NovelToon NovelToon
Dua Kesayangan CEO Dingin

Dua Kesayangan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ra za

Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.

Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Akhirnya

“Selamat pagi, Om!”

Suara Luna terdengar ceria di ruang makan.

“Pagi, Sayang,” jawab Arga yang sudah rapi dan siap berangkat ke perusahaan.

Sebenarnya Luna ingin sekali bertanya tentang hasil wawancara kemarin, tentang siapa yang akhirnya diterima bekerja. Namun, ia teringat ucapan Arga malam sebelumnya. Luna pun mengurungkan niatnya dan kembali melanjutkan sarapan.

Arga memperhatikan raut wajah keponakannya. Ia tahu betul, ada rasa penasaran yang sedang ditahan Luna.

“Luna,” ucap Arga akhirnya, “kamu ingin tahu siapa yang diterima bekerja di perusahaan, ya?” Arga bertanya sambil menarik kursi di hadapan Luna.

Luna menoleh cepat. “Memangnya siapa, Om?” tanyanya Luna tidak sabaran.

“Zivara Amaira,” jawab Arga tenang.

“Benar, Om?”

Wajah Luna langsung berseri. Ia tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya. “Jadi Kak Vara diterima?”

Arga mengangguk singkat.

“Terima kasih, Om,” ucap Luna tulus.

“Tidak perlu berterima kasih,” balas Arga. “Dia diterima karena memang layak.”

Luna tersenyum lebar. “Kalau begitu, kapan-kapan setelah pulang sekolah Luna boleh langsung ke perusahaan, ya, Om? Luna ingin bertemu Kak Vara.”

“Tentu saja boleh,” jawab Arga sambil berdiri. “Sekarang ayo bersiap. Om juga harus segera ke perusahaan.”

Luna pun bangkit setelah menghabiskan sarapannya. Ia mengambil tas dan kotak bekalnya sendiri, meski Bi Rina sempat menawarkan bantuan.

“Sini, Non. Biar Bibi bawakan tas dan bekalnya,” ucap Bi Rina.

“Tidak usah, Bi. Luna bisa bawa sendiri,” jawab Luna lembut namun tegas.

Bi Rina tersenyum, Bi Rina begitu bangga dengan prilaku keponakan majikannya, meskipun ia bisa memerintah dan tinggal tunjuk apa yang dia mau. Tapi tidak dengan Luna. Sejak saat itu, Bi Rina tak lagi memaksa. Ia hanya akan menyiapkan segala keperluan Luna dengan penuh perhatian.

Namun, ketenangan pagi itu tak berlangsung lama.

Di sekolah, Luna tiba-tiba merasa tidak enak badan. Wajahnya memucat, tubuhnya terasa panas. Wali kelas pun segera menghubungi kediaman Arga.

“Selamat pagi,” ucap sang guru di seberang telepon. “Saya ingin menyampaikan bahwa Luna demam. Suhu tubuhnya cukup tinggi.”

Mendengar kabar itu, Bi Wina langsung cemas.

“Baik, Bu. Sebentar lagi pengasuh Luna akan menjemput Luna. Terima kasih sudah mengabari,” jawab Bi Wina setelah menerima panggilan itu.

Setelah sambungan terputus, Bi Wina segera memanggil Bi Rina.

“Rina, cepat jemput Non Luna. Gurunya baru saja menelepon. Non Luna demam.”

Tanpa menunggu lama, Bi Rina bersama sopir segera meluncur ke sekolah.

Begitu Luna berada di dalam mobil, Bi Rina meraba keningnya.

“Non, badan Non panas sekali,” ucapnya cemas. “Bibi beri tahu Om dulu, ya.”

“Tidak usah, Bi,” jawab Luna pelan. “Luna tidak apa-apa. Hanya demam biasa. Kita pulang saja.”

Bi Rina menghela napas, lalu menarik Luna ke dalam dekapannya.

“Iya, Non. Kita pulang.”

 

Begitu tiba di rumah, Bi Rina langsung membawa Luna menuju kamarnya. Dengan sigap, ia menyiapkan obat penurun panas, air minum, dan handuk kecil untuk mengompres.

“Nona istirahat dulu, ya,” ucap Bi Rina lembut sambil menempelkan handuk dingin ke dahi Luna, setelah sebelumnya memberikan obat penurun panas.

“Kalau nanti suhu tubuh Non belum turun, Bibi akan segera memberi tahu Tuan.”

Luna hanya mengangguk pelan. Tubuhnya masih terasa lemas.

Tak lama kemudian, kelopak mata Luna perlahan tertutup. Bi Rina tetap duduk di sisi ranjang, enggan meninggalkan Luna sedikit pun. Ia khawatir, jika ia keluar, Luna akan membutuhkan sesuatu.

Hampir dua jam berlalu.

“Bi…”

Suara lirih itu membuat Bi Rina tersentak. Luna mulai membuka mata.

“Nona sudah bangun?” tanya Bi Rina cemas sekaligus lega. “Bagaimana perasaan Nona? Apa sudah mendingan?”

“Iya, Bi. Luna sudah agak enakan… tapi masih sedikit pusing,” jawab Luna jujur.

Bi Rina meraba dahi dan leher Luna. Ia tersenyum kecil saat menyadari suhu tubuh Luna sudah mulai turun.

“Syukurlah.”

“Bi, Luna mau minum,” pinta Luna sambil berusaha duduk.

Bi Rina segera mengambil segelas air putih yang memang sudah ia siapkan di atas nakas. Saat Luna sedang minum, pintu kamar tiba-tiba terbuka.

Julia berdiri di ambang pintu dengan wajah penuh senyum.

“Luna, kamu kenapa?” tanya Julia dengan nada lembut.

Luna tak menjawab. Bi Rina yang akhirnya angkat bicara.

“Non Luna demam, Nona. Tadi pagi sekitar jam sepuluh, gurunya menelepon. Jadi langsung kami jemput.”

“Oh, begitu…” Julia mendekat. “Sekarang sudah baikan, kan?”

“Iya, Nona. Panasnya sudah turun,” jawab Bi Rina.

Sementara itu, Luna hanya diam. lalu menunduk, jelas menunjukkan ketidaknyamanan atas kehadiran Julia.

“Padahal tadi Tante mau memberi kejutan,” ucap Julia sambil tersenyum.

“Tante sudah membelikan Luna boneka. Rencananya mau Tante taruh diam-diam di kamar. Tapi ternyata Luna sudah di sini.”

Julia tertawa kecil, lalu mengulurkan sebuah boneka ke arah Luna.

“Ya sudah, Tante kasih sekarang saja.”

Di hadapan Bi Rina, Julia tampak begitu hangat dan perhatian. Tak seorang pun akan menyangka bahwa senyum itu menyimpan sisi lain.

Luna menatap boneka itu beberapa detik sebelum akhirnya menerimanya.

“Terima kasih, Tante,” ucapnya pelan, lalu meletakkan boneka itu di samping bantal.

“Bi, sebaiknya Bibi keluar saja,” ucap Julia tiba-tiba. “Biar aku yang menemani Luna.”

“Tidak, Bi. Jangan keluar,” ucap Luna cepat, hampir refleks.

Julia menoleh dan tersenyum. “Tidak apa-apa, Luna. Kasihan Bi Rina. Sudah siang begini, pasti Bibi lapar.”

Luna menatap Bi Rina ragu. Ia tahu Bi Rina pasti belum makan karena menunggunya sejak tadi.

“Bi… tidak apa-apa,” ucap Luna pelan, menahan perasaan tak enak.

Bi Rina yang mengira Julia akan bersikap sama baiknya meski tanpa kehadirannya pun akhirnya mengangguk.

“Baik, Non. Bibi keluar sebentar.”

Begitu pintu tertutup, senyum Julia perlahan memudar.

Julia duduk di sisi ranjang, menatap Luna dari dekat.

“Luna, kamu tolong Tante, ya,” ucap Julia dengan suara selembut mungkin.

“Tolong apa, Tante?” tanya Luna polos.

Julia berpura-pura berpikir. “Begini… Om Arga kan belum punya pasangan. Bagaimana kalau Tante saja yang jadi pacar Om? Tante minta tolong sama Luna supaya membantu mendekatkan Tante dengan Om Arga.”

Dahi Luna berkerut. “Tapi Tante kan sudah dekat dengan Om,” ucapnya bingung.

“Maksud Tante, dekat yang lebih dari sekadar teman,” jelas Julia.

“Nggak mau,” jawab Luna spontan. “Kalau Tante mau, Tante saja yang bilang ke Om. Luna nggak mau.”

Penolakan itu membuat wajah Julia berubah seketika.

“Apa katamu?” suara Julia meninggi. “Kamu menolak perintah Tante?”

Tubuh Luna menegang. Ia tahu benar bagaimana Julia akan bersikap jika keinginannya tidak dituruti.

“Kamu tahu, Luna,” lanjut Julia dengan nada tajam, “Arga itu cuma kasihan sama kamu. Karena kamu sudah tidak punya orang tua. Kalau aku mau, aku bisa saja membuat Arga mengusir mu pergi dari rumah ini.”

“Tidak!” bantah Luna dengan suara bergetar. “Om tidak seperti itu!”

Julia menyeringai. “Kamu pikir kamu siapa? Kamu cuma anak kecil yang tiba-tiba datang dan merebut perhatian Arga dariku.”

Luna mulai gemetar.

“Kamu lihat para pelayan itu?” lanjut Julia dingin. “Mereka semua percaya padaku. Tidak ada satu pun yang akan mencurigai apa pun yang terjadi kalau aku hanya berdua denganmu.”

Julia mencondongkan tubuhnya, menatap Luna tajam.

“Apa yang telah kamu ucapkan, Julia…?”

1
merry
ia pgl om ikutan pglnn Luna 😄😄😄 biasa knn bgtuu ibu iktinn ank ya pgl om kcuali dblkng ank br pgl nama 😄😄😄
Ranasela
seruu banget kakm😍
erviana erastus
pasti si julia
erviana erastus
batas cinta ya om 🤭
erviana erastus
maksud bertopeng kan persahabatan 🤣 satu keluarga matre
Rian Moontero
lanjoooott👍👍😍
erviana erastus
habis kau jalang
erviana erastus
giliran ada yg tulus sama luna dicurigai lah yg kek julia dipercaya ... kekx kecelakaan kakax arga ulah bapakx julia 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!