NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:486
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.

Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Ujian Tengah Semester & Ziva

Di Wisma Lavender, dinding-dinding kayu yang memisahkan setiap kamar bukan sekadar pembatas fisik yang kaku, melainkan membran tipis yang menampung ribuan mimpi yang saling berdesakan dan terkadang saling beradu. Pagi itu, atmosfer di koridor lantai dua terasa berbeda; udara terasa lebih berat dari biasanya, seolah-olah setiap molekul oksigen pun enggan bergetar untuk menciptakan bunyi sekecil apa pun. Arka baru saja hendak menyalakan kompor listriknya di dapur kecil—sebuah ritual pagi yang sederhana untuk menyeduh kopi pengusir penat akibat tumpukan revisi skripsi—ketika sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Getaran ponsel di atas meja kayu itu terdengar hampir tak terdengar, namun isi pesannya terasa seberat dekrit kerajaan yang tak bisa dibantah.

“Arka, diam. Jangan bergerak. Jangan bernapas terlalu keras. Ziva sedang presentasi di forum internasional tingkat Asia-Pasifik sekarang. Satu dentangan sendok darimu adalah pengkhianatan bagi masa depannya. Kalau kamu berisik, aku pastikan kuota internetmu bulan depan akan kutebas tanpa ampun.”

Pesan itu datang dari Sari. Singkat, padat, dan mengandung otoritas yang tak bisa ditawar, sekaligus ancaman yang sangat nyata bagi kelangsungan hidup digital Arka.

Arka membeku seketika di depan meja kecilnya. Tangannya yang sudah memegang bungkus kopi instan berhenti di udara, menciptakan pose yang canggung dan melelahkan. Di kamar sebelah, Ziva—gadis yang biasanya paling pendiam di wisma ini, yang langkah kakinya pun sering kali tak terdengar saat melewati ruang tamu—sedang bertarung di panggung dunia dari balik layar laptopnya. Arka bisa mendengar suara Ziva yang berubah drastis melalui celah dinding yang tipis. Tidak ada lagi nada ragu yang biasanya terselip dalam bicaranya, tidak ada lagi bisikan malu-malu yang biasanya ia dengar saat mereka berpapasan di depan kulkas. Yang terdengar kini adalah untaian bahasa Inggris yang mengalir bagai sungai pegunungan; jernih, tajam, profesional, dan penuh wibawa intelektual.

Ziva sedang membedah tesisnya di hadapan panel juri yang terdiri dari para profesor lintas benua. Bagi Ziva, kamera webcam kecil di atas layar laptopnya adalah jendela satu-satunya menuju masa depan yang cerah, sementara bagi Arka, dinding kamarnya kini menjelma menjadi penjara keheningan yang suci sekaligus menyiksa.

Arka menarik napas perlahan, sangat perlahan, seolah-olah ia takut gesekan udara di dalam paru-parunya sendiri akan menciptakan polusi suara yang mampu menembus sekat kamar dan mengacaukan diksi Ziva yang sedang berada di titik krusial. Ia duduk perlahan di pinggir tempat tidurnya, sangat hati-hati agar tidak ada pegas kasur yang berderit dan menciptakan suara sumbang. Ia merasa seperti seorang aktor pantomim yang terjebak dalam sebuah adegan dramatis yang tak kunjung usai. Bahkan suara detak jam dinding di atas kepalanya pun kini terasa seperti dentuman meriam yang mengancam ketenangan di tengah kesunyian yang dipaksakan ini.

Ia menatap langit-langit kamar yang sedikit kusam, membiarkan pikirannya berkelana dalam diam agar rasa bosan tidak menguasai tubuhnya. Di Wisma Lavender, setiap penghuni adalah sebuah semesta yang sedang mengembang dengan cara dan kecepatannya masing-masing. Ziva, dengan segala ketenangan dan ketekunan yang selama ini ia tunjukkan, ternyata sedang membangun jembatan emas menuju karier internasional yang bergengsi. Dan Arka, sang penghuni laki-laki tunggal yang sering dianggap sebagai pengganggu estetika atau sekadar alat bantu mekanis, kini secara ironis berperan sebagai malaikat penjaga kesunyian. Ini adalah sebuah peran yang tak pernah tertulis dalam kontrak kos resmi yang diberikan Oma Rosa, namun menjadi pondasi paling esensial bagi harmoni rumah ini pada detik ini.

Setiap kali Ziva menekankan poin penting dalam presentasinya dengan intonasi yang tegas, Arka bisa merasakan getaran semangat itu merambat melalui dinding kayu yang dingin dan sedikit lembap. Ia membayangkan Ziva di sana, mungkin mengenakan blazer rapi yang ia pinjam dari lemari Sari yang penuh dengan pakaian formal, dengan sorot mata yang biasanya tertunduk kini menyala-nyala oleh api intelegensi yang membara. Arka tersenyum getir dalam kesendiriannya; ia yang biasanya dianggap sebagai beban bagi sinyal ping Bella yang haus akan kecepatan, atau dianggap sebagai ancaman bakteri bagi wastafel yang sudah disterilkan Dira, kini menjadi saksi bisu dan penyokong paling sunyi bagi keberhasilan seseorang yang sedang bertaruh nasib.

Satu jam berlalu dalam kebekuan yang melelahkan. Otot-otot tubuh Arka mulai terasa kaku, lehernya pegal, dan kakinya mulai kesemutan karena posisi duduk yang statis, namun ia enggan mengubah posisi sedikit pun. Baginya, setiap detik keheningan ini adalah bentuk penghormatan tertinggi yang bisa ia berikan kepada impian orang lain. Sastra hidup tidak selalu tentang kata-kata puitis yang diteriakkan di atas mimbar yang megah; terkadang, sajak yang paling indah dan menyentuh adalah ketika seseorang memilih untuk melenyapkan suaranya sendiri, menekan egonya dalam-dalam, agar suara orang lain bisa terdengar dengan jelas oleh dunia yang luas.

Tiba-tiba, terdengar suara riuh rendah tepuk tangan yang samar-samar keluar dari balik headset yang mungkin dikenakan Ziva, diikuti oleh sebuah hembusan napas lega yang panjang dan bergetar dari kamar sebelah. Keheningan yang mencekam itu pecah, bukan oleh kebisingan yang kasar, melainkan oleh sebuah gelombang rasa syukur yang meluap-luap dari seorang gadis yang baru saja menyelesaikan ujian terbesarnya tahun ini.

"Thank you... thank you so much for the opportunity. It means a lot to me," suara Ziva terdengar kembali normal, kembali menjadi suara gadis pemalu yang selama ini Arka kenal, namun kali ini sarat dengan nada kemenangan dan kelegaan yang luar biasa.

Arka akhirnya melepaskan napas yang sejak tadi ia tahan di pangkal tenggorokan hingga dadanya terasa sesak. Ia bangkit berdiri dengan sangat perlahan, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku seperti kayu tua yang sudah lama tak digerakkan di gudang. Ia berjalan menuju pintu dengan langkah seringan kapas, seolah tak ingin merusak sisa-sisa kesucian suasana pasca-presentasi itu. Saat ia melewati kamar Ziva di koridor yang mulai hangat oleh sinar matahari, pintu kayu berwarna cokelat itu terbuka sedikit. Ziva berdiri di sana, wajahnya merona merah karena haru, matanya berkaca-kaca namun bersinar jauh lebih terang daripada lampu neon mana pun yang ada di koridor Wisma Lavender.

Ziva menatap Arka sejenak, mata mereka bertemu dalam sebuah momen kesepahaman yang dalam. Ziva perlahan meletakkan jari telunjuknya di bibir sambil tersenyum sangat tipis, sebuah isyarat kecil yang penuh makna. Itu adalah sebuah isyarat terima kasih yang tak perlu diucapkan dalam rentetan kata-kata, namun Arka memahaminya lebih dalam dari sekadar kalimat panjang mana pun. Ia tahu, di balik dinding tipis yang sering mereka keluhkan itu, Ziva menghargai setiap detik kesunyian, setiap detak jantung yang tertahan, dan setiap pengorbanan kecil yang Arka berikan agar jalannya menuju dunia internasional tidak terganggu.

"Selamat, Ziva. Kamu luar biasa," bisik Arka, suaranya hampir menyerupai hembusan angin lalu agar tidak mengagetkan keheningan yang tersisa di udara.

Ziva mengangguk pelan, sebuah anggukan penuh rasa hormat dan persaudaraan, sebelum menutup kembali pintunya untuk merayakan kemenangannya dalam kesunyian pribadinya. Di Wisma Lavender, kemenangan besar sering kali tidak dirayakan dengan pesta pora yang berisik atau suara musik yang menggelegar hingga larut malam. Terkadang, ia hanya dirayakan dengan secangkir kopi yang akhirnya bisa diseduh tanpa rasa takut, sebuah napas panjang yang lega, dan sebuah keheningan yang perlahan-lahan memudar menjadi simfoni kehidupan sehari-hari yang biasa namun kini terasa lebih bermakna.

Arka kembali ke mejanya, menatap layar laptopnya sendiri yang masih menampilkan draf skripsi yang belum selesai. Namun kali ini, ia tidak merasa kesal atau terbebani. Ia menyadari bahwa di rumah ini, ia bukan sekadar seorang penyintas atau pengganggu di antara para perempuan. Ia adalah penjaga mimpi, seorang saksi sejarah dari lahirnya ambisi-ambisi besar yang diperjuangkan dengan peluh dan air mata di balik tirai-tirai kamar yang sederhana. Dan malam ini, ia akan tidur dengan rasa bangga yang menyelinap di hatinya, tahu bahwa keheningannya pagi tadi adalah sajak terindah yang pernah ia tulis tanpa memerlukan setetes pun tinta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!