Cerita ini adalah tentang Regenerasi Hidayah. Dari Zain yang Bertaubat Karna pergaulan yang Salah saat masa remaja, Dan dikaruniai Anak yang bernama Zavier yang Pintar dan Tegas, Hingga Putri Kemnarnya Zavier Bernama Ziana dan Ayana yang menyempurnakan warisan tersebut. Dan Ditutup Dengan Kisah Anak Ayana, Gus Abidzar.
Ini adalah bukti bahwa meski darah berandalan mengalir dalam tubuh, cahaya agama mampu mengubahnya menjadi kekuatan untuk melindungi dan mengayomi sesama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dampak Penolakan Gus Zayn
Di kantin, di tempat wudhu, hingga di lorong-lorong asrama, para santriwati berbisik dengan wajah tegang sekaligus penasaran.
"Gus Zayn menolak?!" "Iya, katanya surat resmi dari keluarga Kyai besar di Jawa Tengah itu dikembalikan tadi pagi!"
"Tapi kan itu buat menjodohkan dia sama Ustadzah Najwa secara formal?"
Abigail yang baru saja selesai mencuci mukena di sumur belakang, mengernyitkan dahi. Ia melihat kerumunan santriwati yang biasanya tertib kini tampak seperti lebah yang sarangnya diganggu.
"Sar, ada apa sih? Kenapa semua orang mukanya kayak habis denger pengumuman kiamat?" tanya Abigail sambil menyampirkan mukena di jemuran.
Sarah menarik tangan Abigail ke sudut yang agak sepi, wajahnya pucat. "Abby, ini geger gede! Gus Zayn baru saja menolak surat khitbah (perjodohan) resmi. Padahal itu surat yang sudah ditunggu-tunggu Abi dan keluarga besar ustadz."
Abigail mengedipkan matanya, bingung. "Maksudnya? Surat lamaran kerja? Atau apa?"
Sarah menghela napas, menyadari kalau teman Amerikanya ini memang masih butuh kamus pesantren. "Bukan lamaran kerja, Abby! Itu surat kesepakatan dari keluarga Ustadzah Najwa. Di sini, perjodohan antar keluarga Kyai itu sakral. Dengan menolak surat itu, Gus Zayn secara nggak langsung bilang kalau dia nggak mau sama Ustadzah Najwa. Dan itu... itu jarang banget terjadi."
Jantung Abigail mencelos. "Jadi... dia nolak Najwa? Kenapa?"
"Nggak ada yang tahu pastinya," bisik Sarah lagi. "Tapi kabarnya, Gus Zayn bilang ke Abi kalau dia punya Pilihan sendiri dan nggak mau dipaksa. Sekarang Ustadzah Najwa kabarnya mengurung diri di kamar, nangis sesenggukan. Dan ustadzah-ustadzah senior lagi kumpul di ndalem, mereka marah besar."
Abigail terdiam. Pikirannya melayang pada surat bahasa Inggris yang ia selipkan di kitab Zayn kemarin. Apa ini gara-gara aku? Apa gara-gara surat gila itu?
"Abby, kamu harus hati-hati," Zulfa tiba-tiba datang bergabung dengan wajah cemas. "Ustadzah Aisyah lagi keliling asrama. Dia yakin banget kalau penolakan Gus Zayn ini ada hubungannya sama pengaruh buruk dari santri baru. Dia lagi nyari kambing hitam, dan kita semua tahu siapa yang dia maksud."
Belum sempat Abigail membalas, suara langkah kaki yang keras terdengar dari arah gerbang asrama putri.
"Charlotte Abigail Hernandez! Keluar sekarang!"
Itu suara Ustadzah Aisyah. Bukan suara lembut yang biasanya, tapi suara penuh otoritas yang sedang meledak.
Abigail menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tak karuan. Ia menatap Sarah dan Zulfa, lalu berdiri tegak. "Kalau dia mau cari gara-gara, dia ketemu orang yang salah. Aku bukan tipe yang bakal sembunyi."
Ustadzah Aisyah melangkah masuk ke kamar Abigail dengan wajah sekeras batu, diikuti oleh dua pengurus keamanan asrama yang membawa buku catatan besar. Suasana kamar yang biasanya hangat karena candaan Sarah, mendadak berubah mencekam.
"Semuanya berdiri di samping tempat tidur masing-masing!" perintah Aisyah dengan nada dingin.
Abigail berdiri tegak, tangannya mengepal di samping paha. Ia melihat Sarah gemetar ketakutan, sementara Zulfa hanya menunduk dalam.
"Mbak Aisyah, ada apa ini? Kami tidak melakukan kesalahan," ujar Abigail berusaha tenang, meski jantungnya berdegup kencang mengingat kertas-kertas wangi di dalam laci lemarinya.
"Diam, Abigail! Kamu sudah membawa pengaruh buruk yang sangat besar di sini. Gus Zayn tidak pernah membangkang pada Abi, sampai kamu datang dan meracuni pikirannya!" Aisyah menoleh pada pengurus. "Geledah lemari Charlotte Abigail. Cari setiap lembar kertas, benda-benda dari luar, atau apapun yang tidak sesuai dengan aturan pesantren!"
Satu per satu pakaian Abigail dikeluarkan dengan kasar. Aisyah sendiri yang memeriksa setiap sudut. Hingga akhirnya, jemarinya menyentuh sebuah kotak kecil di bawah tumpukan baju.
"Apa ini?" Aisyah membukanya. Di dalamnya terdapat beberapa foto Abigail saat di New York, tanpa hijab, mengenakan pakaian musim panas yang modis, dan yang paling fatal, sebuah pulpen mahal dengan inisial 'Z' yang ia temukan jatuh di perpustakaan tempo hari, serta draf surat balasan dalam bahasa Inggris yang belum sempat ia kirim.
"Foto-foto tidak senonoh... dan ini?" Aisyah mengangkat pulpen itu. "Ini milik Zayn. Bagaimana bisa ada padamu?!"
Abigail maju selangkah. "Itu cuma pulpen yang jatuh, Mbak! Aku berniat mengembalikannya."
"Bohong!" teriak Aisyah. "Kamu sengaja menggunakannya untuk menggoda adikku! Lihat tulisan ini..." Aisyah mencoba membaca draf surat itu, meskipun ia kesulitan memahami bahasa Inggrisnya yang rumit, ia tahu nada tulisan itu penuh perasaan.
"Kamu benar-benar perempuan yang tidak tahu malu. Kamu pikir dengan wajah cantikmu, kamu bisa meruntuhkan martabat seorang Gus?"
Najwa, yang rupanya ikut mengintip dari balik pintu dengan mata sembab, masuk ke dalam kamar. "Sudah kubilang, Mbak Aisyah. Dia ini duri. Dia penyebab Gus Zayn menolak khitbah keluargaku."
Abigail tertawa sinis, membuat semua orang terdiam. "Oh, jadi ini intinya? Kalian semua marah karena Zayn memilih jalannya sendiri? Kalian bilang perempuan baik untuk laki-laki baik, tapi lihat diri kalian sekarang. Menggeledah kamar orang seperti polisi, memaki, dan memfitnah. Apa itu yang diajarkan kitab-kitab kalian?"
PLAK!
Aisyah yang kehilangan kesabaran nyaris melayangkan tamparan, namun tangannya tertahan di udara. Bukan oleh Abigail, melainkan oleh suara bariton yang sangat dingin dari arah pintu.
"Cukup, Mbak Aisyah."
Gus Zayn berdiri di sana. Napasnya memburu, matanya memancarkan kemarahan yang belum pernah dilihat siapapun. Ia masuk ke dalam area putri, sebuah pelanggaran besar, hanya untuk menghentikan kegilaan ini.
"Zayn?! Kamu berani masuk ke sini?" Aisyah terperangah.
Zayn tidak menjawab kakaknya. Ia berjalan mendekat, mengambil pulpen dan kertas-kertas itu dari tangan Aisyah dengan kasar. "Pulpen itu memang saya yang memberikan padanya. Dan surat itu... saya yang memintanya menulis dalam bahasa Inggris untuk melatih kemampuan bahasa saya."
Zayn berbohong demi melindungi Abigail, di depan semua orang.
"Zayn, kamu berbohong demi membela perempuan ini?!" Najwa menjerit histeris.
Zayn menoleh pada Najwa, tatapannya begitu tajam hingga Najwa mundur selangkah. "Najwa, saya menolak khitbah itu karena saya tidak ingin menikah dengan seseorang yang merasa paling suci namun gemar menghakimi. Dan untuk Mbak Aisyah... jika Mbak ingin menghukum Abigail, maka hukum saya juga. Karena saya yang membiarkan dia masuk ke dalam hidup saya."
Zayn menatap Abigail sejenak, sebuah tatapan penuh perlindungan, sebelum beralih kembali ke kakaknya. "Sekarang, keluar dari kamar ini. Sebelum saya sendiri yang melaporkan kejadian ini pada Abi bahwa Mbak sudah bertindak di luar batas."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading😍😍😍