NovelToon NovelToon
PENYESALAN SANG PENGUASA

PENYESALAN SANG PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Kaya Raya
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa

Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Gema dari Kegelapan

"Gautama tidak mungkin menguap begitu saja tanpa bantuan orang dalam yang sangat berkuasa," tandasku dengan nada tajam sambil menatap layar monitor yang terus berkedip merah.

Rian mengetik dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Jemarinya menari di atas keyboard menciptakan turbulensi data yang memenuhi ruangan. Aku melihat keringat menetes dari pelipisnya. Di layar, peta satelit kota menunjukkan titik lokasi penyerangan konvoi polisi yang kini sudah berubah menjadi lautan sirene biru dan merah.

"Bos, sistem komunikasi kepolisian di sektor utara benar-benar mati total selama sepuluh menit saat penyerangan terjadi. Ini adalah operasi militer yang sangat rapi, bukan sekadar pelarian narapidana biasa," lapor Rian tanpa menoleh sedikit pun.

Aku menarik napas panjang untuk menstabilkan detak jantungku yang mulai terpacu oleh adrenalin. Seeula berdiri tidak jauh dariku. Wajahnya masih memucat setelah kemenangan atas Darwin yang baru saja ternoda oleh kabar pelarian Gautama. Aku melangkah mendekatinya. Aku menggenggam tangannya yang terasa sangat dingin untuk menyalurkan sedikit ketenangan yang tersisa di dalam diriku.

"Seeula, kau harus ikut dengan tim pengawal ke lokasi persembunyian yang baru. Mobil sudah siap di bawah," perintahku dengan penuh penekanan.

"Tapi bagaimana denganmu, Yansya? Dia akan mencarimu terlebih dahulu!" sahut Seeula dengan suara yang bergetar karena rasa takut yang sangat nyata.

Aku memberikan senyum yang paling meyakinkan. "Dia tidak akan menemukanku karena akulah yang akan menemukannya terlebih dahulu. Aku memiliki mata di setiap sudut kota ini yang tidak bisa dia bayangkan."

Setelah memastikan Seeula berangkat bersama tim pengawal terbaikku, aku kembali fokus pada monitor Rian. Di kepalaku, fragmen ingatan dari masa depan yang sudah pernah kulalui mulai memberikan petunjuk. Di masa itu, Gautama memiliki sebuah tempat persembunyian yang terhubung dengan jalur drainase kuno.

"Rian, alihkan fokus pencarianmu ke koordinat wilayah lama di belakang dermaga, tepat di bawah bangunan gudang garam yang sudah terbengkalai," perintahku dengan otoritas yang mutlak.

"Kenapa di sana? Itu adalah wilayah mati yang bahkan tidak memiliki aliran listrik, Bos," tanya Rian dengan dahi yang berkerut penuh tanda tanya.

"Karena di tempat yang paling tidak terlihat itulah seekor ular besar biasanya bersembunyi. Aku tahu dia memiliki cadangan logistik di sana yang tidak pernah terendus oleh siapa pun," jawabku tanpa menjelaskan bagaimana aku bisa mengetahui detail tersebut.

Aku segera mengambil jaket taktis dan senjata cadanganku. Aku tidak ingin menunggu bantuan kepolisian yang sudah jelas-jelas telah disusupi oleh pengikut Gautama. Jika aku ingin mengakhiri ancaman ini selamanya, aku harus melakukannya dengan tanganku sendiri. Aku akan menggunakan cara yang tidak akan pernah tercatat dalam laporan resmi.

"Aku sudah mendapatkan sinyal frekuensi radio jarak pendek dari area itu, Bos! Ada aktivitas enkripsi yang sangat mirip dengan protokol komunikasi pribadi Gautama!" seru Rian dengan nada penuh kemenangan.

"Siapkan unit tempur bayangan kita. Kita akan masuk lewat jalur belakang melalui terowongan air. Aku ingin kalian membungkam setiap penjaga tanpa mengeluarkan satu pun suara tembakan," instruksiku sambil melangkah menuju pintu keluar.

Perjalanan menuju dermaga lama berlangsung cepat. Aku memacu mobil tanpa menyalakan lampu utama. Aku hanya mengandalkan sensor inframerah yang terhubung dengan kacamata taktisku. Di kepalaku, aku sudah merancang skenario skakmat yang jauh lebih menyakitkan bagi Gautama daripada sekadar jeruji besi.

Sesampainya di bangunan gudang garam yang reyot, aku memberikan isyarat pada timku untuk segera menyebar. Aku masuk melalui celah sempit di bagian bawah fondasi yang langsung terhubung dengan lorong gelap. Tidak ada penggambaran lain kecuali fokusku pada titik merah di layar sensor tanganku yang menunjukkan keberadaan target utama.

Aku melangkah dengan sangat presisi. Setiap pijakanku tidak menimbulkan bunyi sedikit pun. Di ujung lorong, aku melihat sebuah pintu besi yang dijaga oleh dua orang pria dengan senapan otomatis di tangan mereka.

"Bereskan," bisikku melalui alat komunikasi.

Dua anak panah bius melesat dari arah kegelapan. Hal itu membuat para penjaga itu tumbang seketika sebelum mereka sempat menyentuh pelatuk senjata. Aku melangkah melewati tubuh mereka dan mendobrak pintu besi itu dengan satu sentakan kuat.

Tuan Gautama sedang duduk dengan tenang di depan meja kayu besar. Dia seolah-olah memang sudah menungguku sejak tadi. Dia sama sekali tidak terlihat panik meskipun dia tahu kalau aku baru saja melumpuhkan para penjaganya di luar.

"Kau sangat cepat, Yansya. Sepertinya darah Martha di dalam tubuhmu benar-benar membuatmu menjadi pemburu yang sangat berbakat," sapa Gautama dengan suara berat yang memenuhi ruangan.

Aku menodongkan senjataku tepat ke arah kepalanya. Jariku sudah berada di posisi yang sangat siap untuk menarik pelatuk. "Permainanmu sudah selesai, Gautama. Tidak ada lagi jalan keluar bagi monster sepertimu."

Gautama tertawa kecil. Suara tawa itu terdengar sangat merdu namun sarat akan racun. Dia perlahan mengangkat tangannya dan menekan sebuah tombol di bawah mejanya.

"Kau pikir aku melarikan diri hanya untuk bersembunyi? Aku keluar untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal, termasuk kebahagiaan Seeula yang kau banggakan itu," ucap Gautama dengan seringai yang sangat mengerikan.

Layar televisi besar di belakangnya tiba-tiba menyala. Layar itu menampilkan rekaman langsung dari dalam sebuah ruangan beton. Seeula duduk terikat di sana. Aku terkesiap melihat salah satu pengawal yang tadi membawanya kini justru berdiri di samping Gautama melalui layar tersebut. Pengkhianatan di dalam timku ternyata jauh lebih dalam dari yang kuduga.

"Yansya! Jangan kemari! Ini jebakan!" jerit Seeula dari dalam layar tersebut sebelum rekaman itu berubah menjadi semut.

Rahangku mengeras hingga gigiku terasa hampir pecah. Amarah yang meledak di dalam dadaku membuat pandanganku mendadak menjadi sangat gelap.

"Jika kau menarik pelatuk itu sekarang, maka instruksi peledakan di lokasi penahanan Seeula akan aktif secara otomatis," ancam Gautama dengan nada bicara yang penuh dengan kemenangan mutlak.

Aku menurunkan senjataku secara perlahan. Namun tatapanku tetap mengunci bola matanya dengan kebencian yang sangat murni. Aku baru saja menyadari bahwa kemenangan yang aku rayakan di podium tadi pagi hanyalah umpan yang sengaja dia pasang agar aku kehilangan kewaspadaan.

"Apa maumu, monster?" tuntutku dengan suara yang sangat rendah.

"Aku ingin kau menyerahkan dirimu sepenuhnya padaku. Akui di depan publik bahwa kau adalah putra kandungku yang sah. Biarkan takhta penguasa kota ini kembali berada di bawah garis keturunan kita," jawab Gautama sambil berdiri dan berjalan mendekatiku.

Aku terdiam untuk meredam kebuntuan yang sangat menyesakkan di tenggorokanku. Namun saat dia sudah berada tepat di depanku, aku melihat sebuah kilatan kecil dari jam tangan Seeula yang muncul di pojok bawah layar monitor yang masih menyala. Itu adalah kode morse digital yang hanya aku dan Seeula yang tahu artinya: "Jangan Berhenti".

Aku menyunggingkan senyum yang paling misterius. Hal itu membuat Gautama tampak sedikit bingung dengan reaksiku yang tidak terduga ini.

"Kau meremehkan apa yang bisa dilakukan oleh pria yang sudah pernah mati satu kali, Gautama," bisikku tepat di telinganya.

Tiba-tiba, suara ledakan besar terdengar dari arah lantai atas gudang tersebut. Runtuhan atap mulai berjatuhan tepat di belakang Gautama sebagai hasil dari sabotase yang sudah disiapkan Rian sejak awal. Gautama terhuyung akibat guncangan tersebut.

"Apa yang kau lakukan?!" pekik Gautama dengan wajah yang mendadak penuh dengan ketakutan.

Aku bergerak lebih cepat dari keraguannya. Tanganku mencengkeram lehernya dan membanting tubuh tua itu ke atas meja kayu hingga retak. Aku tidak memberinya waktu untuk meraih tombol pemicu peledak yang dia banggakan. Rian sudah memutus transmisi sinyal dari gedung ini tepat saat ledakan itu terjadi.

"Kau pikir aku datang ke sini tanpa memastikan sinyal frekuensi di area ini sudah mati total?" tanyaku dengan nada yang sangat tajam tepat di depan wajahnya.

Gautama terbatuk, darah merembes dari sudut bibirnya yang mulai membiru. Matanya melotot menatap layar monitor yang kini hanya menampilkan status 'Signal Jammed' dalam huruf besar berwarna merah. Seluruh skema penyanderaannya baru saja menjadi tumpul karena gangguan frekuensi yang dibuat Rian.

"Beri aku lokasi Seeula yang sebenarnya, atau reruntuhan gedung ini akan menjadi makam yang sangat layak untukmu," ancamku sambil menekan titik saraf di lehernya yang membuatnya mengerang kesakitan.

Gautama mencoba tertawa meskipun napasnya tersengal. "Kau terlambat, Yansya. Seeula tidak ada di sini. Dia sudah dalam perjalanan menuju dermaga internasional. Kau tidak akan pernah bisa menjangkaunya!"

Aku melepaskan cengkeramanku dan memberikan satu hantaman keras ke ulu hatinya hingga dia jatuh pingsan. Aku segera menekan alat komunikasi di telingaku untuk menghubungi Rian yang sedang bekerja di markas pusat.

"Rian, lacak setiap pergerakan kendaraan yang keluar dari gudang ini lima belas menit yang lalu. Fokus pada kontainer pendingin yang menuju dermaga internasional!" perintahku dengan suara yang menggelegar.

"Sinyal jam tangan Seeula kembali aktif, Bos! Dia bergerak cepat di jalur tol lingkar luar. Aku akan mengunci koordinatnya sekarang juga!" sahut Rian dengan penuh semangat.

Aku berlari keluar dari gudang garam tersebut tanpa menoleh lagi pada tubuh Gautama yang sudah tidak berdaya. Aku memacu mobilku menembus jalanan malam dengan kecepatan yang melampaui batas kewajaran. Di depanku, barisan lampu kota tampak seperti medan perang yang harus kutaklukkan secepat mungkin.

"Bertahanlah, Seeula. Aku sedang datang untuk menjemputmu kembali," bisikku pada diri sendiri sambil menajamkan pandangan ke arah jalan raya.

Namun, tepat saat aku hampir mencapai pintu tol, sebuah mobil SUV hitam mendadak memotong jalurku dan melepaskan tembakan beruntun ke arah kaca depan mobilku. Aku membanting kemudi untuk menghindar, merasakan desingan peluru yang nyaris merobek kulitku.

"Sepertinya masih ada anjing penjaga yang tersisa," desisku sambil meraih senjata api dari bawah kursi kemudi.

Aku menurunkan kaca jendela dan membalas tembakan tersebut dengan presisi yang mematikan. Salah satu ban SUV itu meledak, membuatnya terpelanting hebat menabrak pembatas jalan hingga mengeluarkan percikan api yang sangat besar. Aku terus melaju, tidak ingin membuang waktu satu detik pun untuk urusan sampah jalanan seperti mereka.

Saat aku sampai di dermaga, aku melihat sebuah kontainer besar sedang diangkat oleh alat berat menuju kapal kargo yang sudah siap berangkat. Hatiku berdesir hebat saat Rian mengonfirmasi bahwa sinyal Seeula berada tepat di dalam kontainer tersebut.

"Hentikan pengangkatan itu sekarang juga!" teriakku pada operator alat berat sambil menodongkan senjata.

Operator itu ketakutan dan segera menurunkan kontainer itu kembali ke tanah dengan hantaman yang cukup keras. Aku berlari menuju pintu kontainer, merusak kuncinya dengan tembakan jarak dekat, dan menarik pintunya hingga terbuka lebar.

Namun, di dalam kontainer itu bukan hanya ada Seeula. Aku melihat sebuah bom waktu dengan angka digital yang terus berdetak mundur menunjukkan waktu tinggal sepuluh detik lagi. Seeula terikat di sana dengan mata yang membelalak ketakutan menatapku.

"Yansya, lari!" jerit Seeula dengan suara yang pecah.

Aku tidak bergerak mundur. Aku justru melompat masuk ke dalam kontainer tersebut dan memeluk tubuh Seeula dengan sangat erat. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian lagi.

"Peluk aku erat-erat, Seeula!" seruku tepat saat angka digital itu menyentuh angka nol.

1
ZasNov
Semangat Yansya, kalahkan mereka semua.. 💪😎
ZasNov
Semoga kali ini Yansya bisa benar2 melindungi Seeula..
ZasNov
Ga bisa nolak tuh kalau udah diancam begitu..
ZasNov
Madam Widowati udah kayak dijatuhkan dari gedung tinggi.. 🤭
ZasNov
Wah keren Yansya, dia datang menyerang dengan senjata rahasia yang tidak terduga.. 😂👍
ZasNov
Madam Widowati salah target ternyata 😂
ZasNov
Ayo tunjukan siapa dirimu Yansya, beri Madam Widowati pelajaran & selamatkan Seeula..
ZasNov
Nah lho, keadaan beneran berbalik. Bukan Pak Hermawan & Adrian lagi yang mengancam Yansya, sekarang Yansya yang menekan Pak Hermawan.. 😎👍
ZasNov
Ga nyangka banget kan Pak Hermawan, kalau Yansya punya kartu As yang bisa membalikan keadaan.. 😆
ZasNov
Mantap Yansya.. bisa tetap tenang, malah makin bersemangat menunjukkan taringnya.. 😎👍
Pipit Jambu
iya
ZasNov
Tuh kan, mulai banyak orang memanfaatkan nama Seeula untuk menekan Yansya.. 😖
ZasNov
Aduh, bagusnya Seeula sllu dalam perlindungan Yansya. Karena Darwin udah tau kelemahan Yansya itu Seeula..
ZasNov
Nyesel kan.. Udah telat. Kalau dikasih kesempatan kedua, jangan disia2in lagi ya
ZasNov
Selain penasaran sama rencana Yansya selanjutnya, kepo juga sama cara dia deketin Seeula.. 😄
ZasNov
Tanpa basa-basi langsung ditolak.. 😆👍
ZasNov
Hadeuh, Yansya.. Kamu bisa sukses juga berkat doa & usaha istrimu juga. Giliran ga diurusin, kamu juga bakalan berantakan..
Seeula
dari rawrrr ke aongg aonggg aongg🤣
Seeula
tamu2 tak diundang 😏
Seeula
gak gak ini mh kaya preman minta2 uang buncit gini mh😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!