Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.
"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"
"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."
*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 RAHASIA KECIL
MALAM ITU, setelah Kirana Yudhoyono kembali dari audisi yang menguras emosi, tubuhnya terasa lunglai. Audisi tersebut memang berakhir sukses besar, tetapi lonjakan adrenalin yang sebelumnya memuncak kini berganti menjadi kelelahan yang menghantam tanpa ampun.
Hal pertama yang ia lakukan setibanya di apartemen adalah mandi air hangat. Uap air membelai pori-porinya, seolah meluruhkan satu per satu sisa ketegangan sejak pagi—sejak ia terjebak macet di jalanan Jakarta.
Setelah tubuhnya terasa lebih ringan, Kirana memutuskan keluar sebentar ke supermarket terdekat yang masih buka.
Ia berjalan perlahan di antara rak-rak, memilih bahan untuk membuat shabu-shabu sederhana: irisan daging sapi segar, sayuran hijau, jamur, serta bumbu pelengkap. Ia juga mengambil piring plastik sekali pakai, karena malam ini ia benar-benar tidak ingin mencuci piring. Beberapa kaleng teh soda favoritnya ikut masuk keranjang.
Semua itu ia siapkan untuk merayakan kemenangan kecilnya—sendirian.
Sambil menjinjing belanjaan, ia bergumam dalam hati.
'Setelah kemarin aku hampir kehilangan nyawa di tangan para penculik itu… setidaknya aku berhak makan enak sekali ini saja, kan?'
Lorong apartemen menyambutnya dalam keheningan seperti biasa.
Kirana sadar betul—merayakan sesuatu sendirian di ruangan sunyi adalah salah satu bentuk kesepian paling telanjang di dunia. Namun ia bukan lagi gadis rapuh yang perlu dikasihani. Bertahun-tahun hidup sendiri di industri hiburan yang kejam telah mengajarinya berdiri tanpa sandaran.
Jadi merayakan sendiri bukan masalah.
Atau setidaknya, itu yang selalu ia katakan pada dirinya sendiri.
Sesampainya di rumah, ia mulai menyiapkan semuanya dengan teliti. Saat panci berisi kaldu gurih mulai memanas di atas kompor portabel—mengeluarkan desisan lembut dan gelembung kecil—irisan daging serta sayuran sudah tertata rapi di piring saji.
Ting! Tong!
Bel pintu berbunyi nyaring, memecah kesunyian malam.
Kirana terkesiap. Dahinya berkerut.
'Siapa yang datang jam segini?'
Ia melangkah ke pintu dan membukanya perlahan.
Tubuhnya langsung membeku.
Di ambang pintu apartemennya yang sederhana—bahkan sedikit kusam—berdiri Bryan Santoso.
Pria itu tampak rapi dan gagah dalam setelan mahal yang dilapisi mantel hitam elegan. Sosoknya menjulang di bawah lampu lorong yang temaram.
Namun bukan itu yang membuat jantung Kirana terasa berhenti.
Di lengannya, ia menggendong Kael.
Anak kecil itu terlihat menggemaskan dalam pakaian hangat tebal, tangan mungilnya memegang keranjang buah berwarna-warni.
Pemandangan itu terasa ganjil. Kontras. Tidak masuk akal.
“Tuan… Tuan Bryan?”
Suara Kirana bergetar—bukan hanya karena terkejut, tetapi juga karena rasa gugup yang tiba-tiba menyerbu.
“Mengapa Anda datang kemari? Ini sudah larut malam. Ada apa sebenarnya?”
Bryan tidak menjawab panjang. Tatapannya tetap tajam namun tenang seperti biasa.
“Saya datang untuk memeriksa kondisi kesehatan Anda.”
Kirana melongo.
'Memeriksa kesehatan? Datang sendiri ke rumahku malam-malam begini?' 'Bahkan membawa Kael?' 'Ini normal? Atau orang superkaya memang seperti ini?'
Padahal lukanya hanya cedera ringan. Sekarang pun ia sudah merasa bugar, bahkan bisa berlari kecil. Mengapa seorang pimpinan SantoPrime sampai repot datang sendiri?
“Ah… begitu ya. Tuan Bryan baik sekali.”
Ia tersenyum kaku.
“Silakan masuk. Maaf kalau rumah saya agak berantakan.”
Begitu Bryan melangkah masuk—diikuti Kael yang turun dari gendongan dan berjalan kecil di belakangnya—Kirana langsung dilanda panik.
Tangannya bergerak cepat. Majalah yang berserakan ia selipkan ke bawah sofa. Dengan satu tendangan halus, tumpukan pakaian langsung menghilang ke kolong tempat tidur.
'Semoga dia tidak lihat. Semoga tidak kelihatan. Ya Tuhan, semoga—'
Setelah napasnya sedikit stabil, ia memaksakan sikap ramah.
“Silakan duduk di mana saja yang nyaman, Tuan Bryan. Anda berdua mau minum sesuatu?”
Ia berdeham kecil.
“Saya cuma punya teh celup dan susu kotak. Tidak apa-apa?”
'Astaga. Apa pria sekelas dia pernah minum teh celup murah di rumah orang lain?'
“Teh. Tidak masalah.”
Bryan mengangguk singkat.
Cara ia mengangguk dan duduk—tepat, tegak, penuh wibawa—membuatnya tampak seperti prajurit elite yang sedang melapor pada komandan tertinggi.
Kirana segera ke dapur. Ia merebus air, menyeduh teh untuk Bryan, lalu menuangkan susu hangat ke gelas plastik bergambar lucu untuk Kael.
Sementara itu, di ruang tengah, pemandangan langka terjadi.
Tubuh Bryan yang tinggi dan tegap terlihat terlalu besar saat duduk di sofa kecil milik Kirana. Ia seperti raksasa yang tersesat di rumah boneka.
Kael duduk manis di samping ayahnya, kaki pendeknya berayun pelan.
Wajah mereka sama-sama datar.
Dua patung. Dicetak dari cetakan yang sama.
Kirana menatap mereka bergantian, perasaannya campur aduk.
'Kenapa situasinya jadi secanggung ini…' 'Aku bahkan ingin menangis, tapi air mataku tidak keluar.' 'Sebenarnya… alasan masuk akal apa dua orang luar biasa ini datang ke apartemen sempitku malam-malam begini?'
Pssshhhh…
Desisan dari panci kaldu terdengar makin keras. Aroma rempah shabu-shabu yang kaya langsung memenuhi ruangan, menggoda indra penciuman siapa pun yang berada di sana.
Hening.
Kecanggungan mencapai puncaknya.
Untuk memecah suasana, Kirana menarik napas panjang lalu memberanikan diri berbicara.
“Anu… kebetulan saya baru menyiapkan bahan shabu-shabu. Kalian berdua sudah makan malam?”
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan hati-hati,
“Kalau belum… mau ikut makan di sini?”
'Terserah mereka mau jawab apa. Yang penting aku sudah menjalankan kewajiban sebagai tuan rumah.'
Ia sangat yakin Bryan akan menolak.
“Boleh.”
Kael bahkan langsung menganggukkan kepala kecilnya cepat-cepat, hampir melonjak di tempat duduknya.
'…Eh?' 'Tunggu dulu—aku tadi cuma basa-basi!' 'Dia langsung setuju? Tanpa penolakan sopan dulu?'
Yang satu Direktur Utama konglomerat raksasa. Yang satu lagi tuan muda yang pasti sudah mencicipi segala makanan mahal.
Tapi mereka mau makan hidangan sederhana di rumahnya?
'Kenapa?'
Kirana menelan ludah. Ia merasa tidak tega melihat pimpinan SantoPrime duduk di meja plastiknya. Namun karena sudah terlanjur menawarkan, ia menegakkan bahu dan bersikap profesional.
Ia mengantar mereka ke meja makan lalu menambahkan alat makan seadanya.
“Tapi kuahnya cukup pedas, Tuan Bryan. Apa Anda dan Kael tahan?”
“Saya tidak masalah dengan pedas.”
Kael mengangguk lagi, lebih antusias. Matanya berbinar menatap uap panas dari panci.
'Oke. Baiklah.' 'Terserah kalau begitu.'
Sepanjang makan malam, Bryan Santoso justru tidak banyak makan untuk dirinya sendiri.
Sebagian besar waktunya ia habiskan untuk memasakkan daging dan sayuran—khusus untuk Kirana dan putranya. Gerakan tangannya saat menjepit daging dengan sumpit lalu mencelupkannya ke kaldu panas terlihat sangat terampil. Tenang. Terbiasa.
'Pria ini… jangan-jangan jago masak?'
Kirana diam-diam mengamati, mencoba membaca sesuatu dari ekspresi pria itu. Namun wajah Bryan tetap seperti dinding polos tanpa retakan.
Hal lain yang mengejutkan—Kael ternyata sangat menyukai pedas. Selera anak itu persis seperti seleranya. Mereka berdua hampir tidak berhenti makan setelah merasakan sensasi pedas yang menggigit di lidah.
Namun saat pipi Kael mulai memerah, Kirana sedikit khawatir.
“Tuan Bryan…”
Suaranya pelan.
“Apa tidak apa-apa Kael makan pedas sebanyak itu? Saya takut perutnya nanti tidak kuat.”
'Kalau sampai terjadi apa-apa pada pangeran kecil keluarga Santoso ini… aku tidak akan mampu menanggung akibatnya.'
“Tidak perlu khawatir berlebihan,” jawab Bryan datar. “Anak saya tidak selemah yang Anda bayangkan.”
Mendengar penegasan itu, Kirana langsung mengangguk patuh.
Ia tidak berani membantah lagi.
“Bagaimana hasil audisi Anda hari ini?”
Kirana tersentak.
Pria yang sejak tadi lebih mirip patung penjaga museum itu tiba-tiba justru membuka percakapan.
Namun ia segera tersenyum lebar, penuh kebanggaan.
“Puji Tuhan, Tuan Bryan, sukses besar! Itu sebabnya saya merayakan kecil-kecilan malam ini.”
Bryan mengangkat cangkir tehnya sedikit ke arah Kirana—gestur sederhana namun elegan.
“Selamat atas keberhasilan Anda.”
'…Apa?' 'Orang pertama yang mengucapkan selamat justru dia?' 'Siapa yang bakal percaya kalau aku cerita ini ke orang lain?'
Kirana tersenyum tulus. Ia mengangkat kaleng teh sodanya lalu menyentuhkannya pelan ke cangkir Bryan.
“Terima kasih banyak, Tuan Bryan!”
Saat senyum Kirana merekah cerah—
Bryan sejenak merasa silau.
Ada sesuatu dalam ekspresi wanita itu. Terlalu jujur. Terlalu hangat. Terlalu… murni.
Kirana lalu menoleh ke Kael dengan tatapan lembut.
“Ini juga berkat bantuanmu, Kael. Kalau bukan karena kamu kemarin di gudang itu, Tante pasti terlambat sampai audisi.”
Ia menyodorkan gelasnya.
“Ayo, kita bersulang juga untuk keberhasilan Tante!”
Kael menatap susu di gelasnya. Lalu melirik teh soda Kirana. Lalu melirik teh ayahnya.
Wajah kecilnya menunjukkan sedikit dilema.
Namun akhirnya ia tetap membenturkan gelas susunya ke gelas Kirana.
Glek.
Ia langsung menghabiskan susu dalam satu tegukan panjang.
Kirana menahan tawa.
'Anak ini jangan-jangan sedang meniru gaya orang dewasa yang minum buat melupakan masalah.' 'Lucu banget…'
Suasana makan malam perlahan mencair.
Tiba-tiba Bryan berdiri. Ia berjalan ke teras sempit apartemen sambil mengangkat ponsel yang bergetar—panggilan bisnis.
Begitu Bryan keluar ruangan, Kirana langsung menyikut lengan kecil Kael dengan ekspresi conspiratorial.
Ia menyodorkan gelas teh soda berbuih ke depan wajah bocah itu.
“Hehe, Kael. Kamu penasaran, kan, rasanya minuman ini?”
'Cepat diminum selagi ayahmu tidak lihat…'
“Coba sedikit saja. Ingat, cuma satu tegukan kecil!”
Mata Kael langsung berbinar seperti langit penuh bintang. Ia menunduk dan menyesap sedikit soda itu dengan wajah bahagia.
Rasanya mungkin aneh dan menyengat bagi lidahnya. Tapi ia tampak puas.
Kini mereka punya rahasia kecil.
Saat Bryan kembali masuk—
Kirana sudah duduk tegak rapi.
'Nggak terjadi apa-apa.' 'Aku tidak menyuruh anaknya minum soda.' 'Tidak ada bukti.'
Kael pun mendadak berubah jadi aktor cilik berbakat. Ia duduk anteng sambil menyesap sisa susu dengan wajah polos tanpa dosa.
Bryan tampak tidak menyadari apa pun.
Namun secercah kehangatan tipis sempat melintas di matanya saat ia memandang putranya.
Dan Kirana.
Malam itu, nafsu makan mereka bertiga ternyata sama-sama besar. Meskipun Kirana merasa sudah membeli bahan terlalu banyak, akhirnya seluruh isi panci dan piring habis tanpa sisa.
Kirana melirik jam.
'Larut malam.' 'Haruskah aku menyuruh mereka pulang?' 'Tapi mengusir tamu seperti mereka rasanya tidak sopan…'
BLAAR!
Kilatan petir menyambar langit. Dunia di luar jendela seketika putih, disusul guntur yang menggelegar seolah hendak merobohkan gedung.
Badai yang diprediksi akhirnya tiba.
“Tadi saya melihat berita cuaca,” kata Kirana pelan. “Malam ini memang akan ada badai besar di Jakarta… mungkin disertai puting beliung kecil.”
'Sial.' 'Kenapa harus sekarang?'
Angin menderu. Hujan menghantam kaca jendela.
Kael menatap Kirana dengan ekspresi memohon—jelas tidak ingin pulang.
Bryan hanya diam. Menatap lurus ke arahnya.
Tekanan suasana membuat kepala Kirana berdenyut.
Akhirnya ia menyerah.
“Ini sudah sangat larut, Tuan Bryan. Cuaca di luar juga semakin buruk.”
Ia menelan ludah.
“Kalau Anda memaksa pulang membawa Kael dalam badai seperti ini… itu berbahaya.”
Ia berhenti sejenak.
“Bagaimana kalau…”
'Ini cuma basa-basi.' 'Dia pasti menolak.'
“Bagaimana kalau kalian menginap saja di sini malam ini?”
'TOLAK. TOLAK. TOLAK.'
“Baik. Saya setuju.”
Kael langsung mengangguk cepat, wajahnya berseri-seri.
'…APA?' 'DIA SETUJU LAGI?!' 'TANPA PIKIR PANJANG?!'
Kirana merasa pria itu benar-benar tipe yang terlalu praktis. Tanpa basa-basi. Tanpa formalitas.
'Atau… jangan-jangan…' 'Sejak tadi mereka memang menunggu aku menawarkan ini?'
Ia hampir pusing sendiri memikirkan kemungkinan itu.
Namun keputusan sudah terucap.
Bryan Santoso dan Kael akan menginap malam ini.
Masalah baru muncul.
Apartemen yang disediakan perusahaan untuk Kirana tidak besar. Hanya ada satu kamar tidur dan satu ruang tamu kecil tempat mereka sekarang berada.
Menentukan posisi tidur bertiga jelas bukan hal sederhana.
“Begini saja, Tuan Bryan,” ujar Kirana mencoba tenang. “Saya tidur di sofa saja. Anda dan Kael pakai kamar saya. Saya akan ganti seprai dulu—”
“Tidak perlu.”
Bryan memotong.
Nada suaranya mutlak. Tidak memberi ruang debat.
“Saya yang tidur di sofa. Anda tidur di kamar bersama Kael.”
'…' 'APA?!'
Kirana merasa seperti baru melakukan dosa besar.
Bukan hanya ia sudah menyajikan shabu-shabu sederhana di meja plastik—
Sekarang ia bahkan membiarkan seorang CEO tidur di sofa sempit ruang tamunya.
'Ya Tuhan.' 'Aku tidak pantas hidup kalau begini caranya.'
Ia memegangi pelipisnya.
Seandainya malam ini Bryan datang sendirian—
Bahkan jika di luar sedang hujan es sekalipun—
Kirana tidak akan pernah mengizinkannya menginap.
Ia tahu risiko seorang pria dan wanita lajang berada di bawah satu atap tanpa ikatan. Gosip, fitnah, spekulasi—semua pasti muncul. Terlebih setelah ucapan ambigu Bryan di rumah sakit siang tadi.
Namun sekarang situasinya berbeda.
Ada Kael di sini.
Kehadiran anak itu seperti penyeimbang logika.
Membawa pulang bocah kecil di tengah badai seperti ini memang berbahaya.
'Dengan Kael di sini… situasinya tidak mungkin jadi aneh.' 'Kan?'
Pada akhirnya Kirana hanya bisa pasrah.
“Baiklah, Tuan Bryan.”
Ia menarik napas panjang.
“Saya akan mencari pakaian ganti untuk kalian berdua supaya bisa mandi dan berganti dengan pakaian tidur yang lebih nyaman daripada setelan formal itu.”
Kirana kemudian masuk ke kamar dan mulai menggeledah lemari pakaiannya dengan teliti.
Ia mencari tumpukan baju lama yang sekiranya masih layak dipakai orang lain.
Dan siapa sangka—ia benar-benar menemukannya.
Di bagian paling bawah, ternyata masih tersimpan beberapa properti unik dari masa lalu saat ia pernah bekerja paruh waktu sebagai model produk anak-anak.
Salah satunya piyama kostum Pikachu berwarna kuning cerah, ukuran anak-anak.
Selama ini benda itu hanya tersimpan tanpa pernah ia sentuh lagi.
Namun sekarang, piyama lucu itu tampak sempurna untuk Kael.
Mencari pakaian ganti untuk Bryan Santoso justru jauh lebih mudah dari perkiraannya.
Ia teringat saudara laki-laki angkatnya, Loka, pernah meninggalkan beberapa pakaian di apartemen ini saat berkunjung beberapa waktu lalu.
Sejak Kirana kembali ke keluarga kandungnya di Jakarta, ia sebenarnya merasa bersalah pada orang tua angkatnya di kampung. Beban emosional membuatnya perlahan menjauh dan kehilangan kontak.
Satu-satunya yang masih rutin berhubungan dengannya hanyalah Loka.
Setelah menemukan pakaian yang diperlukan, Kirana juga mengambil selimut tebal serta bantal cadangan bersih.
Semua itu ia siapkan untuk Bryan di ruang tamu.
Sofa ruang tamunya sebenarnya terlalu kecil untuk pria setinggi Bryan. Kaki panjangnya pasti akan menggantung.
Jadi, dengan sedikit kreativitas, Kirana menambahkan kursi kayu di ujung sofa sebagai penopang tambahan agar panjang alas tidur cukup.
Sementara itu, Kael ternyata anak yang sangat mandiri.
Tanpa perlu diminta berkali-kali, ia sudah mandi sendiri menggunakan perlengkapan yang disediakan Kirana. Setelah itu ia mengenakan piyama Pikachu kuning dan langsung naik ke tempat tidur besar milik Kirana.
Setelah semua urusan tamu selesai, Kirana pun masuk kamar mandi.
Selesai mandi, ia memilih pakaian tidur paling sopan dan tertutup yang ia punya.
Ia memastikan pakaiannya aman. Tidak memperlihatkan bagian tubuh yang tidak pantas—mengingat ada pria dewasa yang tidur di ruang tamunya.
Kirana keluar kamar sebentar.
“Kalau begitu, Tuan Bryan, saya masuk dulu untuk tidur.”
Suaranya pelan dan sopan.
“Kalau Anda membutuhkan sesuatu nanti malam, jangan ragu memanggil saya.”
“Baik. Tidurlah.”
Melihat Kirana yang baru selesai mandi, Bryan sempat tertegun.
Sejenak fokusnya buyar. Namun segera ia menajamkan kembali tatapannya—yang kini sepenuhnya tertuju pada wanita itu.
Rambut panjang Kirana disanggul sederhana, menonjolkan leher jenjangnya. Ia mengenakan piyama dua potong yang sangat sederhana dan tertutup.
Tanpa riasan apa pun, kulitnya yang pucat tampak merona alami karena uap mandi.
Secara logika, tidak ada yang salah dengan penampilannya.
Namun—
Di dalam dirinya muncul masalah serius.
Ia sadar betul tubuhnya mulai bereaksi secara biologis hanya karena melihat Kirana berdiri di hadapannya.
…
Kirana segera masuk kamar dan menutup pintu rapat.
Saat berbalik, ia melihat makhluk kecil menggemaskan sudah meringkuk di tempat tidurnya.
Ia kembali merasa situasi ini tidak nyata.
Sejak malam tadi, terlalu banyak kejadian tak terduga terjadi beruntun di luar logikanya.
“Ayo, Kael. Tidur.”
Ia berbisik lembut sambil berlutut di sisi ranjang. Lampu utama sudah dimatikan; hanya lampu kecil redup yang tersisa.
Kael membuka mata lebar-lebar, menatapnya lurus. Ekspresinya jelas—ia belum mau tidur.
Kirana mulai pusing lagi.
Ia tahu anak kecil biasanya butuh ritual sebelum tidur. Misalnya dongeng.
Ia mengangkat tangan pasrah.
“Tante tidak terlalu pandai bercerita,” katanya pelan. “Jadi bagaimana kalau Tante nyanyikan lagu saja supaya kamu cepat tidur?”
Kael langsung mengangguk antusias.
Kirana menepuk punggungnya pelan, ritmis, menenangkan.
Ia mulai menyanyikan lagu nina bobo dengan suara sangat lembut—nada yang hangat, menenangkan, seperti angin malam yang mengayun daun.
Namun tiba-tiba ia berhenti.
Ia tersadar lirik berikutnya tidak cocok untuk anak kecil.
🎶 Pada hari di musim hujan yang terasa agak dingin namun juga hangat ini… 🎶
🎶 Dengan penuh ketenangan aku berada di sisimu sekarang… 🎶
🎶 Diam-diam aku mengamati cahaya redup yang seolah berkelap-kelip sedang menari… 🎶
🎶 Angin yang berembus membawa beberapa helai daun yang jatuh… 🎶
🎶 Hati yang tergerak ini seolah terus berlanjut tanpa pernah ada ujungnya… 🎶
🎶 Di antara perasaan yang setengah mabuk dan juga setengah sadar ini… 🎶
🎶 Aku hanya bisa tertawa tanpa kendali di dalam kesunyian ini… 🎶
🎶 Biarkanlah aku melayang bebas seperti kepingan salju di antara gumpalan awan… 🎶
🎶 Menggunakan hawa dinginku untuk mencium orang lain dengan rasa yang lembut… 🎶
🎶 Membangkitkan kembali gelombang emosi mereka yang mungkin telah lama padam… 🎶
🎶 Meninggalkan entah berapa banyak jejak cinta di dunia yang fana ini… 🎶
🎶 Sambil menyambut datangnya kehidupan yang singkat beserta berbagai perubahannya yang tak pasti… 🎶
Kirana tiba-tiba saja menghentikan nyanyiannya tepat di bagian ini.
Ia tersadar.
Dan teringat.
Baris lirik selanjutnya dari lagu tersebut adalah— ”Melakukan berbagai hal yang menyenangkan bersama dengan kekasihmu…”
Kirana meringis pelan dalam kegelapan.
’Bagaimana mungkin lirik yang terdengar cukup dewasa seperti itu pantas untuk dinyanyikan sebagai lagu pengantar tidur bagi anak sekecil Kael?’
'Nyaris saja…'
“Uhuk… Kael. Sepertinya Tante ganti cerita saja, ya.”
Ia cepat mencari alternatif di ingatan.
Akhirnya ia menemukan ide.
Ia mulai bercerita pelan—
Tentang seekor katak kecil ceria yang hidup di kolam bahagia. Katak itu melompat-lompat seolah dirinya pangeran tampan, yakin suatu hari akan bertemu putri yang ditakdirkan untuknya.
Suara Kirana lembut, ritmenya stabil seperti alunan ayunan.
Tak lama kemudian—
Napas Kael berubah teratur.
Anak itu tertidur.
'Huft…'
Kirana mengusap keringat tipis di dahi.
'Ternyata menjaga anak kecil itu melelahkan juga…'
Tiba-tiba ia merasa kagum pada Bryan Santoso.
Ia membayangkan betapa luar biasanya pria itu—menjadi ayah tunggal bertahun-tahun sambil memimpin kerajaan bisnis sebesar SantoPrime.
Rasa penasaran muncul.
Ia sama sekali tidak tahu siapa ibu kandung Kael.
Mengapa wanita itu melahirkan Kael…
Namun tidak tinggal bersama Bryan?
Apakah karena perbedaan status sosial?
Atau mereka pernah bertengkar hebat hingga berpisah?
Pikiran-pikiran itu berputar perlahan di kepalanya.
Kesadarannya pun ikut memudar.
Kirana akhirnya tertidur di samping Kael.
Namun—
Di tengah sunyi malam, tiba-tiba ia terbangun.
Sebuah suara gaduh terdengar dari ruang tamu.
✨ Bersambung… ✨