Marcus, seorang pemuda dengan hidup yang berantakan, tewas secara konyol hanya karena terpeleset oleh sampah di apartemennya sendiri.
Namun takdir justru mempermainkannya. Alih-alih pergi ke akhirat, ia malah terbangun di tubuh Leon Von Anhart, seorang karakter villain dari novel yang baru saja ia maki-maki habis-habisan.
Menjadi Leon adalah mimpi buruk.
Selain reputasinya sebagai sampah masyarakat yang dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri, tubuh ini juga menyimpan kondisi yang mengenaskan: gagal jantung kronis yang membuatnya divonis hanya memiliki sisa hidup 365 hari.
Dengan waktu hidup yang tinggal satu tahun, reputasi yang sudah hancur, serta sebuah layar sistem aneh yang memaksanya berbuat baik demi bertahan hidup, Marcus terpaksa melawan takdirnya sendiri.
Masalahnya, dunia ini tidak membutuhkannya sebagai pahlawan.
Dunia ini hanya membutuhkan Leon, seorang villain yang kelak akan menjadi monster sekaligus ancaman bagi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Younglord, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
Leon muncul dari dalam dengan penampilan yang berantakan. Rambut putihnya acak-acakan, matanya tampak mengantuk, dan kemejanya terbuka lebar tanpa dikancingkan, memamerkan dada bidangnya yang pucat.
"KYAAA!" Eiryn sontak berteriak, kaget bukan main. Ia langsung berjongkok dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Apa? Kenapa?" tanya Leon bingung sambil mengucek matanya.
"Pa... Pakaian Anda! Tolong kancingkan!" seru Eiryn dengan wajah yang sudah semerah tomat.
Leon menunduk, melihat dadanya sendiri yang terekspos. "Ah, maafkan aku," ucapnya santai sambil mulai mengancingkan kemejanya satu per satu.
"Ti-tidak! Ini salah saya karena tidak mengetuk lebih dulu!" Eiryn masih menunduk, tidak berani mendongak.
Leon menggelengkan kepala melihat tingkah pelayan ini. "Ngomong-ngomong, kenapa kau kemari?"
Eiryn perlahan menurunkan tangannya, meski matanya masih melirik ke arah lain. "Saya... saya sudah menyiapkan makan malam untuk Anda, Tuan."
"Padahal itu tidak perlu," sahut Leon pendek.
"Apa maksud Anda? Tentu saja makan itu perlu! Jika Anda melewatkan waktu makan, kesehatan Anda akan—" Eiryn mulai mengomel tanpa sadar, melupakan rasa takutnya sesaat.
Leon berhenti melangkah, berbalik, dan dengan refleks menutup mulut gadis itu dengan telapak tangannya. "Baiklah, baiklah." ucapnya memotong omelan Eiryn.
Eiryn mematung. Sentuhan dingin di bibirnya membuat jantungnya berdegup kencang karena kaget.
Leon melepaskan tangannya dan berjalan menuju tangga. "Gadis yang aneh," gumamnya pelan.
Di meja makan sederhana, mata Leon membelalak melihat deretan piring yang tersaji. Ada sup hangat, daging panggang yang harum, dan beberapa tumisan sayuran segar.
"Wah, banyak sekali. Apa kau benar-benar memasak ini sendiri?" tanya Leon tak percaya.
"Ya, Tuan. Silakan dinikmati," jawab Eiryn sambil berdiri kaku di samping meja.
"Aku tak yakin bisa menghabiskan semuanya sendirian," gumam Leon. Ia melirik Eiryn yang hanya berdiri diam. "Kenapa berdiri saja? Duduklah. Kita makan bersama."
"Ah, itu... itu tidak perlu. Silakan Tuan saja."
"Jadi kau hanya akan berdiri di sana dan melihatku makan?" tanya Leon sambil mengangkat sebelah alisnya.
Eiryn tampak bingung dan serba salah.
"Serius, aku tidak akan nyaman jika begitu," tambah Leon.
"Ma-maaf. Kalau begitu saya akan pergi ke dapur dan—"
"Bukan itu maksudku. Kau ikut makan juga. Cepatlah duduk."
"Tapi, Tuan..."
"Cepat duduk," perintah Leon dengan nada yang tidak bisa dibantah, namun tidak terdengar kasar.
"Ba-baiklah." Eiryn akhirnya duduk di ujung meja dengan sangat perlahan, seolah kursinya terbuat dari duri.
Leon mulai mengambil sesendok sup dan memasukkannya ke mulut. Sesaat kemudian, matanya kembali membelalak. "Wah! Apa ini?!"
Eiryn tersentak kaget. "Tuan? Kenapa? Apa tidak enak?"
"Tidak... ini... ini enak sekali! Luar biasa!" seru Leon. Rasanya sangat kaya dan hangat, seolah meleleh di lidahnya. "Hah... sudah lama sekali aku tidak memakan makanan seenak ini."
Karena biasanya di dunia aslinya, setiap hari dia hanya makan mie instan saja, dan ini pertama kalinya ia merasakan makanan senikmat ini.
Leon terus menyantap makanannya dengan lahap, lalu menatap Eiryn sambil mengacungkan jempolnya. "Masakanmu ini benar-benar luar biasa!"
Eiryn tertegun. Ia menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan senyum lebarnya yang tidak bisa dibendung. "Te-terima kasih, Tuan," bisiknya tulus.
[+2 Poin]
Leon menoleh ke arah jendela notifikasi yang muncul di sudut matanya, lalu beralih menatap Eiryn yang tampak sangat senang hanya karena sebuah pujian.
Tanpa sadar, sudut bibir Leon terangkat. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tulus.
Keesokan harinya, cahaya matahari pagi masuk menembus celah-celah jendela kamar yang kusam. Leon terbangun, meregangkan tubuhnya yang masih terasa sedikit kaku, lalu beranjak turun ke lantai bawah.
Saat menuruni tangga, langkahnya mendadak terhenti. Matanya terpaku pada sosok Eiryn yang sedang sibuk mengepel lantai.
Gadis itu bergerak lincah, lekuk tubuhnya terlihat jelas saat ia membungkuk menyeka sudut-sudut ruangan.
Dalam balutan gaun pelayan yang sederhana, Eiryn tampak begitu menggoda di mata seorang pria normal.
Leon terpana sejenak. Jantungnya berdegup lebih kencang—bukan karena penyakitnya, tapi karena insting purba tubuh Leon yang memang terkenal bejat.
Sadar pikirannya mulai melantur, Leon segera mengangkat tangannya di depan dada seperti seorang biksu. "Amitaba... Amitaba..." gumamnya komat-kamit.
"Ketika ajal sudah mendekat, jangan sampai tergoda dan tersesat oleh nafsu," bisiknya sambil memejamkan mata rapat-rapat. Namun, dasar tubuh sialan, satu matanya tetap memaksa terbuka sedikit untuk mengintip.
"Ugh, sialan! Sulit sekali mengendalikan hormon tubuh bajingan ini!" rutuk Leon dalam hati sambil memukul pelipisnya.
Eiryn yang menyadari kehadiran seseorang segera menoleh. "Ah, Tuan! Anda sudah bangun?" ucapnya ramah dengan wajah yang sedikit berkeringat namun tampak segar.
"Ekhem!" Leon berdeham keras, berusaha menjaga wibawa sambil tetap mempertahankan posisi tangannya yang aneh.
Eiryn mengerutkan kening, merasa heran melihat tuannya bersikap seperti sedang merapal mantra suci. "Makanan Anda sudah siap, Tuan. Silakan dimakan selagi hangat."
"Benarkah?" Mata Leon seketika berbinar. Ekspresi seriusnya runtuh dalam sekejap. Ia berlari kecil ke arah meja makan dengan wajah penuh nafsu makan.
Begitu tudung saji dibuka, uap panas yang membawa aroma rempah langsung menggelitik hidungnya. "Waaah! Terlihat lezat sekali!" serunya dengan air liur yang hampir menetes.
Ia menoleh ke arah Eiryn dengan antusias. "Kau yang terbaik!"
Eiryn hanya tersenyum simpul melihat reaksi tuannya. Sambil terus bekerja, ia memperhatikan Leon yang makan dengan sangat lahap. Apakah rumor itu salah? Dia sama sekali tidak terlihat mengerikan seperti yang dikatakan para pelayan senior di mansion, pikirnya dalam hati.
Setelah selesai makan, Leon tidak langsung kembali ke kamar. Ia justru mengambil sapu yang tergeletak di pojok ruangan dan mulai menyapu lantai yang belum selesai dibersihkan Eiryn.
"Tuan! Ku-mohon, jangan lakukan ini!" Eiryn berlari menghampiri, mencoba merebut sapu itu dengan wajah panik. "Ini pekerjaan saya!"
"Biarkan saja, Eiryn. Aku ingin bergerak sedikit," jawab Leon sambil terus mengayunkan sapu dengan kaku meskipun ia merasa kelelahan karena vitalitas dan stamina yang rendah.
Leon berhenti sejenak, menatap sapu di tangannya. Ia bertekad, sebelum kematian menjemputnya dalam sisa waktu yang singkat ini, ia harus melakukan sesuatu yang berguna.
Meskipun perbuatan baiknya tak akan bisa menebus semua dosa yang pernah dilakukan pemilik tubuh ini, setidaknya ia ingin mati sebagai orang yang berbeda.
"Tapi Anda adalah seorang bangsawan! Jika Duke tahu saya membiarkan Anda menyapu, saya bisa dihukum!" Eiryn mencoba menghalangi jalan Leon.
"Duke tidak ada di sini, jadi diamlah," potong Leon santai.
Namun Eiryn terus berusaha menghalangi. Setiap kali Leon hendak memindahkan kursi, Eiryn sudah lebih dulu berlari untuk mengangkatnya. Setiap kali Leon ingin mengambil ember air, Eiryn nyaris berlutut memohon agar ia tidak melakukannya.
"Tuan, tolong duduk saja! Saya jadi merasa tidak becus bekerja!
"Eiryn, biarkan aku membantu," ucap Leon dengan nada rendah namun serius. "Anggap saja ini olahraga pagi agar aku tetap sehat."
Eiryn terdiam, menatap mata Leon yang tampak begitu tenang. ia pun membiarkan tuannya itu melanjutkan pekerjaannya.
Waktu berlalu hingga matahari mulai tergelincir ke arah barat. Di kebun belakang rumah yang tadinya gersang, Leon tampak sibuk.
Peluh membasahi kemejanya hingga mencetak jelas bentuk tubuhnya. Ia sedang mengayunkan cangkul, mencoba membuka lahan untuk menanam bibit.
"Tuan! Berhentilah sebentar, aku membuatkan biskuit dan teh hangat untukmu!" panggil Eiryn dari pinggir kebun.
Leon menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju, lalu berjalan menghampiri Eiryn. Ia duduk di sebuah kayu besar yang dijadikan bangku darurat.
Eiryn memperhatikan penampilan Leon yang berantakan. Wajahnya memerah karena panas, dan napasnya sedikit memburu. "Tuan, bisakah Anda berhenti sekarang? Anda terlihat sangat lelah," ucapnya cemas.
"Kenapa? Aku justru merasa senang melakukan ini," jawab Leon sambil mengunyah biskuit buatan Eiryn. Gurih dan manis, perpaduan yang pas untuk lidahnya yang kering.
"Tapi kondisi Anda..."
"Tenang saja, aku baik-baik saja," potong Leon. Ia menyandarkan tubuhnya, menatap langit sore yang mulai berwarna jingga. "Oh iya, Eiryn... bolehkah aku meminta satu hal padamu?"
Eiryn tertegun, ia meletakkan nampan tehnya. "Apa itu, Tuan?"
"Andai saja suatu saat nanti aku pergi jauh..." Leon menjeda kalimatnya, matanya menerawang. "Bisakah kau tetap merawat kebun yang baru kubuat ini? Dan setelah tanaman ini berbuah, bisakah kau berikan hasilnya kepada anak-anak terlantar di desa ini?"
Eiryn mematung. Dadanya mendadak terasa sesak. "Pergi? Memangnya Anda akan pergi ke mana, Tuan?"
"Hanya seandainya saja," ucap Leon sambil tersenyum tipis. Ia mengulurkan tangannya, mengacak rambut Eiryn pelan dengan gerakan yang sangat lembut. "Bisakah kau melakukannya untukku?"
Eiryn terdiam. Ia menatap Leon dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Kenapa tuannya bicara seolah-olah dia tidak akan punya waktu lagi? Kenapa suaranya terdengar begitu pasrah namun tulus?
Leon mengembuskan napas panjang lalu berdiri kembali. "Baiklah, waktunya bekerja lagi."
"Setidaknya sebelum benar-benar pergi, aku harus meninggalkan sesuatu yang baik di dunia ini," gumam Leon sangat pelan, hampir seperti bisikan pada angin.
Eiryn hanya terpaku di tempatnya. Ia melihat punggung Leon yang mulai menjauh dan kembali menggali tanah dengan sekopnya. Saat itulah, sebuah ingatan pahit melintas di kepala Eiryn.
Beberpa hari yang lalu saat ia baru masuk dan menjadi pelayan rendah di mansion utama, ia pernah mencuri dengar pembicaraan para pelayan senior.
Mereka bilang, Tuan Muda Leon memiliki penyakit jantung mematikan yang tidak bisa disembuhkan. Katanya, umurnya tidak akan lama lagi.
"Jangan-jangan..." Eiryn menutup mulutnya dengan telapak tangan. Air mata mulai menggenang.
Ia berpikir bahwa Leon melakukan semua ini karena dia tahu ajalnya sudah sangat dekat. Leon sudah pasrah dan ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan menjadi orang baik.
Tanpa sadar, Eiryn berlari kencang ke arah kebun.
Grep!
Ia memeluk punggung Leon dari belakang dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di sana.
Leon kaget bukan main. Sekop di tangannya hampir saja terlepas. "E-Eiryn? Ada apa?"
"Jangan bicara seolah-olah Anda akan pergi, Tuan!" suara Eiryn pecah, ia mulai terisak. "Tolong, jangan menyerah! Saya tahu Anda sedang menahan sakit, tapi jangan pernah berkata seperti itu lagi."
Eiryn mempererat pelukannya, seolah takut jika ia melepaskannya, Leon akan menghilang saat itu juga.
"Dunia ini tidak adil pada Anda, tapi kumohon... bertahanlah! Jika Anda pergi Siapa yang akan memuji hasil kebun ini nanti? Anda harus ada dan melihat kebun ini berbuah, jadi Anda harus tetap di sini untuk melihatnya!"
Leon terpaku. Ia bisa merasakan air mata hangat Eiryn menembus kemeja tipisnya.
"Tuan Leon yang saya kenal sekarang bukan orang jahat. Anda orang baik! Orang baik harus hidup lama!" tangis Eiryn semakin pecah. "Jadi, tolong... jangan berhenti berjuang. Jangan biarkan penyakit itu menang. Saya akan merawat Anda, saya akan memasak apa pun yang Anda suka, asalkan Anda tidak menyerah pada hidup Anda sendiri!"
"Kumohon..."