NovelToon NovelToon
LAKSANA SAMUDRA

LAKSANA SAMUDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Inar Hamzah

Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.

Dandelion, adakah kesempatan untukku ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TERIMA KASIH

Seperti yang di sepakati, hari ini Rico sudah bisa pulang dari rumah sakit. Pagi setelah pengecekan dan di rasa semua yang Rico keluhkan berangsur membaik.

Setinggalnya dokter, Deya mulai membereskan barang-barang Rico, pagi itu mereka hanya berdua karena Diana sudah kembali ke kosannya dan bersiap untuk mengumpulkan tugas yang di kerjakannya semalam.

Rico melihat Deya yang begitu memperhatikan setiap detail sempat membuatnya membenak, bagaimana serunya jika mereka menikah dan tinggal serumah. Ia dengan kebiasaan urak-urakkannya sedangkan Deya dengan kerapian dan bersihnya. Pasti akan seru sekali mendengar amukan Deya setiap hari karena perbuatannya. Membayangkannya saja cukup membuat Rico tersenyum lebar.

“Kamu kenapa ?” Tanya Deya di sela ia berkemas.

“Tidak apa-apa De. Aku hanya senang. Akhirnya bisa pulang. Suntuk di sini lama-lama.” Jawabnya berbohong.

“Sarapan dulu.” Deya mengambil overbed table yang ada di sudut ruangan.

“Berdua.” Pinta Rico dengan manja.

“Kamu aja. Aku nanti aja beli di luar.”

“Berdua aja De, ini pasti nggak abis. Kan aku belum ada selera makan. Daripada dibuang nanti kan sayang.”

“Ya sudah.” Deya mengalah dan mulai menyuapi Rico yang pergelangan tangan kanannya masih di pasangi jarum infus.

“Hmm, berarti setelah habis cairan infus ini sudah boleh pulang kan De ?”

“Iya, tapi kan kita tunggu jemputan mu dulu.” Jawab Deya di sela kunyahannya.

Hari ini Ani dan Handoko harus mengurus panen di Perkebunan mereka, sehingga tidak bisa menjemput Rico. Awalnya Ani ingin sekali mengurus sang anak di rumah sakit, namun karena Rico berusaha meyakinkan bahwa ia baik-baik saja bersama Diana, membuat Ani cukup lega meninggalkan sang putra yang tengah sakit itu. Ani sendiri baru mengetahui kalau Deya lah yang mengurus Rico semalam, karena Diana sibuk dengan tugasnya. Saat bertukar kabar pagi tadi, Diana membeberkan bahwa perempuan banker itu yang sungguh telaten mengurus sang kakak yang tengah manja jika sakit itu, apalagi yang mengurusnya itu Deya, maka manjanya berkali-kali lipat.

Keduanya tengah sibuk mengobrol saat seorang perawat mengetuk pintu dan mempersilahkan seseorang yang datang menjemut mereka. Baik Rico maupun Deya tetap berusaha saling menjaga jarak agar hal-hal yang tidak selayaknya menjadi pikiran negatif orang terhindarkan.  

“Permisi mas, mbak. Jemputan sudah ada.” Ucap perawat itu dengan sopan.

“Oh iya mbak. Terima kasih.” Deya beranjak dan mempersilahkan laki-laki paruh baya itu masuk untuk mengambil tas yang berisi barang milik Rico.

Sedangkan Deya akan mendorong kursi roda yang tengah diduduki oleh Rico.

“Mang Dadang, gimana kabarnya ?” Tanya Rico pada laki-laki itu.

“Alahmdulillah, apik mas Kana.”

Deya mengerjitkan dahinya saat laki-laki yang baru saja dia tahu namanya mang Dadang itu, menyebut Rico dengan nama lain.

“De.” Panggil Rico dan membuyarkan lamunan Deya. “Masih mau tinggal disini ? Atau aku saja yang mendorong kursi ini untukmu ?” Rico bertanya dengan nada bercanda.

“Eh, nggak. Ayo-ayo pulang.” Jawab Deya gelagapan dan mendorong kursi yang diduduki Rico.

Awalnya Deya ingin langsung pulang ke rumahnya, namun Rico tak menyetujui. Ia meminta Deya untuk ikut bersamanya. Motornya akan diantarkan kerumahnya oleh seorang teman. Agar nanti Deya di antarkan oleh mang Dadang.

Sepanjang jalan Deya tak banyak berbicara, hanya mendengar Rico dan mang Dadang yang bertukar kabar. Gadis itu melihat jalan sekitar, sesekali ia fokus mendengarkan obrolan Rico dengan laki-laki yang tengah menyopiri mereka.

“Gimana kebun mang Dadang ?” Tanya Rico yang menyenderkan kepalanya di pundak Deya.

Awalnya Deya menghindar, namun Rico semakin menekan kepalanya agar tak ada pergerakan dari Deya. “Hanya bersandar sampai rumah De. Kepala ku pusing.” Bisik Rico yang memijat pelipisnya.

“Baik mas, Alhamdulillah. Ini saja hasil panen sepertinya sudah habis diambil pengempul. Makanya bapak mengajak ibu untuk bantu. Tapi iya itu, mas Kana hanya di temani mbak Ana. Eh, ternyata calon mantu pak Handoko juga ada toh. Seneng saya mas.” Jelasnya.

Deya tak mengerti dengan obrolan Rico dan mang Dadang, mulai dari kebun, nama yang disebutkan mang Dadang, hingga calon mantu. Deya melirik Rico sekilas. “Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dari aku. Siapa kamu ini ?” Tanyanya dalam hati.

***

Rumah yang ditinggali oleh keluarga Handoko nampak sepi. Deya mulai risau jika hanya berdua dengan Rico di lingkungan yang tak dikenalinya sama sekali. Rico yang bisa membaca raut wajah Deya kemudian tersenyum tipis.

“Bi Darmi, ada tamu bi.” Panggil Rico pada seseorang yang sedang sibuk dibelakang.

“Mbak Deya nggak usah takut, di rumah ini nggak berdua sama mas Kana kok. Ada saya dan istri juga.” Jelas mang Dadang yang sibuk membawa tas berisi keperluan Rico.

“Iyaaa mas Kana.” Jawab wanita paruh baya yang berjalan cepat setelah mendengar namanya di panggil. “Eh ada tamu, MasyaAllah cantik sekali calon istri tuan muda rumah ini.” Ucap bi Darmi yang kali pertama melihat Deya.

Perempuan itu hanya tersenyum simpul dan mengangguk anggun. “Tapi kenapa waktu saya ke sini bi Darmi tidak ada ?” Deya bertanya karena penasaran.

Mendengar pertanyaan Deya membuat Rico langsung menatap ke arahnya.

“Oalah mbak, waktu itu saya emang lagi ke pasar beli bahan-bahan untuk dapur. Mbak yang datang saat ada mbak Rizka toh ?”

“Sama saya juga mbak.” Celetuk mang Dadang yang berada di belakang mereka.

Perempuan itu mengangguk pelan pertanda paham. “Kamu tidak mau istirahat langsung ?” Deya membuka pertanyaan pada Rico yang berada di sampingnya sembil mengerjitkan dahi.

“Kamu pernah datang ke rumah ini De ?” laki-laki itu balik bertanya.

“Iyaa, pas kamu lagi kerja di luar kota kemarin.” Kemudian Deya menjelaskan kepada Rico prihal kedatangannya ke rumah itu sambil menghitung anak tangga. Rico di bantu mang Dadang dan Deya mengekorinya di belakang.

“Hmm, aku pamit pulang ya Rico. Kamu istirahat ya, biar cepat pulih. Biar cepat berkegiatan seperti biasa lagi ya.” Nasehat Deya dengan tulus, sambil membenarkan posisi selimut Rico.

“Nggak mau di sini dulu De ?” Pintanya dengan ekspresi memelas.

Deya menggeleng, “Aku tadi selain mengkhawatirkan diriku sendiri jika hanya berdua dengan mu. Aku juga mengkhwatirkan mu jika sendiri saat mang Dadang mengantarkan ku pulang. Tapi kayaknya kamu mikir yang nggak-nggak de.”

“Emang isi pikiran ku apa ?” Tanyanya kembali.

“Mana tau. Udah ya istirahat aja lagi. Aku pulang yaaa. Selamat istirahat tuan muda K--, Tuan muda Rico.” Ucapan Deya sempat menggantung, seolah nama Kana tercekat di tenggorokannya.

“Hati-hati De. Terima kasih banyak sudah mau mengurus aku yang masih tak berdaya ini. Sekali lagi terima kasih.” Ucap Rico tulus dengan tatapan teduh.

***

Sepanjang perjalanan pulang, Deya banyak diam, pikiran gadis itu bercabang dan semakin bercabang. Ia mulai hilang arah tentang perasaannya sendiri, ia mulai ragu dengan pendiriannya selama ini. Perempuan itu memejamkan matanya dan tanpa sadar sebulir air menetes ke pipi nya.

“Siapa sebenarnya dia ? Apa yang di sembunyikannya dari ku. Apa kegitan dia di luar kota hingga berbulan-bulan. Apa ucapan Hendy waktu benar ?” Gejolak batin mulai melanda dirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!