Khayla Atmaja, gadis 21 tahun yang ceria dan berani, harus menerima kenyataan dijodohkan dengan Revan Darmawangsa, pria 32 tahun yang dingin dan sibuk dengan pekerjaannya. Perjodohan yang diatur oleh Kakek Darius itu mempertemukan dua pribadi yang bertolak belakang. Khay yang hangat dan blak-blakan, serta Revan yang tertutup dan irit bicara. Awalnya pernikahan ini hanya dianggap kewajiban, namun seiring waktu, kebersamaan perlahan menumbuhkan perasaan yang tak terduga, mengubah perjodohan menjadi cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 RINDU
Suasana perpustakaan kampus siang itu cukup tenang. Hanya terdengar suara lembaran kertas yang dibalik, ketikan pelan dari laptop, dan langkah kaki mahasiswa yang sesekali berlalu lalang di antara rak buku.
Khay duduk di salah satu meja dekat jendela. Di depannya terbuka beberapa buku tebal, catatan berserakan, dan laptop yang menampilkan file tugas.
Ia menopang dagu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanan memutar pulpen dengan gelisah.
“Tugas ini kenapa susah banget sih…” gumamnya pelan.
Matanya mulai lelah, tapi ia tetap memaksakan diri membaca. Sesekali ia mencatat poin penting, lalu kembali menghela napas panjang.
Perutnya sebenarnya sudah mulai terasa lapar, tapi ia terlalu fokus atau mungkin terlalu malas untuk pergi ke kantin.
“Tanggung…” bisiknya. “Dikit lagi selesai.”
Namun pikirannya tidak sepenuhnya di buku. Sesekali, tanpa sadar, ia melirik ponselnya yang tergeletak di samping laptop. Seolah menunggu sesuatu.
Ting…
Ponsel itu bergetar pelan.
Refleks, Khay langsung mengambilnya. Nama itu muncul lagi.
Revan.
Tanpa sadar, senyum kecil langsung terukir di wajahnya. Ia membuka pesan itu.
Revan: Hai. Sedang apa? Apa kamu sudah makan siang?
Khay menggigit bibir, lalu mulai mengetik.
Khay: Lagi di perpustakaan. Ngerjain tugas.
Beberapa detik kemudian, balasan datang.
Revan: Sudah makan?
Khay melirik jam di layar laptop. Hampir jam satu siang. Ia menghela napas kecil.
Khay: Belum.
Balasan itu terkirim.
Di luar kota, di sebuah ruang meeting mewah, Revan duduk di kursi utama. Beberapa orang di sekelilingnya sedang mempresentasikan laporan, layar besar menampilkan grafik dan angka.
Namun perhatian Revan sesaat teralihkan.
Ponselnya bergetar. Ia menunduk sedikit, membaca pesan dari Khay.
Belum. Alisnya sedikit berkerut.
Tanpa mengubah ekspresi wajah, ia menggeser layar ponsel, mengetik cepat dengan satu tangan.
Revan: Kenapa belum makan?
Di perpustakaan, Khay membaca pesan itu sambil tersenyum kecil.
Khay: Lagi tanggung. Dikit lagi selesai.
Revan menatap layar itu beberapa detik. Tanggung.
Alasan sederhana. Tapi cukup untuk membuatnya menghela napas pelan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia membuka aplikasi lain di ponselnya. Jarinya bergerak cepat, memilih menu, alamat, dan pesanan.
Semua dilakukan di tengah meeting. Salah satu rekan kerjanya sempat melirik, tapi tidak berani menegur. Semua orang tahu Revan Darmawangsa tetap fokus, bahkan ketika melakukan dua hal sekaligus. Setelah selesai, ia kembali ke chat.
Revan: Tunggu.
Singkat.
Khay membaca pesan itu dan mengernyit. “Tunggu?” gumamnya pelan.
Namun ia tidak bertanya lagi. Ia kembali fokus ke buku, meski pikirannya sedikit terganggu.
Beberapa menit berlalu.
Lima belas menit.
Dua puluh menit.
Khay akhirnya menutup bukunya dengan pelan. “Oke, cukup.” Ia merenggangkan tubuh, lalu mengambil ponselnya lagi.
Belum ada pesan baru. “Yasudah, makan aja sendiri,” gumamnya. Ia baru saja hendak berdiri ketika seseorang mendekat.
“Nona?”
Khay menoleh.
Seorang petugas kampus berdiri di sampingnya sambil membawa paper bag.
“Iya, Pak?”
“Ini ada titipan.”
Khay langsung menghela napas kecil, seolah sudah tahu jawabannya. “Buat saya?”
“Iya.”
Khay menerima paper bag itu. Hangat. Ia membuka sedikit, dan aroma makanan langsung tercium.
Ada kotak makan rapi, minuman, dan seperti kemarin selembar kertas kecil.
Khay mengambil kertas itu. Terima makan siangmu. Jangan telat makan.
Tapi Khay tersenyum. “Terima kasih, Pak,” ucapnya sopan.
Setelah petugas itu pergi, Khay duduk kembali. Ia membuka makanannya perlahan.
“Mas Revan…” bisiknya pelan. Tanpa sadar, ada rasa hangat yang menyebar di dadanya. Ia segera mengambil ponsel dan mengetik.
Khay: Terima kasih mas, makanannya.
Pesan terkirim.
Di ruang meeting, Revan melirik ponselnya lagi ketika notifikasi masuk. Sudut bibirnya terangkat tipis.
Revan: Makan yang banyak.
Khay tersenyum.
Khay: Siap, Mas.
Ia mulai makan dengan lahap. Entah karena lapar, atau karena perasaan yang ikut menghangat. Beberapa detik kemudian, pesan lain masuk.
Revan: Aku kangen.
Khay membeku.
Sendok di tangannya berhenti di udara. “Astaga…” gumamnya pelan. Pipi Khay langsung memerah. Ia menatap layar ponsel seolah tidak percaya.
Dia bilang… kangen? Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia menggigit bibir, bingung harus membalas apa.
Beberapa detik terasa seperti menit.
Akhirnya, dengan jari sedikit gemetar, ia mengetik.
Khay : Hehe… baru juga beberapa hari.
Di seberang sana, Revan membaca pesan itu sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. Rapat masih berlangsung. Namun pikirannya sudah melayang.
Revan: Tetap saja.
Khay menatap balasan itu lama. Ada sesuatu yang berubah. Hubungan mereka yang awalnya canggung, perlahan mulai terasa… berbeda. Lebih hangat. Lebih dekat.
Khay menarik napas pelan, lalu mengetik lagi.
Khay: Mas kerja yang serius ya. Jangan kebanyakan pegang HP.
Revan tersenyum tipis.
Revan: Siapa bilang aku tidak serius?
Khay tertawa kecil tanpa suara.
Khay: Kelihatan dari chatnya.
Beberapa detik hening.
Revan: Aku ingin cepat pulang.
Jantung Khay kembali berdetak cepat.
Revan: Aku ingin ketemu kamu.
Khay menatap layar itu tanpa berkedip.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa canggung.
Ia justru merasa… dinanti.
Dan itu membuatnya tersenyum.
DI TEMPAT REVAN.
Suasana ruang meeting perlahan mulai sepi. Satu per satu orang keluar setelah presentasi selesai. Berkas-berkas sudah dirapikan, layar besar dimatikan, dan hanya tersisa dua orang di dalam ruangan itu.
Revan dan Baskara.
Revan duduk di sofa panjang dekat jendela, satu kaki disilangkan dengan rapi. Jasnya masih melekat sempurna di tubuhnya, namun ekspresinya terlihat lebih santai dibanding saat meeting tadi.
Di tangannya, ponsel masih menyala.
Pesan terakhir dari Khay masih terbuka.
Siap, Mas. Hehe… baru juga beberapa hari.
Mas kerja yang serius ya.
Sudut bibir Revan terangkat tipis. Ia mengunci ponselnya, lalu menatap ke depan dengan tatapan kosong sejenak. Entah apa yang dipikirkannya, tapi jelas pikirannya tidak lagi sepenuhnya tentang pekerjaan.
“Bas.”
Baskara yang berdiri tidak jauh dari meja langsung menoleh. Ia sedang memeriksa beberapa dokumen penting, matanya fokus sejak tadi.
“Iya, Tuan.”
“Kapan semuanya beres?” tanya Revan tanpa basa-basi.
Bas menghentikan aktivitasnya. Ia menurunkan dokumen yang sedang dibacanya, lalu menjawab dengan profesional.
“Perkiraan satu atau dua hari lagi, Tuan.”
Hening sejenak.
Revan tidak langsung menjawab. Ia menatap ke arah jendela, melihat langit kota asing yang mulai berubah warna. “Tidak bisa.”
Bas mengangkat kepala.
“Besok adalah malam minggu,” lanjut Revan, nada suaranya tetap datar namun tegas. “Saya akan pulang.”
Baskara berkedip sekali. merasa heran dengan boss nya.