Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.
Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 4 - Dingin
Steven memandang rumah berpagar biru itu cukup lama. Bukan apa - apa, dia hanya merasa tidak asing dengan pemukiman dan rumah yang ada di hadapannya itu.
"Ini rumahku." Alexa memberi tahu tanpa ditanya.
"Aku akan aman di sini?" Steven bertanya berusaha mencairkan suasana.
Alih - alih menjawab, Alexa justru menariknya masuk begitu saja ke dalam rumah itu. Steven cukup heran karena Alexa membuka pintu rumah dengan sangat hati - hati seolah tidak ingin memberitahu kedatangannya pada siapa pun.
Tidak hangat. Bahkan sangat dingin. Itulah yang dirasakan Steven saat menginjakkan kakinya di lantai rumah itu.
Alexa kemudian menutup pintu.
"Kayaknya... aku de javu deh," gumam Steven mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan rumah itu.
Dia benar - benar tidak asing dengan kondisi di dalam rumah itu. Hanya saja, keyakinan dan ingatannya seolah memudar saat merasakan hawa dingin yang tidak menyenangkan di sana.
"Masuk," kata Alexa, pelan—hampir berbisik.
Steven menoleh dan mendapati Alexa sudah berdiri memegang pintu lemari kayu tua yang ada di sudut ruangan.
"Apa?" Steven tak mengerti maksud Alexa.
"Masuk ke sini!" Alexa menunjuk ke lemari itu.
Tak ada reaksi dari Steven yang hanya memandang Alexa dengan mulut terbuka membuat Alexa langsung menghampiri Steven dan menarik tangannya mendekat lemari itu.
"Kamu sembunyi di sini," katanya terlihat cukup panik memandang ke belakang seolah memastikan tidak ada yang akan melihat mereka.
Ada banyak sekali pertanyaan di benak Steven yang ingin dia lontarkan pada Alexa. Tapi rasanya dia tidak mampu melontarkan kata - kata apa pun saat melihat jelas ekspresi wajah Alexa dari dekat.
Dia—ketakutan.
Jelas sekali dari matanya, bahkan Steven bisa merasakan ketakutan yang bahkan dia sendiri tidak tahu apa alasannya itu.
BUGH!
Terdengar suara benturan keras dari salah satu ruangan yang ada di rumah itu membuat Steven terkejut.
Sementara Alexa, tubuhnya menegang seketika, kedua matanya membulat sempurna menunjukkan berapa besar rasa takut yang dirasakannya. Tangannya yang masih menggenggam lengan Steven menjadi dingin—gemetaran.
Steven kemudian di dorong paksa oleh Alexa untuk masuk ke dalam lemari itu.
"Jangan keluar, jangan bersuara," kata Alexa serius.
Steven menutup mulutnya dan mengangguk berusaha meyakinkan Alexa kalau dia akan menuruti perintah Alexa.
Pintu lemari ditutup perlahan oleh Alexa agar tidak menimbulkan bunyi akibat gesekan engsel pintu yang sudah berkarat.
Steven merasakan pengap dan tidak nyaman berada di dalam lemari itu. Sebenarnya dia pikir, tanpa perlu masuk ke dalam lemari pun, dia sudah aman dari kejaran penggemarnya.
Dia hanya sebatas tidak mampu menolak Alexa. Entah kenapa.
"M4TI SAJA, KAMU!"
Kini suara berat teriakan seorang pria terdengar jelas menusuk telinga Steven.
Rasa penasaran Steven dengan apa yang terjadi di luar sana membuatnya mencari celah - celah kayu yang lemari untuknya melihat ke luar.
Namun yang dia lihat hanya Alexa yang berdiri mematung membelakangi keberadaannya dengan kedua tangan mengepal. Gadis itu seperti melihat hantu sampai - sampai tidak bergerak sama sekali. Karena itulah, Steven mencoba memperluas pandangannya melalui celah kecil itu.
Matanya menyipit berusaha memfokuskan penglihatannya.
"Hah?!" kejutnya yang langsung menutup mulutnya rapat - rapat.
Dia melihat seorang wanita paruh baya tergeletak di lantai tak jauh dari pintu salah satu ruangan. Wanita itu tergeletak dengan p1sau menancap di perutnya.
Seketika itu juga, Steven memandang ke arah Alexa. Dia tidak bisa melihat jelas reaksi wajah apa yang Alexa tunjukkan tapi—dia syok.
"Ibu..." Pelan namun masih bisa Steven dengar dengan jelas gumaman Alexa itu.
Detik berikutnya, keluarlah seorang pria bertubuh besar dari satu ruangan. Matanya merah, penampilannya acak - acakan. Pria itu mendekat pada wanita yang Alexa sebut sebagai ibu itu.
Steven menyadari kalau Alexa melangkah mundur tepat munculnya pria itu—hingga punggungnya bersandar pada lemari di mana dirinya berada.
Tanpa suara, namun terasa tekanannya.
"A - Alex..." Suara wanita itu terdengar lemah mencoba menciptakan jarak.
Jelas, belum ada yang menyadari keberadaan Alexa yang benar - benar tak bersuara sedikit pun.
"Kamu tadi minta apa, Claire? Coba, katakan sekali lagi," ucap pria bernama Alex itu dengan suara rendah—penuh penekanan.
"Aku... mau ce—cerai." Wanita itu menjawab meski dengan sisa kekuatannya.
Steven menelan ludah getir, merasa ngeri ketika melihat pria itu berjongkok di hadapan istrinya dengan seringai kecil. Dia masih menutup mulutnya rapat - rapat agar tak bersuara sedikit pun, apa pun yang terjadi.
"Baiklah. Ayo berpisah," ucap Alex, "Dengan maut," lanjutnya sembari mengambil p1sau dari perut Claire.
Teriakan Claire memberitahukan berapa sakitnya itu membuat Steven langsung memejamkan matanya tidak ingin melihat apa yang terjadi selanjutnya.
Telapak tangannya kini menutup telinganya rapat - rapat. Nafas dan detak jantungnya mulai tak karuan.
Bebberapa detik berikutnya, dia tak mendengar atau melihat bapa pun. Tapi Steven belum memiliki keberanian untuk kembali mengintip mencari tahu apa yang terjadi di sana. Tangannya berkeringat namun tubuhnya merasakan dingin.
GREK!
Steven dikejutkan ketika merasa lemari bergoyang.
Refleks, dia kembali mengintip ke luar dan tak mendapati apa pun. Hanya gelap. Meski begitu, dia tahu kalau yang menutupi celah lemari di mana dia mengintip adalah tubuh Alexa.
"Ada apa?" gumamnya pelan karena tak tahu kondisi di luar.
"A - Ayah..." lirih Alexa.
Perlahan, celah itu kembali terbuka saat Alexa tampak bergerak maju mendekati ayahnya.
Pemandangan pertama yang Steven lihat saat itu adalah kondisi Claire yang sudah tak sadarkan diri dengan dar4h berceceran di lantai.
Sementara pria itu tengah memandang Alexa tak berkedip. Tangannya menggenggam p1sau yang telah dia gunakan untuk meni1kam istrinya sendiri.
Detak jantung Steven seolah berhenti melihat itu semua.
"Apa yang Ayah lakukan?" Tak sedikit pun terdengar ada emosi dari suara Alexa.
"Alexa, Ayah... Ayah tidak sengaja. Ayah tidak sadar dengan apa yang sudah Ayah lakukan. Ayah..." Gagap, pria itu menjawab.
"Bahkan iblis mungkin tidak akan membunuh istrinya sendiri, Ayah," sela Alexa cepat.
Tubuh Steven semakin gemetar saat mendengar percakapan antara ayah dan putrinya itu. Dia tak pernah menyangka kalau bersembunyi dari penggemar, membuatnya menyaksikan berada di situasi yang begitu menakutkan.
"Tolong jangan bilang ke siapa pun, Alexa. Ayah akan menuruti semua kemauan kamu. Tapi jangan bilang apa pun pada orang lain." Alex bersimpuh di hadapan putrinya.
Alexa menggeleng pelan. Tak ada kata - kata lagi yang keluar dari mulutnya. Matanya hanya terus tertuju pada tubuh ibunya yang tergeletak mengenaskan di lantai.
Meski begitu, tak ada suara tangis atau apa pun dari Alexa. Steven ingin keluar tapi ada rasa takut berhadapan dengan Alex.
"Aku harus bilang apa pada orang - orang?" ucap Alexa. Kali ini, suaranya serak.
"Katakan saja kalau ibumu bünüh dıri, Alexa. Ayah tidak mau masuk penjara."
"Tidak. Akan aku katakan pada semua orang kalau Ayah adalah pembunüh." Alexa tiba - tiba menepis tubuh ayahnya dan berjalan ke pintu keluar.
Namun Alex tidak membiarkan itu terjadi. Dia tampak menarik putrinya, membenturkannya ke dinding kemudian menödöngkan pısau yang masih ada di tangannya pada Alexa.
"Ayah memberimu kesempatan hidup, tapi kalau kamu nggak mau, Ayah tidak segan membuat kamu bernasib sama dengan ibumu," ancamnya.
Steven yang melihat itu langsung merogoh sakunya—mengambil ponsel untuk menghubungi polisi. Saking paniknya, beberapa kali ponselnya hampir jatuh dari genggamannya. [ ]