NovelToon NovelToon
Aku Anak Yang Kau Jual

Aku Anak Yang Kau Jual

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Crazy Rich/Konglomerat / Aliansi Pernikahan / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

Bagaimana rasa nya tak mendapatkan kasih sayang dari orangtua sedari kecil, selalu di bedakan dengan saudari kembar nya yang gemilang namun pada akhir nya ia di paksa menikah sebagai penebusan hutang keluarga nya. Hal menyakitkan itulah yang di rasakan oleh Aira.

×××××××

"Jaminan? Ayah menjualku? Ayah menjual anak kandung Ayah sendiri hanya untuk menutupi hutang-hutang konyol itu?"

"Jangan sebut itu menjual!" teriak Ratna, berdiri dari kursinya.

"Ini adalah pengorbanan! Kau seharusnya bersyukur. Aristhide itu kaya raya, tampan, dan berkuasa. Banyak wanita di luar sana yang rela merangkak hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Kau hanya perlu tinggal di sana, melayaninya, dan memastikan dia puas dengan kesepakatan ini."

Penasaran bagaimana perjalanan Aira, baca di sini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema dari Masa Lalu

Setelah pengkhianatan Yudha yang hampir merenggut nyawa Aira, suasana di griya tawang Aristhide berubah menjadi sebuah benteng yang tak tertembus. Namun, bagi Aira, keamanan fisik bukanlah segalanya. Ada rasa haus yang belum terpuaskan untuk benar-benar memahami siapa dirinya di luar bayang-bayang keluarga Bramantyo dan Malik. Pagi itu, kabut tipis menyelimuti gedung-gedung pencakar langit Jakarta, menciptakan suasana melankolis yang seolah mencerminkan suasana hati Aira.

Aristhide sedang berada di ruang kerjanya, sibuk menata ulang puing-puing Malik Group setelah sabotase internal Yudha. Sementara itu, Aira berdiri di depan jendela besar, memegang cangkir teh yang sudah mendingin. Ia menatap pantulan dirinya. Di lehernya, kalung safir milik Sofia Malik berkilau, namun kini benda itu terasa lebih berat. Bukan karena fisiknya, melainkan karena tanggung jawab yang menyertainya.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor pribadi yang hanya diketahui oleh keluarga inti Narendra masuk. “Aira, Ayah ingin kau datang ke galeri seni di Menteng sore ini. Ada seseorang yang harus kau temui. Seseorang yang memegang kunci terakhir tentang ibumu sebelum dia bertemu Bramantyo.”

Aira menghela napas. Setiap kali ia merasa sudah selesai dengan masa lalu, sebuah pintu baru terbuka. Ia masuk ke ruang kerja Aristhide. Pria itu tampak sangat fokus, kacamata bertengger di hidungnya, menambah kesan intelektual yang tajam.

"Aris," panggil Aira lembut.

Aristhide mendongak, dan seketika tatapan matanya melembut—sebuah perubahan yang hanya ia berikan untuk Aira. "Ya, Sayang? Kau butuh sesuatu?"

"Ayah memintaku menemuinya di Menteng. Katanya ada informasi baru tentang Ibu."

Aristhide meletakkan pena emasnya. Ia tampak ragu sejenak. "Adipati tidak pernah memanggilmu tanpa alasan yang sangat serius. Haruskah aku ikut?"

"Tidak, kau harus menyelesaikan urusan audit ini. Ayah sudah mengirim pengawalnya untuk menjemputku. Aku akan baik-baik saja."

Aristhide berdiri, menghampiri Aira dan menariknya ke dalam pelukan hangat. "Aku baru saja hampir kehilanganmu karena Yudha. Maafkan aku jika aku menjadi sedikit posesif. Hubungi aku setiap jam, mengerti?"

Aira tersenyum, merasakan detak jantung Aristhide yang stabil. "Aku mengerti, Tuan Malik."

Galeri seni itu tampak sunyi saat Aira tiba. Bangunan bergaya kolonial itu dipenuhi dengan lukisan-lukisan kontemporer yang mengekspresikan penderitaan dan kebangkitan. Di sudut ruangan, berdiri Adipati Narendra dengan setelan jas abu-abu yang sangat elegan. Di sampingnya, berdiri seorang wanita tua berambut perak yang mengenakan kebaya klasik. Wajah wanita itu dipenuhi kerutan, namun matanya memancarkan kecerdasan yang luar biasa.

"Aira, perkenalkan," ujar Adipati saat Aira mendekat. "Ini adalah Ibu Saraswati. Beliau adalah sahabat karib Sofia saat mereka masih bersekolah di Swiss, dan beliau adalah orang yang membantu Sofia menyembunyikan 'sesuatu' sebelum Bramantyo mengambil alih hidupnya."

Ibu Saraswati menatap Aira dengan pandangan yang dalam, seolah-olah ia sedang melihat Sofia yang hidup kembali. "Kau sangat mirip dengannya, Nak. Sofia selalu bilang bahwa jika suatu saat dia memiliki anak perempuan, dia ingin anak itu memiliki keberanian untuk melawan dunia."

"Apa yang ingin Anda tunjukkan padaku, Ibu Saraswati?" tanya Aira tanpa basa-basi.

Wanita tua itu mengeluarkan sebuah kunci kecil berwarna perak dari tasnya. "Sofia tahu bahwa hubungannya dengan Adipati akan menghadapi badai besar dari keluarga Narendra yang konservatif. Sebelum dia 'dibuang' oleh keluarganya sendiri dan bertemu dengan pria rendahan seperti Bramantyo, dia menyimpan sebuah brankas rahasia di sebuah bank di Zurich. Brankas itu tidak berisi uang."

Aira mengernyitkan kening. "Lalu apa isinya?"

"Isinya adalah bukti-bukti tentang faksi rahasia di dalam Narendra Group yang sejak dulu ingin menyingkirkan garis keturunan Sofia. Orang-orang yang mendanai Bramantyo untuk menculikmu bukan hanya untuk uang, Aira. Mereka melakukannya agar kekuasaan Narendra tidak jatuh ke tangan anak dari wanita yang dianggap 'pemberontak' seperti Sofia."

Darah Aira mendesir. Jadi, musuh sebenarnya bukan hanya di luar, tapi juga di dalam keluarga ayahnya sendiri.

"Siapa mereka, Ibu?" tanya Adipati, suaranya kini terdengar berbahaya.

"Ada sebuah nama yang sering muncul di surat-surat Sofia," Saraswati menatap Adipati dengan prihatin. "Nama itu adalah Oswald. Salah satu tetua di dewan komisaris Narendra Group yang selama ini berpura-pura menjadi sekutu setiamu, Adipati."

Adipati mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. Oswald adalah orang yang ia anggap sebagai mentornya sendiri.

"Mereka tidak akan berhenti, Aira," lanjut Saraswati. "Sekarang setelah identitasmu terungkap ke publik sebagai putri Narendra, mereka akan menganggapmu sebagai ancaman terbesar. Mereka akan mencoba menghancurkanmu melalui orang-orang yang kau cintai. Aristhide Malik adalah target pertama mereka."

Aira teringat pada masalah audit yang sedang dihadapi Aristhide di kantor. Mungkinkah pengambilalihan paksa itu bukan hanya ulah Yudha sendirian? Apakah Yudha hanya bidak kecil dalam skema global yang dijalankan oleh Oswald?

"Aku harus memberitahu Aristhide," ujar Aira panik.

"Jangan lewat telepon," potong Adipati tegas. "Seluruh jalur komunikasimu mungkin sudah disadap oleh tim IT Oswald. Kita harus kembali ke tempat Aristhide sekarang dengan pengamanan penuh."

Namun, saat mereka melangkah menuju pintu keluar galeri, sebuah ledakan keras mengguncang bangunan tersebut. Pecahan kaca beterbangan ke segala arah. Tim pengawal Adipati segera membentuk perimeter perlindungan di sekitar Aira dan Adipati.

Dari balik asap yang membumbung, muncul beberapa pria bersenjata dengan topeng hitam. Mereka tidak berniat menculik; mereka datang untuk mengeksekusi.

"Bawa Aira ke mobil sekarang!" teriak Adipati sambil mengeluarkan senjata api dari balik jasnya—sisi gelap dari sang penguasa yang jarang ditunjukkan.

Aira ditarik oleh dua pengawal menuju pintu belakang. Di tengah kekacauan itu, ia melihat Ibu Saraswati tertembak di bahu. Aira ingin kembali menolong, namun pengawal itu tidak membiarkannya.

"Nona, keselamatan Anda adalah prioritas!"

Saat mereka mencapai mobil, Aira melihat sebuah pesan masuk ke ponselnya dari nomor tak dikenal. Sebuah foto yang membuatnya menjerit tanpa suara. Foto Aristhide yang sedang duduk di kursi kerjanya, dengan titik laser merah tepat di dahinya.

Di bawah foto itu tertulis pesan singkat: “Satu gerakan salah dari ayahmu, maka kekasihmu akan menyusul Sofia ke liang lahat.”

Aira terduduk di kursi mobil yang antipeluru itu dengan tubuh gemetar. Ia menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam labirin yang jauh lebih mematikan daripada yang pernah ia bayangkan. Jika bab-bab sebelumnya adalah tentang menemukan identitas, maka bab-bab selanjutnya adalah tentang bagaimana ia harus mempertahankan identitas itu dengan mengorbankan segalanya.

"Ayah!" teriak Aira saat Adipati masuk ke mobil dengan wajah penuh noda hitam ledakan. "Aristhide dalam bahaya! Mereka mengincarnya!"

Adipati menatap ponsel Aira. Matanya berkilat dengan amarah yang dingin. "Oswald telah menabuh genderang perang. Dia pikir dia bisa menyentuh apa yang menjadi milikku?"

"Kita harus menyelamatkannya, Ayah! Apapun caranya!"

"Kita akan menyelamatkannya, Aira," ujar Adipati sambil mengisi peluru ke senjatanya. "Tapi kau harus siap. Mulai hari ini, kau bukan lagi sekadar putri yang dilindungi. Kau adalah pemimpin faksi Narendra yang akan menghancurkan para pengkhianat itu."

Mobil itu melesat membelah kemacetan Jakarta, menuju kantor Malik Group. Di dalam hatinya, Aira berdoa agar ia tidak terlambat. Ia telah dijual satu kali, dikhianati berkali-kali, dan kini ia tidak akan membiarkan cinta sejatinya dirampas oleh keserakahan yang sama yang telah membunuh ibunya.

"(Akankah Aira tiba tepat waktu untuk menyelamatkan Aristhide? Ataukah Aristhide memiliki kartu as-nya sendiri untuk menghadapi penembak jitu tersebut?)"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!