Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
“Aku tanya sekali lagi, kau siapa?! Kenapa kau bisa ada di dalam ruangan pribadi Xavier dengan keadaan tanpa busana seperti ini!” seru Catherine.
Luna mendongak dari lantai, mengerjapkan matanya yang besar dengan polos. Alih-alih takut, ia malah tersenyum lebar hingga deretan giginya yang putih terlihat. “Perkenalkan, namaku Luna! Salam kenal, Manusia Berisik!” ucap Luna sembari cengengesan.
Mata Catherine hampir keluar dari tempatnya saat melihat jas hitam Xavier tersampir longgar di bahu Luna, menutupi tubuh gadis itu yang tampaknya tak memakai apa-apa lagi di baliknya. Amarahnya meledak seketika.
“Kenapa kau memakai jas milik Xavier?! Itu jas mahal, dasar gembel! Lepaskan sekarang juga!” Catherine melangkah maju, tangannya terjulur hendak merenggut paksa jas itu.
Namun, Luna jauh lebih lincah. Dengan gerakan refleks layaknya seekor kucing yang menghindari sergapan, ia melompat ke belakang meja kerja Xavier. “Jangan sentuh! Ini punya Sapir! Sapir sendiri yang memakaikannya ke Luna kok!”
“Sapir? Siapa itu Sapir?! Berhenti memanggil calon suamiku dengan sebutan aneh!” Catherine mengernyit, wajahnya yang penuh riasan tebal tampak semakin menyeramkan.
“Iya, Sapir! Manusia paling tampan yang baunya enak! Dia milik Luna sekarang!” jawab Luna mantap, menepuk dadanya sendiri dengan bangga.
Catherine tertawa sinis, meski hatinya terasa seperti terbakar. “Tidak mungkin! Xavier yang dingin dan anti-sosial itu tidak mungkin punya hubungan dengan gadis kampungan ini, kan? Mana dekil, kotor, dan bau! Murahan mirip ja-lang!” gumamnya kesal, meski suaranya masih terdengar jelas oleh indra pendengaran Luna yang tajam.
“Kau bicara apa sih? Luna tidak mengerti. Kenapa kau suka bicara sendiri seperti orang gila?” sahut Luna, memiringkan kepalanya dengan tatapan kasihan.
“Apa kau wanita panggilan Xavier?! Kau pasti dikirim oleh musuh untuk merayunya, kan?!” tanya Catherine dengan nada menuduh.
“Wanita panggilan itu apa? Apa maksudnya kalau Sapir panggil Luna, baru Luna jadi wanita?” tanya Luna benar-benar bingung.
“Berhenti berpura-pura bodoh! Aktingmu menjijikkan!” Catherine kehilangan kesabaran. Ia mencengkeram pergelangan tangan Luna dengan kuku-kukunya yang panjang. “Keluar dari sini! Sekarang!”
“Sakit! Lepaskan tangan Luna! Sapir bilang Luna harus tunggu di sini!” Luna meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Catherine yang mulai menyeretnya menuju pintu.
“Aku tidak peduli! Keluar, gadis miskin pembawa sial! Kau mengotori udara di kantor ini!” bentak Catherine sembari menarik Luna sekuat tenaga.
Mendengar kata ‘pembawa sial’, ingatan buruk Luna tentang hutan kembali muncul. Kilat amarah muncul di matanya. Tak terima dihina, Luna menunduk dan menggigit tangan Catherine dengan taringnya yang tajam.
“Argh! Gadis gila! Berani sekali kau menggigitku!” Catherine menjerit kesakitan, melepaskan pegangannya dan melihat bekas gigi di tangannya yang kini memerah.
Plak!
Tanpa peringatan, Catherine melayangkan tamparan keras ke wajah Luna. Tenaganya cukup kuat hingga Luna oleng dan kepalanya membentur sudut meja yang tajam.
“Sakit...” lirih Luna. Ia memegangi dahinya yang mulai membiru dan terasa berdenyut. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
“Jangan macam-macam padaku! Kau tidak sebanding denganku di mata Xavier! Kau hanya sampah!” maki Catherine.
Luna menyeka air matanya. Kesedihannya berubah menjadi keberanian liar. “Kamu jahat! Sapir tidak akan suka manusia jahat sepertimu!”
“Aku tidak peduli!” Catherine kembali maju, hendak menjambak rambut Luna untuk meluapkan kekesalannya yang tak beralasan. Ia kesal karena selama bertahun-tahun Xavier tak pernah menoleh padanya, namun gadis asing ini bisa memakai jas pribadi sang mafia.
Terjadilah adegan kacau. Luna tak tinggal diam, ia menerjang Catherine hingga keduanya berguling di lantai. Luna mencakar, sementara Catherine menarik rambut. Vas bunga pecah, dokumen penting beterbangan, dan kursi kerja Xavier terguling. Ruangan mewah itu kini lebih mirip medan perang.
“Oh my god! Apa yang terjadi di sini?!”
Pintu terbuka lebar. Gerry masuk dengan wajah ceria setelah selesai meeting, namun senyumnya langsung lenyap.
“Astaga! Nona Luna! Nona Catherine! Hentikan! Kalian bisa menghancurkan ruangan ini!”
Gerry mencoba melerai dengan masuk ke tengah-tengah perkelahian, namun sial baginya. Sebuah sepatu high heels milik Catherine mendarat di hidungnya, sementara cakar Luna tak sengaja menyayat pipinya.
“Aduh! Aduh! Wajah tampanku! Nona-nona, tolong berhenti!” teriak Gerry dramatis sembari memegangi hidungnya yang mulai mimisan.
“Gerry, siapkan mobil. Kita pulang sekarang. Meeting ini membuatku muak.” suara dingin Xavier terdengar dari ambang pintu.
Seketika langkah Xavier terhenti. Matanya menatap datar ke arah ruangannya yang sudah hancur total. Majalah de-wasa terbuka di lantai, vas bunga hancur, dan dua wanita sedang saling jambak dengan asistennya yang merangkak di bawah meja.
“Apa-apaan ini?!” seru Xavier dengan wajah murka.
Catherine langsung melepaskan jambakannya dan berakting lemas. “Xavier! Gadis gila ini menyerangku!”
Berbeda dengan Catherine, Luna berlari ke arah Xavier dengan dahi memar dan air mata yang mengalir. Ia memeluk pinggang Xavier erat-erat.
“Sapir... Manusia Berisik ini pukul Luna... sakit...” rengek Luna dengan terisak.
Xavier merasakan kemejanya basah oleh air mata Luna. Matanya yang tajam beralih ke dahi Luna yang memar, lalu ke arah Catherine dengan tatapan maut.
“Siapa yang memberimu izin menyentuh milikku, hah?!” teriak Xavier. Wajahnya memerah padam menahan amarah yang sudah di ubun-ubun.
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂
kan Xander jadi semakin dekat dengan Luna
hati hati Luna sama Xander itu
Masih gak menyangka Vier bisa semanis itu 🤭 Lun kamu bener bener ya berani kiss pipi Sapir , Luna hanya Sapir yang boleh kamu cium yang lain jangan🤭😂
Vier kondisikan perasaanmu 🤣 pelan pelan ajari Luna ya , guru terbaik❤️