"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..
Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.
Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Perintah Eksekusi
## **Bab 26: Perintah Eksekusi**
Sisa-sisa adrenalin dari penjinakan bom di kamar Alana masih terasa seperti sengatan listrik di ujung saraf Kenzi. Namun, bagi seorang agen "The Erasers", tidak ada waktu untuk katarsis emosional. Setelah tim penjinak bom internal bentukan Bram mengambil alih sisa perangkat C4 yang sudah mati, Kenzi ditarik paksa oleh instruksi terenkripsi yang muncul di lensa kontak taktisnya.
*Status: Penyamaran dikompromikan. Perintah baru: Inisiasi Protokol "Blackout". Sasaran: Infrastruktur Finansial Wijaya Corp.*
Kenzi berada di ruang kontrol pribadinya di barak staf, sebuah ruangan sempit yang telah ia ubah menjadi pusat komando bayangan. Di depannya, tiga layar hologram memancarkan cahaya biru neon, menampilkan aliran data dari Proyek Phoenix—arsitektur keuangan rahasia milik Tuan Wijaya yang selama ini Kenzi susupkan virus secara bertahap.
Getaran di tulang rahangnya kembali muncul. Koneksi dari "Atas". Kali ini, bukan suara distorsi mekanis, melainkan suara dingin yang sangat ia kenali. Suara sang instruktur utama organisasi.
"097, kau baru saja melanggar protokol dengan menyelamatkan aset tanpa izin eliminasi ancaman sekunder. Namun, Dewan memberikanmu satu kesempatan terakhir untuk menebus anomali ini," suara itu terdengar berat, mengisi rongga kepalanya.
"Instruksi diterima," jawab Kenzi subvokal.
"Eksekusi sabotase finansial sekarang. Gunakan 'Backdoor 6'. Kami ingin seluruh aset likuid Wijaya lenyap dalam semalam. Biarkan pria itu merasakan kemiskinan sebelum kami mencabut nyawanya. Jika kau ragu lagi, Vero memiliki perintah untuk mengeksekusi kalian berdua di tempat."
Komunikasi terputus.
---
Kenzi menatap barisan kode yang mengalir di layarnya. Satu tekanan tombol *Enter*, dan seluruh kekaisaran bisnis yang dibangun Wijaya selama tiga dekade akan runtuh seperti rumah kartu. Alana akan kehilangan segalanya: rumah ini, pendidikannya, statusnya, dan keamanan yang selama ini ia nikmati.
*Analisis Logika: Menghancurkan Wijaya adalah tujuan awal misi ini. Dendam atas kematian orang tua saya menuntut kehancuran pria ini. Namun, Alana adalah variabel tak bersalah yang terjebak di tengah sengketa dua monster.*
Pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan. Alana berdiri di sana, masih mengenakan gaun musim panas yang kini ternoda debu dan sedikit bercak darah Kenzi. Wajahnya tidak lagi menunjukkan ketakutan yang histeris, melainkan kekosongan yang dalam.
"Kenzi," suaranya nyaris berbisik. "Ayah bilang bom itu dikirim oleh kompetitor bisnisnya. Tapi aku tahu kau menyembunyikan sesuatu. Kau melihat pria di taman hiburan itu seolah kau mengenalnya."
Kenzi mematikan layar hologramnya dengan satu gerakan cepat, namun cahaya biru yang memudar masih terpantul di matanya. "Kembali ke kamar Anda, Nona. Area ini tidak aman."
"Berhenti memerintahku!" Alana melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. "Kau baru saja mempertaruhkan nyawamu untukku. Kau tidak bisa melakukannya hanya karena 'tugas'. Katakan padaku, siapa pria itu? Siapa kau sebenarnya?"
Kenzi berdiri, mendekati Alana hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Ia bisa mencium aroma mawar dari parfum Alana yang bercampur dengan bau mesiu yang samar.
"Saya adalah orang yang dikirim untuk memastikan ayah Anda membayar hutang masa lalunya," ujar Kenzi dengan nada yang sangat dingin, mencoba membangun kembali dinding es yang sempat retak. "Dan pria di taman hiburan itu adalah pengingat bahwa di dunia ini, tidak ada tindakan tanpa konsekuensi."
"Kalau begitu, kenapa kau tidak membiarkan bom itu meledak?" tantang Alana, matanya berkaca-kaca. "Jika kau membencinya, kenapa kau menyelamatkanku?"
Kenzi terdiam. Logikanya gagal memberikan jawaban sistematis. "Karena Anda adalah anomali dalam kalkulasi saya, Nona. Dan saya membenci variabel yang tidak bisa saya kontrol."
---
Alana keluar dari kamar Kenzi dengan perasaan yang jauh lebih kacau daripada saat ia masuk. Di sisi lain, Kenzi kembali duduk di depan terminal komputernya. Jarinya berada di atas tombol eksekusi.
Ia teringat dokumen yang ia temukan di brankas Wijaya. Foto orang tuanya yang tersenyum di depan proyek konstruksi yang kemudian menjadi kuburan mereka karena kelalaian korporasi Wijaya. Rasa benci itu kembali membakar, menghanguskan keraguan yang sempat muncul karena kehadiran Alana.
*Protokol "Blackout": Inisiasi.*
Kenzi mulai mengetik kode enkripsi akhir. Ia tidak hanya menghancurkan Wijaya; ia sedang melakukan tindakan bunuh diri karir di dalam organisasi dengan memanipulasi sebagian data untuk menyisikan dana darurat bagi Alana di akun luar negeri yang tak terlacak—tindakan pengkhianatan yang jika diketahui Vero, akan berujung pada hukuman mati.
Layar menunjukkan progres: *98%... 99%...*
"Maafkan saya, Alana," gumamnya, sebuah kalimat yang secara logis tidak perlu diucapkan, namun sistem otonomnya memaksa kata itu keluar.
*100%. Eksekusi Berhasil.*
Di ruang kerjanya, Tuan Wijaya tiba-tiba melihat semua grafik sahamnya di monitor besar berubah menjadi merah darah. Alarm sistem keuangan berbunyi di seluruh gedung pusat Wijaya Corp. Dalam hitungan detik, kekaisaran itu mulai runtuh secara finansial.
Kenzi menyandarkan punggungnya di kursi, menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Bagian pertama dari balas dendamnya telah selesai. Namun, ia tahu, ini hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya. Musuh sebenarnya bukan lagi hanya Wijaya, melainkan bayang-bayang yang telah menciptakannya.
---