“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."
Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.
Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: KEAJAIBAN 5G DAN KEBANGKITAN SANG PENGUASA
Sebelum memulai penyiksaan fisik yang telah ia rancang sendiri, Rimba Dipa Johanson memutuskan untuk membekali aspek lain dalam dirinya. Di tengah aula yang luas, ia duduk bersila sejenak, membiarkan satu jalur pikirannya berselancar di dalam luasnya Perpustakaan Mental. Ia tidak ingin menjadi sekadar mesin tempur yang hanya tahu cara menghancurkan. Di lubuk hatinya yang paling dalam, ia masihlah pemuda desa yang lembut.
"Jika aku punya kekuatan sebesar ini, aku juga harus punya cara untuk menyembuhkan," batinnya.
Ia akhirnya menemukan sebuah modul kuno yang bersinar hijau lembut: "Risalah Sembilan Tingkat Pengobatan Surgawi". Modul ini bukan hanya berisi teori medis, melainkan cara memanipulasi Qi untuk meregenerasi sel dan pembuatan obat-obatan herbal yang kompleks. Tanpa membuang waktu, ia membagi kesadarannya. Satu pikiran mulai melahap teori pengobatan, sementara pikiran utamanya kembali ke dunia fisik untuk menghadapi neraka yang telah ia ciptakan.
"Mulai!" teriak Rimba tegas.
Dinding aula indoor seketika menyala, berubah menjadi layar monitor raksasa yang menampilkan siluet manusia dalam posisi berdiri tegak yang sempurna. Di sampingnya, nampak proyeksi tubuh Rimba sendiri. Perintah di layar sangat jelas: Sinkronkan tubuhmu dengan siluet.
Begitu Rimba menempatkan dirinya dengan presisi pada bayangan itu, suara dengung mesin dimensi terdengar. Indikator gravitasi di layar mulai bergerak cepat. 1G... 2G... 3G... dan berhenti tepat di angka 5G.
"Ugh!" Rimba mengerang. Tubuhnya seolah dihantam oleh balok beton dari segala arah. Berat badannya yang hanya 70 kilogram kini terasa seperti 350 kilogram. Tulang besi hitamnya berderak menahan beban, sementara otot-otot kakinya mulai bergetar hebat.
Di layar tertulis misi pertama: Bertahan dalam posisi presisi selama 5 menit.
Belum sempat detik ke-40 terlewati, kaki Rimba goyah. Ia keluar dari batas siluet.
GAGAL! ULANGI DARI AWAL! tulisan merah besar berkedip di layar.
Rimba menggertakkan gigi. Ia mencoba lagi. Gagal lagi. Berkali-kali ia terjerembab, dadanya sesak karena paru-parunya pun harus bekerja lima kali lebih keras hanya untuk mengembang. Hingga akhirnya, Qi di tubuhnya terkuras habis. Ia terjerembab ke lantai aula, tidak mampu lagi mengangkat kelopak matanya, dan langsung jatuh pingsan dalam kondisi gravitasi 5G yang menekan seluruh organ tubuhnya.
---
Saat terbangun, Rimba menyadari bahwa ia telah tertidur selama beberapa jam di bawah tekanan 5G tersebut. Tubuhnya terasa remuk, namun ia tidak menyerah. Ia menatap langit-langit aula dengan tatapan tajam.
"Aku sendiri yang memilih jalan ini! Jika aku tidak bisa melewati tekanan ini, biarlah aku hancur di sini! Toh, aku anak yatim piatu... tidak akan ada yang merasa kehilangan jika aku lenyap!" teriaknya, meluapkan seluruh emosi yang selama ini ia pendam.
Motivasi gelap itu membakar semangatnya. Dengan gertakan gigi yang nyaris mematahkan rahang, ia bangkit lagi. Gagal adalah kawan akrabnya sekarang. Namun, sebagai anak IT, ia menggunakan logika step-by-step. Jika ia tidak bisa langsung 5 menit, maka ia harus maju satu detik lebih lama dari catatan waktu sebelumnya.
Dua hari berlalu di dalam dimensi. Akhirnya, Rimba mampu berdiri kokoh tanpa getaran sedikit pun selama 5 menit di bawah beban 5G.
Layar berganti. Siluet baru muncul: Posisi Kuda-Kuda Rendah. Kaki dibuka lebar, paha rata dengan lantai membentuk sudut 90 derajat, dan tangan direntangkan ke samping.
"Baru juga15 detik, pahaku rasanya seperti disiram minyak mendidih!" gerutu Rimba. Pangkal lengannya nyut-nyutan, namun ia terus memecahkan rekor waktunya sendiri. Tidur di lantai aula, bangun, berlatih lagi. Tiga hari kemudian, perintah kedua berhasil ditaklukkan.
---
Selama latihan Spartan ini, Lara rutin datang membawakan makanan dan minuman berenergi tinggi. Setiap kali Lara muncul, Rimba selalu menyempatkan diri untuk menjahili gadis itu—entah dengan godaan ringan atau sekadar meminta disuapi dengan alasan "tanganku lumpuh kena gravitasi". Lara hanya bisa merah padam, namun ia tetap melayani Rimba dengan penuh perhatian.
Cesar pun tidak ketinggalan. Serigala hitam itu selalu datang menemani, matanya menatap Rimba dengan kerinduan yang dalam, seolah ingin ikut memikul beban yang ditanggung tuannya.
Memasuki minggu kedua, intensitas latihan meningkat. Gerakan ke-3 hingga ke-5 melibatkan serangan dan tangkisan. Di sinilah layar Aether mengajarkan Rimba cara mengalirkan Qi secara refleks.
"Jangan gunakan otakmu untuk memerintah Qi! Biarkan Qi-mu bergerak sebelum pikiranmu selesai berencana!" teriak perintah di layar.
Baru pada hari ketujuh, pengerahan Qi Rimba menjadi otomatis. Gerakannya tidak lagi kaku. Ia mulai bisa menendang, memukul, dan melompat di bawah tekanan 5G seolah-olah ia sedang menari di udara tanpa beban.
---
Dua bulan berlalu di dalam dimensi yang terisolasi itu. Rimba telah menyelesaikan tujuh gerakan dasar secara berulang-ulang hingga mencapai tahap spartan. Tubuhnya kini nampak lebih liat, otot-ototnya kecil namun sekeras kawat baja.
Tiba-tiba, saat ia sedang melakukan rangkaian pukulan berantai, suara krak yang renyah terdengar dari pusat Dantiannya. Rasanya seperti ada kaca yang pecah di dalam perutnya, melepaskan aliran energi yang jauh lebih panas dan besar dari sebelumnya.
"PERINGATAN: TEROBOSAN KULTIVASI TERDETEKSI. SEGERA MENUJU ALTAR!"
Rimba segera melompat ke altar batu hitam. Ia bermeditasi, menyerap luapan tenaga yang bergejolak. Tak lama kemudian, suara ledakan teredam terjadi di dalam tubuhnya. Tenaga besar merembes keluar, menciptakan tekanan udara yang menggetarkan ruangan.
"Segera masuk ke telaga penyelarasan!" perintah Lara yang tiba-tiba sudah berdiri di pinggir aula.
Rimba segera terjun. Di dasar telaga, ia merasakan tenaga barunya mulai memadat dan menyatu dengan setiap serat ototnya. Tiga jam kemudian, ia mengambang. Sekali lagi, air telaga menjadi keruh oleh sisa kotoran tingkat rendah yang dibuang dari tubuhnya.
Rimba berjalan keluar dengan senyum tipis di bibirnya. Ia merentangkan tangan, mengencangkan otot tubuhnya, dan berteriak singkat. BOOM! Gelombang tenaga transparan keluar dari tubuhnya, membentuk lidah api aura yang membara di sekujur kulitnya.
Secara otomatis, sistem gravitasi 5G mati.
Rimba melangkah di atas lantai marmer, dan ia merasa seolah-olah ia bisa terbang. Saat ia mencoba melompat kecil, tubuhnya melesat setinggi lima meter, hampir menyentuh langit-langit aula yang tinggi.
"Hahaha! Luar biasa!" Rimba tertawa lepas.
Di saat yang sama, Cesar berlari menghampiri. Ajaibnya, saat Cesar melompat untuk menyambut Rimba, serigala itu juga melesat setinggi lima meter di udara. Mereka berdua melayang bersama sebelum mendarat dengan ringan.
Rimba terkejut. "Cesar? Kamu juga jadi kuat?"
Lara berjalan mendekat dengan senyuman yang jarang diperlihatkan. "Cesar terhubung denganmu melalui kontrak darah, Rimba. Saat tingkat kultivasimu naik, kekuatannya juga meningkat secara otomatis sebagai pelindungmu."
Rimba tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Ia langsung merangkul leher Cesar dan ikut melompat-lompat gembira bersama serigala itu. Lara hanya berdiri memandang mereka, matanya memancarkan rasa kagum dan kasih sayang yang mendalam pada pemuda yang baru saja membuktikan bahwa kerja keras mampu melampaui segala batasan takdir.