Mungkin ini jalan takdir atau rencana terselubung ku, ternyata tak perlu jauh aku mencari mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAMI ADRIELLA20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lamaran
Jam menunjukkan pukul 02:21 Mama sudah siap dengan segala perkaranya, aku lupa bahwa pagi ini kami mengadakan pertunangan, atau orang Batak bilang martupol. Berbagai perlengkapan untuk pertunangan sudah disediakan oleh Mama dan Papa. Kebahagiaan mereka tiada yang kurang, katanya inilah terakhir mereka menikah kan anak begitu juga dari pihak bang Dean.
Senyum ku tidak begitu jelas kata mereka, aku bukan tidak bahagia hanya saja masih terpikir apa ini tidak terburu-buru. Memang aku dan bang Dean ada kecocokan, cuman seperti terlalu cepat enggak sih untuk meresmikan hubungan.
Entah dimana keluarga bang Dean menginap kemarin, mereka juga sudah sampai di gereja bertepatan dengan keluarga ku, kami mengadakan tanda tangan dokumen awalnya, itulah ya namanya dadakan bahkan kelas pernikahan tidak kami ikut dengan jadwal yang ditentukan, intinya semua di persingkat.
Kami mengambil warna navy di pesta pertunangan, pembacaan riwayat kami dan sekedar pertanyaan tentang ke seriusan kami sudah cukup untuk acara gereja, lanjut dirumah.
Ada sedikit acara dibuat, intinya meletakkan kata-kata dan pemberian ulos tanda holong atau kasih. Dan penentuan sinamot kali ya atau mas kawin ku sesuai kesepakatan bahwa bang Dean mampu membayar Rp 150.000.000 untuk mas kawin kami.
Dengan acara tidak begitu megah, disaat Mama bersiap menerima setengah mas kawin ku. Entah kenapa Bou berdiri,seakan aku merasa dia ingin acara ini rusak. Melihat Ekspresi terkejut ku Abang ku yang pertama menarik bou dari belakang. Abang tau saudara Papa yang paling bungsu sifatnya tidak baik, sehingga cuman kami bertiga yang tau kejanggalan itu.
Saat acara dimana Boru, maksudnya. Saudara perempuan sang pemilik hajat contohnya bou dan saudari lainnya berkerja di pesta ku, bou tidak ada di tempat. Benar-benar tidak ada, Abang ku yang pertama sudah ada di tempat. Apa mungkin Abang marah dan mengusir nya.
Tunggu acara ini selesai, akan ada sebuah klarifikasi. Aku yakin ada keributan dibalik ini.
Cincin yang dipasang bang Dean bukan cincin pernikahan kami, ini masih cincin pertunangan, bou juga memberikan gelang emas lengkap dengan kalung nya, ia memelukku lagi dan lagi.
"Nanti bou datang lagi sama Abang ya." Mereka pamit pulang, satu rombongan besar mendadak hilang dari rumah.
Setelah rumah sepi melompong, Abang membuka kamar belakang yang ia kunci terlihat bou dengan muka marah menampar Abang, disana ia nampak enggak waras, benar-benar seperti orang gak waras. Dua anak nya yang masih kecil-kecil jadi ketakutan karena nya.
"Harusnya aku yang terima mahar Boru ku, bukan Mamak mu itu!," bentaknya ke Abang.
Abang mendorong nya menjauh dari tubuh Abang,"Malu lah kau! " Bentak Abang gak sopan sama dia, Abang memang kasar sifatnya, enggak pandang bulu kalau marah.
"Harusnya kau juga yang bayarin hidup anak ini " Abang menarikku ke tengah menghadap dia langsung.
Mama menangis, begitu juga Papa diam dalam malu yang mendalam. "Mentang-mentang mahal mahar adikku ini mahal kau mau ambil gitu, kau mau nya yang bayarin pesta ini ! Enggak tau malu kau! " Abang menarik paksa adik Papa kami keluar. Membawa barang-barang nya dari rumah beberapa saudara menghalangi nya, begitu juga anak-anak nya ikut menangis.
Istri Abang ku dan anaknya juga sudah ketakutan, untuk pertama kalinya aku dapat memeluk Abang, ku tangkap tangan bertolak pinggang itu, tetesan air mata mohon supaya dia tidak membuat keributan di pesta ku.
"Abang..." Aku jatuh dalam pelukan nya, ia nampak meneteskan air mata, air mata ke pedihan dalam kebencian. "Aku lah lihat bang, malu aku pesta ku ribut begini." Suasana tegang sedikit membaik. Abang masuk lagi ke dalam rumah, aku diam di ambang pintu menyaksikan wanita yang sebenarnya ibuku diperlakukan hina di pesta ku.
Tapi tiada batin tergerak melihat dia begitu, aku juga ikut pergi tidak memperdulikan dia. Masuk kedalam kamar ku masih dengan riasan dan baju hari bahagia ku. Kakak ipar ku di unjuk untuk menjadi teman cerita ku, mereka setia mendengar ketakutan ku. Begitu aku selesai bicara, Abang datang masih dengan wajah memerah ia duduk dekat pintu sementara aku tidur tengkurap dalam melihat sedang apa Abang dibelakang ku.
"Maaf ya Abang buat begitu, sebenarnya Wa kalau ditanya. Sayang gak aku sama mu, sayang kali tapi tau kau kan kenapa aku benci sama mu, satu karakter mu dua kau terlalu dimanja Papa. Aku tau enggak seharusnya aku begitu, enggak seharusnya juga ini terjadi kan wa...."
"Udahlah bang, biarkan berlalu. Sedih aku kalau terus-terusan begini."
Abang naik ke ranjang ku, meletakkan tangan nya diatas kepala ku. Ia menangis dalam diam, enggak tau apa yang perlu dia tangiskan sekarang.
Papa dan keluarga berunding, dan kalian tau apa lebih gong nya. Keluarga mantan suami Mama datang, katanya mereka lah pihak yang seharusnya menikahkan ku. Papa marah-marah buat kami para anaknya keluar dari kamar. "Enggak bisa kalian nuntut anak orang ! Disini ditulis, tanda tangan mamaknya juga terjelaskan bahwasanya dia telah menyerahkan anak ini kepada kami dan tidak akan ada pihak yang menuntut tentang dia dikemudian hari, jadi kenapa pula baru sekarang dibilang dia Boru Sirait. Kemana perundangan nya itu." Bentak Papa,baru kali ini aku melihat papa berdiri dengan gagah mengeluarkan suara singa untuk hak ku.
"Gini enggak ada pihak kami tanda tangan kan, dan memang masa itu hilaf kami selaku keluarga nya Boru kami. Tapi semakin besar kan semakin enggak terhilang kan identitas Boru Sirait kami itu. Lihat mukanya itu mirip kali ke mendiang adekku, ke bou nya juga." Kata laki-laki itu, mungkin saudara mantan suami Bou.
"Terus? Kenapa enggak dari dulu di cari keluarga Sirait ini? Kenapa harus ada dulu cerita anak haram ke dia, udah lah intinya kalian enggak usah banyak nuntut, do'akan aja dia. "Papa mengangkat sepuluh jari-jarinya kode permohonan supaya mendapatkan ketenangan.
Hatiku bertanya, emang dapat apa sih mereka dari uang mahar ku, toh itu nanti bakal habis untuk ke pesta ku, kok jatuhnya ibarat ngerebutin warisan ya.
"Bawa anak mu sama adek ini ke kamar aja, tidur aja kalian." Abang memegang bahu kami, dan di ikuti istri ke dua Abang ku kami istirahat dikamar. Meninggalkan obrolan tidak penting, aku menganggap nya tidak begitu penting.
Air mata bercucuran untuk sebuah kebenaran, bahkan untuk mengganti baju sudah tidak selera rasanya. Aku amat ngantuk, tapi sebelumnya aku harus mandi dulu. Mandi lebih awal ngantuk pun datang aku mulai memejamkan mataku.
Sampai istri kedua Abang ku membangunkan ku bersama Abang yang baru datang. "Dipanggil," kata mereka lembut. Aku keluar ternyata keluarga itu minta berpamitan kepada ku, dan mereka mengenalkan diri sebagai keluarga ku.
"Senang dengarnya kalau kau enggak di ambil marga Sirait, marga Manullang nya yang datang Boru. Aku bapak tua mu, bapak mu adekku. "Katanya mengelus rambut ku, aku duduk bersimpuh menghadap dia.
semangat, yah..
jan lupa mampir juga..
kita saling dukung, yah..
💪💪💪
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰