NovelToon NovelToon
The Price Of Fate

The Price Of Fate

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Action / Romansa
Popularitas:579
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Neraka

​"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
​Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.

​Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
​Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.

Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

hilangnya harapan

Suara klakson truk kontainer itu merobek malam layaknya terompet kiamat, disusul dentuman logam yang menghancurkan segala logika tentang keselamatan.

Sedan mewah itu terpelanting, dihantam ribuan ton besi hingga menghujam tembok rumah dengan kekuatan yang sanggup meruntuhkan fondasi bumi. Dunia Andersen jungkir balik dalam kilatan kaca yang pecah berserakan dan derit besi yang mengerang kesakitan.

Kesedihan yang menyesakkan dada membuat lidah Andersen kelu... durinya ingin berteriak, namun suaranya terkubur di balik debu dan mesiu.

Di tengah puing-puing yang Masih berasap, Margarette... dengan tubuh yang sudah hancur dan raga yang tak lagi utuh. Perempuan itu merangkak keluar dengan sisa-sisa nyawa yang hampir padam.

Dalam guncangan hebat itu, Andersen tak sengaja melepaskan dekapannya. Tubuh Sheila yang lunglai jatuh ke atas hamparan salju yang dingin dan mematikan.

Salju yang putih bersih, simbol kemurnian yang tak berdosa, seketika ternoda oleh rembesan darah merah yang hangat. Sebuah lukisan tragis yang kontras di tengah kebekuan malam.

Andersen, dengan sisa kewarasan yang nyaris hilang, menghampiri raga Margarette. Lelaki itu mencoba mengangkatnya, namun kenyataan yang ia temukan jauh lebih memilukan daripada kematian itu sendiri.

Kedua kaki wanita itu telah hancur, kehilangan bentuknya di bawah tindihan logam... Sementara perutnya mengucurkan darah pekat yang terus meluas, membuat lantai salju di bawah mereka semakin memerah dan membuat, seolah sang bumi sedang haus akan nyawa mereka.

Di tengah puing-puing yang masih berderak, mereka saling menatap dalam keheningan yang menyakitkan.

"Tidak ada kalimat perpisahan yang puitis, tidak ada pesan terakhir yang heroik."

Margarette hanya menatap Andersen dengan sisa binar di matanya, sebelum perlahan, kelopak mata itu menutup untuk selamanya... tepat di hadapan lelaki itu.

"Napasnya berhenti, meninggalkan kesunyian yang lebih memekakkan telinga daripada dentuman truk sebelumnya."

Hati Andersen terasa bolong, seolah seluruh jiwanya telah direnggut paksa keluar dari rongga dadanya, menyisakan ruang hampa yang dingin dan gelap.

Dunianya runtuh dalam sunyi.

Andersen sempat mengabaikan sekelilingnya, tertegun oleh kepergian Margarette.. namun saat ia menoleh ke arah hamparan salju di sampingnya, pemandangan itu menghancurkan sisa kewarasannya yang terakhir.

Tubuh Seila, gadis yang ia perjuangkan melintasi lautan darah, kini mulai membeku dalam pelukan salju yang tak punya belas kasihan.

Kulitnya yang pucat kian menyatu dengan putihnya kristal es, seolah alam semesta sedang perlahan-lahan menyerap keberadaannya.

Di sana, di atas tanah yang kian memerah oleh darah... namun juga, kian membeku oleh musim dingin.

Andersen menyadari bahwa ia tidak hanya gagal menyelamatkan mereka. Dirinya telah menjadi saksi, bagaimana takdir menghapus semua alasan yang ia miliki untuk tetap menjadi manusia.

“HUARGGHHHHH!”

Raungan itu meledak dari palung jiwa Andersen, namun suara itu tak pernah benar-benar mencapai udara bebas; ia pecah dan tenggelam dalam cairan pekat yang meluap dari dalam dadanya.

Tekanan emosional yang menghancurkan jantungnya berpadu dengan trauma fisik yang telah melampaui ambang batas medis, memaksa darah dari paru-parunya yang bocor naik dengan liar menuju tenggorokan.

Rasa asin air mata yang mengalir di pipinya bercampur dengan asam lambung yang naik secara tidak masuk akal. Sebuah Reaksi kimiawi dari tubuh yang sedang melakukan pemberontakan terakhir.

Cairan korosif itu membakar kerongkongannya, menciptakan sensasi api di tengah badai salju yang menggigit.

Andersen tercekik.

Ia tercekik oleh darah dan muntahnya sendiri... sebuah penghinaan terakhir dari raga yang telah lelaki itu paksa... bekerja melampaui kodratnya.

Andersen terjatuh, berlutut dengan sisa-sisa martabat yang hancur di antara dua wanita yang paling ia ingin lindungi saat ini.

Di bawah langit malam yang bisu, dunia Andersen kini benar-benar telah berakhir dan luruh dalam komposisi warna merah darah yang hangat dan putihnya salju yang sangat dingin.

Sebuah pemandangan tragis yang akan menghantui setiap pengulangan waktu yang ia miliki.

....

"Menyedihkan... Kamu bahkan tidak bisa melindungi siapa pun.... Lagi."

Suara itu tidak datang dari udara, melainkan bergaung langsung di dalam rongga tengkoraknya.

Sebuah frekuensi yang dingin, dan tidak dikenal. Suara itu membawa nada penghinaan yang begitu tajam hingga terasa lebih menyakitkan daripada peluru yang bersarang di tubuhnya.

Dalam puncak penderitaan yang tak lagi sanggup ditampung oleh nalar manusia, tepat saat kesadarannya nyaris hancur bersama hamparan salju yang telah jenuh oleh noda merah, dunia Andersen perlahan memudar.

Secara instan, bau amis logam darah dan raungan mesin truk yang memekakkan telinga lenyap.

Sensasi dingin yang membekukan kulitnya pun sirna, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan. Jenis kesunyian yang hanya ada di ruang hampa sebelum sebuah kejadian dimulai.

Dari balik kabut takdir yang putih dan tak berujung, seberkas bayangan mulai mendekat. Sosok itu bukan lagi sebuah rahasia bagi Andersen.

Makhluk yang pernah dirinya temui di kedalaman Soul in the Ocean... Entitas yang menjemput kematian dan menjahit benang keberuntungan dan kutukannya, Kini kembali muncul.

Kehadirannya membelah kabut, membawa aura otoritas yang membuat waktu seolah tunduk.

1
BoimZ ButoN
anak SMA main pistol ga ada kronologis nya dlu
Ahmad Fauzan: kecuali, ada backspace yang lumayan dan sangat mempengaruhinya.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!