NovelToon NovelToon
Istri Yang Diremehkan: Dokter Jenius

Istri Yang Diremehkan: Dokter Jenius

Status: tamat
Genre:Dokter Genius / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:650.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.

Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.

Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa, dan keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 11.

Sementara itu di kantor pusat grup investasi keluarga Angkasa, asistennya berdiri kaku di depan meja kerja atasannya.

“Tuan, ada sesuatu yang harus Anda lihat.”

Angkasa mengangkat wajahnya, Damar—asistennya menyerahkan tablet.

“File lama tentang kecelakaan keluarga Pratama muncul di server eksternal, seseorang mengakses arsip transaksi kompensasi.”

Sorot mata Angkasa berubah tipis. “Siapa yang mengakses?”

“Kami mendeteksi jejak dari jaringan internal Wijaya Group.”

Hening.

“Dan satu lagi, Tuan…” Damar menelan ludah. “Nama paman Anda ada di dalam transaksi tambahan pada transfer rekening ke Tuan Hendra Wijaya.”

Angkasa berdiri perlahan. “File itu sekarang ada di tangan siapa?”

“Kami belum tahu pasti. Tapi kemungkinan besar, Nona Arunika.”

Nama itu menggantung di udara, Angkasa berjalan ke jendela. Dia sudah mengetahui identitas Arunika yang sebenarnya, yaitu putri dari keluarga Pratama—pemilik yayasan Wijaya yang sebenarnya.

“Awasi semua pergerakan internal,” ucapnya datar. “Jangan ada yang menyentuh server lama tanpa sepengetahuanku.”

Tak lama kemudian, ponsel Angkasa bergetar di atas meja, nama Arunika muncul di layar. Ia menatapnya sejenak sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.

“Halo, Dokter?” sapanya tenang.

Suara Arunika terdengar dari seberang sana, datar namun jelas. “Bisakah kita bertemu, Tuan Angkasa?”

Angkasa terdiam sepersekian detik, seolah menimbang sesuatu di kepalanya. “Apa ini berkaitan dengan proyek?”

“Bukan,” jawab Arunika singkat. “Lebih kepada urusan pribadi.”

Angkasa menyandarkan punggungnya pada kursi. “Baik, kita bertemu di sebuah restoran. Satu jam lagi, bagaimana?”

“Tidak masalah, kirimkan alamatnya. Saya tutup teleponnya, permisi.”

Panggilan itu berakhir.

Angkasa menghela napas pelan, lalu menatap sang assisten yang berdiri tak jauh darinya.

“Sepertinya dia ingin membicarakan kecelakaan orang tuanya,” nada suaranya berubah lebih serius. “Damar, periksa lagi kasus kecelakaan itu. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi… dan kenapa perusahaan ini bisa dikaitkan dengan kejadian itu.”

“Baik, Tuan,” jawab sang asisten singkat. “Apakah Anda akan langsung meeting sekarang?”

Angkasa melihat jam di pergelangan tangannya. Meski sudah menjadwalkan pertemuan dengan Arunika, tetapi rapat dengan para direksi tidak bisa ditunda.

“Kita meeting sekarang, buat sesingkat-singkatnya. Setelah itu aku akan pergi ke alamat Arunika, aku akan menjemputnya langsung.”

“Baik, Tuan.”

Rapat berlangsung lebih cepat dari biasanya, Angkasa memimpin pembahasan secara langsung dan memotong hal-hal yang tidak penting. Bahkan selama rapat berlangsung, perasaannya tetap tidak tenang. Entah kenapa, ada firasat buruk yang mengganggunya.

Begitu rapat selesai, Angkasa langsung berdiri dari kursi kebesarannya. Ia mengambil jasnya lalu berjalan cepat keluar dari ruang kerja. Di wajahnya terlihat garis kekhawatiran yang jarang muncul.

Damar mengikuti di belakangnya.

Sebagai asisten yang sudah lama bekerja untuk Angkasa, ini pertama kalinya ia melihat atasannya terlihat gelisah seperti itu.

____

Satu jam kemudian, Arunika keluar dari apartemennya dengan langkah tenang. Malam mulai turun, lampu-lampu kota menyala lembut di sepanjang jalan. Ia masuk ke mobilnya, menyalakan mesin, lalu melajukan kendaraan keluar dari area parkir.

Pikirannya masih dipenuhi banyak hal—tentang file lama, tentang kecelakaan orang tuanya dua puluh lima tahun lalu, dan tentang pertemuannya dengan Angkasa nanti.

Namun beberapa menit setelah mobilnya melaju di jalan yang relatif sepi, sebuah sedan hitam muncul dari arah belakang.

Mobil itu awalnya terlihat biasa saja, sampai kemudian kecepatannya meningkat. Lampu jauhnya menyala terang, menyorot langsung ke kaca spion Arunika hingga membuat pandangannya silau.

Arunika mengerutkan kening. Ia mencoba berpindah jalur, tetapi sedan itu ikut bergerak. Terlalu dekat, dan ferlalu agresif.

Sebuah firasat buruk merambat di dadanya.

Sedan hitam itu tiba-tiba mempercepat laju, menyalip dari samping—lalu memotong jalurnya secara brutal.

Brak!

Benturan keras tak terhindarkan.

Mobil Arunika terlempar ke samping, menghantam pembatas jalan dengan suara dentuman yang memekakkan telinga. Airbag mengembang seketika. Kepalanya sedikit pusing, napasnya tercekat.

Sementara sedan hitam itu bersiap melaju lagi seolah ingin memastikan mobil Arunika benar-benar tak bisa bergerak. Namun sebelum mobil itu sempat melakukan apa pun—sebuah SUV perak meluncur dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi.

Druaakk!

SUV itu menghantam sisi sedan hitam dengan sudut keras. Benturan memantul, membuat sedan tersebut berputar liar di tengah jalan. Alarm mobil meraung keras di udara malam, beberapa detik berlalu dalam kekacauan.

Pintu SUV terbuka.

Angkasa keluar dari dalam mobilnya.

Ada goresan tipis di pelipisnya, darah sedikit mengalir, tetapi langkahnya tetap stabil. Matanya langsung mencari Arunika. Ia mendekati mobil perempuan itu dan membuka pintunya.

“Bisa keluar?” tanyanya singkat.

Arunika mengangguk pelan, meski tubuhnya masih sedikit gemetar. Ia melepaskan sabuk pengaman dan keluar dengan bantuan Angkasa.

Sedan hitam yang ditabrak SUV tadi akhirnya mundur dengan susah payah, mesin meraung sebelum mobil itu melaju pergi meninggalkan lokasi.

Angkasa menatap arah kaburnya mobil itu dengan sorot mata dingin. “Ini percobaan pembunuhan!”

Arunika masih mencoba menenangkan napasnya.

“Terima kasih,” ucapnya lirih.

Beberapa menit kemudian, suara mobil lain terdengar mendekat. Sebuah kendaraan berhenti mendadak di pinggir jalan.

Simon keluar dengan langkah cepat.

Begitu melihat mobil Arunika yang ringsek di bagian depan, ekspresinya langsung berubah.

“Arunika...!!!”

Ia berlari mendekat.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya cepat.

“Aku baik,” jawab Arunika singkat.

Tatapan Simon lalu beralih pada Angkasa yang berdiri di sampingnya.

“Kau yang menabraknya?” tanya Simon.

“Aku yang menghentikannya,” jawab Angkasa datar.

Nada keduanya tenang, tetapi udara di antara mereka terasa tegang.

Simon melangkah lebih dekat ke arah Arunika, seolah ingin memastikan jarak antara mereka dan Angkasa.

“Kau harus menjauh darinya,” kata Simon dengan nada serius. “Dia berbahaya! Kau juga tahu perusahaannya ikut terlibat dalam kematian orang tuamu.”

Angkasa hanya menanggapinya dengan senyum tipis.

Arunika mengerutkan kening. “Jangan terlalu ikut campur, Simon. Aku memang berencana bertemu Tuan Angkasa hari ini, dan tuduhan mu padanya... tidak berdasar.”

Simon menatap Arunika tajam, rahangnya mengeras sebelum ia berkata, “Aku masih suamimu, secara hukum. Dan aku menolak bercerai darimu sampai semua ini selesai. Lagi pula… sejak kapan kalian berdua punya urusan?”

Angkasa menatapnya tanpa emosi. “Tuan Simon pikir... status hukum bisa mengubah pilihan seseorang?”

Keheningan menggantung di antara mereka.

Arunika akhirnya menghela nafas pelan. “Sudahlah! Aku dan Tuan Angkasa memang ada hal yang harus dibicarakan.”

Ia tidak menjelaskan lebih jauh, tetap menutup rapat identitasnya sebagai dokter yang dipilih Angkasa untuk proyek itu.

Simon tetap menatap wajah wanita itu tanpa berpaling. “Aku tidak akan menyerah padamu,” katanya penuh tekad.

Arunika menatapnya balik, ekspresinya dingin.

“Aku sudah bilang ini terlambat, Simon. Aku tidak akan kembali padamu! Aku tidak pernah mencintaimu. Tidak dulu, tidak sekarang, dan tidak akan pernah di masa depan.”

Setelah itu ia menoleh pada Angkasa. “Dan Anda, Tuan Angkasa. Di antara kita hanya ada hubungan profesional, tolong jaga batasannya. Jangan ikut campur dalam urusan saya dan Simon.”

Angkasa menjawab dengan tenang.

“Aku memang tidak berniat ikut campur.” Ia menatap Arunika sejenak sebelum melanjutkan, suaranya tetap datar. “Aku hanya ingin berdiri di sampingmu. Kamu terlalu berharga… untuk pria seperti dia.”

Kata-kata Angkasa terdengar jelas bernada provokasi. Ia bahkan menatap Simon dengan senyum tipis—senyum yang lebih mirip ejekan.

Simon mengatupkan rahangnya kuat. Tatapannya mengeras saat melihat cara Angkasa memandang Arunika—penuh perhatian. Perasaan tidak suka langsung menyentak dadanya. Bagi Simon, tatapan itu bukan sekadar perhatian. Itu seperti klaim diam-diam, seolah Angkasa siap merebut Arunika darinya kapan saja.

1
syska
sᴇʟᴀʟᴜ sʏᴜᴋᴀᴀᴀ sᴀᴍᴀ ᴄᴇʀɪᴛᴀɴʏᴀ...
❤️❤️❤️
Anre1201
Hanya orang yang punya kuasa + punya uang yg bisa membuka ulang kasus berat, kalau rakyat biasa.. Hanya bisa pasrah + berdoa, minta keadilan dari TYM
®®: Konoha banget kan😌
total 1 replies
Anre1201
Orang cerdas / jenius, kadang buta saat melihat character seseorang
Deera__
Aiiihhh Othor Daebak... GK nyangka Veronica malah dijodohin ma Kenzo 🤣🤣🤣
Deera__
benar... dunia kalu dibikin serius monoton GK asikk... harus sedikit menggila makin asyiikk 🤣🤣🤣🤣🤣
Deera__
oalah rupanya Kenzo tidak berbahaya dan jahat... akuu minta maaf sering seudzon padamu Kenzo.. dan cepat nuduh ke kamu lagi.. aduh aku malu 🙈🙈🤭🤭
Deera__
nah kan benar... banyak yg penasaran, ingin tau, mendekat lalu kagum kemudian timbul rasa rakus dan iri dengki serta dendam.
Deera__
emak e wes gendeng dan pembunuh darah dingin psycho
Deera__
masih penasaran .. Kenzo ini dri keluarga mana????
Deera__
dia dalang dan pelaku semua masalah . Ati² kamu sedang diadu domba supanya membenci keluarga Wiratama dan wijaya
Deera__
dia ini dri keluarga mana ya???
Deera__
astaghfirullah ngeri merinding aku 😰😰 anak 18 taun jdi pembunuh, biasa aja setelah itu dan malh manusia dibuat eksperimen dn mainan. GILA ITU ORANG..
Deera__
gila manusia sinting psycho ... kek di China, negeri barat dan india itu ya.. tubuh dan organ dibuat eksperimen.
Deera__
jadi Pelaku ini namanya Kenzo... dn kejutannya ortu Veronika masih hidup cuma di sekap untk dijadikan babu meracik obat²an.. karna ortu Veronika juga orang hebat
Deera__
keknya dia sama jenius kek Arunika dan ortu Arunika. Cuma dia GK suka ada orang yang menyaingi dia. makanya dia akan melenyapkan semua orang yg menghalangi langkah hidup dia. DENGAN KOTOR DAN KEJAM
Deera__
dia sangat kenal banget dan dekat ma arunika dan orangtua Arunika. apakah dia salh satu sahabat atau rekan ortu Arunika yg berkhianat?
Deera__
Arunika jelas utama yg di cari musuh bahkan orang yg iri pdanya bakal makin banyak 🤣🤣🤣
Deera__
super jenius keturunan emak dan bapaknya ini 😍😍😍😍😍😍😍
Deera__
nah loh perlu dipertanyakan dan dites ulang dia 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Deera__
si mata batin yang tajam dan instingnya kuat . peka akan sekitar /Good//Good//Good//Smile//Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!