptakan ledakan api yang memaksa pria itu mundur.
Perebutan Kendali Adiwangsa
Di tengah kekacauan itu, Bastian muncul dari balik bayangan di ujung terowongan. Ia tidak membawa senjata api, melainkan sebuah laptop khusus yang terhubung dengan main server Adiwangsa Group.
"Kalian semua bodoh!" teriak Bastian. "Kalian berebut Alana seolah dia adalah kunci segalanya. Padahal kunci yang sebenarnya adalah akses ke satelit komunikasi Adiwangsa yang baru saja aku kendalikan! Elvan, kau pikir kau masih pemimpin? Bima, kau pikir kau masih punya pasukan? Aku sudah mengganti semua otoritas kalian!"
Wajah Elvan berubah pucat. "Bastian... apa yang kau lakukan? Kita sepakat untuk berbagi!"
"Sepakat?" Bastian tertawa gila. "Aku menghabiskan seluruh hidupku di balik layar, mengurus data dan angka sementara kalian menikmati sorotan kamera dan kehormatan. Sekarang, aku yang memegang kendali. Wilhelm tidak butuh kalian berempat. Dia hanya butuh aku!"
Bastian menekan sebuah tombol. Tiba-tiba, pintu-pintu baja otomatis di terowongan itu mulai tertutup satu per satu, memisahkan Elvan, Bima, Arya, dan Gio dari Alana. Mereka terjebak di zona yang berbeda.
"Sekarang, Alana," suara Bastian terdengar lebih dekat. "Hanya kau dan aku. Berikan buku harian Elena Roseline padaku, dan aku akan membiarkan Kenzo dan Satya hidup. Aku butuh formula yang ada di dalam buku itu untuk menyelesaikan proyek Mawar Abadi secara mandiri. Aku tidak butuh Wilhelm. Aku akan menjadi penguasa baru di atas Adiwangsa dan Dirgantara!"
Alana memeluk buku harian itu erat-erat. Ia baru menyadari betapa gilanya perebutan kekuasaan ini. Ini bukan lagi soal keluarga; ini adalah perang antara predator yang saling memangsa demi menjadi puncak rantai makanan.
Titik Balik Alana
"Kenzo, kita harus lari ke arah generator pusat," bisik Alana. "Jika Bastian mengendalikan sistem, satu-satunya cara menghentikannya adalah dengan mematikan daya secara fisik."
"Tapi tempat itu sangat berbahaya, Al. Jika generator itu meledak—"
"Aku tidak peduli!" Alana menatap Kenzo dengan mata yang berkilat tajam. "Aku lebih baik menghancurkan seluruh warisan Adiwangsa daripada melihatnya jatuh ke tangan monster seperti Bastian!"
Mereka berlari menembus kegelapan, melompati tumpukan kabel yang terbakar. Di belakang mereka, langkah kaki Bastian terdengar mengejar, diikuti oleh beberapa anggota Mawar Putih yang paling setia padanya.
Tiba-tiba, Siska berhenti berlari. "Kalian teruslah maju! Aku akan menahan Bastian di sini!"
Alana terhenti sejenak. "Kenapa kau melakukan ini, Siska?"
Siska tersenyum pahit, wajahnya yang penuh luka tampak tulus untuk pertama kalinya. "Karena selama ini aku sudah menjadi pengikut orang-orang jahat seperti Raka. Sekali ini saja, aku ingin merasa menjadi orang baik. Pergilah, Alana! Selamatkan dirimu dan pria yang kau cintai itu!"
Siska berbalik dan mulai menembaki pasukan Bastian dengan sisa pelurunya. Alana, Kenzo, dan Satya terus berlari menuju ruang generator.
Di Ruang Generator Pusat
Suara mesin yang meraung keras memenuhi ruangan. Listrik bertegangan tinggi memercik di mana-mana. Alana berdiri di depan panel kontrol utama.
"Kak Satya, lakukan sekarang!" perintah Alana.
Satya menyambungkan laptopnya langsung ke mesin. "Ini akan menyebabkan pemadaman total di seluruh kota Jakarta, Al! Semua bukti digital pengkhianatan mereka juga akan terhapus jika aku tidak hati-hati!"
"Hapus semuanya!" teriak Alana. "Kita akan mulai dari nol! Aku tidak ingin ada satu pun jejak Adiwangsa yang kotor ini tersisa!"
Tepat saat Satya akan menekan tombol Enter, sebuah tembakan mengenai laptop Satya hingga hancur berkeping-keping.
"TIDAK!" jerit Satya.
Elvan muncul dari pintu samping, napasnya tersengal, senapan runduknya masih berasap. Ia telah berhasil mendobrak pintu otomatis Bastian. "Maafkan aku, Alana. Aku tidak bisa membiarkanmu menghancurkan Adiwangsa. Perusahaan ini adalah hidupku!"
Elvan mendekati Alana, matanya tampak liar. "Berikan bukunya, Al. Biarkan aku yang bernegosiasi dengan Wilhelm. Aku janji aku akan menjagamu di laboratorium."
"Kau tidak pernah melindungiku, Kak Elvan," Alana berkata dengan suara yang sangat dingin. "Kau hanya melindungi investasimu."
Alana menarik tuas manual generator itu.
"JANGAN!" teriak Elvan.
BLAAAARRRRRR!
Ledakan energi yang sangat besar melemparkan mereka semua ke lantai. Seluruh lampu di gedung itu, dan seluruh blok di wilayah itu, mati total. Kegelapan mutlak menyelimuti mereka. Dalam kegelapan itu, Alana merasa sebuah tangan menariknya.
"Alana, ikut aku!" Itu suara Kenzo.
Mereka merangkak di antara puing-mesin yang panas. Di kejauhan, terdengar teriakan marah Elvan dan Bastian yang saling menyalahkan dalam kegelapan. Perebutan kekuasaan mereka berakhir dengan kehampaan.
Subuh yang Kelabu
Saat matahari mulai menyembul di ufuk timur, Alana, Kenzo, dan Satya berhasil keluar dari jalur bawah tanah ke arah dermaga kecil yang tersembunyi. Mereka berantakan, berlumuran jelaga, dan penuh luka.
Namun, di dermaga itu, sebuah kapal pesiar mewah sudah menunggu. Di atas dek kapal, berdiri seorang pria paruh baya yang sangat berwibawa dengan jas putih bersih.
Tuan Besar Dirgantara.
"Selamat pagi, anak-anakku," ucap pria itu dengan suara yang menggelegar. "Kalian pikir kalian sudah menang dengan menghancurkan generator? Kalian justru baru saja mempermudah tugas saya untuk menjemput kalian tanpa gangguan dari kakak-kakakmu yang serakah itu."
Alana menatap pria itu, lalu menatap Kenzo. Ia menyadari bahwa kakak-kakaknya hanyalah rintangan kecil. Musuh yang sebenarnya, sang arsitek dari semua penderitaan ini, sedang berdiri di depan mereka dengan senyum kemenangan.
"Siap untuk babak selanjutnya, Alana?" tanya Tuan Besar Dirgantara sambil memberi isyarat pada pasukannya untuk mengepung dermaga.
Alana menggenggam buku harian ibunya erat-erat ke dadanya. "Perang ini baru saja dimulai, Tuan Dirgantara. Dan kali ini, aku tidak akan berhenti sampai namamu terhapus dari sejarah."