Karena pertumbuhan anak laki-laki terkadang memang sedikit lambat dari anak perempuan. Dan tinggi 182 sentimeter setelah 20 tahun berlalu, sudah lebih dari cukup untuk tidak membuat malu pemilik tinggi 160 sentimeter dengan kecentilannya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyeon Gee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
“Geunyeo gyerhonaesso. Geunde, wae ajikdo geunyeoui salla jikyeobogo ittneunde?(Dia udah nikah. Tapi, kenapa masih ngawasin kehidupannya?)”
Pertanyaan yang diajukan Min Gyu membuat Garra mengalihkan pandangan dari layar komputernya. Sesaat dia memperhatikan Min Gyu yang tengah menikmati sandwich sambil membolak-balik majalah di pangkuannya.
“Neo saenggakhae…geunyeo jigeum haengbokhaji?(Apa kamu mikir…dia bahagia sekarang?)” tanya Garra lirih.
“Kalau gak bahagia ngapain dia lahirin anak orang itu?”
Pertanyaan yang kembali diajukan Min Gyu membuat Garra hanya bisa menghela napas.
“Aku…masih gak tenang,” sahut Garra seraya kembali fokus pada pekerjaannya.
“Pernikahanmu aja gak ada yang bener. Malah ngurusin pernikahan orang lain,” omel Min Gyu.
“Udah kubilang dari awal, mereka yang gak bisa nerima keadaanku.”
“Dan udah kubilang dari awal, jangan nikah kalo cuma untuk ngalihkan perasaanmu. Aku pergi.”
Menyaksikan Min Gyu yang pergi meninggalkannya dengan keadaan kesal membuat Garra hanya bisa menghela napas keras. Dia meregangkan dasi dan bersandar di kursinya seraya memejamkan mata.
TOK! TOK! TOK!
Ketukan itu membuatnya yang terpejam cukup lama dalam ketenangan pun langsung membuka mata dan membetulkan posisi duduknya.
“Ne(Iya, silahkan),” ujar Garra memberi tanda.
Sesosok pria dengan senyum riang masuk ke ruangannya, nametag dengan nama Hong Sung Jae tergantung di lehernya.
“Apa?” tanya Garra tanpa mengalihkan pandangan dari berkas yang tengah ia pelajari.
“Aku…udah bekerja cukup lama. Boleh gak aku ambil cuti, Kak?”
Segera, Garra mengangkat wajahnya dan menatap wajah Sung Jae yang masih tersenyum semringah padanya.
“Orangtuamu ke sini?”
“Gak, Kak. Aku yang mau pulang ke Indonesia. Kak Eun Kwang juga mau pulang, kita mau ziarah.”
“Berapa hari? Boleh. Tapi, di Bulan Januari tanggal sepuluh. Mau?”
Ada sedikit raut kecewa usai Sung Jae mendengar usulan Garra.
“Tapi, kalo tanggal segitu boleh libur sampai tanggal berapa Kak?”
“Tanggal satu Februari, aku mau kalian udah di sini.”
Kedua bola mata Sung Jae tampak berbinar seketika usai mendengar pernyataan Garra. Hampir melompat namun, ia tahan rasa riangnya.
“Jadi, boleh berdua sama Kak Eun Kwang cuti sampai tanggal 30 Januari?” tanya Sung Jae meyakinkan.
“Boleh. Aku gak masalah. Asal jangan bulan ini. Banyak juga yang mau ambil cuti natal sama ibadah tahun baru. Kalo semua ambil cuti, nanti siapa yang kerja. Kalian mau, gak digaji?”
Segera, Sung Jae menggeleng dengan wajah riang.
“Aku bakalan sangat amat rajin bulan ini, Kak.”
“Iya, makasih. Bikin surat cuti sama Eun Kwang dari tanggal 10 sampai 30 Januari. Biar aku tanda tangani besok lusa.”
“Siap, Kak.”
Mungkin hanya aku yang perlu lebih belajar mengetahui arti bahagia setiap orang. Karena sejak hari itu, aku bahkan tidak tahu harus tersenyum untuk apa dan untuk siapa…
🎐🎐🎐
Dengan penuh duka cita yang mendalam untuk Saudara sekaligus Pimpinan Terbaik kita, David Sandjaya Tan atau biasa kita panggil Presiden Direktur Jeong Chang Ho, yang telah meninggalkan kita dalam keadaan tengah berjuang untuk kesembuhan pada tanggal 15 Maret 2013.
Sedih mendalam yang kita rasakan sekarang tentu sedikit banyak berpengaruh pada keadaan perusahaan yang telah kita tumbuhkan bersama. Entah sebagai warga Indonesia maupun Korea, David telah berhasil membentuk kita bukan sebagai rival namun, sebagai keluarga yang saling merangkul.
Dan untuk bisa terus menjalankan perusahaan yang telah beliau bangun hingga detik ini, serta sulitnya kita beroperasi selama masa transisi karena kekosongan posisi pimpinan. Dengan penuh rasa hormat serta hasil dari peninjauan selama 90 hari, kami selaku Tim Direksi Byeol Group, menunjuk Saudara Sagarra Rinoto Tan atau biasa kita panggil Direktur Jeong Min Woo yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Utama Divisi IT Desain Arsitektur.
Terkait hal tersebut, terhitung mulai hari ini tanggal, 18 Juni 2013, kami umumkan Saudara Sagarra Rinoto Tan a.k.a Jeong Min Woo resmi menjabat sebagai Presiden Direktur Byeol Group dan akan mengambil alih seluruh tugas serta tanggung jawab yang diemban oleh Almarhum Presiden Direktur David Sandjaya Tan a.k.a Jeong Chang Ho. Sekian pengumuman ini kami sampaikan dan mohon kerjasama serta dukungan seluruh bagian perusahaan agar transisi ini berjalan lancar.
Terima kasih…
Tenang, Garra melangkahkan kaki ke belakang meja besar dengan papan nama bertuliskan ‘Presiden Direktur Jeong Min Woo’. Pikirannya kosong, dia hanya menghela napas pelan sebelum kemudian duduk dan membenamkan wajah kelipatan tangannya di atas meja.
“Selamat dan sukses!”
Teguran itu benar-benar mengejutkannya. Dia mengangkat wajah dan dilihatnya dengan jelas segelas Americano dingin serta sosok Min Gyu yang berdiri sambil menyedot minuman yang sama dengan wajah datar.
“Orang bilang, roda kehidupan berputar. Tapi, untuk kategorimu dan Chang Ho, aku akan bilang, kalian jungkir balik.”
Ada rasa geli yang tertahan usai dia mendengar celoteh Min Gyu. Perlahan dia berdiri dan meraih minumannya. Dan sedetik kemudian, mereka sudah duduk berhadapan dalam posisi santai serta keheningan cukup lama sambil memperhatikan sekeliling.
“Jadi, apa yang mau kamu lakuin? Biasanya kamu memeriksa laporan dan melaporkan lagi ke ruangan ini. Menunggu keputusan, lalu menjalankan semua sesuai rencana yang ada,” ucap Min Gyu yang kini menatap dalam Garra yang melamun memandangi rak buku besar di pojok ruangan.
Sesaat senyum sinis terukir di wajah datar Garra.
“Manusia itu bodoh. Di masa lalu mereka mau cepat memasuki masa depan tapi, saat masa depan datang dan mengecewakan, mereka malah mau balik lagi ke masa lalu.”
Mendengar celotehnya, Min Gyu pun mengerutkan kening sampai Garra tersenyum tipis padanya.
“Aku lagi ngatain diri sendiri. Andai, seandainya, kalimat-kalimat berandai bermunculan abis kejadian itu. Coba kalo aku gak ngajak dia ikut beasiswa. Coba kalo aku sama dia tetap kuliah di Yogya. Coba kalo aku nahan dia buat gak operasi. Coba kalo aku ngasi tau semua ke keluarganya. Coba kalo aku nganggap serius semua omongannya. Terlalu banyak hal dan sekarang, duduk di sini pun aku masih jadi orang gak bersyukur dengan mikir, coba aku gak nerima keputusan tim sebelum pengumuman di umumkan.”
Ada rasa iba tatkala Min Gyu melihat Garra yang kini tertunduk sambil memegang erat gelas kopinya.
“Jadi, gak ada sesuatu pun yang bisa bikin semangat?” tanya Min Gyu dengan perasaan tak nyaman.
“Untuk sekarang, iya.”
“Gimana dengan cewek itu?”
“Dia nutup hati dan dirinya. Kalo mau dibilang sebagai penyemangat pun aneh, dia bukan temenku. Kami pun gak pernah sedekat itu. Cuma tau, dia pacar David, dia anak baik, namanya Echa. Udah. Gak lebih.”
“Tapi…gak ada salahnya nyoba deket. Seenggaknya kalian ngalamin masa sulit dan sedih untuk orang yang sama.”
Sejenak, Garra menggeleng pelan.
“Aku gak tau harus mulai darimana kalo ngebahas soal dia. Seakan gak ada awal untuk memulai, dan akhir untuk berjuang.”
“Haaa…rumit. Tapi, mulai pelan-pelan kalo udah yakin. Aku sama Joo Heon siap ngelakuin apa aja. Aku balik dulu.”
“Min Gyu~ya?”
Teguran itu membuat Min Gyu mengurungkan niatnya membuka pintu dan berbalik menatap Garra.
“Aku gak berani ngutarakan apa yang ada di pikiranku sekarang. Tapi, kalo tiba masanya nanti. Aku harap kamu masih tetap bantu.”
Mendengar celoteh serta senyum tipisnya, Min Gyu pun mengacungkan jempol sebelum benar-benar keluar dari ruangannya.
Terkadang memiliki satu, dua teman setia lebih baik daripada harus memiliki sepuluh orang yang mengaku ‘sahabat’…