NovelToon NovelToon
Am I Really Daddy'S Daughter?

Am I Really Daddy'S Daughter?

Status: sedang berlangsung
Genre:Putri asli/palsu / TimeTravel / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ChikoGin

Rubellite Valtia hanyalah seorang "Putri Palsu" yang haus akan kasih sayang Kaisar. Namun, kesetiaannya dibalas dengan hukuman mati di tangan ayahnya sendiri.

Kembali ke masa lalu saat ia masih berusia delapan tahun, Rubellite bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun, setiap kali ia berusaha menjauh, bayang-bayang masa lalu dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantuinya: Mengapa Ayah begitu membenciku?

Di tengah konspirasi istana dan trauma yang mendalam, Rubellite harus memilih: Benar-benar pergi, atau sekali lagi mencoba menembus hati sang Kaisar yang sedingin es meski risikonya adalah kematian kedua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ChikoGin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9: Dongeng Harapan

Setelah pertemuan dengan kaisar saat itu, Rubellite diperintahkan untuk segera menjalani pelajaran etika dan beberapa pelajaran intelektual lainnya. Titah itu menandai akhir dari hari-harinya yang tenang, karena kini setiap gerak-geriknya akan diatur ketat atas perintah langsung dari Yang Mulia Kaisar.

Rubellite menghela napas saat tubuhnya terbaring di kasur. "Sepertinya mulai hari ini aku bakalan sering bertemu saudara-saudariku," gumamnya pelan.

Mengingat kembali kehidupan sebelumnya, Rubellite teringat Caspian, kakak laki-lakinya yang sebenarnya sangat baik. Namun, bayangan Scarlet langsung merusak suasana hatinya—kakak perempuannya yang licik itu selalu punya cara untuk menjatuhkannya.

Di saat Rubellite memiliki banyak pikiran, tiba-tiba terdengar suara pintu yang dibuka dengan keras. "Nona! Apa yang sedang Anda lakukan?!" ucap Anna dengan nada panik. Rubellite hanya menghela napas malas, "Anna... biarkan aku seperti ini sebentar saja."

DI LORONG ISTANA

Langkah Rubellite terhenti di tengah lorong menuju perpustakaan saat melihat sosok Valerius berjalan dari arah berlawanan.

"Tuan Valerius," sapa Rubellite pendek. Karena belum mulai belajar etika, sapaannya terdengar lebih santai dan jujur.

Valerius menghentikan langkahnya dan menatap Rubellite dengan sorot mata perhatian. "Nona Rubellite? Aku dengar jadwal pelajaranmu dimulai hari ini," sahutnya. Ia mendekat sedikit sebelum melanjutkan, "Bagaimana hubunganmu dengan Raze belakangan ini? Apa semuanya sudah baik-baik saja?"

"Sudah jauh lebih baik, Tuan. Terima kasih atas perhatian Anda," jawab Rubellite singkat.

Valerius tampak mengangguk lega, namun ia kembali bertanya dengan nada yang lebih rendah. "Lalu, bagaimana dengan yang lain? Apakah para pelayan masih ada yang berani menindasmu? Atau ada hal lain yang membuatmu tertekan?"

"Tidak ada lagi yang berani menyentuhku, Tuan Valerius. Semuanya sudah jauh lebih tenang."

"Baguslah kalau begitu," Valerius tampak sedikit bernapas lega. "Jangan ragu untuk mencari bantuan jika keadaan mulai terasa sesak bagimu. Aku tidak ingin melihatmu merasa kesulitan lagi."

Rubellite terdiam sejenak menatap wajah Valerius. Mengingat bantuan Valerius sebelumnya, ia merasa jarak di antara mereka terlalu kaku jika terus menggunakan bahasa yang sangat formal—lagipula, ia pun belum mulai diajar etika istana yang membosankan itu.

"Tuan Valerius," panggil Rubellite lagi, membuat langkah Valerius terhenti. "Bagaimana jika kita bicara tidak usah terlalu formal? Maksudku, tidak usah terlalu kaku seperti ini."

Valerius sedikit terkejut, matanya mengerjap pelan. Namun, tak lama kemudian senyum tipis yang tulus muncul di wajahnya. "Tentu, jika itu membuatmu merasa lebih nyaman... Rubellite."

"Terima kasih, Valerius," sahut Rubellite dengan nada yang jauh lebih ringan.

Setelah berpamitan, Rubellite akhirnya sampai di depan perpustakaan. Suara detak jam dinding di lorong istana terdengar seperti vonis mati bagi Rubellite. Sejak pertemuannya dengan Kaisar hari itu, dunianya yang bebas runtuh, digantikan oleh jadwal pelajaran yang mencekik leher.

Rubellite berdiri di depan pintu ganda besar berbahan kayu ek. Ia merapikan gaunnya yang terasa berat dan menyesakkan. Napasnya tertahan. Pelayan di sampingnya membukakan pintu dengan gerakan kaku, memperlihatkan sebuah ruangan luas yang dipenuhi rak buku setinggi langit-langit.

"Silakan duduk, Nona Rubellite. Kita tidak punya banyak waktu," suara dingin dari Sang Pengajar menyambutnya.

Di atas meja marmer, sebuah buku tebal bersampul kulit tua sudah terbuka. Rubellite duduk dengan punggung tegak—posisi yang dipaksakan oleh guru etikanya selama berjam-jam. Matanya jatuh pada barisan kalimat di halaman pertama buku tersebut. Judulnya tertulis dengan tinta emas: Asul-usul Cahaya Abadi.

Rubellite mulai membaca dalam hati:

"Dahulu kala, saat dunia masih diselimuti kegelapan, munculah seorang penyihir berambut putih yang dijuluki Bintang Abadi. Matanya yang biru memancarkan harapan yang tak pernah padam bagi siapa pun yang menatapnya. Hingga suatu hari, ia bertemu dengan seorang pria yang hancur di medan perang..."

Rubellite terhenti sejenak. Ia menyentuh ilustrasi penyihir bermata biru itu. 'Harapan yang tidak pernah padam?' batinnya sinis. Ia melirik tumpukan buku lain yang harus ia habiskan hari ini—etika, tata krama, silsilah keluarga, hingga politik.

Bagi orang luar, sejarah Valtia adalah dongeng tentang cahaya. Namun bagi Rubellite yang kini terperangkap di dalamnya, Valtia terasa seperti penjara indah yang dibangun di atas janji seorang penyihir kuno.

Suasana perpustakaan yang sunyi hanya diisi oleh suara kepakan sayap burung di luar jendela dan denting jarum jam yang terasa lambat. Rubellite masih menatap ilustrasi Bintang Abadi, mencoba mencerna ironi antara dongeng kepahlawanan itu dengan kenyataan hidupnya yang penuh intrik.

"Nona Rubellite," suara tajam sang pengajar memecah lamunannya. "Sejarah bukan untuk dikagumi gambarnya, melainkan untuk dipahami maknanya. Apa yang Anda tangkap dari paragraf pertama tadi?"

Sebelum Rubellite sempat menjawab, suara pintu perpustakaan yang terbuka dengan dentuman keras mengalihkan perhatian semua orang.

"Ah, jadi di sini rupanya adik kecilku yang malang berada," sebuah suara melengking yang sangat familiar bagi Rubellite terdengar dari arah pintu.

Rubellite tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa itu. Aroma parfum mawar yang menyengat mendahului langkah kaki yang dihentakkan dengan sengaja. Itu adalah Scarlet. Kakak perempuannya itu melangkah masuk dengan gaun merah menyala, tampak sangat kontras dengan ketenangan perpustakaan.

"Scarlet," batin Rubellite datar. Ia segera memasang wajah tanpa ekspresi, sangat berbeda dengan Rubellite yang dulu selalu gemetar ketakutan setiap kali Scarlet muncul.

"Aku dengar Ayahanda memberikanmu guru-guru terbaik," Scarlet berjalan mengitari meja belajar Rubellite, jemarinya yang lentik menyentuh buku sejarah kuno itu dengan jijik. "Tapi kurasa, memberikan buku setebal ini pada anak sepertimu hanya membuang-buang waktu. Apa kau bahkan bisa mengeja kata 'Valtia' dengan benar?"

Sang pengajar tampak ragu untuk menegur sang putri tertua, sehingga ia hanya membungkuk hormat. Namun, Rubellite hanya menatap Scarlet dengan tenang, sebuah tatapan yang membuat Scarlet sedikit mengernyit karena merasa ada yang berbeda.

"Terima kasih atas kekhawatiranmu, Kakak," jawab Rubellite dengan nada tenang namun dingin. "Pelajaranku baru saja dimulai, dan sejauh ini aku mengerti bahwa Valtia dibangun di atas 'harapan'. Sesuatu yang kurasa sangat berharga untuk kita semua, bukan?"

Scarlet tertawa sinis, matanya berkilat tajam. "Harapan? Jangan konyol. Di istana ini, harapan hanya milik mereka yang punya kuasa. Dan kau... kau hanyalah sebuah kerikil kecil yang kebetulan menarik perhatian Kaisar sesaat."

Scarlet mendekatkan wajahnya ke telinga Rubellite, membisikkan kata-kata yang di kehidupan lalu selalu membuat Rubellite menangis. "Nikmati waktumu di sini, Rubellite. Karena begitu kau melakukan satu kesalahan kecil dalam etika, aku sendiri yang akan memastikan Ayahanda membuangmu kembali ke sudut istana yang paling gelap."

Rubellite tidak bergeming. Alih-alih menangis, ia justru membalik halaman bukunya dengan tenang. "Kalau begitu, aku harus belajar dengan sangat giat agar tidak mengecewakanmu, Kakak."

 Pelajaran etika dimulai dengan siksaan fisik yang dibalut keanggunan. Sang pengajar, Madam Elara, tidak memberikan toleransi sedikit pun.

"Dagu sedikit lebih tinggi, Nona Rubellite. Ingat, seorang putri adalah pilar kekaisaran. Jika pilar itu miring, maka runtuhlah martabatnya," suara Madam Elara terdengar tajam, diikuti suara gesekan penggaris kayu di telapak tangannya.

Di atas kepala Rubellite, tumpukan beban itu terasa luar biasa berat: sebuah buku sejarah tebal, dan di puncaknya, sebuah apel merah yang licin. Setiap helai rambutnya terasa tegang menahan keseimbangan. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya, tapi ia tidak boleh bergerak. Satu gerakan salah, maka buku itu akan jatuh, dan hukuman akan berlipat ganda.

"Tahan selama tiga puluh menit lagi," perintah Madam Elara dingin.

Scarlet, yang masih berdiri di sana, melipat tangan di dada sambil menyeringai puas melihat penderitaan adiknya. "Hati-hati, Rubellite. Kalau apel itu jatuh, kurasa kau harus mengulangnya dari awal. Atau mungkin... kepalamu memang terlalu kosong untuk menopang ilmu pengetahuan?"

Rubellite mengabaikan ocehan Scarlet. Ia memejamkan mata sejenak, mengatur napasnya agar dadanya tidak naik-turun terlalu kencang. Ia membayangkan dirinya adalah patung marmer di taman istana—tak tergoyahkan, tak tersentuh.

Tiba-tiba, Scarlet sengaja menjatuhkan kipas tangannya ke lantai dengan suara BRAK yang keras tepat di samping kaki Rubellite, mencoba mengejutkannya.

Buku di kepala Rubellite sedikit goyang. Apel di atasnya mulai bergeser ke arah dahi.

"Ups, tanganku licin," ucap Scarlet tanpa rasa bersalah sedikit pun, matanya berbinar menunggu kehancuran Rubellite.

Namun, dengan gerakan yang sangat halus—hampir seperti tarian—Rubellite sedikit memiringkan lehernya untuk menyeimbangkan kembali beban tersebut tanpa membatalkan postur tegaknya. Apel itu berhenti tepat di tepi buku. Ia tetap tenang.

"Kakak Scarlet," ucap Rubellite tanpa mengalihkan pandangan dari titik fokus di depan. "Jika kau bosan menontonku, mungkin kau bisa membantu Madam Elara mengambilkan kipasmu yang jatuh. Bukankah etika seorang putri juga mengajarkan untuk tidak membuang sampah sembarangan?"

Wajah Scarlet memerah padam karena penghinaan halus itu. Sebelum Scarlet sempat membalas, Madam Elara berdeham keras. "Putri Scarlet, kehadiran Anda mulai mengganggu konsentrasi murid saya. Jika Anda tidak memiliki kepentingan lain, mohon biarkan sesi ini berlanjut."

Rubellite memberikan senyum kemenangan yang sangat tipis, hampir tak terlihat, sementara ia tetap berdiri kaku dengan buku dan apel yang masih kokoh di atas kepalanya.

1
Raine
heh bukannya si raze bela kamu ya, kok jadi marah ke si raze ?? trus mengulang waktu kan, tumbang cuman karna diketawain ck
★Xia★
🥳🥳🥳
★Xia★
semangat kak, ak selalu nunggu up nih tapi cuma 1bab aja, semangat terus biar bisa up banyak kedepannya
★Xia★: gppp kok, akan ku tunggu
total 4 replies
★Xia★
seru banget
★Xia★
semangat kakkkk😍😍😍😍
★Xia★: Sama-sama
total 2 replies
Zimbabwe Zimbabwe01
mantap bro walaupun agak kureng💪🤣🤣
Nico Ardi: baru belajar buat novel sih hhe👍
total 1 replies
Steven Stevennn
p
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!