NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Diam-Diam Pada CEO Cantik

Jatuh Cinta Diam-Diam Pada CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Cintapertama / CEO
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: Djginting

gimana kalo cowok pas-pasan kebelet cinta sama bosnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djginting, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembelaan Diam

Pagi itu, ruang rapat utama Wiratama Trading menjadi medan eksekusi yang sunyi. Rijal Adiwijaya sudah duduk dengan senyum simpul yang memuakkan, seolah-olah ia baru saja memenangkan pertarungan sebelum pedang sempat ditarik. Di hadapannya, dewan direksi sudah bersiap untuk menandatangani mosi tidak percaya terhadap manajemen Alina, dengan menjadikan Bima Pradana sebagai tumbal utamanya.

Alina Wiratama masuk ke ruangan dengan langkah yang ritmis, tanpa ekspresi, seolah-olah ketegangan di ruangan itu hanyalah debu yang perlu dibersihkan. Ia tidak duduk di kursi kebesarannya, melainkan berdiri di ujung meja kayu mahoni yang dingin.

"Saya rasa kita bisa menghemat waktu semua orang," ucap Alina datar, memecah kesunyian yang mencekam.

Dengan gerakan yang tegas, Alina meraih sekumpulan map tebal di tangannya. "Lihat ini," ujarnya singkat sambil melemparkan map-map tersebut ke tengah meja. Suara hantaman kertas dengan kayu mahoni itu terdengar seperti bunyi vonis. Map-map itu meluncur di hadapan Rijal dan para direktur lainnya, terbuka dan menantang untuk dibaca.

Rijal mengernyit, tangannya gemetar sedikit saat meraih lembaran tersebut. "Ini apa, Alina? Kita di sini untuk membahas kegagalan—"

"Itu adalah fakta," potong Alina. Ia segera menekan tombol pada remot kontrol di tangannya. Seketika, layar proyektor besar di belakangnya menyala, menampilkan interface teknis yang rumit namun rapi.

Alina tidak butuh pidato melankolis. Ia menyajikan log audit yang tidak bisa dimanipulasi, timeline digital yang menunjukkan aktivitas detik demi detik dari setiap input data, dan sebuah analisis dampak bisnis yang akurat. Di layar itu, terlihat jelas bahwa data yang dituduhkan sebagai "kesalahan fatal" oleh Rijal sebenarnya adalah sebuah anomali sistem yang justru berhasil diredam oleh langkah-langkah non-konvensional yang diambil Bima.

"Input yang dilakukan Bima Pradana mungkin terlihat tidak lazim," jelas Alina sambil menunjuk sebuah grafik yang melonjak tajam. "Tapi secara teknis, itu adalah satu-satunya cara untuk mengunci kebocoran data dari akun administrator eksternal yang mencoba menyusup. Hasilnya? Kita tidak kehilangan satu rupiah pun. Malah, efisiensi waktu distribusi meningkat empat persen."

Rijal terdiam. Wajahnya yang tadinya kemerahan karena ambisi, kini memucat. Ia menatap log audit di layar, lalu beralih ke map di depannya. Tidak ada celah. Tidak ada ruang untuk debat. Tuduhan Rijal gugur secara hukum perusahaan. Bukti-bukti yang disodorkan Alina terlalu presisi untuk dibantah oleh sekadar narasi fitnah.

"Rapat selesai," kata Alina dingin. Ia menutup tabletnya tanpa menunggu tanggapan dari dewan direksi yang kini saling pandang dengan canggung.

Bima berdiri kaku di koridor luar ruang rapat. Ia sudah menyiapkan ribuan kata pembelaan, sejuta analogi tentang "ikan dan samudera," dan beberapa kutipan motivasi yang ia cari di internet tadi malam. Ia berharap, saat pintu terbuka, Alina akan keluar dengan senyum kemenangan, menjabat tangannya, atau setidaknya memberikan tatapan "kita berhasil."

Pintu terbuka. Alina keluar dengan langkah cepat. Bajunya sangat rapi, rambutnya tidak ada yang berantakan sedikit pun. Ia melewati Bima begitu saja.

Tidak ada pelukan. Tidak ada jabat tangan. Bahkan tidak ada senyum hangat.

Alina hanya berhenti sejenak saat posisinya sejajar dengan Bima. Tanpa menoleh, ia berkata pelan namun menghujam, "Data itu menyelamatkanmu, Bima. Bukan saya. Mulai besok, pastikan pekerjaanmu bisa bicara lebih keras dari mulutmu."

Lalu, ia pergi.

Bima terpaku di tempatnya, menatap punggung Alina yang perlahan menjauh dan menghilang di balik pintu lift kaca. Rasa lega yang tadi sempat muncul tiba-tiba lenyap, digantikan oleh sebuah kesadaran yang dingin dan menyakitkan.

Ia menyadari satu hal yang menghujam jantungnya: ia selamat bukan karena takdir yang manis, bukan karena kasihan dari sang CEO, apalagi karena "vibrasi semesta" yang selalu ia agung-agungkan di pantry. Ia selamat karena angka, kode, dan hasil kerja keras—hal-hal yang selama ini ia anggap remeh dan ia kerjakan dengan setengah hati.

Di lantai yang sunyi itu, Bima Pradana merasa kecil. Untuk pertama kalinya, filosofi "orang besar" miliknya terasa seperti sampah di hadapan realitas yang baru saja ia saksikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!