Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.
Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback: Fase Kedua – Ujian Masak di Pulau Zevil
Hutan di Pulau Zevil terasa lebih lembab dan menyesakkan di hari kedua. Kabut tipis menyelimuti pepohonan, membuat setiap hembusan angin terasa seperti napas dingin di leher. Raito dan Mira bersembunyi di balik semak tebal dekat area ujian masak—tempat peserta yang lolos fase pertama dikumpulkan untuk tes keterampilan hidup.
Menchi, examiner berambut merah dengan ekspresi bosan tapi mata tajam, berdiri di depan peserta. Di sampingnya, Buhara—pria raksasa dengan nafsu makan tak terbatas—sudah mengunyah daging babi hutan mentah seperti camilan.
“Ujian kedua: masak!” seru Menchi. “Tangkap Great Stamp—babi hutan raksasa di hutan ini. Masak dengan cara kalian. Kalau enak, lolos. Kalau nggak… pulang!”
Peserta berpencar. Gon dan Killua langsung berlari ke hutan, tongkat memancing Gon sudah siap. Leorio menggerutu sambil membawa pisau besar. Kurapika bergerak tenang, mata mencari target.
Raito memandang dari semak. “Mereka beneran harus masak babi hutan raksasa?”
Mira mengangguk pelan. “Ini ujian Hunter. Bukan cuma kekuatan fisik. Hunter harus bisa bertahan di alam liar—berburu, memasak, bertahan hidup. Menchi examiner Gourmet Hunter. Dia nggak main-main soal rasa.”
Tiba-tiba, suara raungan besar terdengar dari dalam hutan. Great Stamp—babi hutan raksasa dengan tanduk melengkung dan kulit tebal seperti besi—muncul dari semak, mata merah marah. Beberapa peserta langsung mundur. Gon malah maju, tongkat memancingnya berputar cepat.
“Wah! Besar sekali!” seru Gon riang. “Ini pasti enak kalau dibakar!”
Killua mendengus di sampingnya. “Kamu mikir makan terus.”
Gon melompat, menghindari tanduk Great Stamp dengan lincah. Dia ayunkan tongkat—bukan untuk pukul, tapi untuk mengikat kaki babi itu dengan tali memancing yang sudah dibungkus aura Enhancement sederhana. Babi itu mengamuk, tapi Gon tetap tenang, tertawa kecil.
Raito memandang dengan mata terbelalak. “Anak itu… nggak takut sama sekali.”
Mira tersenyum tipis. “Itu Gon. Dia bertarung seperti main. Tapi dia serius kalau sudah soal makanan.”
Buhara, yang duduk di dekat api unggun besar, berteriak. “Aku lapar! Cepat masak!”
Peserta lain mulai berburu. Leorio berhasil tangkap satu Great Stamp dengan bantuan Kurapika—mereka bakar dagingnya dengan api sederhana. Bau daging bakar mulai menyebar, membuat perut Raito keroncongan.
Tapi Menchi tidak langsung terima. Dia cicip satu-satu, lalu muntahkan dengan wajah kecewa.
“Tidak ada rasa! Kalian cuma bakar daging mentah! Ini bukan masak, ini bakar sampah!”
Peserta terkejut. Buhara malah makan terus, tapi Menchi sudah marah.
“Aku bilang masak! Bukan bakar! Kalian nggak tahu cara bumbui, cara potong, cara sajikan! Hunter harus bisa hidup enak, bukan cuma hidup!”
Gon, yang baru saja selesai tangkap Great Stamp-nya, mendekat. Dia potong daging dengan pisau kecil, lalu bakar dengan api kecil, tambah garam dan rempah liar yang dia temukan di hutan. Dia sajikan dengan rapi di daun besar.
Menchi cicip. Matanya melebar.
“Ini… enak! Ada rasa hutan, rasa daging asli, rasa usaha! Lolos!”
Peserta lain mulai belajar dari Gon. Suasana berubah—dari panik jadi kompetisi masak sungguhan.
Raito memandang Gon dari semak. Anak itu tidak cuma kuat fisik. Dia punya insting hidup—cara membuat sesuatu yang sederhana jadi luar biasa.
Dadanya hangat. Inner Light berdenyut pelan—seperti mengakui semangat Gon.
Mira berbisik. “Lihat itu. Gon nggak cuma bertarung. Dia hidup. Dia bikin orang lain ikut hidup.”
Raito mengangguk. “Aku… mau belajar seperti dia. Nggak cuma bertahan. Tapi hidup.”
Tiba-tiba, Gon menoleh ke arah semak mereka—seolah tahu ada yang mengawasi. Dia tersenyum lebar, melambai kecil.
“Hei! Kalian juga mau coba masak? Dagingnya banyak!”
Raito dan Mira terkejut. Gon tidak marah mereka mengintip—malah mengundang.
Mira menarik Raito mundur pelan. “Jangan. Kita bukan peserta lagi.”
Tapi Raito melambai balik—gerakan kecil, hampir tidak terlihat.
Gon tertawa, lalu kembali ke masakannya.
Mereka berdua mundur pelan ke hutan.
Raito berbisik. “Suatu hari… aku mau masak bareng dia. Bukan untuk ujian. Cuma untuk makan bersama.”
Mira tersenyum kecil. “Itu tujuan yang bagus. Lebih bagus dari sekadar pulang.”
Mereka melanjutkan perjalanan menyusuri hutan, meninggalkan aroma daging bakar dan tawa Gon di belakang.
Di dada Raito, cahaya kecil berdenyut—bukan untuk bertarung, bukan untuk bertahan.
Tapi untuk hidup.
Dan untuk pertama kalinya, Raito merasa cahaya itu bukan hanya alat.
Ia adalah bagian dari dirinya yang ingin menikmati hidup—sederhana, hangat, bersama orang-orang yang dia sayangi.
(Flashback berakhir – kembali ke masa kini, di penginapan Yorknew setelah pertemuan dengan Harlan dan Sera)
Raito membuka mata. Dia masih duduk di lantai kamar, Mira di sebelahnya sedang membaca catatan Sera, Yuna tidur meringkuk di tempat tidur kecil.
“Aku ingat lagi,” kata Raito pelan.
Mira menoleh. “Ingat apa?”
“Gon di ujian masak. Dia nggak cuma bertarung. Dia masak dengan hati. Dia bikin makanan jadi sesuatu yang lebih dari sekadar makan. Dia bikin orang lain ikut senang.”
Mira tersenyum kecil. “Dan kamu sekarang?”
Raito angkat tangan kanan. Cahaya kecil muncul—bukan untuk serang, bukan untuk pertahanan. Hanya berpendar hangat, seperti lentera kecil di malam gelap.
“Aku mau hidup seperti dia. Nggak cuma bertahan. Nggak cuma bertarung. Aku mau bikin hidup ini… enak. Bersama kalian.”
Yuna bergumam dalam tidur, tersenyum kecil seolah mendengar.
Mira meletakkan catatan. “Kalau gitu… besok pagi kita masak bareng. Bukan untuk ujian. Cuma untuk sarapan.”
Raito tertawa pelan. “Aku setuju. Aku yang bakar rotinya.”
Mira mengangguk. “Jangan sampai gosong.”
Di luar jendela, Yorknew terus bernapas—gelap, berisik, penuh ancaman.
Tapi di dalam kamar kecil itu, tiga orang mulai merencanakan sarapan sederhana.
Dan cahaya kecil di dada Raito berdenyut—bukan untuk perang, tapi untuk hidup.
Untuk hari esok yang mungkin penuh bahaya.
Tapi juga penuh roti panggang dan tawa kecil.