Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 - Tak Seperti Dulu
Kembali ke meja dimana Beben dan Astrid duduk. Keduanya sedang sama-sama menikmati teh dan biskuit.
"Masa sih kau nggak punya teman sama sekali?" tukas Beben.
"Beneran. Nggak ada. Kebanyakan orang, nggak suka sama aku. Rangga juga pas awal kenal aku, nggak suka sama aku," sahut Astrid.
"Kenapa? Kau orangnya baik gini kok, terus cantik juga," tanggap Beben.
"Makasih... Tapi kau baru mengenalku kan? Kau tidak tahu aku bagaimana." Astrid tersenyum lembut.
Beben segera balas tersenyum. "Ngomong-ngomong, kau nggak mau coba menginap di hotel?" tanyanya.
"Bisa aja sih. Tapi kan aku sendirian. Aku nggak mau sendirian. Takutnya penguntit itu ngikutin lagi," jawab Astrid.
"Benar juga ya. Tapi kau nggak bisa menginap di sini loh. Aku dan Rangga bakalan merasa nggak enak sama rekan-rekan yang lain. Kalau ketahuan kapolsek, nanti kami kena marah karena jadiin kantor tempat penampungan." Beben mencoba memberitahu baik-baik.
"Nggak usah cemas, Ben. Aku sudah dapat solusinya. Ayo, Trid! Ikut aku. Kebetulan aku punya kenalan cewek yang bisa membantumu," ucap Rangga yang datang dari arah kamar mandi.
"Benarkah?" Astrid senang. Namun wajahnya berubah datar karena fokus dengan kenalan cewek yang dimaksud Rangga. "Kenalan cewek? Siapa? Pacarmu?" cecarnya serius.
"Tetanggaku. Dia kebetulan juga nyari orang yang mau sewa salah satu kamar di rumahnya. Ayo!" ajak Rangga sembari mengambil kunci motor.
"Hati-hati kalian," kata Beben.
"Makasih ya, Ben. Kamu tadi udah bantu aku. Sampai ketemu nanti," pamit Astrid seraya mengambil tasnya. Dia segera menyusul Rangga keluar.
"Pakai mobilku aja, Ga. Kau bisa nyetir kan?" tawar Astrid.
"Bisa. Nanti aku kembali pakai ojek online kalau gitu," sahut Rangga.
"Aku bisa ngantar kamu lagi kok nanti."
"Nggak usah! Kau mending langsung istirahat saja."
Rangga dan Astrid segera masuk ke mobil. Dimana Rangga yang bertugas mengemudi saat itu.
Suasana jalanan mulai sepi, karena hari sudah larut malam. Sepanjang perjalanan, Astrid terus menatap Rangga dari samping.
"Kenapa liat-liat terus? Udah ah, Trid..." tegur Rangga yang merasa tak nyaman.
"Namanya juga kangen. Kamu tambah ganteng loh, Ga!" puji Astrid. "Kak Dita kenapa sih? Kenapa kau nggak mau bicarain dia? Pasti terjadi sesuatu ya di antara kalian?" lanjutnya.
"Aku nggak tahu. Dia tiba-tiba pergi tanpa bilang apapun. Menghilang begitu saja kayak ditelan bumi. Aku sudah mencarinya kemana-mana, tapi nggak ketemu," ungkap Rangga.
"Berarti kau masih sayang sama Kak Dita?"
"Menurutmu?"
"Kayaknya iya."
"Kalau kau merasa begitu, aku harap kau mengerti."
Astrid melirik Rangga. Dia mengangguk dan tersenyum. Dirinya harusnya sadar kalau Rangga masih belum move on dari cinta pertamanya.
"Kau kerja di rumah sakit mana?" tanya Rangga.
"Di rumah sakit pusat. Aku juga berniat mau bikin klinik dalam waktu dekat. Kau harus berkunjung kapan-kapan."
"Aku akan datang kalau merasa nggak enak badan nanti. Tapi tolong pastikan beri aku diskon."
"Oke. Nggak masalah. Datanglah padaku kalau istrimu hamil."
"Hamil?" Dahi Rangga berkerut dalam. Dari sana dia bisa menebak dokter apa Astrid. "Kau dokter kandungan?"
Astrid mengangguk. "Tapi kalau aku yang jadi istrimu, aku akan pastikan kau punya anak yang lucu."
"Semua anak itu lucu kali!" balas Rangga. Tak lama dia dan Astrid tiba di tempat tujuan. Rangga memarkirkan mobil Astrid ke halaman depan rumahnya untuk sementara.
"Tunggu!" Astrid menggenggam tangan Rangga saat lelaki itu nyaris keluar dari mobil.
Rangga menoleh ke arah Astrid. Cewek itu menatapnya dengan tatapan lekat. Tanpa diduga Astrid mendekatkan diri ke hadapan Rangga. Membuat mata Rangga membulatkan sempurna.
Bibir Astrid sedikit maju, pertanda dia sedang mencoba mencium Rangga. Namun tangan Rangga sigap menahannya.
"Kalau kau mau menyentuhku, kau harus menikah denganku dulu," tegas Rangga.
"Sejak kapan kau punya konsep hidup begitu?" timpal Astrid.
"Sejak temanku jadi ustadz!" jawab Rangga. Dia segera keluar mobil lebih dulu.
Sementara Astrid hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Sepertinya kali ini dia akan kesulitan memiliki Rangga seperti dulu.
udahlah gk mau aku jodoh"in lg,kumaha km we lah rangga rek dua" na ge teu nanaon,kesel
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄