Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teori Salah Sambung dan Jantung yang Overclocking
Dunia Nara Amelinda kini terbagi menjadi dua fase yaitu Sebelum Viral dan Sesudah Viral. Fase "Sesudah Viral" ternyata jauh lebih melelahkan daripada mengelola lima belas akun UMKM sekaligus dalam satu hari. Setiap kali ia melangkah keluar rumah, Nara merasa ada sorot lampu spotlight imajiner yang mengikutinya, lengkap dengan bisik-bisik tetangga yang mengira ia baru saja memenangkan lotre berupa pria tampan bin kaku bernama Arga Wiratama.
Namun, di tengah hiruk-pikuk publik, ada satu medan perang baru yang jauh lebih berbahaya, WhatsApp.
Sejak insiden "Kita Dekat" di mal kemarin, frekuensi komunikasi mereka meningkat drastis. Bukan karena romantis, tapi karena koordinasi logistik pernikahan yang birokrasinya mengalahkan perpanjangan STNK.
Arga, dengan segala efisiensinya, mengirimkan jadwal fitting baju, daftar menu katering, hingga koordinasi vendor dekorasi dalam format PDF yang diberi nama: Operational_Plan_Wedding_Final_v2.pdf.
"Ini mau nikah apa mau bikin simulasi sidang PBB?" keluh Nara sambil membanting ponselnya ke atas kasur.
Sore itu, Nara sedang dalam kondisi multitasking tingkat dewa. Tangan kirinya memegang sikat gigi, tangan kanannya memegang ponsel untuk membalas pesan sahabatnya, Meta, yang sedang galau berat karena diputus pacarnya. Di saat yang sama, notifikasi dari Arga masuk, menanyakan apakah Nara setuju dengan pilihan warna taplak meja, Broken White atau Ivory.
Nara yang sedang emosi membela Meta, mengetik dengan kecepatan cahaya.
Nara:
"Udahlah, Sayang. Kamu nggak perlu pusingin cowok nggak guna kayak gitu. Kamu itu berharga, kamu itu berlian. Fokus aja sama diri sendiri dulu, oke? I love you, jangan sedih lagi ya!"
Klik Send.
Satu detik kemudian, Nara menyadari ada yang aneh. Gelembung pesan itu tidak muncul di ruang obrolan Meta. Ia mengerjap, mengucek matanya yang masih terkena busa pasta gigi, lalu jantungnya mendadak berhenti berdetak selama tiga detik penuh.
Pesan itu terkirim ke: Arga Wiratama (Calon Kulkas).
"MATI GUE!" teriak Nara, sampai busa sikat giginya muncrat ke cermin kamar mandi.
Ia buru-buru ingin menekan opsi 'Delete for Everyone', tapi sialnya, jempolnya yang basah justru menekan tombol 'Delete for Me'. Pesan itu hilang dari layar Nara, tapi tetap bertahta dengan gagah di ponsel Arga.
"Nggak mungkin, nggak mungkin, nggak mungkin..." Nara mondar-mandir di kamar mandi seperti setrikaan rusak.
"Arga pasti mikir aku udah gila. Dia pasti mikir aku beneran jatuh cinta. Dia pasti lagi bikin laporan audit tentang kegilaan mental calon istrinya!"
Sepuluh menit berlalu tidak ada balasan, dua puluh menit dan masih hening.
"Biasanya dia bales PDF dalam tiga detik! Kenapa sekarang diam? Apa dia lagi pingsan? Atau lagi konsultasi sama pengacara buat batalin kontrak karena aku dianggap terlalu agresif?"
Tiba-tiba, ponselnya bergetar.
Arga:
"Nara?"
Nara menelan ludah. Ia memberanikan diri mengetik balasan dengan tangan gemetar.
Nara:
"MAAF! ITU SALAH KIRIM! SUMPAH! Itu buat Meta yang lagi galau! Tolong abaikan, hapus, bakar ponsel kamu kalau perlu!"
Satu menit kemudian, balasan Arga muncul. Kali ini tanpa titik di akhir kalimat, sesuai aturan protokol yang mereka sepakati.
Arga:
"Terlambat. Saya sudah membacanya tiga kali"
Nara ingin mengubur diri di dalam tanah sekarang juga. Tiga kali? Apa yang dia baca tiga kali? Bagian 'Sayang'? Atau bagian 'I love you'?
Arga:
"Secara logika, deskripsi 'berlian' yang kamu berikan agak berlebihan untuk saya. Tapi terima kasih atas apresiasinya. Dan saya bukan 'cowok nggak guna'. Saya punya pekerjaan tetap dan asuransi kesehatan yang komprehensif"
Nara melongo.
"Dia... dia beneran mikir pesan itu buat dia?"
Nara:
"ARGA! Kan udah dibilang itu SALAH KIRIM! Aku nggak bilang kamu berlian! Aku bilang Meta berlian! Dan aku nggak bilang I love you ke kamu!"
Arga:
"Iya, saya tahu. Tapi pesan itu masuk ke akun saya. Jadi secara teknis, data itu milik saya sekarang"
Nara melempar ponselnya ke bantal.
"Cowok gila! Robot saraf pendek! Bisa-bisanya dia bercanda di saat aku lagi di ambang serangan jantung!"
Keesokan harinya, mereka harus bertemu untuk mengecek lokasi outdoor di sebuah taman. Nara sengaja datang dengan wajah cemberut, memakai kacamata hitam besar untuk menutupi matanya yang kurang tidur karena memikirkan insiden "Sayang" semalam.
Arga sudah berdiri di sana, tampak segar dengan kemeja flanel yang rapi. Ia melihat Nara datang dan sudut bibirnya sedikit terangkat ada sebuah anomali yang jarang terjadi.
"Selamat pagi, Berlian," sapa Arga datar.
Nara hampir tersandung akar pohon. "Berhenti manggil aku gitu! Itu memalukan!"
"Kenapa? Kamu sendiri yang bilang kalau orang yang menerima pesan itu adalah berlian," goda Arga.
Untuk pertama kalinya, Nara melihat binar jenaka di mata pria itu.
"Arga, sumpah ya, kalau kamu bahas itu lagi, aku bakal nikah sama pohon beringin di belakang sana daripada sama kamu!"
Arga berjalan di samping Nara, tangan mereka sesekali bersentuhan karena jalanan setapak yang sempit.
"Nara, soal pesan semalam..."
"Apalagi?!"
"Bagian 'I love you'-nya," Arga menggantung kalimatnya, membuat Nara menahan napas. "Meskipun salah kirim, itu pertama kalinya ada orang yang mengirimkan kalimat seperti itu di sela-sela jam kerja saya yang membosankan. Biasanya saya cuma dapat pesan 'Pak, data audit sudah siap' atau 'Pak, ada revisi pajak'."
Nara tertegun. Ia menoleh ke arah Arga, mencari tanda-tanda sindiran, tapi yang ia temukan hanyalah ekspresi jujur.
"Jadi... kamu nggak marah?" tanya Nara pelan.
"Marah? Tidak. Hanya sedikit... bingung," Arga berhenti berjalan dan menatap Nara.
"Jantung saya mendadak melakukan overclocking yang detak jantung yang melebihi batas normal tanpa aktivitas fisik yang berat. Saya hampir saja memanggil ambulans sebelum sadar kalau itu reaksi psikologis."
Nara tertawa spontan.
"Itu namanya baper, Arga! Bukan overclocking! Kamu itu manusia, bukan prosesor komputer!"
Arga ikut tersenyum. Dan kali ini, senyumnya tidak tipis. Itu senyum yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Mungkin, istilah kamu lebih sederhana."
Dua jam kemudian, saat Nara sudah kembali ke rumah dan sedang rebahan santai, sebuah notifikasi masuk. Dari Arga.
Itu bukan PDF bukan juga koordinasi vendor.
Arga:
"Saya juga suka sama kamu. Eh maksud saya, saya juga suka sama konsep dekorasinya. Bagus, pilih yang itu saja"
Nara bangkit berdiri dari kasurnya secepat kilat, ia membaca pesan itu berulang-ulang.
Arga:
"Maaf, salah ketik. Maksud saya itu 'Saya setuju dengan pilihan kamu'"
Nara tersenyum lebar sampai pipinya pegal. Ia tahu Arga sedang berusaha menutupi kegugupannya dengan bahasa formal yang gagal total.
Nara:
"Oh ya? Yakin salah ketik? Bukan lagi 'overclocking' nih jarinya?"
Arga:
"Sepertinya ada gangguan pada sistem koordinasi motorik saya. Tolong abaikan pesan sebelumnya"
Nara:
"Nggak mau! Data itu sudah masuk ke akun aku, jadi secara teknis, data itu milik aku sekarang. Wlee! 😜"
Malam itu, Nara tidur dengan memeluk bantal paha ayamnya, menatap layar ponsel yang menampilkan percakapan absurd mereka. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi peduli pada tuntutan keluarga atau tekanan publik. Karena di antara salah kirim dan salah paham, ada sesuatu yang mulai terasa "benar" di antara mereka.
Sandiwara ini mungkin memang ditonton banyak orang, tapi perasaan yang tumbuh di balik layar mulai menunjukkan bahwa mereka bukan lagi sekadar aktor. Mereka adalah dua orang asing yang sedang belajar bahwa cinta tidak selalu butuh logika, terkadang ia hanya butuh satu pesan salah kirim untuk memulai segalanya.